Mengetahui bila sedang ada nyawa tumbuh dalam rahimku seperti sebuah kenyataan yang tidak ku percaya. Sebuah berkah yang akan ku jaga sampai jiwa lepas dari raga. Namun, semua tidak akan menyurutkan langkahku untuk berpisah dari Hendra, akan jauh lebih baik aku membiarkan anak ini tumbuh hanya dengan tanganku tapi pada keadaan yang damai. Aku tidak bisa menjamin bagaimana mental kami bila memaksa terus dalam sangkar Hendra. Karena sebuah sifat tak bisa diubah, apalagi kebiasaan memainkan kekerasaan. Gusti ... mengapa hidup begitu rumit menerpa. Aku hanya ingin seperti orang lain, berdampingan dengan orang yang bisa saling melengkapi, memberi rumah terbaik atas nyawa yang tumbuh di rahim ini. Tapi semua itu seperti sesuatu yang sulit untukku gapai. Ku dengar suara pintu dibuka, lalu seseo

