[Kepingan Memori 2]
"Nathaline, kau kah itu?" Jonathan memejamkan matanya saat suara sang tuan terdengar di antara mereka. "Your Grace, Lord Davis datang ke Norwich dan ayah memintaku pergi kemari," balas Nathaline, mendengar itu Jonathan pun mundur beberapa langkah dan menempatkan dirinya tepat di belakang Lord Morris. "Maaf, sebab aku datang dengan tidak sopan, semuanya terjadi begitu cepat dan tak sempat untuk berbenah." Nathaline melepas cadarnya, dan memberi hormat pada pria yang statusnya lebih tinggi dari ayahnya ini.
"Ayahmu pasti perlu bantuan sekarang. Jonathan, pergilah ke Norwich, bawa beberapa orangku juga untuk menemanimu," titah Lord Morris, Jonathan lantas menunduk hormat dan berlalu dari tempatnya. Kendati ada banyak hal yang ingin dibicarakan dengan Nathaline, begitupun dengan Nathaline, namun ia harus membantu Lord Jason yang mungkin saja sedang dalam kesusahan meladeni Lord Davis.
Dua orang pelayan tiba, dan Anna di antara mereka. Lord Morris memerintahnya menyiapkan kamar agar Nathaline bisa beristirahat sementara prihal Lord James ia pastikan calon ayah mertuanya akan aman setelah ia turun tangan.
Di sini, kamar yang lebih luas dari kamar miliknya. Nathaline langsung dibuat nyaman dengan seluruh arsitektur dan furniture di dalamnya, seolah kamar ini memang di desain khusus untuk dirinya. Dan benar, Anna yang pandai mencuri informasi dari sesama pelayan di mansion ini pun berkata bahwa, "Lord Morris telah menyiapkan kamar ini dari jauh-jauh hari. Niat sebagai hadiah untuk pernikahan, tapi ia tunjukan sekarang."
"Aku suka, Anna. Aku tak bohong. Aku juga menyukai siapa yang memberinya, namun itu kebohongan." Nathaline mendesah, sebelum beranjak menaiki ranjang dan duduk di pinggirnya dengan kedua kaki ditekuk.
"Kali ini apa lagi yang kau khawatirkan, Milady? semua yang ia beri adalah bukti cinta. Lihat seberapa ia peduli kepada ayahmu juga, padahal beliau menempatkannya pada posisi yang membahayakan," tutur Anna, ia berjongkok di bawah ranjang sang lady dengan raut wajah dan tutur kata yang berusaha meyakinkan Nathaline.
"Untuk kesekian kalinya ku katakan padamu dan ayah, bahwa aku tidak mencintainya. Tidak ada timbal balik jika kami bersama, Anna. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan sepeserpun untuknya, lantas Ia memberiku semua ini dan itu—demi aku bahagia. Namun bagiku ini kebahagiaan yang semu." Tidak ada yang mampu memahami perasaannya, Nathaline seolah tidak memiliki jalan lain selain jalan penuh duri dan jalan yang buntu. "Lalu adakah seorang pria yang kau sukai, Milady? sebelum pernikahan dilaksanakan, kau mungkin mampu meluluhkan Lord Jason dengan pilihanmu."
"Ada, seorang pria biasa, bernama Jonathan Mason." Anna bangkit dari tempatnya, sesaat setelah ia mendengar nama Jonathan disebut. Anna lantas memutar tubuhnya membelakangi Nathaline tanpa alasan. "Ia tidak pantas denganmu, ia sudah terlampau menderita untuk diinjak-injak nantinya karena ketidak setaraan pangkat kalian, Milady."
"Diinjak-injak bagaimana, Anna? yang ada aku terlalu mencintainya untuk dengan tega melakukan hal seperti itu." Kali ini Nathaline merubah posisinya, seolah pembicaraan tentang Jonathan tidak pernah tidak seru baginya.
"Bukan dirimu, Milady. Tapi ayahmu. Jonathan sudah menderita ketika ayahnya di eksekusi karena dituduh berkomplot dengan para pemberontak istana. Ia jatuh miskin dan hanya tinggal bersama sang ibu yang mengalami gangguan jiwa, kehidupannya tidak lepas dari perolokan warga. Citranya nyaris hancur, jika saja setelah kematian sang ibu ia tidak bertemu dengan Lord Morris. Lalu bagaimana nasibnya jika kau malah memilih dirinya? ia akan direndahkan keluargamu, ia akan kehilangan kepercayaan Lord Morris. Apa kau tega?" intonasi Anna meninggi, dan ini perlakuan paling berani dari seorang pelayan kepada Nathaline.
"Tapi aku baru saja mendengar bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku," lirih Nathaline. "Maka kau akan menjadi wanita yang sangat egois..."
"Aku tidak tahu kau begitu mengenalnya, Anna." Anna langsung dapat melihat sorot Nathaline yang merelap kala ia membalikan badan. "Kami berasal dari satu desa yang sama." Anna membungkukan badan sesaat setelah pengakuannya selesai, lantas berlalu dari kamar sang lady tanpa berkata lebih banyak lagi.
***
Nathaline berjalan menuju satu lorong yang gelap, tepat di lantai teratas mansion Lord Morris yang hanya ada beberapa jendela tanpa kaca yang berjajar. Kurang lebih ini pukul dua pagi terkanya, namun kejadian beberapa jam yang lalu benar-benar menyita tidur nyenyaknya setelah lelah dalam perjalanan dari Norwich ke Rutland. Nathaline berpangku dagu pada jendela, api pada ujung lilin bergoyang, lantas mati tertiup angin dan hanya menyisakan asap di ujung sumbu yang menghitam.
Andaikan hidup tidak berputar, andaikan manusia tidak tumbuh berkembang. Atau ia memiliki pilihan untuk tetap menjadi puteri Lord James berusia tiga tahun. Apa yang disebut hidup mungkin tidak akan serumit ini. Tidak perlu memikirkan cinta, tidak perlu memikirkan uang, hanya perlu menangis saat lapar dan menangis saat menginginkan sesuatu, selebihnya bermain boneka sepanjang hari.
Namun Nathaline sendiri mengerti bahwa kehidupan yang ia jalani bukanlah fiksi fantasi. Realita mengekangnya, memaksa harus dijalani tanpa kenal penolakan. Beberapa menit berlalu dalam lamunan, sampai suara dari ujung sepatu terdengar mendekat, Nathaline menoleh lantas sosok yang dipikirkan hadir di hadapannya. Siapa sangka, Jonathan juga memiliki kegelisahan yang membuatnya melewatkan istirahatnya. "Lord James baik-baik saja, hanya sedikit lebam tak serius," ungkapnya, sementara Nathaline malah menegang di tempat.
"His Grace mengambil pilihan untuk mempercepat pernikahan. Demi menghindari kekacauan di tanggal yang sudah ditentukan. Rencananya esok pagi madam Loise akan membawa gaun pengantinmu, pemberkatan akan di mulai saat mentari sudah naik. Dan sebaiknya kau istirahat, Milady. Banyak yang ingin melihatmu sempurna tanpa kantung mata esok pagi," ujar Jonathan, namun demi tuhan Nathaline begitu sakit mendengar pernyataan yang terlontar.
Tanpa basa-basi lagi Jonathan menunduk hormat, berbalik ia hendak pergi dari hadapan Nathaline. "Jonathan..!" panggil Nathaline dengan keras. Napasnya memburu, semua ungkapan dalam benak memaksa untuk keluar dan ingin didengar. Jonathan pun membalikan tubuhnya kembali, tatapan matanya sama perihnya dengan tatapan Nathaline.
"Bisakah kita pergi dari sini saja? menjadi orang baru. Kemanapun, dimanapun, asalkan denganmu.! Aku tidak bisa menahan lagi perasaanku, antara pilihan ayah, cinta Lord Davis yang bengis, juga dirimu. Semua menyiksaku.!" Hembusan angin yang malah mengambil alih, Nathaline tetap bungkam. Antara ucapan Anna yang kembali terngiang, atau memang jalan takdir tidak mengijinkannya berucap.
"Aku hanya mencintaimu, hanya ingin tinggal denganmu, atau meninggal denganmu. Buatlah pilihan, aku ingin ikut padamu, Jo!" jerit hati Nathaline yang prustasi.
Namun pada akhirnya yang benar-benar mampu ia keluarkan hanya kata, "maaf—"
"—telah membuatmu jatuh cinta." Dan senyuman lirih Jonathan semakin membuat perih.
"Aku menerima kosekuensinya," balas pria itu.
"Aku sendiri tidak pernah menyesal karena mencintai pria sepertimu."
"Selamat atas pernikahanmu, Milady. Tuhan kan memberkati."
"Dan sampai kapanpun kau akan menjadi satu-satunya cinta untukku, Jonathan Mason."
***
Nathaline mamandang pantulan dirinya di depan cermin, tidak ada senyuman kebahagiaan bahkan raut wajah sang pelayan Anna pun sama masamnya dengan dirinya. Anna benar-benar menutup diri setelah pembicaraan mereka tentang Jonathan tadi malam. Sejauh ini tidak ada lagi percakapan antara dirinya dengan Nathaline, Anna hanya sibuk membantu, dan Nathaline larut dengan percakapannya bersama Jonathan pukul dua pagi tadi.
Tidak lama, Lord James pun tiba di kamar Nathaline, senyuman dalam wajahnya yang dipenuhi lebam semakin membuat hati Nathaline sakit saja. Para pelayan yang lain menyelesaikan sentuhan terakhir untuk sang pengantin, sebelum si puteri cantik ini malah merusaknya dengan menangis dalam pelukan sang ayah bagaikan anak perempuan umur lima tahun yang tidak mau ditinggal ayahnya pergi bekerja.
Aksi melankolis itu tidak berlangsung lama, takut-takut Lord Davis berhasil melacak dan datang untuk merusuh lagi. Sesaat setelah Nathaline keluar dari ruangan, sejauh mata memandang tamu undangan hanya diisi orang-orang terdekat Lord Morris, dan pria itu tampak gagah di depan altar menunggu Nathaline. Sorot berbinar Lord Morris tertangkap kedua mata sebiru lautan milik Nathaline, bergantian ia melihat Jonathan yang memaksakan senyuman dan tepuk tangan setelah ikrar berlangsung.
Tersemat sebuah cincin di jari manis Nathaline, saat gilirannya memberi cincin untuk sang suami—suara ledakan keras malah terdengar olehnya. Beberapa orang mengalami luka yang cukup serius, pelakunya tidak lain adalah Lord Davis yang datang tanpa undangan. Ia mengacak-acak pesta pernikahan dengan tanpa tahu malu.
"JAMES OWEN ! KAU MEMPERMAINKANKU LAGI, k*****t?!!" Bentak Lord Davis, sementara dengan tertatih Lord James berusaha menghampirinya untuk meminta maaf dan berhenti mengacaukan pesta pernikahan puterinya.
"TIADA MAAF BAGIMU!" dorongan keras Lord James terima, diikuti moncong flintlock menodong pria paruh baya tersebut.
DUARRR...
Lord James tetap tidak mampu menghindari tembakan, namun berkat Jonathan tembakan Lord Davis yang hendak mengenai d**a kirinya malah meleset. Ditengah kalang kabut perkelahian antara orang-orang Lord Davis dengan orang-orang Lord Morris, Nathaline berlari menghampiri sang ayah yang berlumur darah.
"BERHENTI! TOLONG BERHENTI!! APA MAU MU MEMBUAT KERUSUHAN DISINI?!" jerit Nathaline kepada Lord Davis, sedangkan kedua tangannya memeluk erat sang ayah yang berlumur darah.
"KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU PRIA YANG KAU SEBUT AYAH INI?!" geram Lord Davis sebelum tembakan yang Lord Morris layangkan dua kali berturut-turut mengenai bahu dan kakinya dari arah belakang.