Di tengah hiruk-pikuk jalanan, seakan tuli hanya untuk meyakinkan presensi seseorang. Nathaline lupakan suara klakson kendaraan pembengkak telinga yang mati-matian menghindari kecelakaan--sebab ada seorang gadis yang tidak memperhatikan langkahnya, bahkan petunjuk untuk pejalan kaki tidak mampu di mengerti olehnya. Seluruh yang ada pada dirinya terpaku pada sosok pria di ujung sana. Ingin ia berlari ke hadapan pria tersebut, memeluknya untuk meredakan kecemasan serta ketakutan sebab tiba-tiba berada di dunia yang asing ingin, atau hanya berucap 'bawa aku pulang.' Namun ia ragu apa pria ini benar orang yang ia kenal?
Pria tersebut hampir berlalu dari halte, hembusan napas berat saat melihat kotak yang mengalung di lehernya membuktikan bahwa ia harus menghabiskan semuanya sebelum pulang. Dan naluri Nathaline memerintahnya untuk menghentikan pria tersebut sebelum melangkah lebih jauh dan Nathaline kehilangan kesempatan untuk mengenal pria tersebut.
"Jonathan.!?"
CIIITTTTTTT...
Nathaline mengedip berulang kali, telinganya berdengung namun samar masih mampu mendengar suara bising kendaraan, lalu di detik berikutnya wajah Jonathan memenuhi pengelihatannya. "Kamu tidak apa-apa?" Nathaline berani bersumpah tidak ada yang berbeda dari pria ini dengan Jonathan. Alih-alih beberapa pertanyaan mulai berputar di otaknya, benarkah ia Jonathan? atau reinkarnasi itu memang ada? seperti kemiripan dirinya dengan Peony Powell contohnya.?
"Kau mengenalnya anak muda?" tanya seorang pria lain di antara mereka, sialnya Nathaline terlalu pusing untuk menyadari bahwa ia dikerumuni banyak orang karena tidak bisa menyebrang barusan. "Ya, aku mengenalnya." Pria itu mengangguk, seorang yang lain merogoh saku jas dan memberikan sebuah kartu nama. "Meski ini bukan salahku, silakan hubungi aku jika luka pada nona ini cukup serius. Aku sedang buru-buru sekarang. Lain kali menyebranglah dengan benar, nona." Jonathan, pria yang dikira Nathaline adalah Jonathan entah kenapa ia begitu perhatian padanya. Ia mengambil kartu nama si penabrak dan mewakili Nathaline minta maaf.
"Nona, lain kali hati-hati." Orang-orang di sana lantas pergi setelah berpesan, tinggal lah ia dan Jonathan di sana. Canggung bukan main, Jonathan memapah Nathaline hingga duduk di kursi tunggu halte. Tidak ada nama untuk dipanggil Nathaline pada pria ini, sebab sekalipun mereka mirip nalarnya berkata tidak mungkin bahwa ini adalah Jonathan. "B-boleh aku tahu siapa kau?" sialan, Nathaline gugup setengah mati. Ia bahkan tidak sempat memilih kata yang benar untuk menanyakan identitas pria ini.
"Apa kakimu yang sakit menyebabkan otakmu bergeser?" ucapnya, benar-benar mirip Jonathan dari segala aspek.
"Aku Jonathan.."
DEG...
"Nama yang sama, Ataukah..?"
***
Gemerlap di atas lantai dansa, penuh warna-warni gaun termahal gengsi para bangsawan terkemuka, glamour bercampur pekat aura harga diri yang ditahan setengah mati. Nathaline muak berada di kerumunan orang-orang palsu ini, dibalik topeng ada topeng tebal lagi yang menutupi segala kemunafikan yang ada. Dimana tahta, uang, dan nafsu lebih tinggi dari tanggung jawab dan kebijaksanaan yang harus mereka emban. Seperti pesta ini, ada--sebagai perayaan keberhasilan menaklukan lawan dengan cara ilegal.
Nathaline keluar dari kerumunan, masa bodoh dengan kartu dansa yang terisi penuh, bahkan satu diantaranya adalah ajakan pemilik pesta sendiri. Nathaline berjalan ke taman belakang, tepatnya sebuah labirin di mansion Lord Davis yang dikira sepi malah penuh orang-orang saling b******u dan merayu dalam senyap, hanya tubuh mereka yang bicara, saling menyecap keindahan tubuh yang ada. Dan ini bukan tempat yang cocok untuk menikmati udara malam, Nathaline pun berputar haluan.
Berhenti di tempat terparkirnya kereta para tamu undangan. Nathaline terpaku pada satu kereta putih dengan ukiran indah berwarna gold, sampai tidak terpikir berapa harganya dan siapa yang selalu ada di dalam sana. "Minat dengan kereta milik His Majesti, Milady.?" Nathaline menoleh, seorang pria tidak jauh dari tempatnya berdiri tengah menatapnya dengan begitu dalam. Sorot rembulan menerangi presensi seorang pria yang rambutnya tersisir angin kencang, pahatan sempurna pada setiap inchi wajah pria dewasa itu membuat Nathaline terkesima.
Ini bukan kali pertama, dan untuk kesekian kalinya Nathaline lagi-lagi terjerat pesona.
Pria ini adalah orang kepercayaan Lord Morris, calon suaminya yang tidak pernah absen membawa pria ini kemanapun ia pergi. Alih-alih Nathaline malah jatuh hati pada pria biasa ini, yang sayangnya bahkan tidak pernah ia ketahui siapa namanya. "O..oh jadi ini milik His Majesty? pantas saja," ujar Nathaline, tampak gugup sebab ini kali pertamanya mereka saling bicara. "Lord Davis, lingkar kekuasaannya sangat luas, julukan ditakuti banyak orang ternyata berlaku juga untuk seorang raja. Ia banyak koneksi, lebih dari itu fisik sempurna tiada cacat. Kenapa kau tidak mau menikah dengannya, Milady.?"
"Sebab aku tidak mencintainya." Singkat Nathaline, pria itu berjalan mendekat. Derap langkahnya berlomba dengan degup hati Nathaline seiring tubuh tegap itu berhenti tepat di hadapannya. "Yakin itu alasannya? bukankah tidak ada perasaan itu juga untuk tuanku? sepenuhnya kau memanfaatkannya untuk berlindung, Milady." Nathaline mengerti pria yang dimaksud orang ini adalah Lord Morris--calon suami yang tidak pernah memiliki hatinya, calon suami atas dasar kesepakataan belaka.
"Jangan bertanya kenapa aku tahu, gadis di meja keluarga tempo hari lalu tidak menatap minat pada calon suaminya, gadis yang datang berkunjung ke Rutland malah ku pergoki mencuri-curi pandang padaku, dan gadis yang baru saja keluar dari pesta dansa terpaku melihatku sedang menjaga kereta tuanku," tuturnya panjang lebar. "Apa maksudmu?" tanya Nathaline, sedikit banyak tentu ia tersinggung dan sedikit lainnya ia cukup malu. "Kau menyukaiku, Milady. Itu tebakku, dan aku harap itu salah. Sebab aku tidak ingin tuanku disakiti olehmu."
"Kau terlalu lancang," geram Nathaline. "Ini tuntutan pekerjaan, milady. Bahaya dari arah manapun harus ku tebas agar tidak menyentuh tuanku." Nathaline merasa gerah dengan ucapan pria ini, secara tidak langsung ia me-lebeli Nathaline sebagai gadis pemain hati pria. Sayangnya entah dia beruntung atau Nathaline lah yang sial, sebab hatinya tidak mengijinkan telapak tangan melayang dipipi seorang pria rupawan tanpa gelar bangsawan ini.
"Aku Jonathan.. Jonathan Mason, tidak perlu cari tahu siapa namaku. Aku selalu ada di samping His Grace, dan aku akan selalu memperhatikan gerak gerikmu, Milady." Jika kesan pertama adalah keterpikatan, yang kedua adalah kekesalan. Ya, Jonathan Mason telah menuai bibit mawar penuh duri di hati Nathaline akibat kelancangannya. "Kembalilah Milady, tempatmu bukan disini. Aku bisa kehilangan pekerjaanku jika His Grace tahu calon istrinya berbicara denganku, atau yang paling buruknya si pemilik pesta akan taruh kepalaku di depan gerbang mansionnya sebagai pajangan esok pagi."
***
Mellonie menyisir rambutnya yang basah, sejak sore hujan tidak kunjung berhenti. Di tengah kemalasan cuaca yang dingin ia malah mendapat telepon yang mengatakan temannya tidak tahu jalan pulang. Di sini sekarang, Nathaline yang kuyup hanya bisa terdiam sibuk dengan dunianya sendiri. "Gantilah pakaianmu. Kamu harus memastikan dirimu tetap hangat di cuaca seperti." Mellonie menyodorkan sepasang pakaian di tangannya, namun sedetik kemudian ia mendesah sebab Nathaline tidak kunjung merespon juga.
"Hmm..Itupun jika kamu tidak ingin sakit." Mellonie mendaratkan bokongnya di sofa, berhadapan dengan Nathaline yang masih menundukan kepala.
"Sepertinya ada yang kamu ingin tanyakan padaku." Nathalime mendongak mendengar tebakan Mellonie.
"Ya! Pria itu," serunya dalam hati.
"Jonathan, ia seorang pelajar, satu fakultas dengan kita. Ku kira hanya dirinya yang tidak akan hilang di otakmu."
"Memang, hingga saat inipun--ia memiliki gravitasinya sendiri, dan aku selalu tertarik mengelilinginya. Tidak akan mudah menghilangkan kebiasaan itu dan melupakannya."
"Karena kamu pengagumnya--maksudku Peony. hampir semua orang tahu Peony Powell menyukai Jonathan."
"Ini yang menjadi pertanyaan, dulu dan sekarang--aku terlahir untuk mencintainya."
"Peony mencintainya seperti orang gila, dan mengejarnya seperti orang kerasukan, pokoknya Peony telah tergila-gila padanya."
"Sebab ia galaxy di malam yang gulana, ia mentari didinginnya pagi, semilir angin dipanasnya terik atas kepala, sebanyak itu aku membutuhkannya hingga tergila-gila."
"Padahal Jonathan hanya orang biasa, sepulang kuliah ia biasa bekerja part time, kadang berjualan di bus untuk membiayai kuliahnya."
"Ku kira ia telah banyak menderita, dan aku ingin menjadi satu keberuntungan untuknya. Namun aku malah memberinya lebih banyak petaka."
"Sifatnya, ia terlihat acuh pada orang lain, tapi sekali berbicara ia mampu menusuk hati siapapun. Ia lakukan itu untuk menutupi dirinya yang lemah, sehingga perfektif orang bahwa orang miskin mampu diperdaya itu tidak pernah nyata. Aku tahu semua itu dari Peony."
"Ya, Siapapun akan sebal ketika pertama kenal dirinya, namun tidak dalam waktu yang panjang. Sebab sesungguhnya ada hati yang hangat disana. Mereka benar-benar sama, nyaris tidak ada beda, ironinya mereka tidak pernah terlahir beruntung.."
"Hmm..tunggu sebentar." Mellonie berlalu ke arah dapur, menghentikan segala percakapannya tentang Jonathan kendati ingin sekali Nathaline mendengarnya lebih banyak. "Aku sudah menelepon bibi Pawn untuk tidak khawatir karena kamu ada di rumahku. Ia memintaku untuk menjagamu, jadi malam ini tidur saja di rumahku ya." Suara Mellonie terdengar dari arah dapur, berserta suara larutnya air ke dalam cangkir yang diaduk. Tidak lama Mellonie kembali dengan dua cangkir coklat panas dan duduk kembali di hadapan Nathaline.
"Oh ya, Rosalyn juga meneleponku berulang kali. Kamu tahu seberapa pedulinya ia padamu? ia khawatir ketika ku katakan akan pergi menjemputmu. Tapi ia tidak ingin ikut, ia bilang ingin tahu dulu kebenaran prihal Nathaline dan Peony yang menjadi perdebatan kita tadi siang." Mellonie menyeruput coklat panasnya.
"Apa yang bisa aku berikan sebagai bukti?" Nathaline akhirnya bersuara.
"Jika benar kamu dari masa lalu, buktikan seberapa ingatmu tentang hal-hal penting di masa lalu. Kita bisa mencari kebenarannya di buku sejarah, atau pergi ke museum. Yang jelas aku dan Rosalyn juga perlu tahu kebenaran dari semuanya. Jika benar kamu Nathaline Owen, kita akan membantumu mencari jalan pulang."
Nathaline termenung, ia ragu mampu meyakinkan kawan kawan dari Peony Powell ini pada akhirnya. Sebab ia merasa tidak ada yang spesial dalam hidupnya sehingga harus tertulis dalam buku sejarah, ia juga tidak pernah membantu negara, atau hal sesimple berbincang empat mata dengan His Majesty pun Nathaline Owen bahkan tidak pernah.
"Tapi, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang bersifat heroic. Jadi mungkin saja kalian tidak akan menemukan aku dalam buku sejarah," ungkap Nathaline.
"Benarkah? kalau begitu kita cari nama ayahmu, kamu bilang ayahmu adalah seorang Earl dari Norwich kan? beliau adalah salah satu tokoh masyarakat, mungkin kita akan mememukan ayahmu dalam sejarah." Mellonie berlari menuju nakas di samping pintu kamarnya setelah mengungkapkan idenya untuk melacak Nathaline Owen lewat ayahnya. Ia membawa ponselnya dalam genggaman lantas kembali berlari menghampiri Nathaline dan duduk di sampingnya.
"Apa rencanamu, Mellonie?" tanya Nathaline dengan logat formalnya.
"Owhh kamu kaku sekali, bicaralah lebih santai, aku ini temanmu bukan kolegamu." Mendengar itu Nathaline pun hanya mampu memberi seulas senyumannya, sebelum Mellonie memintanya untuk melihat ponsel di tangannya bersama-sama.
"Aku akan mencari ayahmu lewat internet," ujar Mellonie, dan Nathaline membelalakan matanya. "Mustahil, kau tidak akan bisa menemukan apapun dari kotak persegi yang mati ini."
Tawa Mellonie pecah, yang ada di hadapannya adalah sosok Peony Powell yang biasa terlihat pintar, baik itu dalam prilaku, pola pikir, serta bahasa yang digunakannya. Namun sekarang hanya tiga puluh persen kemiripan mereka, yaitu cara menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sisanya, jangan salahkan Mellonie jika yang akan keluar dari mulutnya hanyalah cibiran.
"Lihat ini." Mellonie menyalakan ponselnya, dengan cekatan ia menekan tombol-tombol yang tidak dimengerti Nathaline. Dan wanita itu sedetikpun tidak pernah tidak dibuat takjub melihat kecanggihan teknologi masa depan yang satu ini.
"Luar biasa," gumam Nathaline. Mellonie menoleh ke arah Nathaline yang berada di sampingnya, Mellonie heran sebab raut wajah mereka berbanding terbalik saat ini.
"Kamu tidak membacanya sedari tadi?" tanya Mellonie.
"Mmm..aku hanya memperhatikan jari-jarimu dan apa yang terjadi dengan ponselmu setelah kau menyentuhnya." Nathaline memperlihatkan deretan giginya, ia malu sebab hanya fokus dengan kecanggihan ponsel milik Mellonie tanpa mengingat tujuan awal mereka berselancar di internet.
"Lantas apa yang ada di sana?" Mellonie menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab, "kita tidak menemukan ayahmu. Dalam sejarah hanya tertera nama pemimpin pertama dari Norwich hingga tiga periode berikutnya. Dan jelas tidak ada nama ayahmu di sana."
"Bagaimana dengan kakek dan kakek buyutku. William Owen dan Arthur Owen, apa merekapun tidak ada dalam daftar?" tanya Nathaline, dan Mellonie lagi-lagi menggeleng.
"Sudah kuduga. Aku tidak akan memiliki bukti untuk kalian." Nathaline mendadak lesu, namun Mellonie menghiburnya bahwa mungkin saja tidak terteranya nama keluarga Nathaline disana sebab jauhnya masa permerintahan mereka. Sehingga hanya tiga yang disebutkan dalam sejarah.
"Kita masih bisa cari bukti lain. Jadi tolong jangan dulu putus asa. Aku dan Rosalyn selepas jam kuliah besok akan mencari buktinya melalui apapun. Sebenarnya jauh lebih baik jika kamu juga ikut dengan kami." Nathaline tampak menimbang-nimbang, sebenarnya ia memiliki izin untuk tidak masuk kampus besok sebab harus memulai terapi dengan Dr.Jimmy, lantas ia juga memiliki rencana untuk menemui Jonathan dan berterima kasih pada pria itu esok pagi.