Malam sudah menuju pada puncaknya. Semua orang sudah memejamkan mata untuk memulihkan kembali tenaga yang terkuras siang tadi, tapi berbeda dengan Iza yang masih belum bisa memejamkan matanya sedari tadi. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya ketika membayangkan kembali air mata seorang perwira yang luruh saat mengucapkan kata-kata perpisahan. Jantung Iza terus berdetak, dadanya terasa terhimpit sampai dia kesulitan untuk mengatur napasnya. Dia menegakkan tubuh, berjalan ke balkon. Di sana, dia berdiri memandang langit hitam tanpa secercah cahaya. Perasaan dilema datang ketika membayangkan satu persatu pria yang datang dengan menyuguhkan keseriusan. Pernikahan adalah harapan puncak dari mereka, lantas Iza belum bisa menentukan kepada siapa pastinya akan melabuhkan hati. Mereka

