***
“Ada apa, Bu?” tanya Lily setibanya mereka.
“Kamu gantilah pakaianmu dengan ini.” Bu Salamah menyerahkan tas kertas pada putrinya.
“Apa ini?”
“Baju baru.”
“Baju baru apa!”
“Pokoknya pakai saja! Cepat!”
Meski merasa ada yang janggal, Lily tetap menyetujuinya. Daripada kena omel, pakai sajalah, begitu pikirnya. Tapi, ia menyesali keputusannya itu.
Lily muncul di ruang tamu dengan pakaian baru itu. Gaun itu bermodel midi dress berlengan pendek. Panjangnya sedikit di bawah lutut dengan tambahan ruffle yang berbahan tile. Gaun itu berwarna hitam dengan motif stawberry. Sangat cantik! Warna hitam itu sangat pas untuknya dan dapat menonjolkan kulitnya yang putih. Sayangnya, gaun itu memiliki belahan d**a rendah yang sangat memalukan. Sama sekali tidak pantas dikenakan remaja sepertinya.
Wajah Lily merah padam karena malu. Apalagi Dimas langsung memelototi tampilannya dengan tatapan lapar yang tak bisa diartikan gadis seusianya.
“Lily sangat cantik. Bajunya sangat cocok untuknya. Rupanya aku tidak salah pilih.”
“Mas Dimas memang punya selera yang tinggi. Gadis biasa seperti Lily bisa jadi secantik ini. Sangat luar biasa.”
Dimas mengangguk mantap. Ia pun berdiri merapikan kemejanya dan berujar. “Enaknya kami berangkat sekarang saja.”
“Pergi saja sana!” desis Lily sewot. Ia ganti pakaian hanya untuk diperlihatkan pada orang aneh ini. Rasanya bikin mual.
“Itu perginya sama kamu. Buruan sana!” ucap Pak Majid.
“Eh? Gak mau! Aku gak mau pergi. Aku gak bakal ke mana-mana,” rengek Lily.
Pak Majid mengabaikan rengekan putrinya dan buru-buru menyahuti ucapan Dimas. “Iya, begitu saja biar tidak kemalaman pulangnya.”
Dimas tersenyum ke arah Lily. Memamerkan wajah tampannya yang memesona. Tentunya tidak bagi Lily.
Gadis itu masih mematung di tengah ruangan dengan enggan.
Bu Salamah mendorong putrinya dari belakang.
“Ibu, aku tidak mau,” rengek Lily. Akan tetapi, kedua orang tua Lily tampaknya tidak peduli pada rengekan Lily. Jadilah gadis itu serasa dipaksa masuk ke dalam mobil.
Begitu masuk ke mobil, pintu langsung ditutup hingga Lily tak punya kesempatan untuk kabur. Sopir juga langsung menjalankan kendaraan.
“s**l!” umpat Lily.
“Uhm, kenapa?” tanya Dimas pura-pura tidak tahu.
Lily membuang muka. Ia benci pria ini. Kesan pertama untuknya juga tidak terlalu baik.
“Enaknya ke mana, ya?” tanya Dimas. “Ada saran?”
Lily diam seribu bahasa.
Dimas mendekat. Ia berbisik di telinga Lily. “Jika kamu tidak mau menjawabnya bagaimana jika aku langsung mengarahkannya ke hotel?”
Degh!
Lily terkejut bukan main dengan ancaman Dimas. Sebagai orang yang sudah berada pada tahap dewasa muda, ia tahu apa artinya ke hotel bagi pria dewasa. Ia memelotot ke arah Dimas.
“Makanya! Kalau mau semua berjalan baik-baik saja, buka mulutmu!” desisnya. Suaranya lembut, tapi isi ucapannya sangat mengerikan.
Glek!
“Bagaimana? Jawab aku!”
“Aku ….” Lily tergagap. Situasi ini menyeramkan. Ia tak pernah mempelajari cara menghadapi situasi seperti ini.
“Katakan sesuatu!” desak Dimas.
Lily berpikir keras menyebutkan tempat yang biasa dipakai nongkrong oleh anak-anak muda. Tempat yang bukan privat.
“Kalau begitu kuhitung! 3!”
Degh!
Lily panik. Otaknya ngelag dengan cepat hingga ia todak bisa berpikir jernih.
Dimas kembali mendekat. Sangat dekat hingga tubuh Lily mencapai pintu.
“Aku akan meloncat keluar.”
“Kata siapa kamu boleh begitu!”
Set!
Dengan satu hentakan Lily sudah ada di pangkaun Dimas. Tangannya memeluk Lily erat.
Gadis itu berontak. “Lepaskan! lepaskan aku!” jeritnya.
Untungnya Dimas langsung menurut. “Baiklah! Kumaafkan sikap tak sopanmu saat ini, tapi jika besok masih begitu. Jangan harap aku akan memaafkanmu.
Lily kembali didudukkan di kursinya sendiri. Kali ini sambil terisak.
“Lily?” panggil Dimas lembut.
“Ya,” jawab Lily. Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia tidak menjawab panggilan itu.
“Aku paling tidak suka dengan gadis cengeng.”
Glek!
Lily menutup mulutnya, menghapus air mata di pipi, dan duduk dengan diam. Sepertinya ia tengah berhadapan dengan psikopat sekarang.
“A—aku tidak cengeng!”
“Pintar! Lily sangat pintar!”
Lily benar-benar ketakutan. Ia ingin menangis dan berteriak, tapi ia menahannya karena ketakutan.
“Ipul, kita ke restoran biasanya. Sepertinya Lily belum makan siang. Kasihan, kan hari sudah sore.”
“Baik, Pak!”
Tak ada yang berkesan dari makan siang itu. Gadis itu mengusahakan senyum tersungging, tapi hatinya teriris. Rasanya ingin menangis keras-keras, tapi tidak bisa. Ia bagai orang bodoh yang mau-mau saja disuruh menyuapi, menuangkan minum, hingga duduk di pangkuan.
Saat sampai di rumah, keluarga Lily menyambutnya dengan bahagia, tepatnya bukan ia, tapi makanan yang dibawanya.
Dimas masih bisa tersenyum dan mengatakan hari ini berlalu dengan bahagia, tapi tidak begitu bagi Lily. Gadis itu berlari ke kamar dan menangis.
Saat Dimas hendak berpamitan, Pak Majid meminta istrinya untuk memanggil Lily untuk mengantar kepergian Dimas, tapi itu tidak berhasil. Alhasil dengan sedikit gondok, Pak Majid meminta maaf pada Dimas.
“Kenapa, Lily? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?”
Belum juga Lily menjelaskan, Pak Majid masuk ke rumah dan mendatangi kamar anak gadisnya. Bukannya menghibur, ia langsung memarahi Lily.
“Kamu ini bikin malu. Belum juga orangnya pulang, sudah nangis-nangis segala. Awas saja kalau sampai Dimas jadi ilfil sama kamu. Bapak akan benar-benar marah!”
Dimarahi begitu, tangisan Lily makin keras. Apa bapaknya gak bisa tanya dulu alasannya main marah gitu aja.
Meski dibujuk ibunya untuk bercerita, ia terus-terusan menangis tanpa kata.
“Sudah bagus Dimas sopan dan sayang sama kamu. Kenapa begitu masuk langsung menangis dan tidak keluar untuk menemuinya?”
“Orang itu tidak sopan, Bu?”
“Tidak sopan bagaimana? Apa ia memelukmu?”
Lily menggeleng.
“Menciummu?”
Lagi-lagi gelengan sebagai jawaban.
“Meraba-raba tubuhmu?”
“Bukan!”
Bu Salamah gedeg dengan tingkah putrinya.
“Lalu apa masalahnya? Pria tidak memaksa melakukan itu sudah bisa dikatakan kalau ia adalah orang yang sopan. Lalu apa masalahnya sekarang?”
“Orang itu memintaku menyuapinya, menuangkan minum, juga ….”
“Sudah—sudah! Ibu gak mau dengar lagi. Kamu instropeksi dulu apa kesalahanmu.”
Glek!
“Ibu!”
Bu Salamah segera keluar. Yang mana semakin membuat Lily bersedih. Padahal ia belum menceritakan masalah terbesarnya. Dimas memangkunya juga! Padahal ia percaya kalau itu benar-benar perilaku mengerikan. Belum lagi akan membawanya ke hotel!
“Argh!!!!”
***