Our Memories

1437 Kata
Nathaline memandangi punggung tangannya yang tertutup sarung tangan brokat berwarna putih, entah kenapa ia selalu merasa telah membohongi pria baik hati seperti Lord Morris untuk lantas ia jadikan tameng baja agar tidak terluka. Jelas, kecupan hangat pria itu dipunggung tangannya, sorot matanya, pun tingkah lakunya menyaluran rasa kasih sayang yang selalu disangkali oleh Nathaline sendiri. "Berhenti memikirkanku, milady." Jonathan bergumam tepat di samping Nathaline. Demi tuhan, debaran di jantung Nathaline hanya ada ketika netranya menemukan sosok seorang Jonathan Mason--di detik ini pun, "kau selalu percaya diri seperti itu?" Jonathan malah tertawa mendengarnya. "His Grace mengutus orang untuk menemaniku menuju ladangnya, dan orang itu bukan kau.!" Sebisa mungkin Nathaline meredam kegugupannya dengan sikap apatis. "Kau melamun sampai tak tahu orang yang diutus His Grace telah kusuruh untuk kembali," ujarnya, yang malah menambah rasa malu pada diri Nathaline. "Sebenarnya ia memiliki tugas yang tidak bisa ditinggalkan saat ini. Berhubung aku juga akan pergi kesana, kenapa tidak aku saja yang menemanimu, milady? bukankah kau akan senang jika aku yang menemani?" lanjut Jonatan, masih dengan sikapnya yang dingin dan mengintimidasi. "Kau tidak bisa seenaknya, Jonathan Mason," tegas Nathaline. "Kau mengingat namaku dengan benar rupanya. Biar ku tegaskan, nama yang kau sebut barusan sudah dianggap His Grace sebagai saudaranya sendiri." Jonathan tetap melanjutkan langkahnya ketika Nathaline tiba-tiba saja terhenti. "Demi Tuhan, ini pertama kalinya aku menyesali pilihanku. Aku akan kembali ke mansion dan mengambil kuda seka--" "Kalau begitu kita akan kembali dan naik kuda bersama." Jonathan berbalik, menghadap kearah Nathaline yang berada di belakangnya seraya memperlihatkan seulas senyuman indahnya. "Tidak! kau menggangguku!" bentak Nathaline keras. "Sudah kubilang aku akan terus mengawasimu, milady." Jonathan melipat kedua tangannya bersilangan di depan d**a. "Jonathan Mason,! jika kau sedekat ini, aku akan semakin terikat padamu. Kau berulang kali mencurigaiku memanfaatkan tuanmu, ketika aku ingin bersikap tulus--caramu ini malah membuatku semakin berkhianat!" "Bagaimana ini? aku hanya menjalankan tugas. Membuatmu semakin terikat, atau segala properti yang semakin membuatmu menyukaiku adalah tanggung jawabmu sendiri. Sejatinya kau sendiri yang mampu memutuskan jalan hidupmu. Mau jatuh cinta pada siapa, mau menolak siapa, mau sakit hati, mau mendendam, atau memilih hidup seperti batu tanpa perasaan. Dan setelah keputusan yang diambil, mutlak kau harus menerima segala kosekuensi di dalamnya." Nathaline melipat kedua tangannya di d**a, mencermati kata apa lagi yang akan keluar dari pria tersebut. "Pun ketika kau memilih untuk tulus menerima seseorang yang ada. Segala yang terjadi nanti tidak boleh sampai menggoyahkanmu, seharusnya keberadaanku pun tidak boleh sampai mengobrak-abrik pilihanmu dan meragu. Itu kosekuensi dari memilih untuk tulus." "Bagaimana jika aku memilih untuk tidak membuatnya menjadi tulus? seperti aku yang ada di dalam pikiranmu," tantang Nathaline. "Maka kau harus siap patah," kedua lengan Nathaline terjatuh, ia cukup mencelos dengan ucapan Jonathan Mason yang kali ini. "Apa maksudmu?" "Dalam pikiranku kau adalah w*************a dan serakah. Harga yang harus dibayar orang yang serakah adalah berakhir tidak mendapatkan apapun. Dalam artian kau akan melepas tuanku yang baik hanya karena terbujuk rayuanku. Dan kau tidak akan mendapatkanku karena aku orang-Nya, aku ada dalam kendali seseorang yang kau tolak cintanya," ungkap Jonathan Mason. "Paradoks macam apa ini? memang apa yang membuatmu yakin bahwa aku menaruh perasaan padamu, padahal aku tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan." Jonathan terdiam sesaat, membuat Nathaline berdecak merasa telah memenangkan perdebatan. "Kau bahkan tidak tahu jawabannya, lalu asal menyimpulkan bahwa aku akan berakhir tidak mendapatkan siapapun. Memang takdir ada di tanganmu, Jonathan Mason?" cibir Nathaline. "Aku menemukan jawabannya. Jawabannya ada di tatapan matamu. Mengapa aku meyakini kau menaruh rasa? sebab tatapan itu sama seperti tatapan tuanku terhadapmu. Dan itu nyaris membuatku prustasi." *** Nathaline menggelengkan kepalanya ketika mengingat moment-moment dirinya bersama Jonathan. "Pengkhianat ini benar-benar." Nathaline memukul pelan kepalanya sendiri. Seharusnya ia fokus mencari jalan pulang, namun perjumpaan dengan sosok Jonathan kemarin membuatnya terus bernostalgia momen pahit dan manis mereka ketika bersama. Dan sampai kapanpun pria itu tak kan kehilangan tempat dalam pikiran serta hatinya, sebab dimanapun Nathaline berada disitu pula lah pria itu hidup dengan rupa dan sikap yang selalu dikagumi seorang Nathaline Owen. "Kamu menunggu lama?" Jonathan Mason, andai dunia berpihak padanya maka yang dapat ia rasakan adalah kebahagiaan atas kerja keras dan kecerdasannya. "Aku mendadak ada kelas tambahan, dan setengah jam lagi aku harus pergi bekerja," ucap Jonathan dengan terengah. "Tidak apa-apa," balas Nathaline, sedikit gugup. "Kamu belum memesan sedari tadi?" "Mmm..Aku tidak bisa memesan." Nathaline tersenyum malu ke arah Jonathan. "Pantas saja pramusajinya terus menatap padamu, mungkin mereka heran satu jam disini kamu hanya melamun tanpa memesan," ungkap Jonathan, ia langsung mengangkat tangannya meminta si pramusaji menghampiri meja mereka. "Latte macchiato, dua." Pramusaji itu tersenyum menatap wajah Jonathan saat berbicara, dan Nathaline berani bertaruh bahwa pramusaji wanita itu mengagumi wajah sempurna yang dimiliki Jonathan nya. Sayangnya, mungkin si pramusaji akan mundur jika Nathaline katakan kehidupan menyedihkan seorang Jonathan. "Kenapa kamu menatap seorang pramusaji dengan seperti itu?" tanya Jonathan, setelah si pramusaji pergi untuk membawa pesanan. "Tidak, ia hanya terlihat genit barusan," tukas Nathaline. "Ckk, dia tak lebih genit dari seorang gadis yang kukenal di kampusku." Jonathan tersenyum miring, dan tampaknya Nathaline tidak menyadari gadis yang dimaksud Jonathan adalah Peony Powell. Hening beberapa saat, Jonathan sedari tadi menunggu apa yang hendak dikatakan wanita di hadapannya ini, namun si wanita nampaknya masih hanyut dengan pikirannya sendiri. "Sisa dua puluh menit, masih mau membuang-buang waktu dan membuatku kena potongan gaji.?" Jonathan memperingatkan, dan Nathaline terlihat tak mau waktu cepat berlalu. "Aku--ingin berterima kasih, kau menolongku kemarin malam," ungkap Nathaline pada akhirnya. Jonathan mengangguk-anggukan pelan kepalanya, disaat bersamaan pesanan mereka sampai di meja. "Wow, minuman apa ini?" Jonathan yang baru saja ingin merespon ungkapan terima kasihnya malah mengulum senyum sekarang, Nathaline begitu takjub dengan tampilan secangkir kopi dan itu sukses membuat Jonathan ingin menertawakan dan meneriakinya ketinggalan jaman. "Kamu masuk ke Coffee Shop dan tidak tahu apa yang dihidangkan di dalam sini?" "Ini kopi?!" tanya Nathaline, setengah berteriak. "Ya. Kecilkan suaramu, orang-orang akan menertawakannya." Jonathan celingukan kedepan dan belakang kursi yang mereka tempati. "Wahh...tampilannya begitu indah, di tempatku tidak ada yang seperti ini," suara Nathaline mengecil, namun tak mengurangi rasa takjubnya. "Benarkah?" Nathaline mengangguk membenarkan. "Kalau begitu cobalah." Lima belas menit berlalu, sisa lima menit dan mereka hanya membicarakan hal tak penting di waktu yang sempit. "Rasa kopinya luar biasa." Nathaline menegak sisa di dalam cangkirnya dengan nikmat. "Kamu terlihat berbeda. Tidak seperti Peony yang kukenal. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" sebenarnya sedari tadi Jonathan menahan rasa penasarannya, berharap wanita di hadapannya ini yang akan bicara duluan. Namun diamnya Nathaline membuatnya tidak ada pilihan selain memulai percakapan. Nathaline tampak mematung beberapa saat, kejujuran akan membuatnya terlihat se-aneh pandangan orang lain yang menganggapnya gila, namun kebohongan akan membuatnya terikat pada rasa bersalah. "Jika kukatakan kebenarannya pun, kau tak kan percaya." "Itulah kebiasaan jelek manusia, selalu asal menyangka." Jonathan menyeruput macchiato yang masih tersisa. "Bukankah terlalu percaya diri itu tidak baik? ketidak sesuaian ekspetasi akan membuat dirimu jatuh lebih dalam daripada terkaan buruk diawal." Nathaline tak mau kalah, ia cukup lelah meyakinkan orang-orang yang tak mau mempercayainya. Dan untuk tipe seperti Jonathan? ucapan seperti apapun untuk mendapatkan kepercayaan tampaknya akan sia-sia saja. "Aku bisa saja mempercayaimu--tergantung seberapa masuk akal ucapanmu." Bibir Nathaline mencebik, bukan pada Jonathan. Namun pada dirinya, sebab jelas apa yang dialaminya ini tidak masuk akal. "Kau percaya dongeng fantasi? jika tidak, kau tak perlu tahu perubahanku," jelas Nathaline. "Tentu tidak, tapi aku percaya di masa lalu hal seperti pesawat atau benda kecil semacam lampu mustahil ada. Dan zaman yang membuktikan ketidak mungkinan itu menjadi mungkin," tutur Jonathan. "Bagaimana dengan Ariel yang merubah ekornya menjadi kaki?" "Kenapa tidak? orang-orang zaman dulu memiliki kekuatan diluar nalar. Dan kita memiliki banyak ilmuwan handal di zaman kita," ungkap Jonathan, dengan sesekali melihat alrojinya. "Jadi apa penyebabmu seperti ini?" tanyanya lagi. "Baiklah. Kurasa ini gila, tapi aku bukan Peony Powell. Aku Nathaline Owen dari Rutland tahun 1871." Nathaline mengunci tatapan Jonathan sekarang. Ia siap--dikira gila oleh orang yang dicintainya sendiri. "Kurasa kamu yang tidak akan percaya bahwa aku mempercayaimu." Jonathan tersenyum miring. "Maksudmu? kau mempercayaiku?" tanya Nathaline, yang masih tak menduga akan semudah ini membuat Jonathan percaya, kendati berulang kali pula anggukan Jonathan memberitahu kesungguhannya bahwa ia benar mempercayai ucapan Nathaline. "Lalu kenapa kau bilang akan mempercayaiku jika ucapanku masuk akal? padahal jelas ucapanku tidak masuk akal." "Jika kamu hilang ingatan demi mendapatkan perhatianku, jelas itu tidak masuk akal. Dan aku tidak akan menerima pengakuanmu," ungkapnya, dan perasaan Nathaline yang campur aduk ini hanya membuatnya mematung tidak percaya. "Habis satu jam, aku akan bolos bekerja hari ini," putus Jonathan. "Sudah satu jam?!" "Ya, kamu masih mau disini? atau kuantar pada seseorang yang mungkin menjadi penyebabmu ada disini.?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN