Hidup?
Terpapar pada jiwa yang ada, bahkan ada yang berkata kita bisa menentukan pintu yang mana bisa kita buka., tapi kita tidak bisa menentukan jendela mana yang bisa kita lihat. Remuk dan tidak sakit namun perih, mereka tidak tahu jalan mana yang aku pilih jadi seseorang. Hari ini dan sekarang, berjuang dan berusaha bahkan terus diperolok untuk menjadi orang g****k. Mengadu ? tak ada tempat untuk itu.
Jalan ini masih kusisir untuk menjadi seseorang yang lebih berarti dan aku masih hanya ingin menjadi dia dan mereka. Aku banyak melihat dari sebuah olokan yang rampu dan sekarang sudah diumur 21 tahun untuk mengatakan aku sudah dewasa. Hingga dalam pemikiranku selalu ada hal yang ingin terucap. Kata-kata ini sudah hilang makna saat engkau bersalaman saling menyapa dan mengenal lalu melupakan. Tak diduga bahwa banyak rasa untuk dikenang lalu dilupakan.
Sekarang kata-kata itu sudah mudah dilupakan, hilang makna dan tak berkasih. Namun, siapa peduli karena memang tidak ada juga yang ingin mengasihi. Menjadi sosok pengemis meminta sebuah belas kasihan. Lalu setelah berlangsung lama kau tak perlu digunakan, melainkan dihempaskan. Banyak rasa yang ingin kubagi meskipun aku tak tau bakal siapa yang mau mendengar semua ini. Hanya saja banyak sekali yang ingin kuceritakan untuk sesekali melepaskan bebanku sendiri untuk mendengar dan mencerna perkataan orang lain. Aku hanya orang yang mengagungkan diri sendiri dan jadi candaan bagi mereka memerangi. Sehingga acap kali bagi mereka menjadikan bahan untuk memperolok dan mempertajam, sehingga tak tau timbul dari permusuhan. Hanya kasih dan kasih yang ingin kurasa, sehingga aku diaanggap dan dihargai seperti manusia. Seperti kata meraka aku bukan siapa-siapa dan aku memang bukan siapa-siapa. Karena selalu terfikir sedari kecil tentang kesadaran diri sendiri pada kenyataa hidup yang pahit dan menanam retorika yang panjang. Lalu menyisahkan nostalgia yang luka dan dalam.
Siapa yang akan menjadi dan jadi siapa aku nantinya, belas kasih, rasa dan hangat yang terlalu lama, aku berharap. Masih ada angan ? masih ada harapan ? tiap rasa dan jiwa muncul aku hanya berkata demikian. Bahkan dari ibu rasa dan hangatpun sulit kudapatkan, aku hanya ingin tertawa bersama, cerita dan menangis dipelukannya. Namun beliau bukan tipikal yang menyedihkan atau suka bersedih dalam hadapan, tegas dan teguh pada pendirian. Sehingga pada saat jumpa semua dibenak nan melihat berkata kasar lagi kejam, namun bagiku tidak beliau tetap lembut untuk memikirkan masa dari kami untuk tua nanti.
Jujur waktu itu aku masih dibangku sekolah dasar, waktu dimana aku memang butuh dan aku sangat rapuh. Menggigil dan berhalu akan datangnya ia dipelukan, aku hanya dapat menangis bahkan sampai aku terbanngun masih memanggilnya. Mereka bilang aku tak sadar diri karena itu aku tak pernah diingini.
Meskipun aku berkata disini sangat rindu sebuah hal yang tak kutahu. Aku masih berjuang, berlari dengan cemoohan, waktu itu aku tak menerima keadaan ini namun bukan berarti juga aku menyerah untuk ini. Karena untuk pekerjaan ini bukan berarti hina, hanya saja dalam hati kecil aku berkata “aku hina”.
Pagi hari di bangku kelas dibalik jendela, mereka menatap penuh kepolosan dan ku tahu mereka masih bocah dan belum tahu apa-apa. Aku masih hidup dan tetap tabah hanya saja lontaran kata mereka penuh makna. Hingga kali aku masih berkata aku hina. Sebenarnya hanya kata sederhana, hingga dari kesederhanaan itu menjadi lebih dekat dan melekat. Seperti itulah kiranya hinaan ini, yang membuat aku semakin terlelap hingga melekat pada kata yang mendoktrin diriku sendiri.
Untuk menjadi pejuang itu tidak mudah dan aku masih bersujud pada Allah mengadu dan bersabda dalam doa menghaturkan kata-kata yang bermakna, aku sulit menerima. Pada kesadaran, aku masih tampak mereka yang sama sekali memang tak berpengaruh dalam kehidupan ini, ini kisah hidup dan jalanku bahkan aku sudah sering untuk meninggalkan ini. Namu Tuhan seperti berkehendak ya inilah takdir. Kebohonganpun bukan menjadi cara dan menjadi soslusi untuk ini.
Seorang penari belum tentu juga hina dan kamu seorang guru bagi mereka. Saat engkau mampu untuk menjelajah dan hidup dalam kesulitan maka itu merupakan cerita dari scenario sangat menarik yang pernah kau buat.
Hari ini masih dalam fajar yang sama, saat semua orang berkata tentang hari ini esok dan senja ? “mengapa mereka tidak memulai sebelum fajar “ ?. Aku bertanya pada tubuhku yang tak begitu hangat. Mereka bilang aku manusia yang sedikit kasar dan aneh, sedangkan keluargaku bicara tentang keanehan ini dalam setiap pekerjaan yang kubuat, jawabannya hanya pada diriku sendiri. Karena menurutku fajar hari ini esok dan nanti adalah penantian dan perjalanan yang kujalani dalam scenario yang kubuat.
Mamaku berkata untuk menjadi seorang lelaki harus mempunyai tanggung jawab dan keberanian.Sedangkan saat itu fajarku tak lagi ditempat. Terkadang aku berkata tujuan ini belum pasti namun yang pasti dalam scenario ini adalah merubah mindset setiap orang tentang AKU !.
HARI-HARI !!!
Hari-hariku tak sama dengan dia dan mereka, bersahaja dalam tawa menikmati setiap masa yang memang harus dimilikinya. Cerita sebenarnya mudah, sama seperti tiap scenario yang dirancang dalam novel dan cerita yang dibicarakan orang banyak. Namun halnya saja aku ya begini sedikit keras dalam teguh sebuah pendapat.
Hari itu anak-anak bermain dengan indahnya berbeda dengan kami [ kakak-kakakku dan aku] bekerja membantu mama dan papa untuk mencari uang. Kami juga bahagia saling melempar karton bekas yang harus disusun dalam mobil beroda enam. Ya.... memang biasa bagi mereka yang sudah biasa dan tersiksa, sedangkan bagi mereka yang tak mampu menjalani ini semua dengan kemauan hati, dan itu aku. Meski mencari dengan alasan yang sangat logis untuk melarikan diri, namun itu juga panggilan dari hati meski terselimuti oleh rasa dengki.
Allahuakbar,Allahuakbar.... { Azan }
Pa boy pergi sholat dulu ya, boy mau ngaji
Banyak alasan, nanti kan bisa!
Emang papa pikir ibadahku bisa digantikan pake koran bekas ini !!! lantasku dengan sadar tapi kurang ajar.
Hari-hariku bahagia meskipun sedikit tak kuterima, aku juga rela disebut sebagai anak tidak tahu diri atau sebagainya. Namun hari-hariku seperti ini dengan keterbatasan yang bisa saling melengkapi. Keesokannya seperti biasa bawa bekal sekaligus jajanan untuk dijual kesekolah, dan sampai saat itu aku berkata aku bahagia.
Aku aneh dan itu aku sadari sebagai orang yang selalu ditertawai, meskipun oleh keluargaku sendiri. Karena hanya satu hal yang selalu kusyukuri untuk melengkapi apa yang menjadi kebutuhan aku sendiri. Terdengar sombong dan tak tahu diri tapi ini kata hati yang tak pernah dikasihi meskipun kucari-cari. Pada tari itu yang kutuang sehingga pada beban sering kuhempaskan pada banyaknya gerakan, menutur saja ada harapan pada gerakan yang rancu untuk kubuat, saat itu aku masih memikat untuk dikatakan manusia laknat. Entah dari kapan dan bilamana bahasa ini muncul yang jelas ini mudah dilontarkan bagi bibir mereka yang suka pada kata-kata yang buat orang duka.
Andai dapatku bicara bagaimana rasanya untuk merasakan belas kasih, disayangi dimanja dan dihargai tak usah sebagai manusia. Pada titik yang sangat jelas, mereka bilang tentang sebuah tuntutan dan tuntutan itu harus kucapaikan. Sedangkan pada telinga ini jelas aku hanya seorang penari dan penari meskipun batin ini tak ingin memiliki.
Hari-hariku masih suram untuk ku akui selalu kufur pada nikmat Ilahi dalam bakat dan anugerah yang telah Ia beri. Hanya saja sebenarnya aku ingin berkata, aku ingin jadi apa yang mereka katakan, namun takdirku menjadi keterpurukan seperti apa yang mereka sebutkan. Meskipun senandungku sudah tak berbunyi dan benciku sudah tak berdesis lagi. Aku tetap merasa hina dalam hati ini, ini tanda tanya dari hati .
Meskipun memiliki segudang prestasi yang dimiiki dan segudang cita-cita yang kuucap buat mereka, aku hanyalah manusia yang hina, dipandang namun tak punya harga. Rasanya dan itu kata-kata itu tak mereka beri dan keluar dari hati ini.
Aku sebenarnya rindu pada angin yang sangat inginku miliki, aku ingin bangun sebelum fajar mencari jati diri. Aku menghindar menjauh dan melarikan diri, dari apa yang mereka takuti, tapi ini bukan pilihanku.
Aku hanya dapat bercakap bahwa memang ada takdir dan ujian yang harus dimiliki dan kini aku dalam takdir yang mereka tentukan. Karena memang pekerjaanku tidak membahagiakan mereka dan menjadi cemoohan dia, aku ! iba.
HARAP!!!
Semua orang bilang gapaikan harapanmu setinggi langit seperti apa yang kau inginkan.
Halu, walau hanya untuk merasakan menjadi manusia sesungguhnya, dihargai, dihormati dan dikasihi. Itu saja cukup simple dan tidak banyak untuk permintaan. Hingga pada tulisan ini hanya sebuah kata-kata dalam bentuk tulisan berisi curahan. Basi dan tak berbobot sama sekali, tapi ini cerita bukan ?
Banyak juga yang berkata tentang kehebatan, keberhasilan, meskipun diri sendiri tidak meyakinkan. Dari pekerjaan menjadi seorang koreographer, menari, menyewakan baju, dalam tanda tanya ? itukah pekerjaan seorang pria. Ini benar dan mungkin sangat benar, kata-kata dari manusia kufur yang telah diberi anugerah dari apa yang mereka dapatkan.
Kadang-kadang diri ini juga mengingatkan bahwa hari-hari dan harap harus berharga dan dihargai. Aku tak tahu apa yang harus melakukan apa dan berbuat apa, karena disini aku hanya rindu pada sebuah jiwa dalam penghargaan meskipun hatiku telah berkata kau sudah dewasa, dan ini rasa setan bukan ?. Tapi pada setiap hati ini benar-benar menangis aku selalu berkata pada rindu yang sangat kurindu dalam jiwa yang pernah kurasakan, rasa yang rasanya akan sangat hangat dan dalam.
Dalam diri untuk menghampiri ada benak berkata kau lelaki paling dewasa dalam berkeluarga, meyakinkan diri untuk mendewasakan dan bersikap harus seperti apa. Hati memang ada namun tak perlu dipedulikan karena sejatinya otak harus sejalan dengannya.
Harapan itu jadi sumpah dalam diri bahwa harus tegar dan mandiri. Namun fajar begitu dingin dan hanya sementara sedangkan sosok manusia yang hina itu aku dalam benak yang menoleh untuk merendah jadi manusia yang sangat tak berharga.
Setiap yang dituju dalam kehidupan selalu menjadi angan bahkan mimpi dibunga tidur setiap malam. Kita tak perlu bangga atau sedih untuk menjalaninya saat dia terwujud maka itu rezeki yang sesungguhnya dan saat tidak terwujud itu bukan mimpimu dan itu punya orang lain, dan hanya untuk perlu diketahui saja bahwa angan tetap jadi angan dan mimpi akan jadi kenyataan dengan perlakuaannya. Sekarang tinggal pilihan disetiap keputusan “ try u can get it, leave see u bye, just simple” dan itu pilihan hidup.
