***
“Bangun …,” panggil Ahmad seraya mencolek pipi Lily.
“Uh!”
Perlahan gadis itu membuka mata. Ia mengerjap pelan saat melihat Ahmad.
“Bangun …,” panggilnya lagi seraya mendekatkan wajahnya ke arah Lily.
Lily meletakkan tangannya di antara mereka. Menghalau wajah Ahmad yang kelewat dekat.
“Jangan dekat-dekat kali, Mad. Nanti diliat orang kan dikira apaan.”
“Aku membelikanmu roti cokelat.” Ahmad meletakkan roti itu di atas meja.
“Tanganku lemas. Bisa bantu bukain gak?”
“Yaelah! sudah minta beliin, minta bukain, gak sekalian minta suapin?”
Lily membuka mulut lebar. “Aaa ….”
Ahmad langsung menutup mulut itu dengan tanganya. “Nih, anak gadis bisa-bisanya membuka mulut lebar-lebar gitu.”
“Katamu suruh buka mulut?”
“Tapi, kan bisa duduk dulu.”
“Aku ngantuk banget. Gimana donk? Lemes. Gak bisa bangun. Kepala rasanya berat.”
“Iya deh, iya. Begitu saja nanti aku suapin.”
Ahmad membuka bungkusan roti dan memakannya gantian. Menyuapi Lily juga menyuapi dirinya sendiri.
Tok tok!
Ketukan di pintu yang terbuka mengagetkan mereka. Ahmad menoleh cepat ke arah pintu.
Ada Farid, teman seangkatan mereka yang biasa main bola dengan Ahmad. Wajahnya telah penuh dengan peluh. Rambut lepeknya dihela ke belakang memamerkan fitur wajahnya yang tegas dan rupawan.
“Kucariin taunya kencan di sini,” ujar Farid. Ia berjalan masuk kelas. Tangannya menenteng seragam putihnya karena kaosnya telah basah oleh keringat.
“Sudah tahu ada orang kencan, kenapa kamu malah ke sini. Apa kamu gak dengar kalau ada dua orang yang berkencan ketiganya setan. Makanya kalau gak mau jadi setannya mending menyingkir sana.”
“Haha …. Astaga! Ahmad kamu lucu amat, sih! Lagian aku ke sini mau menyapa Lily. Bagaimana kabarnya Lily ….”
Lily mengabaikan Farid dan terus membuka mulutnya. Ia masih lapar. Untungnya Ahmad masih terus setia menyuapi.
Farid bersungut-sungut. “Aduh kalian ini sama-sama aneh gak, sih! Pantas kalian bisa dekat begini.”
“Makanya jangan mendekat ke sini. Nantinya kamu bakal ketularan aneh,” ucap Lily setengah menyindir.
Soalnya Farid itu pria populer. Jika Farid mendekati mereka, tak lama kemudian anak buah, pengikut, dan penggemarnya bakal ngumpul juga.
Tak lama dibatin, 3 pria dan 2 wanita sudah mendekat. Lily maklum dengan 3 pria itu, tapi dua wanita yang lain itu. Aduh, suaranya sok dilembut-lembutkan dan sangat berisik.
Ahmad berhenti menyuapi Lily khawatir gadis itu bakal dipermalukan.
“Kamu masih pusing?” tanya Ahmad. “Mau ke klinik?”
Lily segera mengangkat kepalanya untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Namun, Farid langsung bersedekap di meja Lily dan memandang gadis itu.
“Kenapa sih, kamu bangun tidur aja tetep cantik. Sh—it! Gebetan teman kenapa cantik begini jadi serba salah.”
“Mulai lagi, deh!” ujar Lily. Ia memutar bola matanya kesal. Sudah ada dua cewek cantik begitu masih saja tebar pesona ke cewek lain yang jelas-jelas tidak berminat. Dasar cowok aneh. Untung tampan, kalau tidak bakal benar-benar mirip sampah yang tidak bisa didaur ulang.
“Ahmad! Katakan padaku kapan kamu bakal menyerah. Aku mau menyatakan perasaanku pada Lily sekarang.”
“Ck!” Lily mendengus.
“Ya ampun, kamu mendengus gitu saja kayak bidadari yang turun ke bumi. Coba kamu mau banyak-banyak senyum begitu.”
Farid memamerkan senyumannya yang menawan berharap Lily bakal membalas senyum itu walau hanya.
Akan tetapi, Ahmad bergerak lebih cepat. Ia membuka lebar tangannya dan nemplok di wajah Farid lalu mengarahkan wajah itu ke belakang.
“Itu bibit playboy jangan dipelihara!” ucapnya kesal.
“Makanya cepat pacaran. Sudah ditembak saja sekarang. Nanti keburu ditembak orang!”
“Sudah diem!” tegur Ahmad. Wajahnya mulai memerah. Untungnya kulit gelapnya menyamarkan rona malu tersebut.
“Ini demi kepentingan bersama tauk! Mau sampai kapan kamu akan menjaga Lily dari pria-pria yang mendatanginya? Itu kalau aku gak bakal nembak karena mementingkan perasaanmu, kalau yang lain mah boro-boro. Buruan! Aku mendukung kalian!”
“Kalian bisa berhenti ghibah-in orang di depan yang bersangkutan gak, sih?” ujar Lily sewot.
Dari sekian banyak temannya, hanya Farid seorang yang terus meledek kedekatan Lily dan Ahmad. Bahkan sejak mereka semua masih sama-sama kelas 1.
Ditegur begitu, Farid langsung menunjuk ke arah Lily. Dan dia langsung tertawa ngakak. “Astaga, Lily!” ucapnya. Rombongan Farid juga ikut tertawa, tapi tidak sekeras dirinya.
Ahmad juga ikut-ikutan menutup wajahnya dengan tangan agar tidak nampak jika ia juga ikutan tertawa.
“A—ada apa?” tanya Lily bingung.
Teman wanita Ahmad meminjamkan cermin kepada Lily.
Masih dengan keheranan, gadis itu lantas memandangi pantulannya di cermin. Apa ada yang salah dengan wajahnya, begitu pikirnya, tapi ekspresinya berubah kaku saat melihat wajahnya yang memerah. Ia mengembalikan cermin itu dan buru-buru menyembunyikan wajahnya dengan buku. Ia benar-benar sangat malu. Niat hati ingin menyembunyikan perasaan hatinya, tetapi tampaknya itu percuma karena semua telah tercetak jelas di ekspresi wajahnya.
Jika Ahmad bisa menutupi rasa malunya karena kulitnya yang gelap, tapi lain lagi dengan Lily. Wajah gadis itu sangat mudah memerah. Dan kali ini sangat merah persis seperti kepiting rebus.
“Pergi kalian semua!” teriak Lily kesal.
Farid masih tertawa.
Tak ingin membuat Lily lebih malu lagi, mau tak mau Ahmad segera membawa Farid pergi.
“Kagak! Aku mau di sini menggoda Lily! Haha ….”
Sadar tidak bisa membawa Farid pergi secara baik-baik, Ahmad memiting leher pemuda tampan nan tengil itu. Mau tak mau Farid mengikuti ke mana arah Ahmad membawanya. Dengan begitu rombongan yang dibawa juga ikutan pergi meninggalkan Lily sendirian.
Gadis itu masih bisa mendengar senyum jahil Farid dari kejauhan.
“Ya ampun malunya,” gumam Lily.
Memang, sih! Keakraban Lily dengan Ahmad selalu disalah artikan. Mereka juga sudah bosan memberi penjelasan kalau mereka teman masa kecil, tetangga, dan telah tumbuh bersama. Mereka lebih dekat dari sekedar teman biasa.
Tapi, anehnya. Hari ini kenapa wajahnya memerah tak seperti biasanya. Apa karena gombalan Farid? Atau apa karena hatinya berharap dapat pernyataan cinta dari Ahmad?
Tidak—tidak!
Lily menggelengkan kepala. Ia harus fokus! Kalau memikirkan cinta, mimpinya yang sudah di depan mata bisa pupus. Ia harus kuat dan tidak goyah. Begitulah Lily menyangkal isi hatinya sendiri.
Namun, apa yang diharapkan Lily untuk fokus pada beasiswa tidak serta merta berjalan lancar. Terutama saat ia sudah tiba di rumah.
Sekarang telah menunggu orang tuanya di ruang tamu. Kali ini tidak sendirian melainkan dengan Dimas.
“Lily!” panggil Pak Majid tepat setelah Lily menginjakkan kaki di rumah.
“Ya?” jawab Lily muram. Apakah akan ada drama lagi? batinnya.
“Kamu siap-siap sekarang!”
“Maksudnya?” tanya Lily tak mengerti.
“Pokoknya ganti dulu pakaianmu. Itu Bu, bantu Lily!”
Bu Salamah segera menyeret Lily masuk.
“Ada apa, Bu?” tanya gadis itu kebingungan.
“Pokoknya cepat!”
***