Diantara jalanan yang dipenuhi gugur dedaunan maple Nathaline berada tepat dibelakang Jonathan, mengikuti kemana hendaknya pria ini akan membawanya. Jonathan sendiri tampak tidak ingin bersuara lebih dulu sedari tadi, hanya ada ketukan dari sepatu mereka ketika melangkah. Namun tempat ini jujur Nathaline akui begitu indah, suasana saat ini pun begitu mendukung sebab tak banyak orang lewat dan Nathaline seolah diberi waktu untuk hanya berduaan bersama Jonathan.
"Jonathan, kenapa kau dengan mudah mempercayaiku sedangkan aku mati-matian berusaha meyakinkan orang-orang terdekat Peony bahwa aku bukanlah Peony Powell." Nathaline sedikit mencondongkan tubuhnya kesisi kanan, seolah dengan itu ia mampu melihat ekspresi Jonathan di depan sana.
"Orang terdekat tetap saja orang lain. Kadang mereka tidak bisa mempercayaimu sedekat apapun hubungan kalian, lalu yang mempercayaimu malah orang yang tidak terduga. Itu sering terjadi," tutur Jonathan, dan Nathaline hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa ia pun menyetujui ucapan Jonathan sekarang.
"Lantas kenapa kamu mempercayaiku? bagaimana jika aku berpura-pura akan membantumu. Apa kamu tidak takut aku akan menculikmu sekarang?" Jonathan menghentikan langkahnya, ia berbalik untuk menghadap Nathaline yang kini tepat berada di belakangnya.
"Se-sebab kau mempercayaiku. Dan aku penasaran siapa yang dengan tega membawaku kemari," balas Nathaline, sedikit gugup sebab tindakan Jonathan yang tiba-tiba.
"Hmm...Sesungguhnya ini ketidak sengajaan orang gila." Jonathan mengedikkan sebelah bahunya, lalu kembali berbalik kearah tujuan mereka.
"Orang gila? kenapa aku sering kali mendengar kata gila disini? aku juga dikira gila, orang-orang abad 21 yang ku temui dengan gaya fashionnya yang nyaris telanjang ini pun ku sebut mereka gila, dan kau sekarang mengenali orang gila." Nathaline menyusul langkah Jonathan, kini mereka berjalan beriringan.
"Kita menyebut gila hanya untuk perumpamaan yang tidak masuk akal. Namun manusia memang keji, alih-alih mengatakan tidak masuk akal, kita lebih memilih menyebutnya gila," ujar Jonathan. Ia menendang krikil dan menginjak daun maple kering di tanah hingga mengeluarkan suara yang renyah.
"Sebenarnya orang yang kusebutkan tidak sungguh-sungguh gila. Kau pernah dengar bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam hal apapun.? Pria yang ku kenal ini hanya terlalu mencintai profesinya dan obsesi tumbuh mengendalikan pikirannya untuk melakukan hal yang tak perlu. Ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah ia mampu lakukan, konteksnya masih baik. Itu memacunya untuk meningkatkan kualitas kemampuan diri, namun bukankah itu jadi sesuatu yang salah jika apa yang ia lakukan kemungkinan besar mampu membahayakan dan merugikan diri sendiri atau orang lain?"
Nathaline termenung beberapa saat, ia hanya mampu menangkap satu hal kemungkinan ia terlempar ke masa depan, dan itu akibat keteledoran seseorang yang tengah mendalami profesinya. "Seharusnya ia tahu akibatnya," ujar Nathaline.
"Aku sudah memperingatkannya," balas Jonathan.
"Kalian dekat?"
"Kami tidak berada dalam hubungan darah. Namun ia sudah seperti kakakku sendiri, sampai percobaan gilanya dimulai dan aku memutuskan untuk meninggalkannya. Itu sebabnya aku seperti gelandangan sekarang." Jonathan terkekeh pelan, menertawakan nasibnya dengan sang kakak angkat yang kini ia sebut sudah seperti orang gila.
"Kenapa kau meninggalkannya? ia butuh seseorang untuk mengingatkan perbuatannya yang salah."
"Ketika kemauannya datang, Ia tidak akan mendengarkan siapapun kecuali dirinya sendiri."
"Keegoisan memang sering memutus suatu hubungan," ujar Nathaline.
"Tetapi seperti yang kubilang tadi, dia tidak sungguh gila. Kita masih bisa bicara baik-baik dengannya. Ohh ya, lewat sini." Jonathan menunjuk belokan di sebelah kiri mereka. Sebuah lorong kecil yang terhimpit dua bangunan besar itu pada ujungnya memperlihatkan sebuah taman bermain yang ramai pengunjung anak-anak hingga dewasa.
"Aku sering ambil jalan tikus. Maaf karena tidak bisa mengantarmu dengan kendaraan," sambung Jonathan.
"Aku senang berjalan kaki di sore hari, tenang saja."
"Ya, meski kamu seorang Duchess sekalipun, di taman bermain tidak ada yang bermain dengan mobil atau kereta. Jadi jangan harap memiliki pelayanan khusus." Nathaline tertawa pelan mendengarnya. Jonathan memang tidak se-angkuh ketika pertama kali dijumpai, ia hangat, dan penuh wawasan. "Kau selalu mengingatkanku pada dia, Jonathan. Sampai aku sulit menyadarkan diriku sendiri bahwa yang berdiri di sampingku saat ini bukan lah dirinya," ucap Nathaline tanpa ia sadari.
"Dia.?"
"Seseorang yang sangat kukenal, ia mirip denganmu."
***
Seperti sebuah hutan kecil, dengan hamparan sungai yang begitu luas dan terik senja yang mengikuti setiap langkah kaki mereka. Nathaline mungkin akan mengeluh kelelahan jika bukan Jonathan Mason yang berada di sampingnya. Kendati pria itu tidak lagi bersuara semenjak ungkapkan ketika ia menyadari perasaan Nathaline, dan hal tersebut begitu mengganggu pikirannya. Nathaline pun tidak ingin ambil pusing untuk bertanya sebenarnya, sebab pria ini pintar sekali bicara. Kekalahan telak akan menantinya jika kembali bicara dan habis akan menjadi cemoohan pria ini.
Cicit burung-burung robin terdengar bersahutan. Entah kapan Nathaline bisa sampai ke ladang milik Lord Morris yang dikatanya dekat itu. Mentari sudah naik, dan Jonathan hanya diam selama perjalanan, sungguh Nathaline akui bahwa ini hal yang melelahkan, "Bisakah kita istirahat sebentar?" Nathaline menghentikan langkahnya.
"Kau ingin berlama-lama tinggal denganku?" tanya Jonathan tanpa menghentikan laju langkahnya. Kini ia berada jauh di depan Nathaline. Sejujurnya Nathaline harap dengan cara beristirahat sejenak ini tidak hanya merehatkan kaki-kakinya yang lelah, namun juga melarutkan suasana yang kaku sebab Jonathan tak mau bersuara sedari tadi, lantas sukar pula jika ketahuan memanfaatkan suasana.
"Masa bodoh, aku akan istirahat sendirian." Nathaline menepi, ia duduk di hamparan rerumputan sembari memandangi sungai yang tenang.
"Kau ingin aku dimarahi His Grace? atau kau sedang berusaha menggodaku, milady?" Jonathan menyerah, ia berbalik arah menghampiri Nathaline yang terduduk berpura-pura kelelahan. Tidak, Nathaline sebenarnya memang lelah, tapi sedikit. Sedikitnya lagi berusaha meminta, "Jonathan bicaralah, kita tidak punya banyak waktu untuk mencuri temu. Jangan pertemuan kita diisi perdebatan, atau suasana yang kaku seperti barusan," hanya saja sukar sekali mengaku.
"Siapa yang menggoda siapa? kau memang tidak tahu sopan santun, Jonathan Mason. Bukankah kau juga manusia berhati? aku bersumpah suatu hari nanti kau akan jatuh hati padaku," geram Nathaline.
"Sayangnya, tidak ada yang bisa meramalkan perasaan," ucap Jonathan, ia berdiri di samping Nathaline yang duduk sembari memegangi lututnya.
"Tapi aku bisa, kau akan terlihat konyol saat itu terjadi. Dan aku akan menertawakanmu sepuas hat--"
"Jika itu terjadi, aku yang akan menyakiti His Grace."
"Maksudmu?"
Aku bukan tipe yang mudah menyerah."
"Jonathan Mason!"
"Kau tahu bunga apa di ujung sana, milady?" Jonathan tampak tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan barusan, ia menunjuk beberapa tangkai bunga tepat di ujung sebelah kanan Nathaline. Itu adalah tempat yang mereka lalui barusan, namun Jonathan baru mau membahasnya setelah jauh di belakang.
"Peony."
"Ya. Peony terkenal di Eropa pada tahun 1200, banyak legenda dengan berbagai versi yang menceritakan Peony. Salah satu yang paling terkenal adalah legenda yang mengatakan bahwa Peony adalah perwujudan dari seorang murid dewa penyembuh Asclepius, bernama Paeon. Kepintaran Paeon yang luar biasa membuat sang guru Asclepius sendiri menjadi iri hati, lantas Zeus yang mengetahui itu pun merubah Paeon menjadi bunga Peony demi menghindarinya dari amukan sang guru," ungkap Jonathan, tak lama ia pun beranjak menghampiri bunga cantik berwarna peach itu lalu memetik setangkai dan kembali menghampiri Nathaline.
Ia duduk di samping Nathaline seraya memperlihatkan kecantikan bunga Peony di tangan kanannya yang ia putar-putar seolah memperlihatkan semua sisi dari bunga tersebut. "Akarnya mampu mengatasi infeksi dan penurun panas. Peony juga terkenal akan manfaatnya untuk kecantikan, dan mengatasi banyak penyakit-penyakit pada wanita. Seperti mengurangi resiko keguguran hingga mengatasi gejala menopause."
Nathaline mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma dari Peony yang menjadi salah satu dari daya tariknya juga. "Baunya juga wangi. Aku menyukai bunga, tapi tidak pernah mengetahui filosofi dan manfaatnya," ujar Nathaline.
"Kau bisa menanamnya di mansion mu mulai sekarang, bunga ini kaya akan manfaat sekaligus akan mempercantik tamanmu." Jonathan menyodorkan setangkai Peony tersebut untuk diambil Nathaline.
Kedua sudut bibir Nathaline terangkat, menyunggingkan senyuman indahnya seraya menerima setangkai Peony dari tangan Jonathan. "Akan menyenangkan jika manusia sama bermanfaatnya seperti tumbuhan."
"Hmm..."
"Dan aku ingin menjadi seperti Peony, sebab ia lebih mampu menarik atensimu dibanding aku." Kali ini senyuman Jonathan yang mengembang, sebab ia tahu Nathaline mengucapkan itu tanpa disengaja.
"Kau ingin menjadi sepertinya, milady?" goda Jonathan.
"Ya. Aku harap di kehidupan selanjutnya aku bisa menjadi satu diantaranya."
"Jangan, lahirlah kembali sebagai manusia. Manusia adalah makhluk tuhan yang paling sempurna, ia memiliki logika, lantas manfaatkan kemampuan itu untuk belajar dan memaknai setiap kejadian yang kau terima." Jonathan pun beranjak kembali, sembari merapikan pakaian yang sedikit kotor ia berkata bahwa waktu istirahatnya telah selesai.
Kurang lebih lima belas menit setelah mereka kembali berjalan dan tiba di ladang luas milik sang tuan dari Rutland. "Selamat siang, Milady. Kau sedikit terlambat rupanya," Lord Morris tersenyum, ia mendekati Nathaline untuk memberinya salam dengan mengecup punggung tangannya.
"Maafkan aku, Your grace. Jonathan kelelahan selama perjalanan kemari, jadi kami menepi sesaat." Mendengar itu Lord Morris langsung menatap ke arah Jonathan yang berada di belakang Nathaline.
"Lantas mengapa kalian tidak menunggang kuda?" tanya Lord Morris, ia melihat kesekeliling mencari seekor kuda yang mungkin mereka tunggangi, namun malah menemukan setangkai bunga Peony di tangan Nathaline.
"Jonathan ingin berjalan kaki, Your Grace," ungkap Nathaline.
"Itu, maksudku--" Jonathan berusaha mengelak, namun Nathaline mendahului ucapannya sebelum ia balik menyudutkan Nathaline.
"Ia bilang jalan kaki akan lebih sehat, lagipula pemandangan selama perjalanan sangat indah. Sayang sekali jika kami hanya melintasinya dengan cepat sembari menunggang kuda." Lord Morris mengangguk paham pada akhirnya.
"Apa kau menyukai bunga Peony, Milady?" tanya Lord Morris tiba-tiba.
"Oh ini, kami memetiknya. Jonathan mengatakan bahwa bunga Peony kaya akan manfaat, jadi aku ingin menanamnya di mansionku." Lagi-lagi Lord Morris menganggukan kepalanya, namun tatapan matanya sesekali mengarah kepada Jonathan Mason.
"Anda bilang akan memperlihatkanku bagaimana caramu memelihara ladang bukan? mengapa kita tidak berbincang sambil melihat sekitar, Your Grace?" kali ini Nathaline sungguh mengalihkan topik pembicaraan, ia melingkari tangannya di tangan Lord Morris. Masa bodoh jika Jonathan Mason mengira ia genit, lagipula Lord Morris adalah calon suaminya. Dan sedikit lainnya Nathaline memang sengaja ingin tahu respon Jonathan setelah melihat hal ini.
Lord Morris sendiri tampak kaget sekaligus gembira ketika Nathaline menautkan lengan mereka. Jantungnya terpacu dengan cepat, tanpa sadar ia malah membicarakan sesuatu yang salah, seperti-- "Jonathan Mason memang pintar, ia sering sekali membaca buku. Maka jangan heran jika ia memiliki wawasan luas bahkan tentang filosofi setangkai bunga. Ia sungguh bisa diandalkan,"--memuji saingan terberatnya sendiri.
Dan di detik itu Nathaline pun mulai menggilai buku, ia merasa harus tahu lebih banyak lewat buku seperti yang Lord Morris katakan bahwa wawasan luas yang dimiliki Jonathan Mason adalah alhasil dari dirinya yang sering membaca buku, pun seperti yang Jonathan katakan bahwa manusia harus belajar. Saat itu Nathaline baru menyadari satu hal ketika menemukan buku tentang makna tumbuhan dan bunga, bahwa bunga Peony--juga bermakna tentang pengungkapan perasaan cinta seseorang.