ORANG BARU
Kami masih kecil dan bunuh diri bukan suatu hal yang rancu lagi, sebenarnya tak perlu menyudahi karena hasil merupakan usaha dan perjuangan dimulai dari harapan. Rasannya memang suram dan sudah tidak lagi harapan. Kami dituntut mengerti dan mereka diminta untuk meratapi. Aku masih dibangku sekolah dasar waktu itu, sedangkan kakak yang lainnya masih sekolah dibangku sekolah menengah dan atas. Apa sebenarnya yang mereka pikirkan sebenarnya? Ada banyak rasa dan jiwa sebenarnya yang tidak mereka pertimbangkan, aku masih bodoh dengan segenggam obat yang tidak berefek mati serta benturan kepala beribu kali yang tak membuahkan hasil. Mereka seperti hanya bersandiwaara menikmati hidup dalam kesedihan yang selalu dibuat-buat dengan nafsu yang ada.
Akankah berhenti dalam perjalanan, sedangkan kami 8 bersaudara dan mereka yang selalu meminta tuntutan akan pelayanan dengan jiwa dan raga. Memang tak tahu diuntung dibesarkan dengan sepenuh hati, namun tak punya akal berterima kasih. Alasan memang alasan yang itu sanggup kuberi. Tapi itu bukan akalan belaka karena rasa ada banyak jiwa yang terpapar dalam remuk, sehingga melepaskan dalam duka yang mudah dibentuk, terlihat dari kakak yang sudah prustasi dan selalu mencoba untuk bunuh diri, lari kian kemari dan meronta dinegeri yang belum mereka kenali.
Setiap hari, setiap hari dan setiap hari, dan tidak satu haripun dirundung kebahagiaan yang benar-benar nyata. Rasanya sesak dan tidak bisa bernafas seperti dipukul begitu keras dengan dentuman yang begitu tajam. Ini hidup ? ini nyata ? pertanyaan yang terus mengalir dalam air mata yang sangat perih rasanya dalam kata yang tak pernah bisa kuungkap. Aku mengaku angin, namun aku tidak sejuk, aku hidup ? ada banyak yang ku inginkan seperti mereka siana siani dan sianu tapi aku bukan sisitu !. Tiap hari aku harus sadar hanya ini yang mampu kuucap dalam rendung yang kukecam pada diri sendiri dan aku selalu sadar diri akan ini. Meskipun khilaf dalam ucap kufur yang tak bersyukur, saat itu aku berka ta pada diri
“AKU HINA”.
Walau gimanapun mereka tetaplah orang tua melahirkan, membesarkan, mengasihi dan menyayangi dalam harapan, pasti dan juga tentu karena itulah dari tujuan mereka untuk mendapatkan seorang anak, namun untuk seterusnya dan kehidupan selanjutnya itu urusan mereka dengan Tuhan mereka. Kita tak bisa menyesali terlahir dan dilahirkan dari rahim siapa bukan ? karena sejatinya itu permintaan dan perjanjian urusan diri sendiri kamu denngan Tuhan, sebelum turun kebumi. Although u have special to ur self and best to all the moment, and us proud u parents. Dont thinking to never dark the our u memories. To now aku hanya bisa menyesai lalu berbuat lagi dan menjalani kehidupan begitu hari demi hari.
Tak ada rasa yang begitu indah nan berkesan yang kutahu aku ada di dunia dengan gelar yang kubuaut sendiri, meskipun itu sangat bodoh karena yang kurasakan aku ya aku takkan mungkin dia sana sini apalagi situ. Aku suka keramaian dan hening didalamnya berimajinasi liar dan menghayalkan pergi sejauh mungkin tanpa kenalan tanpa keakraban, hanya diri sendiri dan orang baru yang dijumpa. Mungkin menyakitkan tapi ini permintaan, karena aku telah larut dalam perasaan dan menyaksikan.
Bersuara lagi tak didedangarkan
Dengar lagi tak diacuhkan
Acuh lagi dihiraukan
Dan hampa dalam larut kesepian
Just of my question why ? kenapa bisa begini dan sejauh ini, bahkan aku hanya memimpikan sebuah mimpi yang takkan mengganggu orang lain. Salah pada nyata yang tak berpeduli ? salah pada nyata yang tak mengganggu dan dimana letak kebenarannya ?
Hinaan bukanlah hal yang tak biasa lagi bukan surprised be magical yang amazing lagi buat ku, sekali lagi aku ya aku yaaaaa aku, menitik karir,pendidikan dan kehidupan dengan cara ku sendiri dan lalu mereka dan kamu mungkin berkata sombong. Ya... inilah aku sok asik, bertanya lalu menjawab sendiri aneh bukan ?.
Ada kalanya aku ingin jadi mereka sidia sianu dan sisitu tapi tempatku tak ada sama sekali apalagi disediakan, meskipun begitu aku juga manusia bukan ? not other not me mah kata orang-orang but,when i have to giving of me i can do,that only i want to like him.
Aku suka dalam kehidupan yang ramai lagi sepi, itulah rumah. Mama bilang rumah ini terasa seperti neraka, tak ada kebahagiaan yang diciptakan,tak feeling soul yang dirasakan. Hari-hari ya hari-hari jalan dan berjalan dalam kebosanan,belum ada perubahan belum chance my life i fee, right the every one say me not like to see cause i have problem to there. Im not feel. Every day seperti dark yang sangat kejam untukku sehingga jadi shadow master yang kejam. Aku sadar terkadang dreams tak sesuai dengan kenyataannya. Ada kalanya mereka memuji lalu menjatuhkan meskipun belum sempat untuk bangkit dan membuktikan.
Air mata memang tidak sangat berarti namun dalam kehidupan menjalin mimpi dan merasakan sebuah keinginan yang begitu dalam,meskipun mereka mengejek dan aku hanya ingin mewujudkan mimpi. Sudah cukup bagi mereka untuk menceritakan dan membicarakan bahkan mencomoohkan ini, isn’t me like they. Saat waktunya, meskipun hinanya ini, pada satu keyakinan go away and made to something right.
DREAMS
Indah pada masanya jika semua terwujud dan takkan lupa pada waktu yang kelam dalam mengikuti apa yang sebenarnya dan harus terjadi dalam kehidupan. Dalam hal ini this memories remember about my self and aku teringat sendiri seberapa tidak pentingnya hidupku yang belum mencapai tujuan dan apa untungnya ?. Hanya saja selalu ingat suatu usaha yang diusahakan takkan pernah sia-sia, dan satu hal ini selalu teringat dikala dulu kecil rasanya sangat indah bisa selalu dekat dengan ALLAH SWT. “ berusahalah kamu maka kan KU beri” tak pernah lupa pada ungkapanNYA yang sangat menaruh pasti. Seperti teman-temanku yang tak terlalu menaruh banyak harapan pada kehidupannya, dan aku sibodoh ini tidak berarti yang selalu berimajinasi dalam mimpi-mimpi tinggi yang dikhayal dalam sepi. Terkadang tak sadar kehinaan yang ditanamkan pada diri sendiri, terkadang tak sadar asal dan muasal yang berpengaruh pada diri.
Namanya Refki Oktavihamda, jujur dia memberi pengaruh besar pada setiap angan yang ku buat. Dia simple berusaha sok paham dan dingin, refki ya wkwkwk fokus fokus lets join hear me, ya dia anak laki-laki yang ditinggalkan seorang ayah yang baru duduk dibangku SMP, sangat tangguh dan tegar pelukan keluarga waktu itu yang secara langsung kusaksikan. Waktu itu kami belum kenal tapi ketegarannya itu yang buat pengaruh dan pada setiap angan yang dibuat memberikan kenyataan, yes the real and not have many reason, amazing and fantastic. Setiap kata-katanya penuh dengan inspirasi dan kemesuman wkwkkw tapi dia tetap dia. Nama ayahnya kulupa tapi hanya saja dia mantan guru dari orang tuaku dan waktu itu juga aku semakin menjadikannya sebagai panutan dalam mengejar mimpi ini yang baru kumulai waktu itu.