Portal (?)

1696 Kata
"Apa sebegitu miripnya aku dengannya?" tanya Jonathan. "Kalian hanya terlahir di zaman yang berbeda. Mungin kau juga akan heran, sebab Peony Powell pun mirip dengan diriku yang sesungguhnya." Jonathan kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti, sebab tertarik dengan cerita seorang Jonathan Mason dari mulut Nathaline. "Tetap saja dia bukanlah aku, dan Peony bukanlah dirimu. Meski kikuk jika ada di hadapanku dan hanya diam saat kami berpapasan, tapi aku tahu Peony sering panik ketika melihatku dari kejauhan. Berbeda denganmu. Itu berarti, ada yang berbeda pula antara diriku dengan Jonathan Mason." "Peony akan senang jika ia tahu kau memperhatikannya juga," ujar Nathaline. "Apa..?! Ti--tidak! aku tidak menyukaimu. Jangan salah paham." "Ohh lihatlah, siapa yang panik sekarang.?" "Ya Tuhan, kamu tahu memperhatikan seseorang bukan berarti ia menyukai orang tersebut?" Jonathan berusaha membela diri. "Siapa yang mengatakan kau menyukainya? aku hanya bilang kau memperhatikannya juga." Jonathan pun terdiam, menyadari kesalahannya barusan. "Santai saja, aku bukan Peony." Nathaline terkekeh. "Lantas, bagaimana denganku? bukankah aku juga mirip kekasihmu? apa kamu tidak merasa berdebar sekarang ini?" kali ini Jonathan yang menggoda Nathaline. "Tidak! kalian berbeda. Hatiku tidak bereaksi apapun saat ini," kilahnya. "Bohong, kamu tadi mengatakan bahwa aku dan dirinya tidak ada bedanya. Kenapa sekarang menjadi lain?" "Sopanlah pada yang lebih tua darimu, Jonathan! kau bicara terus malah semakin memperpanjang perjalanan," geram Nathaline. "Benar, kamu nenek-nenek." "Aku bukan Nene!" "Ya, kamu nene." "Tidak, Jo!" Jonathan sudah membuka mulutnya hendak berbicara, namun dering pada ponselnya menghentikan pertengkaran mereka. "Hey! Jonathan, dimana Peony!? ini sudah jam tiga sore dan dia belum pulang!" teriak Rosalyn dari seberang telepon. "Dia akan pulang terlambat. Jangan ditunggu, aku akan mengantarnya pulang jika urusan kami sudah selesai," ucap Jonathan, tanpa menunggu Rosalyn menjawab ia pun mematikan sambungan teleponnya. "Maaf, aku lupa ada janji dengan mereka," tutur Nathaline. "Kamu sudah membuatku bolos bekerja, apa mau pulang saja? tapi lain kali aku tidak bisa berbolos lagi untukmu," ucap Jonathan, ia lantas memasukan ponselnya dalam saku celana setelah mendapatkan gelengan kepala dari Nathaline. Tentu saja, Nathaline tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa pulang apalagi Jonathan yang akan membantunya. "Baguslah, kita sudah hampir sampai pula. Itu rumahnya," tunjuk Jonathan. "Itu? aku pernah ke sana..." *** Dr.Jimmy memasukan beberapa peralatannya kedalam tas dengan tergesa, ia bahkan sempat menjatuhkan satu diantaranya. Ia memang selalu mengkhawatirkan pasiennya, kerap kali ia juga menerima panggilan dalurat, dan ia selalu tepat waktu kapanpun pasien membutuhkan. Ia mungkin bukan dokter medis yang harus bergerak cepat, tapi baginya kesehatan mental juga membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Tak kalah penting, peran Dokter mental sangat diperlukan untuk mengurangi tingkat stress dan bunuh diri yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan Dr.Jimmy begitu menghormati profesinya ini. Ia telah menunjukan antusiasnya pada psikologi sejak kecil, lalu menimba ilmu pada jurusan yang dikagumi. S1 pada psikologi dan mengenyam jenjang magister, namun ia juga mempelajari ilmu psikiater dengan baik. Itu mengantarkannya mendapatkan kepercayaan dari orang banyak. Di usia dua puluh tiga tahunnya, ia bahkan memutuskan keliling dunia hanya untuk bertemu lebih banyak orang lagi. Lagi-lagi keputusannya bukan tanpa alasan. Semakin banyak ia bertemu seseorang, semakin banyak kepribadian berbeda-beda yang ia temukan. Setiap berkenalan dengan seseorang di berbagai negara, Dr.Jimmy selalu menanyakan tanggapan mereka tentang dua hal. Kehidupan, dan Kebahagiaan. Beberapa dari mereka membenci kehidupan, dan mengartikan kebahagiaan dengan seberapa banyak lembar uang kertas yang mereka simpan. Sebenarnya tidak sedikit pula yang berbeda. Semisal, ketika ia bertemu seorang pria yang katanya sudah berkali-kali masuk jeruji besi dengan kesalahan yang sama. Malam itu mereka bertemu di mini market, Dr.Jimmy memergokinya hendak mencuri beberapa snack dan mie instan. Dr.Jimmy menghampirinya dengan perlahan, berusaha agar pramuniaga di depan kasir yang sedang mengobrol dengan kawannya tidak balik memergoki mereka sebab diduga bersekongkol dalam merencanakan pencurian di mini market tersebut. Dr.Jimmy berbisik bahwa pria tersebut tidak perlu menyembunyikan apa yang telah diambil sebab ia akan membayar semuanya. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya mereka berakhir pada sebuah meja dengan dua cola yang sudah ditegak setengahnya. Alasan demi alasan terlontar, tanpa bertanya si pria mengatakan kata-kata berparadoks yang mungkin menjadi keluh kesahnya selama ini. Ya, jangan katakan Jimmy seorang ahli psikologi jika tidak enak diajak curhat. Definisinya mengenai apa yang ingin diketahui Dr.Jimmy cukup mengagetkan untuk terlontar dari seorang mantan narapidana yang belum sadar. "Aku tidak pernah mencuri uang, yang ku curi hanya makanan. Dan mereka yang kaya tidak mampu memberi dengan suka rela, sedikit yang kuambil ia jebloskan aku ke penjara. Mungkin bagi mereka uang adalah nyawa, raga, dan kebahagiaan. Namun bagiku uang lah yang membuat garis pembatas antara si kaya dan si miskin, uang lah yang membuat mereka angkuh, uang lah yang membuat mereka semena-mena. Lantas bagi si miskin? bisa makan saja itu sebuah kebahagiaan." Dengan meninggalkan beberapa lembar uang untuk pria tersebut pergunakan sebaik-baiknya, Dr.Jimmy pun pergi setelah mendengarkan semua ungkapan panjang lebarnya. Di hari berikutnya Dr.jimmy bertemu seorang pemuda, masih berstatus pelajar di sekolah menengah akhir yang tampak seperti biasanya. Pemuda itu begitu ramah dan jujur, perkenalan mereka tanpa sengaja ketika Dr.Jimmy menjatuhkan dompetnya. Karena telah menemukan sesuatu yang penting untuknya, Dr.Jimmy menawari pemuda tersebut tumpangan. Si pemuda tak banyak bicara, satu yang membuatnya bersuara ketika menemukan Cd The Beatles di dalam dashboard. Dr.Jimmy tersenyum mendengar si pemuda melantunkan penggalan lirik dari salah satu lagu milik sang legend. "Whisper the words of wisdom, let it be. Orang tuaku juga selalu mengatakan tidak apa-apa ketika aku melakukan sebuah kesalahan. Aku yang tertekan berangsur membaik setelahnya. Kau tahu tuan, kehidupan terlalu sering memberiku kesedihan, kupikir memang begini adanya. Lambat laun aku mulai merasa diriku rusak dan tak ada yang bisa diperbaiki." Dr.Jimmy menatapnya sekilas, memintanya untuk melanjutkan ucapan sedangkan ia kembali fokus pada jalanan. "Kehidupan itu mengerikan, tuan. Penuh misteri, tapi aku masih tertarik menelusurinya. Aku ingin sekali saja menerima secuil kebahagian sebelum ditendang karena ketidak pantasan." Dr.Jimmy menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan, "serusak apa yang kamu maksud? kupikir dirimu manusia, bukan barang." Pemuda itu tertawa pelan, hembusan napas panjangnya terdengar sebelum mengatakan, "tidak. Hanya saja, aku memang sedikit berbeda. Aku bisa saja tidak sebaik sekarang beberapa jam kemudian," ucapnya, seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Dr.Jimmy menaruh penasaran yang luar biasa pada pemuda ini, di usia mudanya ia terlihat begitu dewasa, seakan benar masalah yang dialaminya begitu berat sehingga menciptakan pemikiran-pemikiran yang kritis. Setelah mengantar pemuda tersebut pulang. Dr.Jimmy kembali pada perjalanannya mencari sebuah pelajaran dari persepsi orang mengenai kehidupan dan kebahagiaan. Hari itu ia tidak banyak bertemu orang yang bisa berbicara santai padanya diawal pertemuan, untuk itu ia habiskan hari di perpustakaan ternama daerah Scotland. Pukul sembilan malam ia kembali ke hotel dengan mengambil rute yang sama dengan tadi siang, samar ia melihat seorang pria yang terlihat tak asing baginya di seberang jalan yang ia ambil. Namun, ia merasa tidak pernah berkenalan dengan berandalan yang tengah merokok di sisi jalanan ini. Berandalan itu tampak mengerikan dengan belati di tangan kirinya. Ketika Dr.Jimmy hendak menghampirinya, seorang pria paruh baya menepuk pundaknya. "Jangan menghampirinya, tuan," ucap pria tua itu. Ketika Dr.Jimmy bertanya kenapa, si pria tua pun mengatakan bahwa anak berandalan itu masih seorang pelajar. Seperti anak normal, ia siswa yang cukup pintar di sekolahnya namun ia berubah menjadi monster kecil ketika malam hari tiba. Sudah sekitar tiga orang yang ia bunuh, sayangnya ia benar-benar menghilangkan semua bukti hingga polisi pun sulit menangkapnya. "Dia tidak berbahaya asal tidak ada kontak mata antara ia dengan orang lain. Itu tempat tinggalnya. Selain kita, orang tuanya juga sedang memperhatikannya. Takut-takut si anak membunuh orang lagi, mungkin." Dr.Jimmy kaget ketika si pria tua menunjuk sebuah rumah di pinggir jalan. Itu adalah tempatnya mengantarkan anak pemuda berseragam yang ia temui tadi siang. Dan Dr.Jimmy mulai memahami setiap kata yang keluar dari mulut pemuda tersebut. Bahwa hidup adalah misteri, sebab ia tidak tahu sampai kapan pribadinya akan berubah tanpa kendali, dan kebahagiaan baginya adalah diterima orang-orang, sebagai pribadi yang normal tanpa memiliki kelainan psikis yang kita kenal sebagai Alter ego. Sehari kemudian Dr.Jimmy memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya. Masih dengan penasaran yang menggebu sebab setiap orang memiliki persepsinya masing-masing mengenai kehidupan dan kebahagiaan. Sedangkan ia belum cukup puas. Dr.Jimmy penasaran bagaimana sudut pandang orang-orang jaman dulu tentang kehidupan, apa sama dengan mereka sekarang ini? apa perselisihan tahta kebangsawanan dan peperangan membuat mereka sedikit berbeda? Kendati terdengar konyol dan tidak masuk akal, namun kemustahilan itu bisa saja terjadi dengan teknologi handal pada jaman ini. Percaya ataupun tidak, sebab.. Dr.Jimmy ingat bahwa ia memiliki seorang kawan ilmuwan yang memiliki mesin kuno peninggalan orang tuanya. Dr.Jimmy lantas berkunjung ke rumahnya, ia hendak meminjam mesin jadul tersebut yang disinyalir mampu membawa siapapun masuk ke abad delapan belas. Namun, dengan konsekuensi besar bahwa sekali dibuka maka portal akan sulit ditutup kembali. Itu memungkinkan siapapun, dari manapun akan datang dan pergi seperti arwah yang memasuki tubuh orang lain. Tekadnya yang kuat membuat Dr.Jimmy tidak memperdulikan kosekuensi tersebut, ia merasa bahwa dirinya mampu mengendalikan mesin di hadapannya saat ini. "Satu kali saja, tidak akan penasaran lagi," rapalnya dalam hati, ia pun meraba setiap sisi mesin yang sekilas mirip dengan pemutar film jaman dulu itu, namun ada beberapa tombol di sana. Dan Dr.Jimmy siap mempergunakannya sekarang... "Kamu tahu kosekuensinya? jadi tolong jangan keras kepala." Seorang pria yang lebih muda tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa izin. "Astaga, tahu apa kamu? pergilah belajar." "Kita hanya berbeda tiga tahun. Sedikit banyak aku mengerti pikiranmu." "Pergi dari ruanganku sekarang," titah Dr.Jimmy, ia merasa terganggu sebab baru saja ia akan mempergunakan mesinnya dan bocah ini tiba-tiba saja datang. "Jean mengatakan padamu bahwa akan ada banyak sekali kemungkinan buruk yang terjadi jika menggunakannya. Selain portalnya akan sulit ditutup, yang paling mengerikan--orang tuanya harus meregang nyawa karena mesin sialan itu. Kamu pikir seorang adik akan membiarkan itu terjadi pada kakaknya?" "Jangan ikut campur!" geram Dr.Jimmy. "Pekerjaanmu menyembuhkan orang gangguan mental, padahal kamu sendiri yang sakit." "JO!" "Ambisimu itu sudah di luar batas kewajaran, Jimmy!" "PERGI!! PERGI DARI SINI! KAU BUKAN ADIKKU, SIALAN!" dan pukulan keras dilayangkannya untuk seorang Jonathan. Hal tersebut menjadi awal keretakan hubungan mereka. Jonathan pergi dari sana, dan ia tidak berhasil mencegah keinginan gila Dr.Jimmy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN