Biasanya, ada akhir pekan di mana Samuel harus bekerja dan tidak memiliki waktu sama sekali untuk bersantai. Namun ada juga, akhir pekan yang membuat Samuel sangat ingin melakukan kegiatan karena dia kebosanan. Maka pada hari itu, setelah jogging dan sarapan, Samuel menatap kosong pada layar televisi yang lagi-lagi memuat tayang ulang wajah saudaranya.
Terkadang, Galaxy bisa menjadi sangat asing jika muncul di televisi. Bahkan, Samuel yang saudaranya pun tidak mengerti bagaimana bisa saudaranya memiliki bakat seperti itu. Seperti, yang ada di layar televisi itu memang benar-benar orang lain.
Samuel menghela napas panjang dan memanjangkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengambil ponselnya dan memainkan game sejenak. Ketika dia bosan dengan game, dia beralih mencari kesibukan lain. Merasa lebih bosan, Samuel akhirnya melakukan face time dengan Alberto. Namun, ketika panggilannya tersambung, yang dilihat Samuel adalah orang lain. "Kenapa kau yang menjawab?"
Orang di seberang malah menunjukkan ekspresi lebih kesal daripada Samuel. "Kau menggangguku! Aku sedang bermain game dan kalah karenamu!"
"Kau? Bermain game?"
"Ya!"
"Di ponsel Alberto? Ponsel yang bahkan aku pun belum pernah memegangnya?"
Mendengar nada suara tidak percaya dari Samuel, Nafelly pun tersenyum miring. "Kau tidak pernah memegangnya sekali pun?"
"Apa-apaan dengan wajah puas itu?!" Samuel segera duduk di sofa. "Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Kau menggodanya?"
Nafelly terlihat mengambil camilan dan memakannya dengan puas. "Tidak. Aku hanya bertanya tentang Christina Perri dan dia memberiku ponselnya. Lalu ada iklan di YouTube tentang game dan Alberto membolehkanku mendownload dan memainkannya. Kenapa? Apa Alberto menolak memberikan ponselnya padamu?"
"Aku bahkan tidak pernah mencoba meminjam ponselnya."
"Kenapa? Kau takut dia menolakmu?"
"Menolakku?" Samuel mendengus sinis. "Dia bahkan pernah datang malam-malam ke rumahku hanya karena aku berkata bahwa aku lapar."
Nafelly mengerutkan alisnya dengan heran. "Malam-malam?"
"Ya! Di tengah malam. Bahkan saat dia masih tertidur, dia rela bangun untuk membelikanku makanan." Samuel tersenyum puas saat melihat Nafelly gondok.
Melihat Samuel memiliki ekspresi mengejek di wajahnya, Nafelly yang kesal pun tersenyum miring. "Membeli, kan? Dia tidak membuatkan makanan untukmu. Coba tebak, siapa yang saat ini sedang membuatkan makan siang untukku?"
Samuel mendengus sinis. "Alberto hampir setiap hari membuatkanku bekal makanan. Dia sangat cakap dan makanannya bervariasi."
Rahang Nafelly mengeras. Dia merasa kesal sendiri dengan perlombaan siapa yang paling disayangi Alberto ini. "T-tapi—"
"Tapi apa?! Kau tidak bisa mengalahkanku, bukan?"
Wajah Nafelly terlihat memerah. "Aku tinggal dengan Alberto!"
"Kami sering sekamar bersama. Aku bahkan berkali-kali tidur satu hotel dengannya."
Nafelly melotot mendengar kekalahan telak itu. Napas Nafelly yang berderu kasar karena emosi bahkan terdengar, sekarang. Nafelly segera menegapkan tubuhnya dan mulai berteriak. "ALBERTO!! AKU MENDENGAR ADA TAMAN BERMAIN YANG DISKON SATU GRATIS SATU HARI INI!!"
Samuel mengedip mendengar ucapan Nafelly. Dia mendengus sinis. "Alberto sangat irit dengan tabungannya."
"Nafelly, kau bilang ingin ponsel yang sama denganku. Aku tidak bisa membelikanmu keduanya."
"Apa?! Tunggu! Alberto akan membelikanmu ponsel?" heran Samuel, mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Tapi aku tidak pernah ke sana!! Tiketnya bahkan sangat murah!" Nafelly mengabaikan keterkejutan Samuel.
"Tapi—"
"Ayolah!! Aku mungkin tidak bisa melakukannya nanti. Jika kau tidak mau, aku akan mencuri motor di jalanan dan menjualnya hari ini juga!!"
Samuel melotot. "Kau!! Pantas saja Alberto menurutimu!"
"Baiklah. Kita akan pergi hari ini."
"APA?"
Nafelly melotot senang mendengarnya. Begitu pun dengan Samuel yang merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "YEAY!! BENARKAH?!"
"Kau yang menginginkannya, bukan?"
"ALBERTO!! AKU SANGAT MENYAYANGIMU!!"
"Alberto, dia menipumu!! ALBERTO!! APA KAU DENGAR AKU?! HEY!! SIALAN!! JANGAN MENUTUP SAMBUNGANNYA!!" Dan Nafelly pun menghilang dari pandangannya saat sambungan ponselnya terputus.
Samuel merasa panik di tempatnya. Dia entah kenapa merasa resah karena Alberto yang pelit itu tiba-tiba murah hari pada Nafelly. Samuel segera turun dari sofa dan berlari ke arah lemarinya.
Dia akan menyusul Alberto dan Nafelly bagaimana pun caranya.
***
"Apa yang ini juga kebesaran?" Alberto merentangkan jaket tebal di depannya dan mencoba mengukurnya dengan tubuh Nafelly.
