Mellonie menarik selimbut hingga batas d**a bibi Pawn, memastikan bahwa wanita kuat itu cukup mendapatkan kehangatan pada cuaca yang dingin di luar sana. Lantas ia berbalik, dan memandangi bayangan tiga orang yang berbaring di atas kasur memaksakan tubuh untuk beristirahat dalam pikiran yang kalut. Malam ini Mellonie benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun, berbeda dengan Rosalyn yang memiliki kebiasaan jika menyentuh bantal ia tidak akan mampu menahan lagi rasa kantuk, namun Mellonie bersyukur bibi Pawn mampu beristirahat malam ini setelah lelah menangis seharian.
Kali ini Mellonie kembali membalikan tubuhnya menghadap bibi Pawn, dan Rosalyn di ujung sana, ia mengelus bahu bibi Pawn dan tanpa sadar meneteskan air matanya. Kebersamaan Mellonie bersama Peony juga Rosalyn sudah terjalin sejak mereka menduduki sekolah menengah pertama, dimana kebersamaan itu membuat mereka saling mengenal keluarga satu sama lain. Bagi Mellonie bibi Pawn adalah wanita yang pekerja keras, kadang ia sering melihat pertengkaran kecil bibi Pawn dengan Peony yang pada akhirnya sering kali saling tertawa dan memeluk satu sama lain. Mereka terlihat penuh, kendati hanya tinggal berdua dalam satu atap.
Bagaimana itu menjadi keinginan kecil bagi Mellonie saat kedua orang tuanya bercerai, lantas ia pergi dari Prancis ke sini dan meninggalkan ibunya untuk menimba ilmu. Ia takut sang ibu kesepian, namun semester awal saat ia ingin menyerah dan memutuskan kembali ke Prancis, ia menerima kabar bahwa ibunya telah menikah lagi. Jadi ia sambung kembali mimpinya—kendati tiap kali melihat bibi Pawn dan Peony ia sering kali merasa iri.
Namun berkat Peony ia juga mendapatkan kasih sayang seorang ibu di tempat ini, ketika ibunya sendiri hanya menelepon, dan memperhatikannya lewat media sosial, bibi Pawn sejak mereka duduk di sekolah menengah pertama bahkan membawa bekal tiga kali lipat untuk Peony agar membaginya dengan ia dan Rosalyn.
Sejak dulu, semasa sekolah Mellonie sangat aktif di organisasi. Pertemuannya dengan Peony ketika gadis itu sering keluar masuk organisasi sekadar ingin tahu dimana bakat yang sesungguhnya ia miliki. Peony menghampirinya kala itu, sebab Mellonie adalah satu-satunya yang mampu ia ajak bicara dengan santai karena mereka seusia. “Apa maksud dan tujuan dari organisasi ini?” tanya Peony kecil, dengan poni, rambut kuncir kuda serta identitas seragam sekolah menengah pertama.
“Organisasi kami adalah bentuk rileksasi. Kami sering mengumpulkan barang-barang jadul, terutama radio, pemutar piringan hitam, dan sesuatu yang mampu mengeluarkan bunyi. Kami biasa mendengarkannya dalam diam dan terhanyut akan melodinya. Selain mendapatkan rasa rileks, kami bisa lebih menghargai serta mengenang karya-karya lawas yang pernah hadir menemani kehidupan para orang tua atau nene moyang kita dulu,” tutur Mellonie, tas kebesaran yang ada di punggungnya ia tarik dan merogoh sebuah kantung paling depan. Ia mengeluarkan sebuah mp3 player seukuran kotak korek api dengan sebuah earphone yang satu di pasang di telinganya dan satu lagi ia sodorkan pada Peony untuk didengarnya.
“Pejamkan matamu dan ikuti irama musiknya.” Tanpa merespon Mellonie ia hanya memejamkan mata dan menikmati irama serta ketukan lawas yang menari di telinganya. Penggalan lagu tahun sembilan puluhan itu berceritakan tentang cinta kala remaja yang tidak memiliki akhir yang bahagia. Cukup klise, banyak sekali yang menyusung tema seperti itu, namun irama musiknya jelas tiada tanding pada masanya.
“Aku ingin masuk organisasimu,” putus Peony.
“Bukankah kau ingin memasuki organisasi yang sesuai dengan bakatmu? Kenapa memilih organisasi kami yang tidak memerlukan atau menciptakan sebuah bakat tersembunyi?” tanya Mellonie, ketika music dalam mp3 nya masih berputar.
“Karena aku menemukan sesuatu yang unik di sini, aku menemukan ketenangan. Hal yang tidak mungkin anak seusia kita mampu ciptakan menjadi sebuah organisasi. Kalian memberikan wadah untuk anak-anak yang tidak suka terlalu mengeluarkan tenaga tapi mampu mendapatkan nilai dalam organisasi, untuk anak-anak yang menyukai dan membutuhkan ketenangan dari lelahnya pekerjaan rumah atau masalah keluarga yang tak seharusnya mereka ketahui di usia dini, serta aku menyukai berbincang denganmu,”ungkap Peony.
“Dan aku senang orang sepertimu masuk organisasi kami,” ucap Mellonie, ia pun menarik earphone nya dan memberi isyarat agar Peony mendekatkan telinganya. Peony yang menangkap itu segera menarik earphone nya dan mendekatkan telinganya. “Ini rahasia, sebenarnya organisasi ini sangat hangat dan memiliki sholideritas yang tinggi, hanya saja aku tidak punya teman juga, kau tahu kenapa?” Peony menggeleng, “sebab aku pun baru masuk kemarin.” Penuturan Mellonie sukses membuat Peony tertawa terbahak-bahak, “seharusnya kau masuk seni, seni peran lebih tepatnya. Bagaimana kau terlihat sangat handal membuat seseorang masuk ke dalam komunitasmu sih?” Peony kembali tertawa, disambut tawa Mellonie yang juga meledak olehnya, “teman?”Mellonie menyodorkan tangannya di sela-sela tawa mereka.
“Tentu, Peony Powell.”
“Mellonie Russel.”
Semakin hari Peony dan Mellonie semakin dekat, mereka sering menghabiskan hari bersama di waktu istirahat dan jam sekolah berakhir hanya untuk mengobrol santai atau mendengarkan musik lawas di ruangan organisasi mereka. Hingga terjadi sebuah pertengkaran antara anggota dan sang ketua dalam organisasi tersebut, si ketua mengeluh anggotanya tidak pernah bertambah lagi setelah Peony masuk terakhir kali, dan para anggota yang lain menuntut adanya kegiatan bermanfaat selain duduk memandang rindang pohon di balik jendela seraya ditemani lagu lawas.
Perdebatan itu berakhir ketika seluruh anggota dari total tujuh belas orang meninggalkan organisasi dan hanya menyisakan lima—termasuk Peony dan Mellonie di dalamnya. Ketua pusing dibuatnya, ia pun memutuskan hengkang dari organisasi tersebut tanpa memiliki ahli waris. Disaat organisasi terancam bubar, lima dari mereka mendapatkan secercah harapan di balik seorang wanita yang baru saja tiba mengetuk pintu ruangan mereka, “apa aku boleh bergabung dengan kalian? Namaku Rosalyn Wilbert, aku tertarik dengan organisasi kalian.”
Itu adalah mula dari hubungan persahabaatan dan persaudaraan yang kini terjalin begitu erat. Baik Peony, Mellonie, serta Rosalyn saling mengenal dan dekat dengan keluarga mereka masing-masing, dan ini bukan kali pertama mereka menginap di rumah bibi Pawn.
Mellonie membalikan tubuhnya untuk ke kesekian kali, kali ini memandang langit-langit kamar dengan kipas angin yang tergantung disana, belum sampai tiga detik ia mendengar desahan Rosalyn, “aku tidak bisa tidur,” keluhnya.
“Tapi aku mendengar dengkurmu barusan,” ujar Mellonie, seraya menatap sinis sahabatnya.
“Baiklah-baiklah. Abu baru saja bangun dan merasa bahwa tidak seharusnya aku tidur dalam keadaan seperti ini,” tutur Rosalyn
“Apa-apaan kamu ini, everything’s gonna be fine. Jangan berlebihan dan pergilah tidur.”
“Ck, kamu pun tidak tidur,” bela Rosalyn, ia pun beranjak bangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.
“Aku sungguh tidak bisa, bukan memaksakan untuk terjaga.” Mellonie kembali menghadap ke samping, dan berusaha untuk tertidur.
“Kenapa kita harus tidur di kamar Peony sih, ketika semua barang disini semakin membuat kita menghawatirkannya.”
“Dan aku khawatir kita akan membangunkan bibi Pawn jika terus bicara,” Mellonie menarik selimbutnya hingga batas d**a.
“Kalau begitu pergilah tidur, jangan mengkhawatirkanku, aku akan menunggu sampai—“
Belum sempat Rosalyn melanjutkan, indera pendengaran mereka menangkap sebuah dering ponsel yang tidak jauh dari sana. “Ohh, ponsel bibi Pawn,” seru Mellonie, yang semakin membuat mereka kaget ialah nama Dr.Jimmy tertera di dalam sana.
“Angkat, cepat!” titah Rosalyn, tubuhnya bergerak semua saking tergesa.
“Ini ponsel bibi Pawn,” ujar Mellonie, seraya menunjuk nunjuk ponsel yang kini telah ada dalam genggamannya.
“Jadi kamu akan membangunkan bibi Pawn?” dan Mellonie menggeleng sebagai jawaban.
“Kalau begitu angkat, cepat!”
“Angkat apanya? ini pesan, bukan panggilan telepon tau.”
“Astaga, kamu tidak bilang sih,” Rosalyn baru mendekat ingin melihat pula isi dari pesannya.
“Selamat malam, Mrs.Pawn. Maaf saya memberimu pesan malam-malam, tapi saya hanya akan mengabari bahwa Peony berada di rumah saya saat ini. Saya akan menjaganya baik-baik, jadi tolong jaga diri anda baik-baik juga, Peony bilang ia akan segera pulang setelah urusannya dengan saya dan Jonathan selesai. Saya janji akan menceritakannya nanti, tolong jangan khawatir.”