Esok harinya aku terbangun dengan mata yang sangat bengkak. Begitulah aku jika sudah lama menangis. Aku berjalan menuju dapur mengambil sedikit es batu untuk mengompres agar terasa lebih ringan. Saat ini hatiku mulai tenang. Selagi mengompres satu persatu mataku dengan bantuan satu tangan, tangan yang lainnya mencoba membuka kotak besar pemberian kak Iman kemarin. Ningsih entah kemana, sepertinya dia bangun langsung pulang. Sehingga aku tak bisa bertanya apa isi kotaknya. Buka jangan, buka jangan, buka jangan. Aku sangat dilema dan ragu akankah aku siap melihatnya? Namun rasa penasaran yang cukup besar mendorong otak untuk memberi perintah pada tangan agar tetap membukakan. Perlahan dan sangat hati-hati aku buka tutup kotak itu. Beberapa benda mengisi ruang kotak di sana. Satu persatu a

