Hari demi hari berlalu dengan penuh kegelisahan, segala urusan pekerjaan dan parlemen Davis serahkan kepada Arthur. Kabar beredar bahwa Davis semakin tergila-gila kepada puteri Earl of Norwich, namun yang sebenarnya terjadi ia sungguh gila karena setiap saat Nathaline selalu memandangnya dengan tatapan jijik, penolakan, serta hinaan secara tidak langsung itu benar-benar membuat Davis merutuki dirinya sendiri sebab tidak mampu membenci puteri semata wayang sang Earl.
Davis tidak pernah membencinya, tepat sekali. Hanya saja secara tiba-tiba kartu undangan dari Rutland atas pernikahan sang Duke Morrison tiba ke tangannya dengan nama mempelai wanita yang tak asing baginya. Itu membuatnya geram bukan main, bahkan waktu petang pun ia memutuskan pergi ke Norwich untuk meminta pertanggung jawaban atas semua janji yang James Owen ingkari terhadapnya. Amarah mulai menguasai dirinya, ia hampir membunuh James dengan senjata api jika saja seorang utusan dari Rutland tidak tiba dan menggagalkan usahanya.
Belasan orangnya habis dipukuli, dan beberapa lagi terkena senjata api hanya dengan tiga orang pria utusan dari Rutland yang Davis ketahui bahwa mereka diketuai oleh Jonathan Mason. Pria itu cukup terkenal akan kepiawaiannya dalam bela diri dan menggunakan sejata, belum lagi tampangnya yang tidak selaras rakyak jelata, atau orang-orang dalam suruhan para bangsawan. Bahkan penulis surat kabar menjulukinya sebagai pangeran tak beruntung. Semua lady tergila-gila pada tangan kanan dari Duke of Rutland ini, jika saja semua orang tua tidak memikirkan kecukupan materi kedepannya mungkin pria itu akan dikejar dengan mahar yang pantastis demi puteri-puterinya.
Davis tidak akan ambil pusing tentang Jonathan Mason, toh ia pria yang normal. Namun ada kabar simpang-siur yang membuatnya memperhatikan Jonathan yang katanya adalah seorang pria yang mampu membuat Nathaline Owen jatuh hati. Kabar itu tidak berlangsung lama, sebab usut punya usut Lord Morris menyewa penulis untuk membuat kabar bahwa gossip yang beredar tidak seperti demikian. Namun hal itu tetap membuat Davis tidak berhenti menyelidiki seperti apa seorang Jonathan Mason.
Singkatnya Jonathan Mason benar-benar menghentikan p*********n Davis pada James Owen malam itu, dan hebatnya lagi pria itu pandai berbicara dan membuat Davis dengan kesal harus angkat kaki dari mansion James Owen tanpa menerima apapun selain esok paginya Arthur berbicara bahwa Lord Morris mempercepat pernikahannya demi menghindari Davis yang mungkin saja akan menghancurkan acara mereka. Arthur mendapatkan informasi tersebut dari paman dan bibinya yang tinggal di Rutland dan mendapatkan kehormatan untuk ikut menghadiri acara sakral mereka.
Tanpa basa-basi sekali lagi para pengawal yang belum pulih harus memaksakan diri pergi ke Rutland dan menggagalkan acara pernikahan Lord Morris dan Nathaline. Namun sayang, ketika Davis tiba acara pemberkatan telah selesai, ia telah terlambat. Amarahnya memuncak, yang pada awalnya ia ingin memperjuangkan Nathaline secara sembunyi-sembunyi kini ia membuktikan di depan semua orang bahwa ia begitu menyukai Nathaline dan tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.
Sampai tak terkendalikan lagi, Davis meloloskan peluru dari senjata apinya menuju ke arah Nathaline. Saat itu yang ada dipikirannya ialah ‘tidak ada yang boleh memiliki wanita itu selain dirinya’. Namun James bergerak cepat melindungi puterinya, dan dorongan keras Davis rasakan dari sisi kanannya. Jonathan Mason lah yang mendorongnya, ia mengukung Davis di bawahnya yang sedikit meringis karena dorongan yang keras dari Jonathan. Tamu undangan semakin bergemuruh saat itu, Davis menengok ke sisi kiri dan mengumpat ketika melihat tembakannya melenceng dan hanya mengenai bahu dari James Owen.
“Menjauh dariku, makhluk rendahan!” Davis memusatkan seluruh amaranya pada satu kepalan tangan kanannya dan memukul Jonathan Mason yang ada di atasnya.
Jonathan mengguling, namun hal tersebut tidak melukainya. Mereka berdua bangkit dan saling memukul satu sama lain sebab senjata api Davis terlempar jauh dan Jonathan yang tidak membawa senjata apapun mengharuskan mereka hanya menggunakan kedua tangannya untuk membela diri. Sampai akhir dari hari itu ialah saat satu tembakan mengenai kaki Davis yang disinyalir Lord Morris lah yang menembakannya.
Davis memegangi kakinya yang terkena peluru, ia sudah tidak bisa melanjutkan penyerangannya sebab kakinya akan menjadi sumber kelemahan dan memudahkannya untuk tumbang. Namun setelah memutuskan untuk pergi Davis melihat sesaat ke arah Nathaline yang tengah menangis sembari memeluk ayahnya yang b******n itu. Disana kebencian Davis pada manusia, pada dunia, juga takdir yang telah diputuskan untuknya semakin menjadi. Ia bahkan menembak mati pelayan wanitanya yang tidak becus mengobati kakinya yang terluka.
Davis menghabiskan beberapa hari untuk memulihkan dirinya, disaat itu pula ia tidak pernah berhenti memikirkan seribu satu cara merebut Nathaline dari tangan suaminya. Angin bergemuruh dengan kencang, rintik hujan membasahi tanah kering dan menimbulkan aroma petrikor. Namun bukan ketenangan yang tercipta melainkan suasana mencekam sebab angin kencang bahkan menerbangkan daun-daun kering di malam hari. Davis memandangi daun-daun yang terbang tinggi terbawa angin, gorden ruangan kerjanya ikut menari-nari sebab sang tuan membiarkan jendelanya terbuka tanpa ditelaris. Saat itu yang muncul di benak Davis adalah beberapa cara untuk menemui Nathaline dan melepas rindunya—sampai ia menemukan cara yang paling tepat, yaitu menerobos mansion Lord Morris dan menemui wanitanya dengan sembunyi-sembunyi.
Ditengah rintik hujan Davis berkuda menuju Rutland dengan menggenakan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh yang dilakukan Davis malah memanjat dinding tinggi dan mencari kamar Nathaline, sayangnya alih-alih ia menemukan Nathaline lagi-lagi sedang berada di sebuh perpustakaan. Itu membuatnya kembali mengingat perjumpaan pertama mereka yang membuat Davis merasa sangat dihargai dan dianggap seorang teman oleh Nathaline Owen—tidak seperti saat ini.
Davis mengendap masuk kedalam perpustakaan, ia membekam mulut Nathaline dan membawanya ke sebuah ruangan gelap di mansion Lord Morris. Untuk beberapa saat Nathaline tampak ketakutan sebab Davis ternyata memakai sebuah topeng untuk melancarkan aksinya ini, hingga topeng dibuka dan Nathaline meludahi wajahnya yang sangat berharga itu. namun Davis masih berbaik hati di detik itu,
"Aku tahu kau tidak mencintai Lord Morris." Jauh di lubuk hatinya ia masih mengharapkan Nathaline mau pergi bersamanya. "Tapi tinggal dengannya jauh lebih baik daripada hidup sebagai marionetmu, wahai Lord Davis yang terhormat." Kenyataan benar-benar menolak Davis untuk memiliki wanita ini, disana Davis merasa hatinya sangat remuk, bagaimana Davis bisa dengan tega menjadikan Nathaline sebagai boneka pajangan di rumahnya, apa wanita ini pikir Davis cukup keji memperlakukan orang yang dicintainya seperti itu? demi Tuhan cara apalagi yang harus ia lakukan untuk meluluhkan seorang Nathaline?
"Ku beri kau waktu tiga hari. Jika masih tak mau datang padaku, maka perang akan dimulai,” ucapnya telak, kali ini ia akan berbuat kasar lagi, seperti terakhir kali ia berniat menembak wanita ini.
Tiga hari berlalu dan Davis tidak menerima kabar apapun dari Nathaline, ia mengerahkan puluhan orangnya untuk menyerang Norwich dan ia bersama beberapa orang lainnya pergi untuk menyerang Rutland. Sayang ia malah mendapati Nathaline tidak sadarkan diri di sebuah ruangan gelap yang tempo hari ia membawa wanita itu untuk bicara. Tak sampai hati melihat Nathaline dalam keadaan seperti itu membuat Davis menghentikan penyerangannya, dan Jonathan mason bersama beberapa orang Lord Morris memaksa Davis berikut orang-orangnya untuk angkat kaki dari mansion tersebut.
**
Davis tidak pernah mendapati kabar Nathaline lagi setelah hal itu terjadi, selain undangan Lord Morris yang tiba-tiba dan meminta mereka bekerja sama untuk menghukum Earl of Norwich setelah apa yang telah ia perbuat untuk memeras Lord Morris dan Davis. Satu yang Davis tangkap, ialah berakhirnya semua harapannya pada Nathaline setelah suaminya sendiri meminta perdamaian antara mereka demi kesembuhan Nathaline dan menghukum sang penjahat sesungguhnya dalam lingkar mereka.
Davis berjalan lesu menuruni undakan tangga keluar dari mansion Lord Morris. Rasa hampa mulai menyelimuti hatinya, membayangkan betapa sepinya ketika ia tidak bisa menemui Nathaline lagi atau menjumpainya hanya dalam pikiran. Ia harus benar-benar merelakan Nathaline, dan menerima kekalahan pertamanya hanya karena urusan cinta. “Aku tidak akan mengganggunya lagi mulai detik ini, tapi aku harap kau tidak pernah merasa keberatan jika kuminta kau mengabariku apabila Nathaline telah siuman,”—maka berkahir pula cinta pertamanya saat itu.
“Aku akan memintanya untuk menemuimu jika ia berhasil siuman,” mendengar itu Davis menggeleng, kembali melihatnya akan semakin membuat Davis menderita sebab tidak mampu menjadikan Nathaline sebagai miliknya. Ia cukup begini, cukup seperti ini, anggap saja ini adalah harga yang harus dibayar atas semua perbuatnya dan cinta yang alih-alih mampu memenuhi Nathaline namun malah membuatnya semakin menderita saja. Lantas Davis kali ini harus menerima kekealahan tersebut dan pergi tanpa memiliki dendam lagi hingga sampai ke Burlington.