“Ayah.” “Hmm.” “Ayah.” Puput terus memanggil sang ayah yang tengah sibuk dengan kertas di atas meja. Tak hanya itu, laptop juga menyala. “Ayah.” Puput yang sudah mulai kesal akhirnya berteriak dan menarik kertas lalu membuang ke lantai. Azka yang tengah serius pun mengangkat wajah. Matanya menyala memandang sang anak yang ketakutan. “PUPUT!” teriak Azka. “Jangan ganggu Ayah! Pergi sana!” Azka berbicara dengan nada tinggi seraya berjongkok—mengambil kertas desain gedung yang sudah digambar olehnya. Bibir bawah Puput tertarik ke depan lalu menekuk ke bawah. Matanya dengan cepat berembun dan balik berteriak. “Ayah, jahat.” Dia berlari keluar dari ruang kerja sambil terisak memanggil bunda. “Bunda.” “Ada apa, Nak?” Iza yang baru saja keluar dari kamar terperanjat melihat Puput mena

