"Hari ini apa rencanamu?" tanya Mellonie seraya menaruh roti panggang pada piring lalu meraih satu toples selai, dan menghampiri Nathaline di meja makan.
"Aku harus bertemu Dr.Jimmy, dan bertemu Jonathan untuk berterima kasih." Nathaline menyambut sodoran toples selai kacang.
"Kalau begitu aku akan antar ke kelinik, di kampus nanti jika bertemu Jonathan aku akan sampaikan bahwa kamu ingin bertemu dengannya, setelah urusanmu selesai kita bertemu di kedai ibumu," gumam Mellonie dengan mulut yang dipenuhi roti. Nathaline tidak biasa melihat seorang gadis makan dengan begitu berantakan, sebab itu tidak sopan. Alih-alih namun ia suka sikap Mellonie yang apa adanya di hadapan dirinya. Seakan benar ia kawan dari Mellonie, tidak pernah ada rasa canggung dari gadis itu sedikitpun.
"Oh ya," Mellonie menaruh rotinya, beranjak ia dari tempat duduk lalu melesat membawakan secarik kertas dan spidol yang kini tutupnya berada diantara giginya. Mellonie sibuk dengan kedua benda itu tanpa memperdulikan Nathaline yang penasaran. Garis memanjang, belokan, dan tanda X.
"Ini denah. Dari klinik ke Coffee Shop--aku akan minta Jonathan menunggumu disana pukul duabelas. Yang ini dari Coffee Shop ke rumahmu, Chicken Pawn. Pukul tiga sore aku akan menunggumu disana." Nathaline hanya memperhatikan dengan seksama, tidak habis pikir ternyata masih ada orang sebaik Mellonie juga Rosalyn--yang beruntungnya Nathaline miliki kesempatan untuk dekat dengan keduanya.
"Terima kasih, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Kau terlalu baik padaku," ucap Nathaline yang malah membuat raut wajah Mellonie mendadak sedih sekarang. "Kamu tahu aku harus melakukannya? Peony sahabatku, meskipun kamu bukan dirinya, tolong biarkan aku berbuat baik."
"Peony sangat beruntung karena memilikimu dan Rosalyn. Andai aku seberuntung dirinya." Mellonie tersenyum, dengan tergesa ia meraih tasnya. "Kamu juga temanku sekarang. Oh ya, surat izinnya hanya untuk hari ini. Besok kembalilah ke kampus.!" Nathaline mengangguk dengan lesu, ia tidak suka belajar lagi. Namun jika mengingat Jonathan berada satu kampus dengannya, kedengarannya pergi ke kampus tidak akan semembosankan kemarin.
***
Mellonie berjalan menelusuri koridor kampus, mencari Jonathan bukanlah hal yang sulit kendati mereka tidak pernah dalam satu kelas yang sama. Mellonie seolah tahu sejak awal tempat mana yang akan menjadi tujuannya sekarang, dan disitu lah ia pasti menemukan si pria berada. Jonathan biasanya berdiam diri di tempat-tempat yang hening dengan bukunya. Bukan tanpa alasan, setelah pulang ia benar-benar harus lepas dari buku dan mencari uang.
"Dia itu pekerja keras." Entah kenapa ucapan Peony terlintas di otaknya saat mendapati Jonathan tengah mengerjakan tugas di bawah rindang pohon maple yang siap berguguran. "Jo, jam dua belas di Coffee Shop langgananmu," singkat Mellonie, ia sebenarnya tidak akrab dengan Jonathan. Jika bukan karena Peony mungkin seumur hidupnya ia tidak akan mengenal seorang Jonathan.
"Aku tidak ada waktu nanti siang," jawabnya tidak kalah singkat.
"Sebentar saja, Peony tidak bisa masuk hari ini tapi ia ingin bertemu denganmu," tutur Mellonie dengan nada memelas. Jonathan tidak merespon untuk beberapa saat, sampai ia mulai jengah sebab Mellonie tidak kunjung pergi sebelum ia menyetujui keinginannya.
"Baiklah, aku akan mengatur waktu. Tapi aku tidak bisa berjanji." Mendengar itu Mellonie senang bukan main, jika Peony berada dalam ingatan yang utuh mungkin ia akan menjerit saking senangnya. Setidaknya Jonathan mau meluangkan sedikit waktu dari kesibukannya, kendati itupun masih tidak pasti.
"Oh ya, kudengar dia hilang ingatan.?" Mellonie tersentak, ternyata Jonathan pria yang mengejutkan. Selalu tak acuh saat didekati Peony namun ia tidak menyangka Jonathan memperhatikan Peony juga diam-diam.
"Apa benar?" Jonathan mengulangi ucapannya yang belum direspon.
"Hmm..yaa, kau bisa lihat sendiri perbedaannya kemarin," ujar Mellonie.
"Aku pergi ke kampus untuk belajar, bukan untuk memperhatikan orang." Mellonie mendesah, Jonathan baru saja mengatakan bahwa ia mendengar berita tentang Peony dan menit berikutnya ia mengelak bahwa ia memperhatikan orang lain? jual mahal sekali pria ini.
"Sebenarnya aku kurang paham penyebabnya, tapi menurut bibi Pawn Peony tiba-tiba terbangun dan menjerit-jerit tidak jelas sebab tidak mengenali ibunya sendiri. Ia bahkan bersikeras memperkenalkan dirinya sebagai orang lain. Dan sampai saat ini kami belum mengetahui penyebab serta bagaimana cara menyembuhkannya," ungkap Mellonie panjang lebar.
"Apa ia benar-benar tidak mengingat siapapun?" tanya Jonathan.
"Entahlah, tapi perjumpaan denganmu kemarin membuatnya banyak melamun. Aku harap ada sedikit ingatannya tentangmu. Jadi kamu harus menjumpainya hari ini." Mendengar itu Jonathan kembali menimbang, sepersekian detik ia mengemas buku-bukunya dan beranjak. "Aku akan menemuinya."
***
Nathaline duduk tenang pada sebuah kursi, matanya memejam menjelajahi alam bawah sadar dengan Dr.Jimmy yang duduk di sampingnya sebagai pembimbing. "Aku menggenakan sebuah gaun pengantin, ada Anna disana. Aku bahagia tapi tidak sedang jatuh cinta sebab senyuman itu tampak berbeda."
"Itu hari pernikahanmu?" tanya Dr.Jimmy.
"Ya."
"Ada siapa lagi disana selain Anna.?"
"Tidak ada,"
"Apa yang terjadi setelahnya?"
"Kami keluar."
"Ada apa di luar?"
"Pesta pernikahanku, dengan kain membentang berwarna putih dan merah muda disetiap sisi menuju altar, ada banyak bunga berwarna senada. Beberapa jajar kursi tamu terisi penuh. Ayah meraih tanganku, rasa gugup berubah menjadi rasa sedih setelah melihat orang yang kucintai memandang redup kearahku." Dahi Nathaline sedikit berkerut, seolah ada tangis yang sengaja ditahannya.
"Pria yang kau cintai bukan suamimu.?"
"Dia--orang kepercayaan suamiku."
"Apa yang terjadi selanjutnya.?"
"Aku mendengar suara ledakan setelah ikrarnya selesai," setetes air mata mengalir juga dari sudut matanya.
"Lantas.?"
"Banyak yang meninggal, dan gaunku dipenuhi darah."
"Bagaimana ayahmu--"
Dr.Jimmy belum sempat kembali melontarkan pertanyaan namun Nathaline sudah membuka matanya, "apa yang kamu lihat tadi adalah hal yang paling menyedihkan dan menakutkan bagimu. Seharusnya masih ada beberapa pertanyaan lagi agar kamu lebih paham ketakutanmu sendiri."
"Ck, sudah kubilang aku tidak gila atau hilang ingatan, dokter. Tanpa terapi pun aku masih mengingat jelas hal-hal yang membuatku takut sepanjang hidupku." Nathaline memperbaiki posisi duduknya seraya mengusap air mata yang jatuh tanpa sadar.
"Aku kemari karena aku butuh setidaknya satu orang yang mempercayaiku, bukan melakukan hal-hal tidak perlu! dokter sekarang tahu aku bukan Peony Powell, bukan? aku butuh bantuanmu untuk kembali." Mendengar itu Dr.Jimmy terdiam sesaat, wanita ini jelas bukan Peony Powell. Gerak-gerik, caranya berpikir, dan menanggapi masalah sangat berbeda dengan wanita-wanita pada zaman ini.
"Aku selalu melakukan yang terbaik untuk pasien, yang aku lakukan barusan tidak lebih agar kamu mengetahui dirimu sendiri. Dan kamu jelas bukan Peony Powell." Sulit mendapatkan kepercayaan, dan Nathaline senang akhirnya ia mendapatkannya.
"Tapi aku hanya seorang dokter mental biasa, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu kembali?"