Bab 3 Interogasi Denaya

2919 Kata
Denaya menutup matanya rapat. Ia merasakan sebuah tangan membungkus tubuhnya erat. Wajahnya terbenam dalam material tubuh seseorang. Hidungnya menghirup aroma yang sudah sering dibauinya, hanyut dalam nikmatnya aroma itu. Hanyut dalam embusan angin yang menyerbu mereka saat keduanya jatuh. Beberapa saat kemudian, yang dirasakannya adalah bahwa tubuhnya mendarat di atas benda besar dan lembut. Sebuah balon karet super besar yang berisi udara dengan tekanan optimum, berfungsi menjadi bantalan khusus tempat mendarat mereka. Barang yang disiapkan oleh para anggota sebelum penyerangan tadi. Denaya masih terdiam di tempat. Terbaring dengan diselubungi oleh tubuh Maxleon. Kepalanya tersandar nyaman di lengan pria itu. Untuk beberapa detik yang menenangkan, keduanya hanya berdiam diri. Maxleon menormalkan napasnya yang memburu. Masih merasa nyaris mati saat mengingat kejadian tadi. Kurang beberapa detik saja, gadis yang ada dalam pelukannya ini bisa saja mati karena tembakan jarak dekat, dan ia sama sekali tidak suka bayangan itu. Satu tangannya yang sedang melingkari pinggang Denaya bergerak naik, mengelus rambut gadis itu yang menguarkan aroma lembut favoritnya. Ia bahkan bisa merasakan tangannya gemetar. Denaya membuka matanya, tapi tidak ada yang bisa dilihat selain baju Maxleon. Ia berusaha mengangkat wajahnya dari d**a pria itu, tapi Maxleon tidak mengizinkan. Tangan pria itu menahan gerakannya. Membuat ia mau tidak mau bertahan dalam dekapannya. Tangan Denaya tergerak, balas memeluk pinggang Maxleon. Tangan Denaya mengusap punggung Maxleon perlahan. Berusaha menenangkannya. Ia tahu pria ini pasti akan memarahinya nanti. Mengingat seberapa protektifnya Maxleon terhadap keselamatannya. Maxleon lalu melonggarkan pelukannya. Menarik tubuh menjauh agar bisa melihat Denaya dengan baik. Ia meneliti tubuh gadis itu sejenak. Tidak ada darah, tidak ada tembakan. Mereka selamat. Selamat, kecuali sekian buah luka yang ada di tubuhnya. “Maafkan aku.” Mata Maxleon melebar saat mendengar gadis itu bicara. Denaya menatapnya dengan tatapan bersalah dan memohon. Tampak menggemaskan dan polos meski dalam pencahayaan yang kurang. Akhirnya Maxleon mengembuskan napas pasrah. “Apa kau terluka?” Denaya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Lega karena Maxleon tidak akan memarahinya sekarang. Ia menggeleng sambil tersenyum. Melihatnya, Maxleon bangkit dari tempatnya. Membimbing Denaya agar turun dari balon gas itu. Beberapa tim medis menghampiri mereka. Lagi-lagi keduanya tidak menyadari bahwa beberapa saat yang lalu mereka baru saja menampilkan adegan paling menghangatkan di malam yang suram itu. “Apakah semuanya sudah turun?” tanya Maxleon pada Trustin. Pria yang kini sedang mengamati sekeliling dengan awas. Matanya melirik pada layar laptop yang terbuka di sampingnya di atas kap mobil. “Sebagian besar sudah masuk ke dalam mobil. Para bawahannya sudah berada di kantor dengan pengawasan ketat. Itu, Ketua Richard dan John M. Sheldon adalah yang terakhir.” Trustin menjelaskan sambil menunjuk pada layar laptop yang menampilkan beberapa buah sudut pandang kamera CCTV. Telunjuknya menunjuk pada kamera yang berada di lift berisi Ketua Richard bersama Edrick Wedley yang memegangi John M. Sheldon dengan kuat. “Baiklah, kalau begitu urusan kita sudah selesai, kan? Sampai ketemu besok pagi di kantor.” Maxleon tersenyum sekilas, hanya dibalas acungan jempol oleh Trustin. Ia lalu menggiring Denaya menuju ke mobil ambulans. Denaya belum berhasil meraih kesadarannya saat tiba-tiba dirinya sudah terduduk di sebuah bangku, dengan Maxleon di sebelahnya. Tangan pria itu sedang membuka kotak obat yang diperoleh dari tim medis. Maxleon meneteskan alkohol pada kapas. Ia lalu mengarahkan tubuh Denaya agar menghadap padanya. Tangannya memegangi dagu gadis itu, dan tanpa berkata-kata, ia lalu membersihkan luka di wajah Denaya dengan gerakan perlahan. Denaya membulatkan matanya, menatap Maxleon dengan ekspresi tidak terbaca. Menatap wajah Maxleon yang berada tepat di depan matanya. Ringisannya keluar saat kapas itu menyentuh lukanya yang terkoyak. Maxleon mengeraskan rahang. Bibirnya refleks meniup-niup luka itu, berusaha memberikannya anestesi secara sugesti. Namun, bagi Denaya, tindakan itu memang mengobatinya, sekaligus juga membuatnya merasa berkabut. Aroma napas Maxleon kini terasa … terlalu hangat untuknya. Maxleon mengoleskan salep ke area luka di wajah Denaya. Sudut matanya, tulang pipinya, dan sekarang sudut bibirnya. “Aaw! Pelan-pelan. Sakit.” Maxleon menghentikan gerakannya saat gadis itu meringis. Ia lalu melanjutkan dengan gerakan lebih pelan dan hati-hati. Tidak ingin membuat Denaya kesakitan lagi. Setelah selesai, ia mengembuskan napasnya pelan. Menatap datar pada Denaya. Kemudian, seulas senyum terbit di bibirnya. Dengan gerakan cepat, ia mengecup sudut bibir Denaya, tepat di sebelah lukanya. Kecupan pelan yang tidak dipikirkannya. Hanya nalurinya agar membuat gadis ini tenang dan lebih baik. Kebiasaan yang kerap dilakukannya sejak kecil. “Sudah selesai. Itu tidak akan sakit lagi.” Denaya hanya cemberut. Meskipun beberapa detik setelahnya ia ikut tersenyum juga. Maxleon bergerak di posisinya. Tangannya memegangi kedua bahu Denaya untuk bisa mengamati wajah itu lebih detail, tapi erangan gadis itu lagi-lagi menghentikan gerakannya. Denaya terdiam. Ia merasa mengecil di hadapan Maxleon yang seketika terlihat marah. Mata pria itu menatapnya tajam, dan tanpa disadarinya, tangannya yang lain sudah ditarik Maxleon agar bangkit berdiri. Pria itu lalu menariknya, berjalan menuju rumah sakit. Membuat alis Denaya mengerut. “Hei-hei, kita harus ke kantor. Kau lupa? Tim pasti ingin membicarakan sesuatu, kan?” Gadis itu bertanya sambil berusaha mengimbangi langkah Maxleon yang lebar. Membuatnya meringis karena pergelangan kakinya terasa semakin parah. Efek etil klorida itu sudah hilang. “Diam, Denaya,” balas Maxleon terlihat marah. Denaya mulai merasa kesal sekarang. Tidak bisakah ia pelan sedikit? “Aku tahu. Tapi kita bisa melakukannya nanti saja, kan? Tolonglah.” “Aku bilang diam, Denaya.” “Aku tidak bisa diam. Tidak bisakah kau berjalan lebih lambat? Aku—argh!” Kaki kirinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Denaya tersungkur jatuh. Tangan kirinya masih dipegang oleh Maxleon, keduanya membatu. Kali ini pria itu sepenuhnya memberikan perhatian padanya. Maxleon membungkuk. Tangannya menyentuh pergelangan kaki Denaya, baru saja ingin menggeser letak kakinya, tapi Denaya sudah mencengkeram lengan atas Maxleon. Kepalanya menggeleng, berusaha mencegah pria itu melakukan sesuatu pun terhadap kakinya. “Baiklah, aku tidak akan menyentuhnya.” Maxleon mengembuskan napasnya pelan. Ia lalu menyelipkan tangannya ke bawah lutut Denaya, tangan yang lain berada di punggungnya. Kemudian, tanpa merasa kesulitan ia mengangkat tubuh gadis itu. *** Division Medic and Health of NIA, 12 November 2018, 01.20 AM. Denaya sudah terduduk tenang di ranjang rumah sakit. Seorang dokter sedang membebat kakinya, setelah tadi bahu kanannya juga sudah ditangani. Maxleon duduk di ujung ranjang, terus memandanginya sejak tadi. Membuatnya tiba-tiba merasa salah tingkah. Tatapan itu … tolong jangan menusuknya dengan tajam begitu dong! “Tidak begitu parah, tapi cukup harus dikhawatirkan. Kuharap kau tidak melakukan hal-hal berbahaya selama tubuhmu belum pulih, Nyonya Stanwood.” Maxleon kali ini menatapnya sambil mengangkat alis. Menagih jawaban dan janji darinya. “Baiklah, aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh.” Denaya menjawab dengan nada menggerutu. Membuat Maxleon tersenyum puas. Sementara dokter itu hanya terkekeh geli. “Kalau begitu silakan beristirahat. Aku akan pergi sekarang.” “Yah, tidak bisakah Dokter tinggal lebih lama? Saat kau pergi, pria di sana akan mencabik-cabikku, Dokter tahu?” Kali ini dokter itu benar-benar tertawa. Merasa cukup terhibur karena tingkah Denaya. “Aku ingin sekali memastikan keselamatanmu, tapi pasienku yang lain juga membutuhkanku. Lagi pula, suamimu tidak terlihat seperti pria yang bisa menggigit.” “Dokter belum lihat saja saat taringnya sudah keluar. Dia benar-benar mengerikan. Kalau nanti terjadi apa-apa padaku, Dokter bisa beritahu pihak NIA kalau dia yang bertanggung jawab.” “Apakah harus kau membicarakanku saat aku berada di depan hidungmu?” Maxleon menatap Denaya dengan tatapan sebal. Sementara Denaya hanya merengut. “Terima kasih atas bantuannya, Andrew.” Maxleon membungkuk sopan pada Andrew, salah satu dokter di Divisi Medis dan Kesehatan NIA. “Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Setelah kepergian sang dokter, keheningan melanda kamar itu. Denaya duduk sambil memainkan selimut. Sementara Maxleon masih memandanginya, lebih merasa lega daripada beberapa saat lalu. Benar, Denaya baik-baik saja. Bukankah dia baru saja mengejeknya tadi? “Inilah kenapa aku melarangmu untuk bertindak lebih dulu. Sekarang, apa kau sudah mengerti?” Denaya menatap Maxleon lama. Ada begitu banyak kalimat protesan yang ingin dikeluarkannya. Mulutnya sudah bergerak untuk bicara, tapi melihat raut wajah pria itu, tatapan mata, ekspresi, hingga bahasa tubuh, membuat segala kalimatnya tertelan begitu saja. Pria ini mengkhawatirkannya. Pria ini memedulikannya. Itulah kenapa ia ingin memastikan keselamatan Denaya. Hatinya seketika bergetar untuk sesaat. “Iya. Aku mengerti. Aku sungguh minta maaf, tapi kau tahu kan, kalau aku—” “Iya. Aku tahu kemampuan bela dirimu itu cukup baik, tapi lawan kita tadi juga tidak bisa diremehkan. Tambahan lagi, mereka laki-laki. Dan tanpa tahu diri, kau ingin melawan mereka sendirian.” “Hei, kenapa kedengarannya kau sedang meremehkanku?” “Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya meminta agar kau bisa lebih menganalisa situasi.” “Baiklah, baik. Tadi kan hanya karena kakiku cedera saja. Bahuku juga ikut-ikutan terluka. Makanya posisiku jadi tidak menguntungkan. Jadi, berhentilah mengatakan yang aneh-aneh. Semoga lain kali kita bisa berhadapan satu lawan satu. Supaya kau tidak bertindak menyebalkan seperti ini lagi.” Gadis itu sibuk mengoceh. Membuat Maxleon tiba-tiba merasa kembali sembuh. Ketegangan di tubuhnya berangsur menghilang. Ia lalu bergerak, memosisikan dirinya di sebelah Denaya yang refleks bergeser. Membiarkan Maxleon berbaring di sebelahnya. Ia tidak yakin apakah ranjang ini memang dirancang untuk dua orang, tapi masa bodoh. Biarkan saja ia dan Maxleon beristirahat di sini sekarang. Denaya merelakan bantalnya dimiliki oleh Maxleon. Sementara kepalanya terbaring nyaman di lengan pria itu yang sudah ditawarkannya. Sesuatu yang entah bagaimana sudah menjadi hak miliknya tanpa ia deklarasikan. “Kita tidak pulang?” “Tidak.” “Kenapa? Kupikir akan lebih nyaman kalau kita tidur di kamar kita di rumah.” “Di sini cukup nyaman. Tidurlah. Kau pasti lelah.” “Iya, benar. Oh ya, bisakah kau biarkan aku saja yang menginterogasi pria yang tadi?” “Aku tahu benar kau bukannya ingin menginterogasi mereka, tapi memberikannya pelajaran. Benar, kan?” “Aah, Maxleon! Kau memang orang yang paling mengerti aku!” Maxleon tergelak saat Denaya membenamkan wajah di dadanya sambil berseru girang. Sejak dulu, Denaya memang terbiasa melapor padanya. Meskipun ia kelihatan meminta izin, tapi tak jarang Denaya akan langsung melakukan hal yang ia inginkan, tanpa perlu izin, hanya ingin memberitahu saja. Menyebalkan, kan? Namun, Maxleon tidak keberatan. Kalau sudah begitu, ia hanya tinggal memastikan keselamatannya saja. Membiarkan Denaya bersandar padanya saat terpojok, memercayakan diri padanya saat ia jatuh. Karena baginya, begitulah tempat yang seharusnya, Maxleon dan Denaya berdampingan. Bukankah begitu yang namanya sahabat? *** New York, NIA building, 15 November 2018, 08.15 AM Maxleon melirik Denaya di sampingnya. Membiarkan gadis itu memegangi lengannya selagi berjalan. Perban di bahu Denaya sudah dibuka, dan kakinya sudah bisa bergerak dengan baik. Sakitnya tidak terlalu parah, karena dua hari sesudahnya ia memang sudah sembuh. Denaya duduk di kubikel kerjanya. Sementara Maxleon berjalan menuju kubikel miliknya sendiri yang letaknya cukup jauh dari Denaya. “Hai, sudah mendingan? Maafkan aku karena tidak mengunjungimu. Pekerjaanku agak banyak.” Scarlett meluncurkan kursinya mendekati kursi Denaya. Diuntungkan dari posisi kubikel mereka yang bersebelahan. “Tidak apa-apa. Hanya terkilir sedikit, dan sekarang sudah sembuh.” “Sepertinya begitu. Maxleon terlihat tegang sekali kemarin. Aku melihat kalian jatuh dari jendela itu. Astaga! Refleks Maxleon baik sekali, kau tahu? Waktu itu dia sedang menghabisi lawannya, tapi dia bisa langsung tahu kalau kau dalam bahaya.” “Ah, begitu, ya? Benar, seingatku memang tidak ada yang melihat keadaanku waktu itu.” Denaya menjawab ragu. Mengingat kembali kejadian kemarin. Saking terlalu sering terjadi, ia sampai tidak heran lagi, tapi bagaimana Maxleon tahu kalau dia sedang terpojok habis-habisan? “Aku memang tidak bisa mengerti kehidupan pernikahan kalian. Pasti kau akan bilang ‘tentu saja, kami kan bersahabat sejak kecil’ iya, kan? Cih, terlalu banyak labirin di sana. Tunggu saja sampai kalian tersesat sendiri di dalamnya.” “Scarlett Patton. Kau menyumpahiku?” “Aku menasihatimu. Karena aku ragu apakah ada orang lain yang akan menasihatimu.” “Sudahlah. Jangan membahas kehidupan pernikahanku. Tahanan kita kemarin, apakah sudah diinterogasi? Kau menyisakan jatahku, kan?” “Kami sudah memperoleh data darinya, tapi aku bisa membiarkanmu bertemu dengan Leslie Clarkson, pria yang menodongmu dengan pistol malam itu.” “Bagus. Aku akan menghabisinya sebentar lagi. Di mana dia?” “Ruang interogasi. Temui dia tiga jam lagi. Sekarang periksa berkasmu itu. Aku sudah mengerjakan beberapa. Kau hanya tinggal mengerjakan sedikit lagi.” Denaya tersenyum. Membiarkan gadis itu memarahinya. Ia tahu Scarlett orang yang baik. Meskipun ia mengomelinya, tapi ia tetap membantunya. Denaya bahkan tidak memintanya, tapi Scarlett selalu bersedia menawarkan diri. Keras di luar tapi bagaikan permen kapas di dalam. Ia heran kenapa Jeffrey tidak bisa melihat diri Scarlett yang sebenarnya. *** Maxleon berjalan beriringan bersama Denaya menuju ruang interogasi. Jam istirahat sudah tiba, dan gadis ini sudah gatal sekali ingin menemui orang yang kini sedang duduk di ruang interogasi. “Jangan melakukannya terlalu berlebihan. Lakukan saja seperti biasa,” ujar Maxleon. “Aku tahu. Kau cukup menonton saja nanti.” Maxleon membukakan pintu ruang interogasi, membiarkan gadis itu melangkah lebih dulu. Ia lalu ikut masuk. Menyandarkan dirinya pada dinding, lalu memperhatikan Denaya yang sedang berjalan mendekati seorang pria berumur pertengahan dua puluhan yang sedang duduk di sebuah kursi. Tangan pria itu menyatu di atas meja, dengan borgol yang terpasang di pergelangan tangan. Ruangan itu berwarna putih. Terlihat kosong karena hanya diisi oleh dua buah kursi yang dibatasi oleh sebuah meja persegi di tengahnya. Sebuah kaca hitam panjang terpasang di dinding sebelah kanan. Kaca yang dirancang agar orang lain di luar ruangan bisa melihat situasi yang sedang terjadi di ruangan tersebut, yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang berada di dalam ruangan serba putih itu. Jeffrey McKenzie masuk. Ia berdiri di sebelah Maxleon. Ikut menyandarkan dirinya di dinding belakang mereka. Memperhatikan Denaya yang sudah berada di hadapan tahanan. Dua orang petugas keamanan berdiri di sudut, mengawasi keadaan. “Buka borgolnya,” perintah Denaya. Petugas keamanan masih bergeming. Mereka lalu berpandangan. Kemudian beralih memandang Maxleon. Melihat pria itu mengangguk, barulah salah satunya bergerak untuk menuruti perintah Denaya. Setelah borgol terbuka, Denaya menyandarkan sebagian tubuh ke meja, dan menoleh menatap pria di sampingnya. Ia yakin usia Leslie Clarkson tidak berbeda jauh dengannya. Tiba-tiba merasa kasihan kenapa orang ini bisa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. “Hai. Kita bertemu lagi. Apa kau masih ingat aku?” Leslie Clarkson terdiam cukup lama. Dengan wajah datarnya, ia menjawab. “Tentu saja. Kau bukan orang yang mudah untuk dilupakan.” Denaya tertawa mendengarnya. Ia melipat tangan di depan d**a. Gadis itu terlihat santai, seperti sedang berbicara dengan teman lama dan bukannya sedang menginterogasi penjahat. “Kalau begitu kau pasti tidak lupa bagaimana pertemuan terakhir kita, kan?” “Tidak,” balas pria itu kaku. Denaya kini menghadap penuh pada orang itu, mengamati segala bentuk ekspresinya. Wajah Leslie Clarkson tidak terlihat sedang menggoda, merayu, atau memohon pengampunan. Wajah datar itu terlihat tegas dan tak tergoyahkan. “Terakhir kali, kau menodongku dengan pistol—menyerangku dari belakang. Jadi, sekarang aku ingin menawarkan sebuah kehormatan untukmu. Mungkin kita bisa berhadapan satu lawan satu. Tanpa senjata, dan yang pasti, bergerak dari depan.” Denaya menatap wajah di depannya dengan penuh keseriusan. Ia bisa melihat pria itu menimbang tawarannya sesaat. Seolah tidak yakin atas apa yang dimintanya. “Kau tentu tahu kalau kau seorang gadis. Apakah aku harus tetap melawanmu?” “Argh! Bisakah orang-orang melupakan sejenak tentang apa jenis kelaminku? Pikirkan saja cara menghabisiku.” Denaya berteriak geram. Memandang kesal pada Leslie Clarkson. Gerutuannya membuat Maxleon yang berdiri di lain sisi tersenyum geli. Subjek yang diinterogasi bahkan juga ikut-ikutan terheran. “Baiklah. Jika itu yang kau inginkan,” putus Leslie Clarkson akhirnya. Denaya bangkit berdiri, begitu pula Leslie Clarkson. Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Lalu, entah bagaimana keduanya sudah saling melancarkan pukulan. Berusaha melumpuhkan lawan dengan aksi masing-masing. Maxleon tersenyum melihat bagaimana cara Denaya berkelahi. Benar, gadis itu memang tidak boleh diremehkan. Ia berhasil membuat lawannya kewalahan. Memukulnya di bagian perut, wajah, lalu perut lagi, dan memelintir tangannya, hingga menendang punggung pria itu. Yah, dia memang berhasil dikenai pukulan di bagian perut, tapi itu tidak terlihat begitu memberatkan baginya. Gadis itu kembali bangkit dan lagi-lagi berusaha mengalahkan lawannya. “Kau tahu? Aku selalu menyukai caranya berkelahi, bahkan sejak aku baru menjadi anggota.” Maxleon melirik sekilas pada Jeffrey yang bersuara di sebelahnya. Ia lalu nyengir. “Dia gadis yang ganas.” “Yah, aku juga baru sadar kalau dia bisa terlihat secantik itu saat menggebuki orang.” Alis Maxleon mengerut seketika. Ia memperhatikan pemandangan di depannya dengan lebih intens. Wajah serius Denaya. Rambutnya yang terayun saat ia bergerak. Keringat yang mengalir di pelipisnya. Maxleon mengerutkan kening bingung. Dia terlihat seperti … Denaya. Yah, Denaya-nya yang biasa. “Apa yang sedang kau bicarakan? Dan kenapa kau jadi senang memuji Denaya?” “Tidak, hanya saja, kupikir dia lawan yang seimbang untukmu. Sepertinya dia bisa menghadapi kemampuan berkelahimu yang lumayan itu. Haha, aku jadi penasaran. Apa yang akan terjadi saat kalian bergelut di ranjang?” Mata Maxleon membulat sepenuhnya. Ia merinding, untuk membayangkan saja tidak ingin. Tanpa pikir panjang tangannya meninju perut Jeffrey dengan keras. “Tch. Jangan menjadikan aku dan Denaya sebagai subjek kotormu. Cuci otakmu atau aku yang akan melakukannya.” Maxleon balas menjawab Jeffrey dengan ketus. Jeffrey hanya tertawa lalu benar-benar keluar ruangan. Setelah menoleh Maxleon baru sadar bahwa perkelahian sudah usai. Denaya sedang mengulurkan tangannya, membantu Leslie Clarkson untuk berdiri. Gadis itu tertawa senang. Membuat pria di depannya mau tidak mau ikut tersenyum. Merasa malu karena kalah. “Bagaimana rasanya? Enak, tidak?” “Aku merasa parah.” Lagi-lagi gadis itu tertawa. Ia kemudian terdiam agak lama. Menampilkan wajah seriusnya lagi, khas seorang agen. “Nah, bisakah sekarang kita melakukan interogasi yang sesungguhnya?” Leslie menyadari bahwa atmosfer di sekelilingnya berubah. Ia kembali ke ekspresi datarnya. Tubuhnya duduk tegak di kursi. Tangannya saling bertautan di atas meja, terkadang saling meremas. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari mata cokelat Denaya yang kini sedang menatapnya tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN