Denaya berjalan terseok saat tangan kasar pria itu menariknya keras. Kemarahan Maxleon semakin memuncak saat melihat sudut bibir gadis itu yang berdarah. Pria itu mendudukkan Denaya di kursi di seberang Maxleon dengan kasar hingga gadis itu nyaris saja terjengkang. Maxleon menggigit bibir dalamnya kuat-kuat sebagai upaya untuk membuatnya tetap waras. Ia harus menahan diri atau ia akan benar-benar menerjang meja itu dan mulai bergerak membabi-buta tanpa pikir panjang. “Yah, kuakui dia sedikit lecet. Tadi ada sedikit insiden dikarenakan rekanmu ini terlalu agresif dan tak bisa diajak bekerja sama.” Ramon Lawson memberitahu Maxleon dengan senang hati. Mengedikkan dagunya sekilas pada Denaya. Di kursinya, Denaya menatap remeh sambil mencemooh. “Cih. Anak buah sialanmu itu bahkan tidak bisa m

