[kepingan memori 3]
Nathaline memandang kosong sosok sang ayah yang terbaring di ranjangnya. Saat beliau meringis, Nathaline ikut menangis. Ia begitu menyayangi ayahnya, siapa yang tahu bahwa hari pernikahannya akan sekacau ini. Menambah luka pada sang ayah yang memang sebelumnya sudah memiliki memar akibat pria itu. Di titik ini, terkadang Nathaline ingin sekali mengakhiri nyawanya sendiri, namun urung ketika mengingat ucapan bahwa kematian bukan akhir dari segalanya. Ia akan terlepas dari segala terror, namun tidak dengan ayahnya, belum lagi segala hal yang perlu diadili di alam baka. Dan Nathaline masih menyayangi dirinya sendiri untuk dengan bodoh berpikir pendek dan mengira semua selesai setelah kematian.
Nathaline mendesah, disaat yang bersamaan Lord Morris masuk kedalam kamar yang ditempati Lord James dan mendekati Nathaline yang duduk di samping ranjangnya. Tangan Lord Morris terulur mengelus pundak Nathaline yang semakin membuat puteri Owen itu terisak. “Beristirahatlah, aku akan menemani ayah disini,” ujar Lord Morris, namun Nathaline hanya membalasnya dengan sebuah gelengan. “Kau bahkan belum berganti pakaian, Nath. Jika ayah tersadar nanti ia pasti akan sangat mengkhawatirkanmu.” Dan sekali lagi Nathaline menggeleng.
“Aku tidak mau meninggalkan ayah.” Isakan Nathaline semakin terdengar, Lord Morris pun memeluk tubuh Nathaline dan menempatkan dagunya di puncak kepala Nathaline sembari sesekali menciuminya. Nathaline tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mengkhawatirkan ayahnya saat ini.
“Adakah seseorang di luar sana?” ucap Lord Morris pada seseorang di luar kamar.
“Saya, Your Grace.” Setelah mendengar jawaban seorang pelayan wanita, Lord Morris pun melepas pelukannya dan meminta pelayan tersebut untuk masuk.
“Tolong siapkan air hangat di kamar mandi, bantu isteriku untuk membersihkan badannya, dan jangan lupa untuk membawa pakaian ganti dari kamarnya.” Pelayan itu menunduk hormat, lantas pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangatnya terlebih dahulu.
Beberapa menit berlalu, setelah pemberkatan tadi siang dan Lord Morris bahkan Nathaline masih belum percaya bahwa setatus mereka saat ini sudah resmi menjadi sepasang suami dan isteri. Belum lagi apa yang terjadi pada saat pemberkatan tadi membuat semua orang kaget dan beberapa orang Lord Morris mengalami luka ringan. Disaat seperti ini jangankan untuk bersantai atau memikirkan malam pertama bagi mereka berdua, yang ada perasaan mereka masih dipenuhi kekhawatiran. Barang kali hanya Lord Morris yang sesekali mencuri pandang pada Nathaline dan meyakinkan diri bahwa ia kini seorang suami dari wanita cantik ini.
Nathaline kembali ke ranjang sang ayah setelah selesai membersihkan badan. Ia melihat seorang dokter yang telah selesai membalut luka sang ayah dan Lord Morris yang masih berada disana. “Beliau baik-baik saja,” ucap dokter tersebut, dan Nathaline melihat mata sang ayah yang kini sudah terbuka. Ia berlari memeluk sang ayah, tanpa berkata apa-apa Nathaline hanya mampu menangis dan Lord James mengusap pelan punggung puteri semata wayangnya itu.
“Aku siapkan beberapa obat untuk beliau minum, Your Grace.” Lord Morris meraih secarik kertas dari Dokter tersebut sebelum dokter tersebut pamit dari mansion Lord Morris.
Keadaan Lord James berangsur membaik, sudah tiga malam berikutnya Nathaline tinggal di kamar sang ayah untuk membantu segala keperluan pria berusia lima puluh tahun itu, kendati sang ayah sudah kembali pulih dan meminta Nathaline untuk menemani suaminya di kamar.
“Nathaline sayang, ayah harap kau tidak melupakan tugasmu sebagai seorang Duchess, dan kudratmu sebagai wanita bersuami.” James berjalan menghampiri sang puteri yang tengah duduk di sebuah sofa di kamarnya.
“Aku paham betul, tapi aku sedang memantau ayah.”
“Ayah tidak menemukan itu, selain kau yang berusaha menghindari malam pertama kalian yang sudah lewat.” Lord James duduk di samping sang puteri, ia meraih sulaman di tangan Nathaline untuk di simpannya.
“Aku sangat ingin bersikap baik padanya, menghindar adalah cara terbaik dibandingkan aku berada di sampingnya dan melukainnya dengan diam ku.”
“Dan kau pikir itu tindakan yang bijak?” tanya Lord James, berusaha mengunci tatapan puterinya agar mengerti apa yang ia maksudkan.
“Jika kau meyakini cinta akan tumbuh dengan sendirinya, maka yang kau maksud dengan bersikap baik adalah menerima siapa yang telah kau nikahi saat ini. Kau paham betul bahwa kau adalah satu-satunya harapan ayah untuk mendapatkan seorang cucu, sayang. Tolong berikan untukku dan penerus untuk Lord Morris.” Nathaline mendesah, tatapan memelasnya kalah oleh tatapan sang ayah yang bagaikan sebuah perintah padanya.
“Tolong pastikan bahwa dirimu akan tetap beristirahat, ayah.” Nathaline mengecup pipi sang ayah sebelum beranjak dari kursinya.
“Tentu, dear.”
Dengan berat hati Nathaline meninggalkan kamar sang ayah, dadanya berdebar dengan kencang betika mengingat apa yang seharusnya terjadi di kamarnya nanti, dan apa yang harus ia lakukan untuk menghindari permintaan Lord Morris jika beliau meminta untuk dilayani. “Your Grace,” seorang pelayan menyapanya di depan pintu kamar, ia berkata bahwa Lord Morris sudah bermalam di dalam sana sejak tiga hari yang lalu. Dan itu membuat Nathaline menerka bahwa Lord Morris memang menantinya sejak tiga hari yang lalu.
Nathaline masuk kedalam kamar tersebut, ia melihat Lord Morris terperanjat dari tidurnya di atas sofa. Beliau melempar sebuah senyuman pada Nathaline saat wanita itu menghampirinya. “kenapa tidur di sofa, Your Grace? Kau bisa menggunakan tempat tidurku.” Mendengar itu Lord Morris meresponnya dengan senyuman, yang sayannya senyuman yang mampu memikat hati wanita itu tidak berhasil memikat wanita yang satu ini. “Aku hanya tidak ingin menggunakannya tanpa izin darimu.”
“Tapi ini rumahmu,” tukas Nathaline.
“Rumahmu juga.” Sekali lagi Lord Morris memamerkan senyumannya, yang sukses membuat Nathaline terheran-heran sebab pria ini terlalu banyak tersenyum sejak kedatangannya beberapa menit yang lalu.
“Duduklah, kenapa masih canggung padaku?” kali ini Nathaline yang tersenyum, lebih tepatnya senyuman yang dipaksakan. Ia menghampiri Lord Morris dan duduk di sampingnya, sebab beliau duduk di satu sofa panjang yang sengaja disimpan disana untuk dengan leluasa menikmati udara dari jendela besar yang kini telah di buka lebar. Itu adalah spot favorit Nathaline dikala mentari naik, terbenam, atau berganti menjadi rembulan saat petang menjelang.
“kukira ini belum memasuki tepat waktu tidur, jadi bisakah aku mendengar sedikit ceritamu?” tanya Lord Morris, ia duduk miring dengan menghadap sang isteri.
“Cerita mengenai apa?”
“Apapun tentangmu yang memang seharusnya seorang suami tahu,” ujar Lord Morris, Nathaline memberi jeda sebelum berkata hal-hal ringan mengenai kesukaannya, hal-hal yang tidak ia sukai, hingga sedikit tentang masa kecilnya. Kendati demikian rasannya teramat sangat canggung, atmosfir disini bagaikan seorang Nathaline kecil yang diintrogasi guru mengenai kenapa ia belum membayar biaya sekolah, sehingga dengan terpaksa ia akan menceritakan keadaan keluarganya.
“Aku tahu mungkin kau masih memerlukan waktu untuk terbiasa dengan kehidupanku, tapi saat ini apa yang menjadi milikku adalah milikmu, begitupun sebaliknya. Kau memiliki seorang ibu sekarang, sebab ibuku adalah ibumu, kau tidak akan penasaran lagi bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.” Lord Morris menggenggam tangan Nathaline. Seharusnya hal romantic terjadi saat ini, atau beberapa detik setelahnya. Namun Nathaline memalingkan pandangannya kala tanpa sadar wajah Lord Morris tinggal beberapa centi dari wajahnya.
Canggung bukan main, Lord Morris kembali menjauhkan wajahnya dan beliau terlihat begitu malu. Dan Nathaline dalam keadaan yang campur aduk antara menyesal sebab melukai perasaan Lord Morris, dan enggan meladeni pria tersebut. “Seperti yang kau bilang, Your Grace. Aku perlu waktu.” Nathaline mengatakannya dengan begitu cepat, entah ia sungguh malu dan takut Lord Morris memarahinya karena tidak mau memberikannya sebuah ciuman.
“Kau benar, kalau begitu beristirahatlah. Aku akan kembali ke ruanganku.” Manik Lord Morris kembali menghangat, ia mengusap surai Nathaline sebelum beranjak pergi dari kamar sang isteri.