"Kau ... sungguh ingin melakukan ini padaku?" Nafelly bertanya. Napasnya sudah terengah-engah dan wajahnya berantakan. Keringat mengalir dari seluruh tubuhnya. Dia sudah berlari. Berlari dan berlari untuk menghindari kemungkinan dia terbunuh. Sebuah pistol tanpa peluru berada di tangannya, sementara sang musuh menyeringai saat menghampiri Nafelly yang tersudut di tembok. "Kenapa? Kau takut akan kematian?" tanya Samuel dengan seringai di wajahnya. "MEMANGNYA SIAPA YANG TIDAK TAKUT?!" Nafelly meraung, napasnya semakin terengah-engah. Tubuhnya gemetaran dan dia sudah seperti tikus yang akan tertangkap oleh kucing. "Memangnya, apa salahku?" sesak Nafelly. "Apa salahku?! Katakan padaku!! Yang kulakukan hanya mencintaimu!!" "Kau mencintaiku?" Samuel bertanya sinis dan tersenyum miring. "Kau

