Jonathan menekan bell pada pintu masuk utama, tanpa menunggu lama, terdengar suara langkah kaki dan Dr.Jimmy keluar dengan keterkejutannya setelah melihat Jonathan datang bersama Peony. "Terkejut? atau kamu mendadak ingat kesalahan yang kamu perbuat?" Dr.Jimmy mengerutkan keningnya, entah bingung atau pura-pura tidak tahu.
"Aku membawa korbanmu, sialan," ucap Jonathan sarkastis. Nathaline telah mengatakan padanya bahwa Dr.Jimmy adalah orang yang memberinya terapi agar ingatan sebagai Peony kembali, namun itu mustahil. Sebab mereka orang yang berbeda dan Nathaline tidak memiliki sekepingpun ingatan milik Peony Powell.
"Kita bicara lain waktu, ada pasien dalurat yang harus aku tangani." Dr.Jimmy merasa beruntung sebab pasien bisa dijadikan alasannya untuk menghindari Jonathan.
"Benarkah? mana yang lebih dalurat.? Peony, ayo masuk saja. Kita lihat seberapa besar tanggung jawab orang yang banyak disegani ini." Jonathan menarik tangan Nathaline dan menerobos masuk tanpa persetujuan Dr.Jimmy.
"Baiklah, kalian bisa menunggu sampai aku pula—"
"Aku tidak percaya kau lebih memilih lari ketika ada pasien lain yang lebih parah disini." Suara Nathaline menghentikan tangan Dr.Jimmy yang hendak menutup pintu.
Hembusan napas kasarnya terdengar sebelum kembali masuk tanpa suara. Ia menaruh kembali tas berikut jasnya dan duduk berhadapan dengan Nathaline dan Jonathan. "Kupikir si keras kepala tidak mungkin tidak merasakan kejanggalan saat memeriksamu. Mungkin dia juga tahu kamu adalah satu dari kecerobohannya? atau ia juga mulai menggeluti seni peran?" sindir Jonathan.
"Dan aku tidak tahu kau mengenal Jonathan yang busuk, Nathaline." Gelak tawa Jonathan meresponnya. Nathaline tidak tahu hubungan mereka jadi seperti ini hanya karena sebuah observasi sinting yang diinginkan Dr.Jimmy.
"Kau mau membahas Jonathan, atau bertanggung jawab atasku?" tukas Nathaline.
Dr.Jimmy tidak bersuara untuk merespon. Rahangnya mengeras seiring dengan kedua tangan yang mencengkram kuat dasinya seolah benda itu benar-benar mencekik. Lepaslah benda dengan garis-garis horizontal tersebut, dan melayang dengan sengaja ke atas meja. Kedua tangannya kini beralih melepas kancing teratas kemeja putihnya, berikut kancing-kancing pada lengan, lantas ia menariknya asal hingga sampai sikut. Yang di hadapi Nathaline kini bukan sosok Dr.Jimmy yang biasanya, namun sosok lain yang benar-benar terlihat keras kepala.
Beberapa detik Nathaline dan Jonathan hanya membiarkan Dr.Jimmy siap untuk mengakui kesalahan. Sialnya, Dr.Jimmy terlihat berat untuk mengungkap. Ia menarik rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya yang menandakan ia begitu pusing sekarang. Namun, pergerakan kecil itu ternyata membuat Nathaline kaget bukan kepalang.
Terlihat perubahan air muka dari seorang Nathaline Owen. Kedua tangan mencengkram rok yang dikenakannya, berusaha meredam getaran yang sering muncul tiap kali ia merasa cemas, dan takut. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Jonathan yang khawatir, namun Nathaline tidak dapat merespon dan tatapannya yang merelap itu hanya terfokus pada Dr.Jimmy.
"Kaget, aku mirip suamimu?"
Sontak Jonathan menatap Nathaline dan Dr.Jimmy dengan bergantian. Ternyata bukan hanya dirinya yang mirip dengan masalalu Nathaline Owen. Namun gaya rambut Dr.Jimmy menutupi kemiripannya dengan Lord Morris.
"Aku menyarankan B kompleks untuk di konsumsimu, bukan serta merta diagnosisku yang menipu. Kau memang memiliki kecemasan yang berlebihan, Nathaline," ucap Dr.Jimmy, ia beranjak menghampiri tasnya di atas nakas dan melirik Jonathan sesaat. "Heh busuk, ambilkan minum untuk Nathaline."
Kendati kesal, namun kekhawatiran pada Nathaline membuatnya mau tak mau menuruti ucapan Dr.Jimmy. Dr.Jimmy kembali ke hadapan Nathaline dan memberikan bulatan kecil itu untuk diminum oleh Nathaline. "Efeknya tidak akan berkerja begitu kau meminumnya. Mungkin pemakaian beberapa hari baru akan terlihat, makanya aku menyarankanmu memakannya dari jauh-jauh hari," ucap Dr.Jimmy, di saat bersamaan Jonathan kembali dan memberikan air untuk diminum Nathaline.
"Kau tahu semua orang baik di muka bumi juga memiliki sisi jahat? itu disebut ego, ada yang mampu mengendalikannya, dan ada yang tidak. Lalu mereka melakukan kesalahan, dan menyesal,” gumam Dr.Jimmy.
"Ya, tidak ada hati yang dijamin seratus persen kebersihannya, meskipun toleransinya begitu besar pada yang namanya makhluk hidup," sindir Jonathan
"Dan yang menjadi korban harus dipaksa memaafkan?" tanya Nathaline.
"Silakan maafkan aku setelah membawamu kembali ke tempatmu. Tapi ada hal-hal yang harus kau tahu—mesin itu memang menjadi portal atas masa lalu dan masa depan, dan aku belum memiliki cara untuk menutupnya. Itu sebabnya kau ada disini. Temanku Jean mengatakan siapapun yang datang akan meninggali tubuh seseorang yang memiliki ikatan dengannya. Bisa dikatakan bahwa Peony adalah reinkarnasimu setelah kematian. Mereka yang tubuhnya ditinggali maka akan merasa seperti tertidur dan tidak mengingat apapun yang ia lakukan sampai yang meninggali kembali ke tempat asalnya," ungkap Dr.Jimmy pada akhirnya.
"Saat itu aku pergi ke masalalu dan tinggal di tubuh suamimu, tidak ada yang tahu. Aku pun bisa kembali dengan mudah ketika aku yang disana tidur dan bangun kembali disini. Lain jika orang dari masalalu yang tinggal disini, dalam artian kamu akan sulit kembali. Jika memaksa, maka akan ada korban yang meninggal," lanjutnya.
"Aku tidak tahu harus mengekspresikannya seperti apa. Aku meninggalkan ayah, penduduk Rutland, Norwich, dan orang-orang yang kusayangi lainnya dalam kondisi peperangan tiga wilayah yang disebabkan olehku sendiri. Aku harus berada disana untuk menghentikan semuanya, tapi aku malah ada disini, dan aku sangat kecewa padamu, Dokter,” tutur Nathaline, kedua maniknya menatap Dr.Jimmy antara kesal becampur kesedihan yang meluap.
"Aku akan mencari cara lain, tidak masalah jika mesin tersebut menelan nyawaku. Yang terpenting kau bisa kembali dan Peony selamat."
"Maksudmu, akan ada sesuatu yang terjadi pada Peony juga?" tanya Jonathan.
"Ya, jika Nathaline tidak kembali. Maka ia akan tetap hidup dalam tubuh Peony, dan Peony akan meninggal."
"Sialan, sudah kuduga seberbahaya itu mesinnya. Dasar orang sinting lihat apa yang sudah kamu lakukan!" bentak Jonathan. Tentu itu membuatnya merasa bersalah pada Nathaline dan Peony sebab si pelaku adalah orang yang sangat dekat dengannya dulu.
"Jika aku berada disini, apa yang terjadi dengan aku yang disana.?" Pandangan Nathaline terlihat kosong, dengan beberapa tetes air mata yang berhasil lolos ke pipinya sekarang ini.
"Koma.."
"Bagaimana ini? itu tidak boleh terjadi. Aku mohon bantu aku kembali sekarang juga!" perasaan Nathaline yang campur aduk membuatnya sulit mengendalikan emosi sekarang.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi disana. Aku tidak bisa membawamu kembali, aku juga tidak bisa pergi kesana untuk melihat kondisinya. Aku harus menemui Jean untuk bertanya kiranya ada hal lain yang bisa dilakukan atau tidak," ucap Dr.Jimmy.
"Sudah ku katakan, aku sangat dibutuhkan disana. Jika ayahku meninggal, kau bisa tanggung jawab?!"
"Beliau akan bereinkarnasi. Tidak hanya beliau, kalian semua yang berada disana pasti mengalami kematian, sebab kehidupanmu adalah kehidupan yang telah terjadi di zaman dulu. Aku bukan tuhan, aku tidak bisa merubah sebuah takdir."
"Persetan dengan reinkarnasi, aku tidak percaya orang sepertimu yang selalu menggunakan logikanya malah berasumsi seperti itu. Sedangkan yang kupercayai saat ini hanyalah fakta bahwa aku seorang putri yang sedang mengkhawatirkan ayahnya. Mendengarmu mengatakan hal tersebut dengan mudahnya, membuatku ragu kau seorang putra dari seseorang. Mana kemanusiaan yang kau junjung tinggi jika memahami perasaan seorang anak pun kau tidak bisa?!" jerit Nathaline di akhir kalimatnya.
Dr.Jimmy terdiam, bukan ia tidak mengerti sesungguhnya, namun Jean harus segera ia temui. Untuk pergi ke abad delapan belas malah akan semakin membuang-buang waktu saja baginya. "Jika aku pergi mengecek keadaan keluargamu, bagaimana aku mencari cara agar kau bisa pulang, Nathaline?" ucapnya, tak kalah prustasi.
"Begini saja, biar orang sinting itu cari jalan untuk membawamu kembali dan menutup portalnya. Selama itu, aku bisa pergi ke abad delapan belas untuk melihat kondisi keluargamu," ujar Jonathan, menengahi persoalan.
***
Mata sembab Nathaline tidak mampu menipu siapapun, ibu beserta kedua sahabat Peony Powell menunggu kepulangannya hingga hari berganti malam. Nathaline menerobos, pikirannya yang kalut membuat tuli pendengarannya sesaat, setidaknya sampai ia masuk kamar dan pertanyaan-pertanyaan tidak lagi ia dengar. Jonathan lah yang kini dihujani beragam pertanyaan, dan pria itu tak lantas pulang sebelum menceritakan semuanya demi menghormati bibi Pawn.
Sekitar pukul sepuluh malam, Nathaline memeluk lututnya di atas kasur tanpa menyalakan penerangan kamar. Ia hanya membiarkan cahaya murni dari rembulan yang masuk menerangi kamarnya.
Ketukan dari luar sana terdengar, bibi Pawn masuk dengan raut wajah yang tidak kalah kusut dengan Nathaline, "boleh aku bicara?"
Nathaline mendongak, yang dihadapinya adalah seorang ibu. Hati yang lebih tulus dari apapun, dan Nathaline yakin hati itu kini sakit dipenuhi kekhawatiran yang mendalam terhadap putrinya Peony Powell. "Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Jonathan bilang kamu bukan putriku, tapi aku ingin memberimu kekuatan sebagai seorang ibu. Kamu mau menerimanya.?" Nathaline terenyuh, senyuman terpatri pada wajah cantiknya yang lantas menghambur memeluk bibi Pawn.
"Entah mengapa, a-ku ing-in malam ini turun hujan." Suara Nathaline yang terdengar bergetar membuat bibi Pawn mempererat pelukannya.
"Menangis itu bukan pertanda bahwa seseorang sangat lemah, menangis itu bentuk dari reaksi yang manusiawi. Kenapa harus malu jika tangisanmu didengar orang lain? aku juga menangis dalam suka dan duka. Aku menangis ketika senang bukan main saat menatap mata jernih Peony kecil dalam pangkuanku, aku juga menangis jika sehari saja ia marah dan enggan bicara pada ibunya. Aku menyimpannya, namun saat menangis semuanya terasa lebih lega. Jadi, kenapa harus malu? kamu harus memikirkan kesehatan fisik dan mentalmu dibanding mematok citra sempurna menurut standar orang lain. Orang lain tidak penting, lakukanlah yang ingin kamu lakukan." Bibi Pawn mengelus sayang pada Nathaline dan untuk kali pertama Nathaline merasa benar-benar tenang dalam pelukan seorang wanita.
Jika kasih sayang dari seorang ibu dapat dicuri, Nathaline ingin mengantonginya dan menyemainya di mansion seberhasilnya ia pulang ke abad 18 nanti. Mungkin bibi Pawn memiliki pelukan sihir bagi Nathaline. Sebab tahu-tahu Nathaline merasa tenang, tahu-tahu Nathaline melupakan beban masalahnya, dan tahu-tahu ia merasa mengantuk sekarang.