Wedding Invitation

2110 Kata
[Kepingan Memori 1] Semerbak aroma lily terhirup kala lilin dinyalakan samping dokumen menumpuk dan kotak tinta, pria berambut putih yang disisir rapi ke belakang itu tampak ingin rehat sejenak dari aktivitasnya sejak pagi. Hari-hari terasa lebih melelahkan dari sebelumnya, bukan hanya pikiran dan fisiknya yang tercurah demi pekerjaan, namun masalah pribadinya mendesak untuk dipikirkan juga semenjak pertemuan dengan Lord Burlington satu setengah tahun yang lalu. Beliau tidak pernah menyangka perjumpaan itu menarik serigala masuk ke lingkar kehidupannya yang nyaman, mengobrak-abrik, memenuhi kekhawatiran dengan ancaman. Norman meniup api di ujung korek, pria itu tak lebih tua juga tidak lebih muda darinya. Sebelum ia memperistri seorang lady cantik di kotanya, Norman sudah ada disisinya sebagai penasihat sekaligus kawan. Sudah satu bulan semenjak perjanjian dengan Rutland dan Norman tidak pernah absen untuk menemaninya. Jujur saja, pikirannya terkuras dengan drastis akhir-akhir ini, memikirkan bagaimana jadinya jika Lord dari Burlington itu menerima surat undangan pernikahan putrinya. "Milord, akhir-akhir ini aku memperhatikan Nathaline, namun tidak terlihat raut kegembiran meski hari pernikahan sudah ditentukan." Norman menarik satu korek lagi untuk menyalakan lilin berikutnya di atas rak. "Ia tidak menginginkan pernikahan dengan Lord Morris. Namun ia harus tetap melakukannya, Norman. Tidak aneh jika itu yang terlihat pada raut wajahnya." James melipat kedua tangannya di d**a, baru saja ia ingin beristirahat sejenak dan Norman mengacaukannya. "Aku pikir pilihan yang kita ambil telah salah, kita menjauhkan Lord Davis untuk kebahagiaan Nathaline, namun kita juga mengikatnya pada sesuatu yang belum tentu membuatnya bahagia." Norman mendekat, menarik kursi di hadapan James dan duduk disana seraya mengusap-usap dagunya. "Seharusnya kita menambah season untuk Nathaline, alih-alih memilihnya sendiri. Setidaknya ada sedikit cinta untuk pria yang akan dinikahinya," lanjut Norman. "Aku melarangnya pergi ke pesta karena khawatir Lord Davis akan mengekangnya, seolah putriku adalah miliknya. Kau ingat terakhir kali kita menghadiri pestanya? serigala itu, pria manapun yang mendekati putriku harus berhadapan dulu dengan ujung pistolnya. Sekarang katakan pria mana yang akan berani? belum lagi para lady simpanannya seolah ingin mengutuk putriku." James mencengkram gelas di atas meja, membuat isi di dalamnya ikut bergetar seiring tenaga yang ia pusatkan pada cengkraman tangannya. "Itu sebabnya aku memilih Lord Morris, hanya pria itu yang mampu melindungi putriku. Ia tidak pernah terlibat skandal, kemampuan bela diri serta kecerdasannya pun melampaui manusia pada umumnya. Mungkin—jika ia tidak bisa meluluhkan putriku, maka itu menjadi satu-satunya kelemahan untuknya," lanjut James, ia tersenyum kecil lantas menegak wine nya hingga tandas. "Ya, ia cukup terkenal. Kelihatannya ia menaruh ketertarikan pada Nathaline. Aku mengakui kecerdasannya, namun kemampuan bela dirinya tidak seperti yang kau bayangkan, Jonathan Mason lebih handal dari tuannya." "Jonathan Mason? siapa dia?" James mengerutkan keningnya penasaran. "Anak buah, mungkin juga lebih dari sekedar itu. Lord Morris sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri atas dedikasi Jonathan Mason selama ini," ungkapnya. "Oh ya aku ingat pria itu, ia selalu ikut kemari menemani tuannya. Kami beberapa kali mengobrol, kupikir ia sangat sopan, beberapa kali aku juga sempat mengaguminya. Baru tahu dia sangat handal bela diri, sayangnya Nathaline membutuhkan lebih dari sekedar perlindungan fisik." "Kau pria yang baik, Milord. Namun kebiasaanmu sejak dulu belum juga berubah. Berhentilah