A Mother Feelings

1227 Kata
Nathaline berjalan mondar-mandir tidak jelas di samping Jonathan yang terbaring, berulang kali Dr.Jimmy memintanya untuk tenang sebab Jonathan pasti kembali. Cara dia pulang jauh lebih mudah dari pada mengembalikan Nathaline ke tempat asalnya, namun Nathaline tetap saja memusingkan hal tersebut. "Apa mungkin tidak ada hal lain yang harus kita lakukan? kita tidak bisa hanya diam menunggu Jonathan kembali, bukan?" Nathaline menghampiri Dr.Jimmy di mejanya. "Apa kau yakin ingin pulang? tidak kah kau merasa dunia ini lebih baik dari pada tempat asalmu? kau bebas di sini, kau tidak terikat pernikahan dengan Lord Morris. Dan kau memiliki kesempatan untuk memilikinya." Dr.Jimmy menatap ke arah Jonathan, pria itu lah yang ia maksud barusan. Netra Nathaline ikut tertuju pada Jonathan, demi tuhan ia mencintai pria itu. Masih sangat dan tidak tahu kapan akan berakhir, sungguh tidak sulit mencintai Jonathan ini kendati ia bukan Jonathan Mason. Nathaline pun mendadak gamang, Peony Powell memiliki segala yang Nathaline Owen tidak miliki, ia memiliki seribu kali kasih sayang lebih daripada yang Nathaline Owen terima. Hidup sebagai Peony Powell sungguh menggiurkan untuknya, namun jelas sampai kapanpun ia tidak bisa menyalahi aturan, "Aku--harus kembali. Takdir tuhan tidak bisa aku rubah hanya karena aku menginginkannya." Dr.Jimmy tersenyum simpul, "kau orang yang religius rupanya." "Meski tidak selalu bahagia, aku selalu mensyukuri apa yang telah aku terima." "Menakjubkan, jika orang lain yang ada di posisimu mungkin mereka akan menyalahkan Tuhan atas takdir yang mereka alami, lantas mulai menyalahi aturan, dan melupakan ia punya Tuhan," balas Dr.Jimmy. "Selama aku tahu semua ajarannya mengenai kebaikan, maka tidak ada alasanku untuk berburuk sangka padanya." "Benar, dan kau menyebrangi dimensi untuk sampai kesini adalah garis takdirmu sendiri. Jika benar kau percaya takdir--kau tidak akan menyalahkanku lagi." Nathaline mengangguk membenarkan, "aku sudah memaafkanmu." "Baiklah, kau yakin ingin pulang bukan?" Dr.Jimmy meraih ponselnya dalam saku celana dan mengetik sebuah nama untuk di hubungi. "Jean, bisa kau kemari?" Sambungan telepon terhenti, dan mesin kuno itu tiba-tiba saja ikut terhenti juga. Refleks Dr.Jimmy bersama Nathaline menoleh ke arah Jonathan lagi. "Jo?" Jonathan membuka matanya dengan perlahan, yang langsung disambut oleh pelukan Nathaline padanya. Tidak ada ucapan apapun dari Jonathan selain balasan atas pelukan Nathaline dengan begitu emosional, seolah bertahun-tahun mereka telah terpisah. "Kau baik-baik saja?" tanya Nathaline, seraya melepas pelukannya, dan sebuah anggukan disertai senyuman Jonathan membuat Nathaline jauh lebih tenang. "Ayahmu baik-baik saja, perang sudah berakhir. Yang mereka khawatirkan sekarang adalah dirimu yang sudah terbaring koma satu tahun lamanya," tutur Jonathan. "Aku belum selama itu tinggal disini padahal." "Dimensi berbeda membuatnya memiliki perbedaan waktu juga," ungkap Dr.Jimmy, ia menghampiri Jonathan dan melepas kabel-kabel pada pelipisnya. "Ngomong-ngomong, apa yang akan terjadi jika tempat terakhir kali Nathaline berada disana akan dihancurkan,?" tanya Jonathan. "Aku tidak bisa membayangkannya, kemungkinan itu akan jadi masalah besar," balas Dr.Jimmy. "Sialan, berarti aku harus kembali ke sana," umpat Jonathan. "Memang apa yang terjadi disana?" "Dua orang wanita datang dan menyarankan Lord Morris untuk menghancurkan ruangan kosong di belakang mansion." "s**t! lantas kenapa kau tidak mencegahnya, t***l?" "Seseorang memukulku dari belakang saat menguping pembicaraan mereka, aku belum sempat melakukan apapun." "Kalau begitu bersiap lah, aku akan mengirimmu kembali." *** Hari telah larut, bibi Pawn termenung di dalam kedainya yang kosong. Pagi tadi ia telah menerima sebuah surat dari sang puteri agar tidak mengkhawatirkan keberadaannya, namun pada pukul sembilan malam ia tetap cemas menanti kepulangannya di balik jendela kedai yang telah tutup lebih awal dari jadwal biasa. Dua kawan Peony terlihat di luar sana, membuka pintu kedai mereka lantas menghujani bibi Pawn dengan beragam pertanyaan mengenai Nathaline yang tidak masuk kampus siang tadi. Bibi Pawn meminta mereka untuk duduk, sedangkan ia pergi menyiapkan makanan--masih mampu berpura-pura tidak ada sesuatu yang terjadi padahal ia juga nyaris prustasi. Dua piring ayam goreng, berikut minumannya telah sampai di meja mereka. Rosalyn dan Mellonie tampak bingung dengan tingkah bibi Pawn saat ini. "Pagi tadi aku menemukan sebuah surat, ia bilang minta maaf sebab tidak akan masuk kampus lagi. Ia pamit ke rumah Jonathan, ada banyak hal yang harus ia lakukan dengan pria itu. Di akhir suratnya ia memintaku untuk tidak terlalu khawatir, dan mengatakan ia pasti segera membawa Peony pulang padaku. Kalian tau kan dia bukan puteriku? Aku sudah berusaha untuk mengabaikannya hari ini, sebab aku merasa ia akan meninggalkanku. Namun entah kenapa tiba-tiba aku tidak ingin ia pergi. Ada yang aneh dengan perasaanku." "Bibi terlihat sangat berusaha untuk tidak cemas saat ini," ungkap Mellonie. "Benarkah? Berarti aku tidak benar-benar berhasil terlihat biasa saja," desahan bibi Pawn terdengar, "itu yang membuat kami bingung dengan alasan bibi awalnya," sambung Rosalyn. "Ia memintaku untuk tidak khawatir, tapi serasa itu ucapan terakhir darinya. Itu yang membuatku sedih, meskipun aku tahu itu memang bukan tulisan puteriku." "Kami akan mencarinya," tukas Rosalyn. "Tidak usah, dia begitu ingin pulang. Ya Tuhan, bagaimana bisa perasaanku campur aduk seperti ini. Aku ingin Peony puteriku, tapi jika Nathaline pulang, aku merasa tidak begitu yakin jika Peonyku pun akan kembali padaku." Bibi Pawn mengusap tetesan air matanya. "Semua akan baik-baik saja, bi. Kami akan tetap mencarinya, sebab sekarang saja aku berani bertaruh jika kami pulang dan membiarkan masalah ini seperti ini, maka bibi tidak akan tidur sampai hari berganti," lanjut Rosalyn. "Dia sudah berpesan untuk jangan mengkhawatirkannya, itu berarti kita tidak boleh mencarinya. Dan aku tidak mau terlihat seperti menekannya, aku tidak ingin ia merasa aku kekang, seolah ia benar puteriku sendiri. Sudah ku putuskan baik itu Peonyku atau gadis dari abad 18, aku tetap seorang ibu yang menyayanginya, dan berusaha kuat agar ia tetap nyaman di sampingku. Jadi biarakan saja ia lakukan apa yang ia mau." "Bi--" "Biarkan saja. Ini belum satu hari juga, kan? habiskan makanan kalian dan pulanglah, jangan biarkan b******n-b******n di luar sana mendapatkan kesempatan untuk menculik kalian di tengah malam." Bibi Pawn pamit pergi ke belakang, menimbulkan sejuta keresahan pada Rosalyn dan Mellonie. "Aku tidak punya banyak teman di France, jika aku tidak ada dan ibuku dalam kondisi cemas, aku akan memohon siapapun untuk jangan meninggalkan ibuku sendirian," ucap Mellonie. "Dan aku paling tidak tega membiarkan seorang ibu dalam kesedihan dan keresahan," balas Rosalyn. "Menginap?" "Tentu!" Mellonie dan Rosalyn berlarian mengejar bibi Pawn ke belakang, namun langkah mereka terhenti ketika melihat punggung bibi Pawan yang bergetar dengan satu tangan kanannya berusaha membekap mulutnya agar tiada suara tangisnya terdengar oleh Mellonie dan Rosalyn. Sayangnya, mereka sudah melihat langsung hal tersebut, dengan menahan tangis kedua sahabat Peony Powell itu menghampiri bibi Pawn dan memeluknya dari belakang. Bibi Pawn pasrah ketika anak-anak ini akhirnya mengetahuinya, merekapun tak dapat menahan air matanya lagi dan menangis bersama. Bagi bibi Pawn Peony adalah impian terbesar dalam hidupnya, bagaimana ia telah menikah tiga kali dan berujung perceraian sebab tidak mampu memberi seorang anak, hingga tanpa disangka hubungan terlarangnya dengan seorang pria pada saat mabuk kala itu malah memberikan seorang Peony untuknya. Diantara mantan-mantan suaminya yang membuangnya karena tidak mampu memberi seorang keturunan, pria itu malah membuangnya tanpa memberi sebuah ikatan sah dalam pernikahan kendati telah menghamilinya. Hingga saat ini bibi Pawn tidak merasa ia membutuhkan seorang pria dalam hidupnya, Peony adalah puteri impian baginya, ia baik hati, cantik, pintar, teman kesepiannya, serta satu-satunya harapan dan semangat untuknya. Tidak ada yang ia pikirkan selain masa depan Peony yang ia harap akan jauh lebih baik ketimbang seorang Pawn Powell yang sejak kecilpun memang meiliki kehidupan yang tak utuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN