Aku masih diam terpaku di tempat semula. Aku tak mampu menggerakkan tubuh ini bahkan jari jemariku. Rasanya semua persendian melemah sehingga tak dapat menopang raga dengan kokoh. Air mata yang sedari tadi menetes deras kini mulai menyurut, menyisakan bekas merah di mata serta pipi yang basah. Aku mulai menenangkan diri dari sesenggukan yang tak kunjung berhenti. Nyeri, sungguh sangat nyeri hingga tangis itu harus kupaksa berhenti. Kupandang kotak besar yang masih tersimpan di meja. Dia akan menjadi satu-satunya saksi tentang cinta yang tak terbalas, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Entah karena terlambat menyatakan atau takdir memang tak ingin menyatukan. Ku hirup udara hingga memenuhi rongga d**a. Dengan demikian, berharap kesesakan di dalamnya hilang bersama dengan nafas yang kuhe