melihat seseorang dari pangkatnya." Kali ini ujaran Norman bukan ujaran dari seorang penasihat untuk tuannya, melainkan dari seorang sahabat yang menginginkan kebaikan untuk sahabatnya. "Norman, jika aku mempertimbangkan kuasa, mungkin sudah kuserahkan putriku pada serigala itu—yang notabene jangkauannya sangat luas. Tapi aku juga mempertimbangkan ketulusan hati, Norman. Aku meyakini hidup tidak sepenuhnya tentang uang, tapi kita juga harus realistis. Aku tidak ingin putriku dibawa menderita oleh seorang pria." Jason mencondongkan tubuhnya ke meja, apa yang ia katakan adalah ketakutannya yang terpendam, tidak boleh putrinya diperbudak cinta hingga lupa perut harus diisi dan keinginan material wanita harus dipenuhi. "Kecukupan materi itu keinginan seorang ayah dalam pernikahan putrinya, tapi putrinya menginginkan kecukupan kasih sayang satu sama lain dalam pernikahannya. Kau lupa wanita lebih mengedepankan perasaannya dibandingkan logika?" ucapan Norman membuat Jason mengusap kasar wajahnya. Apa yang diucapkan Norman benar, pria itu tidak pernah salah. Hanya saja, bisakah ia sedikit lebih egois untuk putri semata wayangnya? "Kau tidak punya putra, kau bisa mewariskan tahtamu pada Jonathan jika—" "Umurku bahkan belum menginjak lima puluh tahun, Norman. Aku masih sehat, aku masih mampu melihat cucuku lahir." Tawa Jason terdengar setelahnya. "Kematian tidak melihat seberapa panjang usia dari seseorang untuk ia hampiri, pun kemalangan, serta penyakit, semua itu tidak memandang usia. Yang jelas kau tidak akan sehat seterusnya, kau tidak akan beruntung seterusnya." James bangkit dari kursinya, langkah pelan ia ambil mendekati kursi yang diduduki Norman. "Aku memintamu menjadi penasihat politik, bisnis, dan apapun yang berkenaan dengan pekerjaan. Namun akhir-akhir ini kau juga merangkap sebagai penasihat pribadiku, Norman. Hahaha lain kali tolong tetap pada batasmu, sebab aku tidak akan membayarmu untuk ini. Dan tolong, jangan bicarakan lagi Jonathan Mason. Lagipula putriku tidak menaruh perasaan padanya, jadi kita anggap Jonathan Mason selayaknya anak buah. Tidak perlu diistimewakan." Tepukan di bahu Norman seolah benar-benar menjadi peringatan untuknya. Detik berikutnya ketukan pintu membuat James memasang kembali senyuman di wajahnya, lantas wajah cantik Nathaline muncul di balik pintu yang belum terbuka sepenuhnya. "Apa aku mengganggu, ayah?" senyuman Jason semakin melebar, ia memberi isyarat agar putrinya masuk saja. Kali ini tidak ada raut wajah murung Nathaline, ia begitu bersemangat dengan kedua tangan ia taruh di belakang punggungnya, lalu kaki-kaki kecilnya berlari menghampiri sang ayah. "Selamat ulang tahun, ayah." Kecupan singkat Nathaline di pipi Jason sebagai hadiah pertama, lalu tangan putri Owen itu terulur mempersembahkan sebuah bantal kecil dengan bordilan tangan bermotif bunga peony. "Usiamu genap lima puluh tahun sekarang," sindir Norman, dengan tawa yang tertahan. "baiklah, kau boleh cari lahan untuk pemakamanku jika kau mau,” balas James. "Ayah? apa ayah tidak suka?" kini Nathaline, membuat James kembali memusatkan atensi pada putrinya ini. "Aku membuat ini karena aku tahu ayah sulit tidur akhir-akhir ini." James mengukir senyum, tangan kanannya mengusap surai legam milik Nathaline. "Ayah sangat senang, terima kasih." Malam itu pun Nathaline kembali ke kamarnya seusai memberikan kado ulang tahun pada sang ayah, wajahnya kembali murung dan pembicaraan sang ayah beserta paman Norman mengenai Jonathan semakin membuatnya murung saja. Sebesar apapun perasaannya pada Jonathan, sang ayah tidak akan memberi restunya bersama pria yang tidak memiliki nama gelar. Sebesar apapun perasaannya pada Jonathan, Jonathan pun belum tentu mampu membalasnya. Nathaline memandang lesu pantulan dirinya di hadapan cermin, gaunnya telah ia ganti dengan gaun tidur, dan rambutnya telah lepas dari segala hiasan rambut mahal. Sesaat ia berpikir bahwa ia juga manusia biasa, lepas dari segala atribut mewah maka ia hanya seorang gadis biasa yang lemah. Apa yang bisa dibanggakan? wajah cantik? di atas langit saja masih ada langit. Tahta? seorang raja sekalipun tidak bisa mengelak pada takdir bahwa dirinya hanya manusia, bukan tuhan sang pencipta alam semesta. Haruskah sang ayah meragukan Jonathan? bagaimana jika beliau tahu bahwa putrinya menaruh hati pada lelaki itu? masihkah tahta ia jadikan alasan agar putrinya mengemas hati untuk lantas dibuang percuma.? Nathaline membuang napas panjang, lalu pintu terbuka tanpa ketukan membuat wanita cantik itu menoleh ke belakang. "Milady, kita harus pergi." Anna berlari menghampiri Nathaline dengan kedua tangannya menggenggam tangan sang Lady. "Kenapa?" Anna terlihat panik sekarang, ia mencari koper dan melipat asal beberapa gaun Nathaline kedalam sana. "Lord Davis ada di bawah." Anna masih fokus memasukan gaun, sedangkan Nathaline masih kebingungan. "Untuk apa dia datang kesini lagi? bukankah surat undangan pernikahanku sudah ia terima.?" Anna menengok ke arah Nathaline, ia mengeluarkan dua kain persegi transparan berwarna hitam dari kantung celemeknya. "Kau pikir ia akan dengan mudah menyerah atas dirimu, Milady?" ujar Anna, kali ini ia kembali sibuk dengan jepitan rambut dan menggabungkannya dengan kedua ujung kain hitam persegi yang ia bawa. Ujung pada jepit yang terbuat dengan kawat itu ia bengkokan, tanpa izin ia lantas memakaikan kain tersebut agar menutupi mulut dan hidung Nathaline. "Aku melihat istri kolega Lord James dari saudi, mereka menutup wajah cantiknya dengan ini. Kupikir jika kita melakukan ini akan mudah mengelabui mereka." "Tunggu Anna, kita tidak perlu sampai kabur. Bukankah kita sering menghadapinya?" Anna mendesah, ini bukan saatnya berdebat. Ketika suara beberapa langkah kaki terdengar Anna segera menarik tangan Nathaline dengan satu tangannya lagi membawa koper. "Bagaimana dengan ayahku, kita akan meninggalkannya?" tidak ada jawaban dari Anna selain u*****n ketika mereka tidak ada jalan lain selain lompat dari balkon. "Tidak, ini gila. Jika tidak mati resikonya patah tulang, Anna." Ucap Nathaline dengan gelisah, Anna hendak turun duluan namun Nathaline menahan tangan Anna. "Lord Davis merasa dikhianati sebab ketertarikannya padamu tak lantas membuat Lord James menolak pria lain untukmu, Milady. Kemungkinan besar kau akan diseret ikut dengannya. Itu sebabnya Lord James memintaku membawamu pergi ke Rutland sekarang juga, dan tinggal disana sampai beliau bisa menenangkan Lord Davis." *** Jonathan Mason tengah berada di hadapan sebuah ruangan dengan pintu yang menjulang tinggi, ia ingin masuk kedalam namun tangannya dengan gamang tak kunjung mengetuk sama sekali. Sudah lama pikiran ini mengusiknya, ia hendak berbicara pada tuannya untuk mendapatkan solusi. Namun, apa lah yang harus ia katakan? seperi, "Your Grace, tolong batalkan menikahanmu." Tidak, itu hal paling gila. Setidaknya ia harus melakukannya dengan halus. "Maafkan aku, sebab aku mencintai wanitamu." Dan Jonathan belum siap untuk menerima pemecatan. Jonathan Mason tidak seberani itu, namun juga tidak sanggup jika hanya harus berpasrah. Setidaknya, tuannya harus mengetahui ini agar ia tidak benar-benar terlihat sebagai musuh dalam selimut. Ia tahu Lord Morris menyukai Nathaline, siapa yang tidak menyukai wanita itu? mustahil ada seorang pria yang mampu menolaknya, termasuk Jonathan Mason. Apalagi ketika wanita itu sering kali tertangkap mata mencuri-curi pandang padanya. Bukan berarti orang miskin tidak