Nafelly memperhatikan jaket di depannya. "Ya. Dan apa aku harus menggunakan jaket setebal ini? Di sini bahkan tidak terlalu dingin."
"Di sini berbeda dengan di luar rumah. Kau akan menggigil, nanti," balas Albert sambil membuka resleting jaket di tangannya. "Kita gunakan ini dulu. Sebelum ke taman, kita akan berbelanja untukmu terlebih dahulu. Kemarin aku hanya membeli 7 pasang pakaian saja."
"Bagaimana dengan ponsel?"
"Kita akan membelinya sekalian hari ini."
Nafelly tersenyum cerah dan merasa berbunga-bunga hari ini. Dia sangat dimanjakan. Alberto meraih tangan kanan Nafelly saat memasukkan lengan jaket tebal miliknya.
Nafelly mengendus jaket yang digunakannya. "Aku bisa mencium wangimu di jaket ini."
Alberto yang sedang membenarkan kerah jaket Nafelly, merespons dengan senyum geli. Dia mengusap kepala Nafelly yang tersenyum senang dengan wajah imut. Matanya mengedip saat melihat memar di wajah manis itu. Senyumnya pun perlahan memudar.
Saat ini, Alberto bertanya-tanya. Tepatnya, kehidupan seperti apa yang Nafelly jalani hingga menimbulkan memar di beberapa bagian tubuhnya dan organ dalamnya pun bahkan terluka. Akan lebih bagus jika Nafelly benar-benar mata-mata dan memiliki skill bertarung. Namun, dokter mengatakan bahwa memar itu disebabkan oleh satu pihak tanpa perlawanan. Dan Nafelly hanya melakukan pertahanan saja, karena itu memar di tangannya dan di punggungnya lebih banyak daripada di wajahnya.
Lalu, apa tujuan orang itu memukuli Nafelly? Kenapa harus tubuh kurus kering ini yang dipukuli? Walaupun sifat Nafelly benar-benar kurang ajar, namun sifat alaminya sangat lembut dan seperti anak-anak pada umumnya.
Jadi, lebih tepatnya, kenapa mereka melukai anak di bawah 20 tahun ini? Dan berapa lama Nafelly mendapatkan perlakuan seperti itu?
Ting tong!
Alberto mengedip, tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah pintu. "Sepertinya ada—"
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
"Apa-apa—"
Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong!
Alberto buru-buru berjalan ke arah pintu dan membukanya tanpa melihat interkom. Dia sedikit terkejut saat melihat Samuel di sana. "B-bos?!"
Samuel ada di depan pintu. Dia terengah-engah, menggunakan coat tipis dan hanya memegang ponsel dan black card di tangannya. "Dia—hah ..." ucapannya tidak terkendali karena napas beratnya. "Pengemis kecil itu—"
"Hey! Apa yang kau lakukan di sini?!" Nafelly segera muncul dari belakang tubuh Alberto, dengan jaket tebal dan tatanan rambut yang rapi.
Napas Samuel masih tidak teratur saat berbicara kembali dengan Alberto. "Kau sungguh akan ke taman bermain dengannya?!"
Alberto mengedipkan matanya berkali-kali. "Ya. Kami—"
"Kau itu tidak diajak!!" Nafelly memotong ucapan Alberto, berdiri di depan Alberto dan mendorong bahu Samuel. "Pergi, sana!!"
"Hey, bukankah kau mencintaiku?! Kenapa kau jalan-jalan dengannya?!"
"Bukankah kau menolak untuk menjadi milikku?! Kenapa kau mempermasalahkan ini?!"
"Jadi, kau sudah tidak mencintaiku?!"
"Aku masih mencintaimu, tapi kau tidak diajak!!"
"Apa?! Kenapa kau memutuskan seenaknya?! Aku ingin ikut!!"
"Tidak bisa!! Tidak boleh!!"
"Memangnya kenapa?! Kenapa aku tidak boleh ikut?!"
"Ini adalah girls time! Pria dilarang ikut!!"
"Alberto adalah pria, b******n!!" Samuel memelototi Nafelly, lalu berbicara dengan Alberto lagi. "Alberto!! Dia menipumu!! Tidak ada diskon seperti itu!"
Alberto yang masih mencerna pertengkaran mereka, hanya mengedip dan menatap Nafelly. "Tidak ada?"
Nafelly mengeraskan rahangnya dan memukul lengan atas Samuel. "KENAPA KAU MEMBERITAHUNYA?!"
"DISKON SATU GRATIS SATU ITU PENTING UNTUK ALBERTO!!"
"TAPI JIKA KITA SUDAH BERADA DI SANA, ALBERTO TIDAK ADA PILIHAN LAIN SELAIN MEMBELINYA!!"
"KAU!!" Samuel ikut menggerakkan giginya. Dia melihat penampilan Nafelly yang menggunakan jaket milik Alberto. "Kau!! Kau menggunakan jaket Alberto!!"
Nafelly tersenyum miring dan bersidekap d**a. "Betul sekali! Dia bahkan membantuku memakainya."
Napas Samuel makin terengah kasar. Rahangnya semakin mengeras, dan segera, dia menatap Alberto tanpa suara.
Melihat tatapan penuh permohonan itu, Alberto tahu apa artinya. Samuel saat ini seperti anak anjing yang merasa tidak adil karena tidak diberikan makanan yang sama seperti anak anjing lainnya.
Alberto menghela napas panjang. Alarick benar. Alberto seperti ayah tunggal dengan dua anak manja di sisinya.
Pada akhirnya, Alberto harus menyerah dan membawa Samuel ikut serta dengan perjalanan hari ini. Dan dengan tambahan, karena Samuel menggunakan coat tipis, Alberto harus meminjamkan jaketnya juga pada Samuel.