***
Keesokan harinya, Lily ke sekolah dengan mata bengkak yang tebal. Saking tebalnya tidak hanya teman sekelasnya yang bertanya, teman-teman yang lain juga ikut bertanya-tanya.
“Ada apa denganmu, Lily?”
“Bukan apa-apa! ini bukan sesuatu yang penting!” sergahnya.
Tapi, tentu saja mereka tidak percaya. Soalnya Lily itu anak yang tangguh. Air matanya tidak akan menetes meski setelah menonton film sedih sekalipun.
Jika teman-teman yang lain akan berhenti bertanya saat ia tidak mengaku, tapi lain lagi dengan Ahmad. Ia terus mendesak Lily untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Mau menceritakannya sekarang atau aku bakal mencaritahu sendiri?” ancamnya.
Glek!
“Astaga, Ahmad!” rengek Lily.
“Bagaimana?”
Lily mengerutkan kening. Ia kudu berpikir cepat dan cermat mencari jawaban yang logis. Soalnya Ahmad itu orangnya sangat kritis. Jika ia memberi jawaban tak logis, temannya itu pasti langsung tahu kalau ia berbohong.
Melihat kening Lily yang berkerut, Ahmad langsung menaruh jari telunjuknya di sana.
“Nah—nah otaknya pasti kerja keras mikir jawaban ngarang.”
“Nrgative thinking mulu, sih!”
“Makanya cepat cerita, kenapa matamu jadi sebengkak ini. Ada yang menyakitimu? Bilang padaku, aku akan membuat perhitungan untuknya.”
Lily menggeleng. Entah kenapa otaknya berasa tumpul. Andai saja ia berani jujur. Rasanya ia tak berani menceritakan soal Dimas pada Ahmad. Tatapan Dimas yang seperti psiko itu menakutinya. Bulu kuduknya masih terasa meremang, bahkan sampai detik ini.
“Lily?”
“Anu ….”
“Ya?” Ahmad masih menunggu dengan sabar.
“Kambing!”
“Eh?”
“Itu, kambingku dijual! Kambing kesukaanku.”
“Serius?” tanya Ahmad menegaskan. Kok kayaknya ia tidak percaya.
“Iya, makanya aku sedih. Kamu kan tahu aku suka hewan.”
Ahmad terpekur sejenak. “Kalau memang hanya karena kambing, kenapa tidak mau cerita?”
“Bayangkan bagaimana respons anak-anak saat aku menjawab yang sebenarnya?”
“Iya, juga sih!”
Kalau teman sekelas mereka mendengar itu, nantinya Lily bakal diolok-olok. Bukan hanya sekarang saja pasti hal itu akan terus jadi candaan bahkan bisa sampai reuni kelulusan.
“Baiklah aku percaya, tapi lain kali ngobrol dulu sama aku. Kan aku bisa menghiburmu nanti.”
Lily mengangguk. Lega rasanya saat Ahmad percaya akan kebohongannya.
Namun, kelegaan itu tidak lama. Saat jam menunjukkan waktu pulang sekolah, gadis itu jadi takut pulang. Ia bisa membayangkan Dimas sudah menunggunya di rumah. Ia keluar kelas paling akhir. Menunggu di parkiran sampai benar-benar sepi, barulah dia pulang.
Lily juga mengayuh sepedanya sepelan mungkin agar lebih lama sampai ke rumah. Biasanya ia membutuhkan sekitar 30 menit mengayuh normal. Kali ini ia menargetkan 60 menit, atau lebih lama. Itulah kenapa setiap persimpangan, ia akan berhenti 2 menit baru mengayuh kembali.
Tentu saja Lily sampai di rumah sesuai target. Ia tiba saat hari sudah sore. Namun, apa yang disangkanya ternyata salah.
Hatinya serasa berhenti berdetak sewaktu melihat mobil Dimas terparkir di depan rumahnya. Di tempat yang sama seperti kemarin.
Wajahnya memucat. Ada kekhawatiran menyeruak. Tangannya sampai basah karena tegang dan cemas.
“Aku pulang!” ucap Lily sembari masuk ke rumah.
“Kamu pulang!” suara Pak Majid menyambut Lily. Nadanya datar seakan memendam emosi.
Di kursi ruang tamu. Duduklah Dimas. Masih dengan wajahnya yang rupawan. Ekspresinya teduh, tapi keteduhan itu tidak tampak di matanya.
Lily bergidik ngeri.
“Suruh dia bersiap!” seru Pak Majid. “Kasihan Mas Dimas sudah menunggu berjam-jam.
“Ayo, Lily!” Bu Salamah segera mengajak Lily ke kamar. Lebih tepatnya memaksa.
“Kenapa lagi, Bu?”
“Kamu harus bersiap! Itu Dimas sudah menunggumu sedari tadi. Nanti kalau gak buru-buru bapakmu bisa marah.”
“Aku gak mau bersiap, Ibu. Aku gak mau pergi!” rengek Lily.
“Kamu harus!”
“Kenapa harus?”
“Sudah tutup mulutmu!”
Degh!
Sudah kadung emosi, Bu Salamah membentak Lily. Bentakan itu sukses membuat Lily terdiam.
“Ini bajunya. Ganti dengan ini!” Bu Salamah tidak peduli dengan ekspresi Lily yang berubah.
Di tangan Lily sekarang sudah ada baju baru lain. Midi dress lagi. Warnanya hitam. Bahannya tipis berlapis-lapis. Ia membentangkan baju itu. Sekali lagi berleher rendah. Apa baju ini untuk remaja? Bukannya baju ini terlihat seperti wanita malam?
“Ibu, apa aku dijual?” tanya Lily.
“Dijual apa? ngomong sembarangan. Kami hanya ingin kamu mendapat kehidupan yang baik. Mumpung ada pemuda tampan dan kaya yang menyukaimu.”
“Aku masih sekolah!”
“Sekolah itu gak penting-penting amat untuk perempuan, Lily. Asal menemukan suami mapan, hidupmu akan terjamin nanti.”
“Bu, jika mau hidup mapan. Tunggu aku lulus sekolah, kuliah dengan beasiswa agar bisa kerja di tempat bagus. Setelah itu aku akan kerja mati-matian untuk membalas budi. Aku akan kerja mati-matian untuk memberi kehidupan yang mapan untuk ibu, tapi tidak seperti ini. Mimpiku masih tinggi.”
Bu Salamah mengabaikan protes sang putri dan terus membantu Lily bersiap. Terakhir ia mengikat rambut Lily tinggi-tinggi. Lily yang memang sudah cantik dan berkulit putih, tak butuh perlakuan lebih untuk menjadi cantik. Warna gaun yang gelap sukses menonjolkan kulit putih Lily.
“Duh, anak ibu cantik sekali,” puji Bu Salamah.
Lily sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya datar dan ekspresinya menggelap. Sepertinya ia paham alasan keluarganya seperti ini. Apakah sudah ada isu pernikahan?
Bu Salamah tak memberi waktu pada Lily untuk berpikir karena gadis itu sudah di antar ke ruang tamu.
“Lily sudah siap!” ucap Bu Salamah riang.
“Cantik sekali,” puji Dimas. “Tidak menyesal rasanya menanti berjam-jam.”
Pak Majid mengangguk puas. Untung saja Dimas tampak senang. Gawat kalau Dimas berhenti rasa cintanya karena ini.
“Ayo berangkat sekarang!” ucapnya.
Kali ini Dimas terang-terangan memegang lengan Lily dan mengajaknya ke mobil.
Gadis itu pasrah saja diperlakukan begitu karena ia tahu orang tuanya memberi dukungan pada pria ini.
Senyum Dimas masih terkembang, tapi sang psiko itu langsung berubah begitu masuk ke dalam mobil.
“Aku sangat marah!” desisnya.
Glek!
Lily tahu ini tidak mudah. Jika ia berulah hasilnya bakal mengerikan. Ia tidak mau diinapkan di hotel
“Duduk!”
“Apa?”
“Jangan buat aku berkata dua kali.”
Lily membatin, ia kan sudah duduk? Mau duduk yang gimana lagi? jangan-jangan ….
Dimas menepuk paha memberi isyarat.
Lily terduduk kaku. Ngeri!
Karena gadis itu tak kunjung beranjak, Dimas menarik tangan Lily hingga tubuhnya terangkat. Ia menempatkan gadis itu di pangkaunnya.
Mulut Lily terkunci rapat, tubuhnya terguncang ketakutan. Ia sangat takut diperlakukan lebih dari ini.
Tapi, Dimas hanya begitu saja seperti kemarin. Bedanya kali ini ia sesekali mengendus punggung Lily yang tertutup baju berbahas tipis.
“Aku suka gadis muda,” gumamnya.
Lily bergidik ngeri. Ia ingin melakukan sesuatu untuk mengatasi situasi ini, tapi entah kenapa otak encernya terasa buntu di situasi seperti ini. Apakah ia harus memberontak? Berteriak? Marah? Memukul?
“Mau ke mana malam ini?”
Glek!
“Ma—makan!” jawab Lily terbata. Sekali ia tidak menjawab di saat yang tepat, bisa-bisa tujuan mereka beralih jadi hotel. “Aku belum makan sama sekali.”
“Baiklah! Ipul!” seru Dimas.
“Iya, Pak!”
“Tempat makan yang biasa.”
“A—aku ingin menu lain,” ucap Lily. Kalau di tempat yang sama seperti kemarin, ia bakal berakhir dipangku lagi karena tempat kemarin memang sangat privat.
“Apa itu, Lily?”
“Ayam KFC!”
“Kau dengar itu, Ipul. Order sekarang dan antarkan ke tempat biasa.”
“Eh?” Lily meringis sedih. Ternyata Dimas lebih cerdas dari pikirannya.
***