boleh jatuh cinta, Jonathan Mason juga pria yang normal. Menghadapi wanita cantik yang ternyata menyukainya, membuatnya terus dibayang-bayangi wajah cantik itu. Senyumannya yang menenangkan, hidungnya yang mancung, mata biru yang memabukan, bulu mata yang lentik dengan garis wajah indah dan tubuh yang sempurna. Demi tuhan, Jonathan Mason tidak bisa menolak segala pesona dalam diri seorang Nathaline Owen. Bukan hanya apa yang tampil di luar wanita itu, namun kebaikan hati, sopan santun, kasih sayang dan tatakramanya menjadi nilai paling inti yang membuat Jonathan Mason langsung menaruh hati. Jika memang benar cinta itu buta, Jonathan Mason dengan tegas mengakuinya. Sebab ia sampai lupa akan siapa dirinya, dan siapa yang harus ia hadapi. Sebegitunya, padahal awalnya ia mengira Nathaline wanita tidak baik yang suka tebar pesona pada setiap pria. Ia bahkan sempat meminta Lord Morris memikirkan kembali rencananya, hingga terjadi kesepakatan pula antara mereka. Ketukan pintu pun akhrinya terdengar, Lord Morris di dalam sana menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang manis. "Jonathan, masuklah." Seolah sudah mengira, Jonathan pun masuk ke dalam ruangan kerja sang tuan. "Your Grace, ada yang ingin saya bicarakan." "Aku memang tuanmu, tapi aku tak ingin kau berbicara formal padaku. Kau sudah seperti adikku, Jonathan. Santailah." Lord Morris beralih pada secangkir wisky di mejanya dan meneguknya hingga tandas. "Kau terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini," ucap Jonathan, basa-basi. "Ya, aku sedang jatuh cinta--pada calon istriku tentunya. Dia juga sepertinya mulai menerimaku, kau lihat betapa perhatiannya ia padaku saat kita berada di ladang?" Jonathan mengangguk membenarkan. "Dan titahku selesai. Kau tak perlu mendekatinya lagi untuk menguji seberapa setianya wanita itu. Sudah terbukti, ia tidak tergoda olehmu, Jo. Dia wanita baik-baik." "Itu yang mem--" "Pertama kali berjumpa dengannya, aku sudah menyukainya. Kau tahu itu, tapi kau bilang Nathaline tidak seperti wanita baik-baik. Jadi aku memintamu untuk menggodanya, sekarang kita sudahi semuanya. Tidak perlu mengujinya lagi." Jonathan mengangguk pelan. Ia sudah tidak memiliki kesempatan rupanya. "Itulah yang membawaku kemari, aku tahu dia wanita yang baik," dusta Jonathan. "Kau tidak berbalik jatuh cinta padanya, kan?" "Tidak, Your Grace. Hari sudah malam, beristirahatlah. Aku permisi untuk kembali ke ruanganku." Lord Morris merespon dengan senyuman. Jonathan pun pergi dari ruangan sang tuan dengan kekecewaan. Namun saat ia hendak berbelok ke ruangannya, ia melihat Nathaline dengan gaun tidurnya dan cadar menutupi sebagian wajahnya. "Selama ini kalian mengujiku? membuat permainan denganku?" Mata biru itu kini terlihat sendu, ia terlihat kecewa dan merasa di khianati. "Kenapa kau ada disini, Milady? apa yang tengah terjadi di Norwich?" tanya Jonathan, sungguh ia kaget kenapa Nathaline berada di mansion Lord Morris selarut ini. "Jawab aku, Jo!" sayangnya Nathaline tidak ingin bicarakan hal lain, sudah dua kali tanpa sengaja ia mendengar percakapan orang-orang mengenai dirinya. Dan semuanya cukup mengejutkan untuknya. "Tapi aku tidak pernah berbohong padamu, Milady. Sejak awal sudah kukatakan aku mencurigaimu. Lord Morris memintaku untuk menggodamu, itu sebabnya seolah tidak disengaja kita selalu berjumpa. Namun, aku sebagai anak buah dari seorang pria terhomat tidak selaras dengan aku yang hanya manusia biasa, titah dari tuanku--membuat kutukanmu menjadi nyata. Aku terlihat konyol sekarang." "Kau mencintaiku, Jonathan Mason?" tanya Nathaline dengan refleks. "Seperti yang kau katakan, aku akan terlihat konyol saat itu terjadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN