"Mau temani aku berkeliling sebentar?" tanya Kak Iman kemudian setelah kami cukup lama terdiam. "Emmm … boleh. Tapi ini udah sore, Kak?" Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul lima sore. "Ah, benar juga. Ya, sudah di sini aja," ujarnya tampak kecewa. Sejujurnya aku tak yakin dengan kondisi yang sebenarnya terjadi saat ini. Aku sendiri senang, benar-benar gembira ketika mendengar semua yang dikatakan kak Iman. Bisa disimpulkan bahwa ia ku juga menyukaiku. Namun, melihat gestur tubuh serta mimik wajahnya, sejak tadi ia tampak gelisah, dilema, juga tak begitu bahagia. "Kak, sebetulnya apa yang ingin Kakak sampaikan?" tanyaku memberanikan diri. Aku tak bisa berlama-lama di sini tanpa pasti. "Aku rasa sejak tadi Kakak tampak gelisah. Katakan saja, Kak. Kakak pas

