Kedua tangan di atas meja rias mengepal dengan kuat, pantulan seorang Anna dengan sorot tajam berair terlihat pada cermin rias yang retak, rahangnya menggertak kuat, beberapa peralatan rias hingga berkotak-kotak perhiasan berantakan di lantai. Habis menjadi pusat kegeraman, habis menjadi pelampiasan amarah yang dalam. "Aku tidak tahu kenapa ia malah bisa kembali. Seharusnya ia mati di sana. Atau kemungkinan jalan kemari juga ada yang menghancurkannya, tapi aku yakin wanita yang Nathaline tinggali tubuhnya tidak berada dalam keadaan baik-baik saja sekarang ini." Anna menjerit prustasi, jelas bukan ini yang ia inginkan. Nathaline telah sadar, berkat dirinya yang sebenarnya menginginkan kematian wanita itu. Begitu banyak hal yang membuat Anna iri padanya, termasuk seberapa beruntungnya ia te

