Sebenarnya, untuk membeli pakaian dan lain sebagainya, Alberto berniat untuk membelinya di ruko pinggir jalan. Selain memiliki harga murah, ruko di pinggir jalan juga bisa melakukan negosiasi untuk potongan harga. Maka dari itu, Alberto berniat untuk ke sana. Tetapi, dengan Samuel yang membawa black card dan berkata, "Aku akan membayar semuanya." maka, mereka memutuskan untuk pergi ke mall saja.
Mobil milik Samuel disimpan di apartemen Alberto, sedangkan mereka pergi menggunakan mobil baru Alberto. Ada beberapa bagian mobil yang masih tertutupi oleh plastik dan Alberto masih tidak terbiasa dengan kursi mobil yang sangat empuk dan nyaman ini. Dan walaupun Alberto berpikir untuk mengganti mobil ini di masa depan, Alberto pikir itu akan menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk menggantinya. Jadi, mau tidak mau akhirnya Alberto menerima mobil yang diberikan secara paksa padanya itu.
"Alberto! Alberto! Ada crepes!!" Nafelly berseru di kursi belakang sambil melompat-lompat di tempatnya. Samuel yang ada di sampingnya hanya mendongak untuk melihat pedagang jalanan yang ditunjuk Nafelly.
Sebelumnya, karena Samuel ingin duduk di depan, Nafelly jadi ikutan ingin duduk di depan, dan membuat Alberto lelah lagi dan menyuruh mereka berdua duduk di belakang sementara kursi di samping Alberto dikosongkan.
Alberto sudah tahu apa yang dimaksud oleh Nafelly tanpa harus mendengarnya lebih jauh. Dia segera menepikan mobil dan parkir di belakang roda crepes tersebut. "Kau mau rasa apa?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.
"Aku ingin original dengan es krim di atasnya."
"Seperti kemarin?"
"Ya!"
"Baiklah." Alberto membuka jendela mobil dan memanggil penjual itu.
"Alberto, kau tidak menanyaiku?" Samuel tiba-tiba bertanya, membuat Alberto mengernyitkan alisnya dan menoleh ke belakang.
"Bos, kau mau?" Sebenarnya, Alberto bertanya untuk memastikan ucapan Samuel dan merasa heran kenapa Samuel ingin jajan crepes juga. Maksudnya, dia sudah 30 tahun dan Alberto saja bahkan tidak berniat membelinya.
Namun, Samuel malah tersenyum cerah dan mengangguk. "Aku juga rasa original dan es krim. Tambahkan selai stroberi di atasnya."
Alberto merasa syok ketika mendengar ucapan Samuel. Yang benar saja! Stroberi, katanya?! batinnya, merasa agak aneh dengan bosnya hari ini. Namun walaupun begitu, Alberto tetap memesankannya untuk Samuel.
"Kenapa kau mengikutiku?!" Nafelly memulai pertengkaran lagi. Dia mengerutkan alisnya dengan kesal.
Samuel menghela napas panjang. Dia mengangkat sebelah tangannya dan merentangkannya hingga ke kursi Nafelly. "Sungguh, kau ini benar-benar mencintaiku atau tidak?"
"Aku sungguh mencintaimu," kesal Nafelly. "Jika kau tidak percaya, kalau begitu tidurlah denganku!"
"Aku tidak mungkin tidur dengan anak kecil! Aku 30 tahun dan kau mungkin sekitar 20 tahun!"
Alberto ingin mengatakan bahwa umur Nafelly adalah 18 tahun, namun akhirnya tetap diam dan membiarkan anak-anak itu bertengkar.
"Lalu apa?! Cinta tidak mengenal umur!"
"Tentu saja cinta mengenal umur. Jika dunia tahu perbedaan usia kita, mereka akan berkata yang jelek-jelek terhadap kita. Khususnya untukmu!"
"Memangnya kenapa?! Aku hanya memerlukanmu. Aku tidak peduli dengan ocehan orang-orang di dunia ini!"
"Kau!!" Samuel segera menyentil kening Nafelly.
"Hey!! Kenapa kau memukulku?!"
Alberto menoleh dan memelototi Samuel. "Bos!! Kenapa kau memukulnya?!"
Samuel menatap Alberto yang khawatir dan Nafelly yang merasa kesal sambil memegangi keningnya. "Aku hanya menyentilnya!" belanya pada Alberto.
"Kau tidak harus melakukan kekerasan padanya," decak Alberto, melepaskan seat belt miliknya dan memutar tubuhnya ke belakang. "Sini, biar kulihat keningmu."
Nafelly menurut dan dengan cemberut memajukan tubuhnya. Dia melepaskan tangannya yang masih memegangi kening dan Alberto memperhatikannya dengan serius. "Sudah, tidak apa-apa. Hanya memerah saja."
Nafelly masih tetap cemberut saat memundurkan tubuhnya dan memelototi Samuel.
Samuel ikutan kesal dengan kelakuan Nafelly. "Kau sangat cengeng. Dan Alberto sangat pilih kasih."
Alberto menghela napas panjang. "Bos, kau lebih tua darinya. Daripada bertengkar dengannya, kau seharusnya menjaganya. Jarak umur kalian adalah 12 tahun."
Samuel cemberut kesal. "Memangnya kenapa?! Dia sendiri yang menyebalkan!"
"Bos!!"
Dan Samuel akhirnya membanting punggungnya ke kursi dan tidak menjawab.
Alberto menghela napas panjang. Kali ini, dia seperti ayah yang menyuruh kedua anaknya akur dan meminta pada sang kakak agar memperlakukan adiknya dengan lebih baik.
Tok tok!
Alberto mengalihkan pandangannya, membuka jendela mobil dan membayar crepes yang dibelinya.
Saat memulai perjalanan, Samuel dan Nafelly kembali berdebat karena es krim milik Samuel lebih banyak daripada Nafelly. Anehnya, Samuel merasa puas dan mengolok-olok Nafelly.
Pada akhirnya, Alberto hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Selain membeli crepes, Nafelly juga meminta hot dog, sosis bakar, minuman, permen kapas, dan lain sebaginya yang dia temui di jalan. Mereka sering berhenti karena Nafelly meminta ini itu. Yang lebih buruk adalah Samuel juga tidak ingin kalah dan membeli apa yang Nafelly beli. Dan Alberto hanya dapat menghela napas panjang lagi dan lagi.
Perjalanan ke mall kali ini akan sangat berat.
***
"Kenapa kau menurut sekali padanya?" Samuel yang berada di barisan belakang dengan Alberto pun hanya mengedip dan menatap Samuel.
Mereka sedang berbelanja saat ini. Dan Nafelly berjalan ke sana ke mari dengan sangat semangat.
Alberto menoleh pada Samuel dengan sebelah alis yang terangkat. "Maksudnya? —Nafelly! Aku sudah bilang padamu, beli baju yang tertutup dan sopan. Kau tidak akan ke mana-mana jika membeli pakaian seperti itu."
Nafelly yang ditegur pun hanya berdecih dan menyimpan kembali pakaian seksi yang dipilihnya.
Samuel yang melihat itu pun, kembali bertanya dengan heran, "Dan kenapa dia sangat menurutimu dan tidak sopan pada siapa pun yang dilihatnya?"
Alberto mengedipkan matanya berkali-kali. "Itu juga pertanyaan yang sama untukmu. Kenapa aku selalu menurutimu, dan kenapa kau juga selalu menurutiku?"
"Tapi aku memiliki alasan."
Alberto mengedikan bahunya singkat. "Sifatku memang seperti ini. Yang diherankan adalah kenapa kalian berdua sangat menurutiku? Apa karena aku lemah? Atau karena aku memiliki trauma?"
Samuel mengerutkan alisnya dalam-dalam. "Kau tahu bukan itu alasannya." Samuel sekarang merasa kesal karena bingung sendiri. "Apa terjadi sesuatu? Insiden dan lain sebagainya?"
"Ah ... insiden?" Alberto mengedipkan matanya berkali-kali. "Selain karena perempuan-perempuan di toilet kemarin, ada insiden lain, sebenarnya."
"Apa itu?"
"Saat di rumah sakit, ada kekacauan."
"Kekacauan?"
Alberto menganggukkan kepalanya pelan. "Itu bukan salah Nafelly. Dia hanya duduk seperti biasa. Hanya saja, ada nenek-nenek yang sensitif yang mempermasalahkan posisi duduk Nafelly yang terlalu seenaknya dan terlihat tidak sopan. Nafelly melawannya, dan mengatakan jika tidak ada aturan tertulis tentang bagaimana cara duduk seseorang. Dan dia adu mulut dengan nenek-nenek itu. Orang-orang di sana tentunya membela nenek-nenek itu daripada Nafelly. Dan Nafelly adu mulut dengan semua orang di sana. Lalu aku menengahi, dan menyuruh Nafelly untuk berbicara. Salah seorang di sana ingin mendorongnya, namun aku menghadangnya dan terjatuh hingga kepalaku membentur meja. Itu saja. Mungkin, karena itu Nafelly jadi bersikap penurut padaku."
Samuel mengerutkan alisnya dengan tidak suka. "Kepribadiannya benar-benar berantakan."
Alberto mendengus. "Dia sama denganmu."
"Apa?!" sentak Samuel dengan tidak terima. "Kau menyamakan sosiopat itu denganku?!"
Alberto tersenyum miring pada Samuel. "Kau menolak perempuan-perempuan yang dijodohkan denganmu dengan tidak sopan, membuat mereka kesal padamu dan aku yang harus menjadi tamengmu untuk ditampar, disiram dan ditendang. Apa kau lupa itu?"
Samuel mengedipkan matanya berkali-kali. "B-benar juga."
Alberto mendengus. "Lagipula, dia masih kecil. Dia di usia yang seharusnya masih bersekolah daripada kehilangan ingatan dan bermain-main dengan om-om sepertiku. Kau seharusnya baik-baik padanya."
Samuel terdiam sejenak. Dia menatap Nafelly yang mencoba topi kekinian sambil bercermin dan memutar tubuhnya. Samuel lalu mengedipkan matanya dan menatap Alberto. "Kalau kau adalah om-om, lalu aku ini apa? Kakek-kakek?"
Alberto mengangkat sebelah alisnya. "Kakek-kakek? Itu bisa jadi. Ada penelitian yang berkata bahwa semakin tua, akan semakin terlihat seperti anak kecil. Mungkin karena itulah kau selalu bertengkar dengan Nafelly."
Samuel melotot. "Hey!!"
Alberto tertawa pelan dan berjalan mendekati Nafelly. Dia segera meraih topi yang digunakan Nafelly dan membenarkan ukurannya sesuai ukuran kepala Nafelly. Nafelly tersenyum cerah pada Alberto dan kembali mencari barang-barang lain. Kali ini, dia membawa Alberto bersamanya dan menyuruh Alberto untuk menggunakan bando. Nafelly tertawa cerah melihat bagaimana bodohnya wajah Alberto saat dipakaikan bando.
Samuel hanya mengawasi itu dari jauh. Bibirnya bahkan tidak bisa naik ke atas saat mengingat kata-kata Alberto kemarin. "Saya tidak tahu apakah Nafelly Christine yang ini adalah Nafelly Christine yang sama dengan ibumu. Foto-fotonya sudah dirusak dan saya akan segera mencaritahunya. Sebenarnya, walaupun tidak mungkin bahwa dia Nafelly yang merupakan ibumu atau bukan, saya tidak bisa melepaskan kemungkinan time travel. Karena bentuk tubuh dan rambut mereka sama."
Samuel menelan ludahnya dengan susah payah. Memang benar bahwa Nafelly yang sekarang kemungkinan bukan Nafelly dari garis dunia ini. Karena dia hanya mengingat Samuel, dan berkata mencintai Samuel walaupun mereka sering bertengkar.
Dan jika benar bahwa Nafelly yang berada dengannya saat ini adalah Nafelly yang seharusnya menjadi ibu kandungnya, maka ....
Tatapan Samuel mendingin saat menatap Nafelly yang tertawa puas dari kejauhan. Kilatan kebencian muncul sejenak di manik matanya.
... Samuel akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.