“Apa? Rumah sakit?” Rick nyaris menjerit. Matanya terbuka lebar, sepenuhnya tercengang. Sementara yang lain tidak bersuara.
“Apa mereka sudah gila? Dari sekian banyak tempat yang bisa dijadikan markas, kenapa mereka memilih rumah sakit?” Nicholas ikut-ikutan protes.
“Karena tidak akan ada yang curiga saat beberapa orang, atau bahkan sekelompok orang datang ke rumah sakit. Ditambah lagi, aroma dari rumah sakit itu sendiri akan mengaburkan bau barang-barang selundupan yang mereka bawa. Beberapa jenis narkotika memang digunakan dan disimpan di rumah sakit untuk kepentingan medis. Melihat dari segala situasinya, rumah sakit adalah tempat paling cocok dan aman untuk melakukan transaksi. Tadinya aku mengira mereka akan berkumpul di restaurant, atau salon kecantikan, atau kebun bunga, tapi ketiganya tidak terlalu meyakinkan. Ditambah lagi kita sudah memeriksa semua tempat itu di New York, bahkan hingga ke California. Kita memang belum memeriksa rumah sakit,” terang Maxleon menyampaikan pendapat.
Denaya memandangi pria itu. Menatap seolah baru pertama kali melihatnya. Pria ini cerdas, memang. Tapi ia baru menyadari bahwa suaminya memang secerdas ini. Dulu ia bahkan sering menyentil kepala Maxleon yang ia kira tidak memiliki otak. Dan sekaranig, pria itu menjelaskan pendapat kecilnya. Dengan wajah serius yang terlihat … agak tampan, tanpa merasa ingin membanggakan dirinya. Seolah itu bukan perkara penting dan akan diketahui oleh anak sekolah dasar.
“Benar sekali.” Seruan Ketua Richard menyadarkan Denaya dan semua orang. Mereka kembali memperhatikan layar. Denaya pun tidak lagi terpaku pada keindahan di sampingnya.
“Tapi, Ketua Richard, jika memang mereka bermarkas di rumah sakit, tidak mungkin pihak rumah sakit tidak mengetahuinya, kan? Apakah ini berarti keterlibatan rumah sakit lebih besar daripada yang kita duga?” Key berkata lambat-lambat.
Ketua Richard diam sejenak sebelum bicara. “Benar. Nanti aku akan membagi tugas siapa yang mengurusi para kriminal dan pihak rumah sakit.”
Setelahnya, keheningan kembali menyergap untuk sejenak. Keseriusan para anggota meningkat tanpa diminta.
“Baik, kini kita tahu bahwa mereka berkumpul di rumah sakit, tapi bagaimana kita bisa mengetahui di mana posisi mereka sebenarnya? Tidak mungkin kita memeriksa seluruh lantai rumah sakit, kan?”
Kali ini Ketua Richard tersenyum mendengar pertanyaan Haston.
“Ada yang ingin memberikan kemungkinan di mana mereka berkumpul?” Ketua Richard memandangi semua orang satu per satu. Dengan tatapan senang yang tidak bisa disembunyikan, seolah sedang menanti datangnya hujan di musim kemarau. Ingin melihat kemampuan terbaik timnya.
“Cukup jauh dari lantai dasar, tapi agak dekat dengan atap gedung.” Denaya memfokuskan mata pada gambar rumah sakit di hadapan seolah ingin menelannya.
“Kalau begitu lantai teratas?” Nicholas bertanya dengan bersemangat.
“Bukan. Mereka akan kesulitan melarikan diri saat digerebek. Ditambah lagi, kau pikir orang-orang tidak akan bertanya saat orang-orang berdatangan menuju ke lantai teratas rumah sakit itu?”
Denaya lalu tersenyum puas. Ia menoleh pada Maxleon, tersenyum senang sambil memamerkan pertanyaan tersirat. “Benar, ya?’ ungkapnya dari tatapan mata. Bertanya pada pria itu tentang ekspektasinya. Sementara Maxleon balas menatap, dengan ekspresi serius yang masih sama tampannya. Beberapa detik kemudian pria itu tersenyum. Senyum senang dan geli yang juga memancarkan kebanggaan. Ia lalu bangkit dari posisi bersandarnya dan mendekati Denaya yang duduk tegak dengan tangan di atas meja, terulur ke depan. Maxleon ikut menempelkan tangannya pada tangan Denaya, berdempetan sambil menyenggol bahu gadis itu dengan bahunya sendiri. “Tepat sekali,” konfirmasi Maxleon.
Setelah mendengar itu, Denaya tersenyum makin lebar. Mengalihkan tatapannya ke arah Ketua Richard yang kini tidak lagi cemberut.
“Kau tahu? Aku benci sekali pada pasangan itu. Setidaknya mereka tidak harus mengabaikanku, kan? Mereka tidak dengar kalau tadi aku bertanya?” Nicholas kali ini berbisik pada Newton Southwell di sebelahnya. Sementara Newton hanya terkekeh kecil.
“Aku harus mengakui kalau mereka kompak sekali. Otak mereka seolah dipakai bersama, dan interaksi mereka seolah dimengerti meski tanpa kata-kata,” ujarnya.
Nicholas tetap merengut, memandangi Denaya dan Maxleon yang kini sedang sibuk mendekatkan kepala mereka. Berbisik-bisik pelan sambil menunjuk gambar di depan mereka yang sudah berganti lagi. Hanyut dalam rencana penyerangan yang akan mereka lakukan nanti.
“Apakah menurutmu Ketua Richard masih marah padaku?” bisik Denaya
“Wajahnya terlihat lebih gembira daripada saat kau melempar kopi ke atas kepalanya.”
“Maxleon! Kau ini benar-benar. Itu kan gara-gara kau!”
“Memang. Karena itulah aku senang.”
“Kau ini!” Denaya mencubit lengan Maxleon. Tidak memedulikan pria itu yang menjerit tertahan sambil menggosok-gosok lengannya. Ia lalu melanjutkan perbincangannya dengan suara lirih, berbisik-bisik lagi.
“Jadi, aku pasti diizinkan bergabung ke lapangan, kan?”
“Hmm, aku yakin 70% kau akan diizinkan.”
“Lalu 30% sisanya bagaimana?”
“Mungkin kau akan disuruh tinggal di mobil.”
“Tidak mungkin! Itu lebih buruk. Tapi, dia tidak marah lagi padaku. Iya kan? Ekspresinya sudah lebih baik.”
“Benar. Tidak ada yang bisa tahan untuk marah padamu terlalu lama, Denaya.” Maxleon mengerling geli pada Denaya. Sementara Denaya terkikik di tempatnya. Keduanya masih asyik berbisik, mengobrol entah tentang apa. Dengan fokus yang tidak terbagi kepada Ketua Richard yang sedang menjelaskan arahannya. Tidak memedulikan Nicholas yang masih menatap keduanya sambil cemberut. Merasa iri sekaligus diabaikan. Bocah yang malang.
***
New York, New York National Hospital, 12 November 2018, 09.30 P.M
Beberapa anggota termasuk Denaya, Scarlett, dan beberapa pegawai wanita sedang sibuk menyiapkan diri. Denaya mengenakan pakaian berwarna hitam dengan dasar yang hangat. Sebuah pisau dan pistol terselip di kaitan celana panjang ketatnya. Gadis itu nanti akan menyamar sebagai pasien agar mereka bisa memesan kamar di lantai yang sama. Tidak lupa Denaya masukkan seragam rumah sakit ke dalam ransel. Ia lalu memasang alat komunikasi ke telinga. Sementara itu, tak jauh dari sana Maxleon sedang sibuk mengamati layar iPad miliknya. Memperhatikan rumah sakit dari kamera CCTV yang ia lacak. Maxleon terlihat siap dengan setelan sama hitamnya. Jaket kulit sudah terpasang di tubuh. Jeans hitamnya terlihat sempurna membalut kaki. Topi di kepalanya terpasang terbalik.
“Bagaimana hubunganmu dengan Denaya?” tanya Jeffrey yang duduk di dekatnya.
“Kami? Kami baik. Kau tentu lihat bahwa kami tidak bertengkar.”
“Kau tahu apa maksudku.”
Kali ini Maxleon melepaskan fokus dari iPad. Memandang Jeffrey yang kini sedang menatapnya juga.
“Jeffrey. Kau tahu bagaimana perasaanku pada Denaya. Jadi apa yang mesti aku jelaskan padamu?”
“Sudah empat bulan, Max. Kau benar-benar tidak pernah menyukainya lebih dalam? Dan kalian itu suami-istri, astaga! Jangan bilang bahwa kalian juga belum—” Ucapan Jeffrey terhenti, menunggu laki-laki di depannya menyelesaikan kalimatnya.
“Aku tidak berhak melakukannya. Hubungan kami tidak seintim itu. Kau juga tahu seperti apa perasaannya padaku.”
“Aku benar-benar heran kenapa kalian terus bersikeras bahwa kalian itu hanya teman. Tidak ada teman yang menikah. Lalu tingkah dan interaksi itu … teman tidak seperti itu.”
“Memangnya kenapa dengan interaksi dan tingkah kami?” balas Maxleon sebal.
“Yaa … Seperti itu!” Jeffrey mengangkat tangan, menggerakkan seolah sedang berbahasa. Frustrasi karena tidak bisa menjelaskan barang satu kalimat pun.
“Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?”
“Ah, sudahlah! Aku sudah mengatakannya sejak awal, pernikahan bukan hal main-main. Berhenti mempermainkannya sebelum kalian akan dipermainkan lebih dalam.”
Maxleon terdiam, memandangi Denaya yang kini sedang tertawa. Tangan gadis itu sibuk mengikat rambutnya menjadi satu. Membuat rambut cokelat itu tergelung di kepala. Maxleon tersenyum tanpa sebab.
“Nah, itu! Itu maksudku!” seru Jeffrey nyaris histeris sambil menunjuk wajah Maxleon.
“Apa, sih!” kesal Maxleon sambil memukul kepalanya karena kesal.
Maxleon diam dan melanjutkan mengemas barang. “Jangan berkata begitu, kau membuatku takut, tahu?”
Jeffrey hanya menatap Maxleon jengkel. Tidak mengerti harus mengatakan apa lagi pada pasangan gila itu.
***
Denaya berbaring tegang di tempat tidur dengan setelan rumah sakit yang sudah terpasang di tubuh. Tak jauh dari kamarnya, para pengedar narkoba itu sedang berkumpul di ruangan VVIP yang luas. Kamar di lantai ini bahkan hanya memiliki empat ruang yang semuanya merupakan VVIP dengan tarif mahal dan menjamin, khas manusia kaya. Di sebelahnya, Newton Southwell juga sudah siap dengan setelan dokter. Tidak akan ada yang mengira bahwa papan yang sedang ia amati itu bukan bertuliskan kondisi tubuh pasien, melainkan layar portable yang menampilkan pergerakan orang-orang di kamar sebelah. Kacamata baca samarannya juga sibuk mengidentifikasi identitas manusia-manusia yang bekerja pada John M. Sheldon. Para anggota timnya sudah bersiap di tempat mereka, siap menyerbu di waktu yang tepat. Beberapa di antara mereka menunggu di luar gedung. Memastikan tidak ada yang kabur. Ketua Richard dan Edrick Wedley sudah memastikan tidak akan ada yang datang dan keluar dari lantai dua puluh tiga rumah sakit itu dalam kurun tiga jam ke depan. Tiga buah lift sudah dikhususkan untuk beroperasi mengangkut keluar para pelanggar hukum.
“Kupikir kita cukup seimbang. Kalau rencana kita berjalan lancar, kita akan bisa mengangkut semuanya ke penjara malam ini,” tukas Newton Southwell. Denaya ikut melihat ke layar portable Newton Southwell. Terlihat beberapa orang sedang bernegosiasi dengan berpuluh-puluh koper di dekat mereka. Sementara di luar kamar, beberapa orang mulai berdatangan. Anggota mereka yang kini sedang bersiap untuk mendobrak masuk ke kamar John M. Sheldon. Beberapa di antaranya berjaga di koridor lantai itu, mengamankan jalan keluar masuknya.
Denaya melepas seragam rumah sakit. Membiarkan rambutnya tergerai, lalu memasukkan kembali pistol yang sudah diceknya, berjaga-jaga jika nanti situasinya memburuk.
“Tunggu aku, jangan bergerak duluan.” Suara Maxleon terdengar di telinganya. Denaya mendengus sebal.
“Aku ini bukan amatiran. Kau kerjakan saja tugasmu itu.” Denaya berjalan keluar kamarnya. Bergabung dengan timnya di sana.
“Denaya, kau tidak akan membantahku.”
“Maxleon, aku sudah bersama yang lain sekarang. Dan kami akan menyerang beberapa detik lagi. Jadi, jangan berisik.”
“Mereka berjumlah tiga puluh lebih, menjauh dari keributan sebisamu. Tunggu hingga aku datang.”
“Tidak mau. Kenapa kau cerewet sekali?”
“Gah! Kuharap kalian tahu bahwa kami bisa mendengar kalian di sini. Ini alat komunikasi jamak, jadi bisakah kalian berhenti bersikap menggelikan seperti itu?!” Kali ini suara Nicholas terdengar berteriak di telinga para anggota inti. Di lain tempat, Haston dan Rick terkekeh. Sementara Denaya tersenyum senang.
“Halo, Dik! Juniorku ini sensitif sekali.” Denaya menyahut tanpa rasa bersalah. Menyindir kenyataan bahwa Nicholas baru diangkat jadi anggota inti tiga bulan yang lalu.
Kesenangan itu terputus saat Ketua Richard menyuarakan perintah. Detik berikutnya, penyerbuan dimulai. Suara teriakan dan gebrakan barang-barang terdengar dari kamar di ujung. Beberapa anggota sudah bergerak masuk. Para buruan yang lain sibuk keluar dari kamar, berniat melarikan diri. Tidak tahu bahwa koridor ini sudah penuh dengan orang yang akan menghalangi mereka, bersiap meringkus dengan paksa.
Denaya bergerak gesit. Menghentikan pelarian seorang pria yang tampak panik. Gadis itu melancarkan tendangan dan pukulannya ke tubuh pria di hadapannya. Menyerangnya dengan cepat dan tepat, menikamkan hak sepatunya ke d**a pria itu, membuatnya mengerang keras. Dengan gerakan sigap, Denaya mengambil borgol dari kantong belakang dan memborgol pria itu.
Ia lalu berbalik, kembali berhadapan dengan pria yang lain. Pria itu menyerang lebih dulu. Mulutnya mengerang saat seseorang berhasil memukul perutnya. Ia lalu membalasnya dengan marah. Menendang kaki pria itu, memiting tangannya lalu menumbuk punggungnya. Terakhir, memasangkan borgol ke tangan mereka. Membiarkan orang-orangnya membawa mereka turun menuju kawanannya yang lain. Bersiap mengapit mereka ke kantor.
Denaya menggerakkan bahu kanannya. Membuat sendi dan ototnya berdenyit nyeri. Pria itu berhasil melukai tangannya tadi, sialan! Pergelangan kaki kirinya juga terasa menyakitkan. Ia harus benar-benar berusaha berjalan dengan benar sat melihat Maxleon tak jauh di depan. Pria itu akan sangat rewel kalau sudah membahas tentang hal seperti ini. Kekhawatirannya terhadap Denaya benar-benar mengerikan.
Maxleon berjalan mendekati Denaya. Keduanya menyusul Haston yang kini sedang mengarah pada ruangan tempat perkumpulan itu berlangsung. Rahangnya mengeras melihat ekspresi gadis itu. Matanya menyiratkan kemarahan yang teredam. Ia tahu dengan benar bahwa gadis itu kesakitan. Lihat saja akting berjalannya yang payah itu. Apakah ia berniat untuk pura-pura tidak apa-apa? Tangan Maxleon terulur, menggenggam tangan Denaya sekaligus menjadi pegangan saat gadis itu berjalan.
Kamar yang mereka masuki itu terang. Dipenuhi oleh cahaya lampu-lampu yang memang sengaja dinyalakan. Jauh dari pemikiran Denaya yang mengira bahwa mereka akan memasuki ruangan yang lebih mirip gua dibandingkan kamar mewah rumah sakit. Dan di kursi sana, duduklah John M. Sheldon. Tampak sungguh kaget, meskipun belum kalah sepenuhnya. Beberapa bawahannya tampak berada di bawah kekuasaan para anggota NIA. Namun, beberapa bodyguard pria itu tampak masih berdiri tegak, belum tersentuh.
“Wah-wah. Aku tidak menyangka akan mendapat kejutan seindah ini.” Pria itu berkata dengan tenang. Tidak ada yang akan langsung mengira bahwa laki-laki itu sedang terpojok.
Ketua Richard menatap pria itu dengan tatapan tajam. Tampak sama sangarnya dengan lawannya. “Ikut secara suka rela atau kami akan membawamu paksa dari sini. Tidak ada bedanya. Kau sudah tamat. Perjalanan barang-barangmu sudah selesai.”
John M. Sheldon mendengus jijik. Menyiratkan ketidaksukaan yang begitu besar pada Richard Johnson. Tidak peduli bahwa kini ia sedang berhadapan dengan kepala Badan Intelijensi Nasional Amerika. Mata pria itu memandang berkeliling, menatap semua orang satu per satu. Sebelum berhenti agak lama pada sosok Denaya yang kini sedang berdiri di sebelah Maxleon, balas memperhatikan pria itu dengan kesiagaan meningkat.
“Tidak akan seru kalau semudah itu, bukan?”
Sebelum semua orang sadar, pria itu sudah bergerak dengan cepat. Mencabut sesuatu di balik bajunya dan melemparkannya lurus, tepat ke arah Nicholas. Benda mengilat itu bergerak cepat, tapi tak secepat gerakan menghindar yang dilakukan oleh Nicholas. Beberapa orang berteriak panik, sementara Denaya berseru senang melihat kegesitannya. Tidak menyangka Nicholas dapat bertindak setepat itu. Ia harus membelikan bocah itu sesuatu nantinya.
Perkelahian pecah kembali di ruangan itu. Para bodyguard yang dibawa oleh John M. Sheldon sibuk menghalau para anggota NIA. Berusaha memberikan celah agar tuannya bisa kabur.
Denaya merasa kehilangan orientasi waktu. Ia memperhatikan sekelilingnya dengan gamang. Saat itulah Maxleon melangkah ke depan tubuhnya. Melawan seorang pria yang ternyata sudah bersiap-siap menghabisinya. Ia menyadarkan diri, berusaha memfokuskan pandangan. Suara tembakan lepas, membuat kaca jendela ruangan itu pecah berantakan. Menyisakan bingkai jendela yang kacanya sudah bertaburan ke mana-mana.
Denaya berbalik, menghadapi seorang pria yang kini sedang tersenyum meremehkan.
“Cih, kau seorang gadis? Aku tidak akan melawan perempuan.”
“Oh, begitu? Kalau begitu biar aku yang menghabisimu.” Denaya menatap kesal pada manusia di depannya. Ia menghantam wajah pria itu dengan pukulan. Menambahnya lagi dan lagi. Menerima tarikan kuat di rambutnya, dan membalas menendang kaki pria itu. Sialnya, kaki kirinya yang terluka sempat ditendang kuat, membuatnya terjerembab dan bertambah sakit daripada sebelumnya. Dasar sial!
Denaya bangkit dengan sigap. Melawan dengan sekuat tenaga, membuat pria itu kaget dan mulai kewalahan. Serangannya tak berhenti hingga akhirnya ia berhasil memborgol pria di hadapannya. Mematahkan hidungnya sebagai gerakan penutup. Ia berjalan menjauh dengan langkah patah-patah. Bahunya terasa semakin parah, dan kakinya lebih mencemaskan lagi. Gadis itu menyemprotkan kaleng spray berisi etil klorida pada kaki dan tangan untuk mengurangi nyerinya hingga saat penanganan nanti. Denaya lalu menggerak-gerakkan tubuhnya sejenak, berusaha menahan dan membenarkan posisi tulang dan ototnya. Belum apa-apa kini sudah ada tiga orang lagi yang berdiri menghadang.
“Hai, Cantik. Tersesat?”
“Ah, bagaimana kalau ikut kami saja?”
“Kami tidak akan kasar, kok.”
Sahut ketiganya bergantian. Denaya mendengus.
“Kalianlah yang tersesat. Menjadi pesuruh manusia tidak bermoral? Mencelakakan anak-anak muda? Merusak generasi manusia? Benar-benar tindakan amoral!”
Denaya hanya menggertak. Yah, ia memang marah, tapi umpatannya tadi lebih supaya lawannya kehilangan fokus. Karena jika disuruh melawan, ia ragu akan bisa membereskan mereka sekaligus. Tidak akan sesulit ini jika kaki dan tangannya baik-baik saja. Sial!
“Kau benar-benar banyak bicara, ya.”
Pria di antara mereka maju lebih dulu, berusaha menarik tangannya agar mendekat. Membuat tangan Denaya yang sebelumnya sudah parah, malah terasa lebih menyakitkan. Ia menggigit bibir, menahan teriakan. Denaya sontak membalikkan tubuh, berusaha melepaskan diri. Berikutnya, ia mulai melancarkan pukulan pada pria di depannya dengan tangan yang lain. Menendang pria itu dengan lututnya, disusulkan pula ke arah tulang keringnya. Belum apa-apa, ia sudah ditarik mundur oleh seseorang. Sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Membuat area sekitar pipinya berdarah, kulitnya memerah dengan cepat. Sebelum ia sempat bangun, tamparan keras lain mendarat di wajahnya. Membuat telinga berdenging dan sudut bibirnya terkoyak.
Denaya menggeleng keras guna menghilangkan pusing lalu segera berkelit. Ia menghindari gerakan pria lain yang berniat menghabisinya. Membalas serangan mereka dengan membabi-buta. Memberikan pukulan-pukulan pada pria itu. Menendang mereka dengan gerakan beringas. Merasa bukan main kesal karena sudah melukai wajahnya. Sial! Tidakkah mereka sadar kalau wajah itu sangat penting, apalagi bagi seorang perempuan?
Baru saja ia memborgol dua di antaranya, sebuah bunyi halus menyentaknya. Matanya bergerak ke atas, melihat sebuah pistol kini sudah terarah lurus padanya. Denaya bergerak bangun dari posisi berlutut. Ia menatap pria di depannya dengan tenang meski adrenalinnya menderas.
“Kau mau apa?” tanya Denaya, meskipun semuanya sudah terlihat jelas.
“Aku bisa membunuhmu sekarang juga,” balas pria itu sambil gemetar.
Pandangan Denaya berkeliling. Semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka. berusaha menghabisi lawan masing-masing. Haston sibuk dengan dua orang pria. Ketua Richard sibuk melawan John M. Sheldon, keduanya saling bergelut. Nicholas berusaha melumpuhkan seorang pria muda yang bersenjata. Dan Maxleon berusaha menghabisi dua orang lawannya, dengan satu di antaranya memegang sebuah tongkat kayu entah dari mana.
Denaya merinding saat merasakan embusan angin di belakangnya. Sial, ia berada tepat di ambang jendela besar seukuran pintu. Langit hitam terlihat dari sana, tanpa ada bintang. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika ia jatuh dari ketinggian lantai ini. Tangannya bergerak halus ke paha, tapi tidak ada apa-apa. Ah, sial! Pistol sudah ia gunakan tadi, seluruh pelurunya sudah habis. Pisaunya juga sudah menancap di tubuh lawan sebelumnya yang nyaris mencelakakan Newton Southwell. Ah, sial!
Pria di hadapannya maju selangkah, membuatnya refleks melangkah mundur.
“Kau sudah kalah, kau tahu?” Denaya berkata lagi, berusaha membuang waktu. Mencari sesuatu yang bisa menolong di jangkauannya, tapi sayangnya tidak menemukan apa pun.
“Kau yang kalah!”
“Kalau kau bersikap kooperatif, itu akan membantu penyelidikan. Dan meskipun kau akan berakhir di penjara—” Denaya mundur selangkah lagi, tangannya terangkat berusaha menenangkan pria di depannya., tapi pria itu memotong ucapannya dengan kasar.
“Aku tidak peduli! Aku sudah tahu suatu saat aku akan ditangkap. Aku masuk penjara, tapi kau akan mati!”
Denaya menyadari bahwa pria di depannya gemetar. Takut tapi juga mulai gila, dan ia tidak ingin membayangkan apa yang bisa dilakukan oleh orang gila.
Sial! Jaraknya hanya tinggal satu meter dengan ambang jendela besar ini.
“Nikmati saja waktumu. Seperti apa rasanya dikejar-kejar oleh kematian.”
“Aku tidak akan mati,” jawab Denaya dengan tenang. Meskipun keringat dingin kini mengalir di dahinya.
“Katakan selamat tinggal pada hidupmu, Nona Agen.”
Denaya menajamkan mata. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, sekelebat bayangan melintas di depan matanya. Ia merasakan tubuhnya didekap oleh seseorang. Kemudian suara tembakan meletus. Detik berikutnya, tubuhnya terlempar ke jendela. Jatuh dengan cepat ke bawah, tertarik oleh gaya gravitasi.