Just Worrying About it

1030 Kata
Beralih kembali di kediaman Dr.Jimmy yang dipenuhi ketegangan—lebih tepatnya hanya bagi Nathaline, sebab Jimmy hanya duduk santai di sebuh kursi dengan beberapa makanan di atas mejanya. Tentu bukan karena Jimmy tidak khawatir apa yang bisa saja terjadi setelah mereka mencoba melakukan hal ini, namun yang Nathaline khawatirkan adalah Jonathan yang tidak kunjung sadar setelah dibawa kembali Jimmy ke abad 18. “Bisakah kau duduk dan makan dulu?” pinta Jimmy, untuk yang kesekian kalinya. “Mana bisa aku makan dalam keadaan seperti ini?” ujarnya, dengan kedua tangan terangkat seolah meminta Jimmy untuk melihat keadaan genting mereka sekarang. “Kau hanya mengkhawatirkan Jonathan sejak pagi tadi, dan sekarang sudah tengah malam.” Jimmy meraih pematik dan mulai menyesap sigaret. “Tentu saja aku mengkhawatirkannya, ia melakukan ini untukku,” bela Nathaline, sembari terus memandangi Jonathan. “Kau sama sekali tidak memikirkan bibi Pawn yang mungkin saja sangat mengkhawatirkanmu saat ini,” tutur Jimmy, asap mengepul dari mulutnya dan sekali lagi menyesapnya dengan kuat. “Benar, aku melupakannya,” Nathaline tertunduk sedih. “Betapa berharganya tubuhmu saat ini bagi seorang bibi Pawn, tidakkah kau tahu?” “Maafkan aku, aku tidak biasa memiliki seorang ibu yang memiliki perasaan demikian terhadapku,” ucap Nathaline, tampak merasa sangat bersalah. “Beberapa orang sangat iri ketika melihat teman-temannya dikhawatirkan ibu mereka, sedangkan ia tidak dapat merasaan itu sebab tidak ada yang bisa dipanggil ‘ibu’ di rumahnya. Kupikir kau merasakan itu,” ucapan Jimmy terdengar begitu menohok bagi Nathaline. “Sejak kecil ibuku telah meninggal dunia, aku tidak pernah membayangkan, mengingat, kesepian akan wujudnya, atau iri melihat orang lain—sebab aku tidak pernah keluar dari mansion dan mendapatkan seorang sahabat selain Anna yang juga tidak memiliki orang tua, termasuk ibunya.” “Setidaknya pikirkan dirimu, lihatlah kau bahkan tidak keluar dari ruangan ini hanya untuk membersihkan diri. Sejak pagi kau hanya memastikan Jonathan tetap bernapas dan cepat tersadar.” Nathaline mengalihkan padangannya pada pakaian yang ia kenakan. Sebuah gaun tidur berwarna putih yang kini koyak di bagian betis, sedikit noda kecoklatan di bagian pangkal mata kaki, serta telapak kaki tanpa alas yang mulai terasa dingin menyentuh ubin rumah Jimmy. Nathaline benar-benar sekacau pikirannya saat ini, ia juga lupa mengisi perutnya sejak pagi dan mungkin itu akan menyakiti Peony. “Makanlah sebelum pergi membersihkan diri, aku akan menjaga Jonathan disini,” ujar Jimmy, ketika melihat Nathaline mulai menyadari bahwa ia perlu merawat dirinya saat ini. “Sebelum itu—bisakah kau menelepon bibi Pawn untuk tidak mengkhawatirkanku? aku takut ia menangis ketika mendengar suaraku.” “Aku sudah memberinya pesan. Teman-teman Peony bilang bahwa mereka akan berada disana untuk menjaga bibi Pawn sampai kau pulang, dan mereka bilang kalau bibi Pawn baru pergi tidur setelah menangisimu seharian.” Mendengar itu mata Nathaline mulai berkaca-kaca, ia memberi respon seolah kaget dengan situasi bibi Pawn setelah ditinggal pergi olehnya tanpa kabar sejak tadi pagi. “Makanlah dulu,” pinta Jimmy, dengan kedua tangannya mulai sibuk menyiapkan makanan yang dipesannya lima jam lalu ke dalam piring Nathaline. Dan dengan perlahan Nathaline mendekati Jimmy lalu duduk di sampingnya. Jimmy menyodorkan sendok dan garpu berikut dengan piring yang dipenuhi bermacam macam makanan ke hadapan Nathaline, tangan bergetar Nathaline meraihnya dengan perlahan, tanpa sadar setetes air matanya jatuh ke pipi, “terima kasih,” dan Nathaline masih bertanya-tanya kiranya kesalahan apa yang pernah ia perbuat sehingga mendapatkan kehidupan se-tidak menyenangkan ini. “Jean bilang akan segera kemari setelah pekerjaannya selesai,” Jimmy berusaha membuat Nathaline sedikit lebih tenang. “Tidak mungkin selarut ini,” tukas Nathaline di sela-sela mengunyahnya. “Jean tidak akan mengingkari janjinya, sekali ia bilang sekarang meskipun telat ia tidak akan datang besok pagi.” “Aku harap begitu,” singkat Nathaline. “Aku akan pergi menyiapkan pakaian yang bisa kau pakai, setelah makan pergilah bersihkan tubuhmu.” Jimmy beranjak, namun saat satu langkah kaki ia ambil, suara Nathaline menghentikannya. “Aku tidak pernah membenci suamiku, aku tidak pernah merasa terganggu olehnya, yang ada aku bersyukur karena telah mengenal pria sepertinya. Namun ada hal yang tidak bisa ku paksakan,” ungkap Nathaline tiba-tiba. “Dan itu perasaanmu, aku paham,” balas Jimmy, seolah saat ini Nathaline tengah mengungkapkan bagaimana perasaannya pada Lord Morris sendiri. Jimmy hendak mengambil langkah kembali, namun lagi-lagi Nathaline menghentikannya, “sejak kapan kau merokok?” Jimmy berbalik, menatap Nathaline yang kini sudah selesai menghabiskan makanannya, “sesekali, hanya apabila aku sedang pusing.” “Banyak pria perokok juga di masaku, aku tidak menyalahi itu, tapi aku harap kau juga paham bahayanya untuk kesehatanmu.” Jimmy mematung untuk beberapa saat, “dimana kamar mandimu?” dan pikirannya telah buyar sekarang, “sebelah sana,” Selama menunggu Nathaline di kamar mandi, Jimmy jadi banyak memusingkan setiap ucapan Nathaline barusan. Ia melirik sebatang rokoknya dengan kedua tangan melipat di d**a, kehidupan yang dijalaninya memang terasa seenaknya bagi Jimmy, ia merasa tidak akan ada yang melarangnya, memarahi dirinya karena tidak menjaga diri, atau menyuruhnya melakukan hal-hal demi kesehatan fisiknya—kecuali pria tengil yang tengah terbaring di hadapannya sekitar satu tahun yang lalu saat mereka hidup bersama, itupun hanya sekadar saling mengingatkan untuk tidak melewatkan jam makan sebab rasanya canggung sekali jika saling melempar perhatian pada sesama jenis seperti ini, kendati mereka sudah terlihat dan saling menganggap saudara satu sama lain. Namun jujur mendapatkan hal tersebut dari seorang Nathaline rasanya sedikit berbeda. Entah perasaan apa itu, hanya saja Jimmy berharap bahwa rasa itu karena ia takut sebab Nathaline adalah sosok dari abad 18, ratusan tahun sebelum didinya terlahir kedunia dan itu tampak agak sedikit mengerikan mungkin. Beberapa saat Jimmy kembali berfokus pada apa yang telah terjadi saat ini, hingga Jean tiba-tiba saja hadir di sana dengan ngos-ngosan. Perlu diingat bahwa Jean adalah sahabat karib Jimmy, ia sudah terbiasa keluar masuk rumah jimmy tanpa meminta izin. “Apa aku terlambat?” tanya Jean dengan polosnya. “Kurasa tidak, tapi aku harap kau tiba dengan ide untuk mengembalikannya pulang,” Jimmy mengangkat dagunya ke samping kiri, sebab disana Nathaline yang baru saja selesai membersihkan diri kini telah ikut bergabung—dengan kaus kebesaran milik Jimmy dan sebuah celana olahraga milik Jimmy. Yang demi Tuhan Nathaline terlihat sangat tidak nyaman menggenakannya. Jean menoleh ke belakang, ia bertemu tatap dengan Nathaline dan saling berjabat tangan mengenalkan diri satu sama lain. “Jangankan untuk berpikir, sesungguhnya untuk datang kemari saja aku sudah tidak memiliki waktu, Jim,” keluh Jean. “Tapi mungkin aku bisa melakukan tindakan jika terjadi sesuatu yang mendadak, untuk sekarang yang aku harapkan hanya kemurahan hati tuan rumah untuk memberiku segelas minuman dingin,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN