Bab 45

1416 Kata

“Kalau ditolak gimana? Apa kita sebaiknya cukupkan di sini saja?” Iza menatap lekat wajah Fajar. Ragu, cemas bersatu membuat perasaannya tak karuan. Tapi Fajar tetap membalas dengan senyuman penuh percaya diri. “Insya Allah, gak akan terjadi. Hubungan kita pasti diterima. Entah itu sebuah harapan semu atau sebuah kepastian yang sudah terjamin, Iza masih belum bisa dapat meyakinkan hatinya. Karena sudah berada di kediaman Fajar, dia tak mungkin mundur lagi. Dia berjalan beriringan dengan Fajar, perlahan mendekat keluarga sang perwira TNI yang tengah duduk di meja makan. Sebentar lagi, Iza akan mengetahui sebuah keraguan yang dirasakannya selama ini. Risih, tapi Iza tetap duduk di samping Fajar dan di sampingnya sudah duduk anak-anak, lalu di depannnya ada saudara perempuan Fajar, wajah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN