Bab 9. Terpergok Teman

1144 Kata
*** Malam kedua itu terlewati dengan sangat buruk. Lily tiba di rumah makan privat seperti kemarin. Dan seperti kemarinnya lagi ia harus duduk di pangkuan Dimas. Menjawab pertanyaan setiap ditanya dan itu harus dijawab meski hanya sepotong-potong. Lily gak mau berakhir di hotel. Ia masih punya mimpi menjaga mahkotanya untuk pria yang dicintainya saja. Ia tak rela harus berakhir di tangan p****************g ini. Gadis itu sedikit menyesal harus memesan yang tak ada di menu. Gara-gara itu, ia jadi harus duduk di pangkuan Dimas lebih lama dari kemarin. kemarin ketika makanan sudah disediakan, ia bisa duduk di kursinya sendiri, tapi sekarang? bergerak pun ia tak berani. Meski p****t Lily terasa panas di pangkuan Dimas, tapi pria itu tak bergeming seolah Lily seringan bulu. Sesekali tubuh Lily didudukkan di kursi, tapi tetap di antara paha yang terbuka lebar. Mereka menunggu lama demi ayam KFC yang tak kunjung datang. Selama itu pulalah Lily harus menurut. “Kamu sekolah naik apa?” “Sepeda,” jawab Lily lirih. “Besok aku yang mengantar jemput kamu!” “Jangan … tidak usah,” jawab Lily. Kalau sampai itu terjadi nasibnya bakal jadi semengerikan apa. Begni saja sudah membuatnya stress setengah mati. “Kenapa?” tanya pria itu. Tangannya membelai lembut lengan Lily yang terbuka. “Aku ingin sekolah …. Sekolah sampai lulus.” “Hm ….” Gadis itu gemetar takut jawabannya tidak berkenan. Tangan Dimas merayap di paha. Mengusap lembut di sana. “Baiklah! Sekolah sampai lulus setelah itu kita menikah!” Degh! Wajah Lily memucat. Benar apa yang menjadi ketakutannya selama ini. Sudah ada pembicaraan pernikahan dan itu tanpa sepengetahuannya dan otomatis tanpa seizinnya. Keputusan egois yang membuat hatinya terluka. Apa karena ia bersikeras lanjut kuliah jadi langsung dinikahkan begitu saja? “Jawab!” ucap Dimas pelan dan tegas. “Me—menikah habis sekolah,” jawab Lily. Dalam hati beralih jika ia tak mengatakan dengan siapa ia akan menikah. “Pintar! Sekarang duduk di pangkuanku!” Dimas kembali merapatkan paha supaya Lily bisa duduk di pangkaunnya lagi. Gadis itu merasa sangat tidak nyaman apalagi Dimas dengan sengaja mengangkat rok gadis itu sehingga bagian paha pria itu juga ikut tertutup rok. Sekilas dilihat, pasti bikin salah paham apa yang terjadi di balik rok itu. Otak Lily berkecamuk. Ia ingin kabur. Kabur dari rumah bila perlu. Ia ingin satu minggu datang lebih cepat sehingga ia tahu lolos beasiswa atau tidak. Ia berharap lolos dan kabur saja. Tiba-tiba, ketukan di pintu terdengar. Dimas meminta Ipul membukanya. “Layanan antar KFC!” ucap seorang pria berjaket hitam dengan tambahan detail merah di tangan dan kerah. Di dadanya tertulis deliver. Spontan Lily dan Dimas menoleh ke arah pengantar tersebut. Melihat ada orang asing, Lily langsung menatap ke arah lain. Ia malu dengan pakaiannya sendiri. Berdada rendah yang dengan sekali lihat saja seolah bisa mencerminkan apa perannya di sini. Tentu saja penghibur, kalau tidak bisa dikatakan pekerja malam. Dan ia sedih karena ia bukanlah keduanya. Kenapa bapak ibunya sangat bodoh memintanya memakai baju ini padahal baju ini malah merendahkan drajat putrinya sendiri. Biar kayak anak kota apanya?   “Berapa?” tanya Ipul. Sang pengantar menyebut nominal sembari meletakkan makanan di atas meja. Namun, hampir saja kresek itu tergelincir dari tangannya saat pengantar itu melihat Lily. Tak ingin Lily melihatnya, pengantar itu menunduk tajam dan bersembunyi dibalik topi. Tapi, telat. Dimas keburu melihatnya. “Jaga matamu!” “I—iya, Bang!” ucapnya gagap. Lily shock di tempat. Suara itu terdengar familiar. Rasa-rasanya seperti teman sekolahnya. Makin takutlah ia. Ia duduk dengan tak nyaman. “Lily! Duduk yang manis, donk!” ucap Dimas seraya menyentuh perut Lily untuk membenahi posisi duduk gadis itu. Glek! Lily terdiam. Pemuda itu apalagi. Si Pengantar itu langsung menunduk sopan dan buru-buru kabur. Meski begitu, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang. Sialnya, ia melihat pria itu meletakkan tangannya di d**a Lily. Brak! Saking terkejutnya, si pengantar sampai tersandung daun pintu, tapi ia tak lagi menoleh ke belakang dan buru-buru kabur. Seolah lagi melihat hantu. “Dasar, kurir aneh!” umpat Dimas. “Pul! Besok lagi jangan beli ayam goreng di sana.” “Baik, Pak!” “Lily, kapan lulus?” tanya Dimas. Tangannya seolah hampir-hampir saja mengenai tubuh atasnya. “Setengah tahun lagi,” ucap Lily seraya menepis tangan Dimas. “Jangan begini … aku mohon.” “Anak yang berpendirian. Aku suka!” Karena makanan telah tersedia, Lily jadi bisa duduk di kursinya sendiri. Begitulah malam siksaan kedua berakhir. *** Tak seperti kemarin, keesokan harinya Lily berangkat sekolah selambat mungkin. Ia malu bertemu si pengantar yang adalah Zaki. Apa Zaki akan mengumumkan malam itu ke teman-teman sekolah yang lain? Lily tak berani membayangkan itu. Meski sudah berangkat paling akhir dan mepet bel, Zaki tetap saja menemukan Lily. “Aku mau ngomong sama kamu!” Ahsan yang duduk di dekat Lily langsung siaga. “Lo, butuh apa sama Lily?” “Aku? Rahasia!” “Kalau begitu aku ikut!” tandas Ahmad. “Lily, katakan padanya untuk jangan ikut atau ….” Zaki tidak meneruskan ucapannya malah mengangkat satu alisnya. Glek! Lily tersenyum lemah ke arah Ahmad. “Aku akan segera kembali.” Tak menunggu jawaban Ahmad, Lily langsung keluar dari ruang kelas. Mereka menuju koridor sepi dekat ruang musik. “Semalam itu kamu, kan?” Lily membuang muka. Sudah tahu masih nanya! batin Lily kesal. “Dan sepertinya Ahmad juga belum tahu.” “Hah!” “Aku bakal menyimpan ini sendiri, tapi kuharap kamu tidak melakukan itu lagi. Itu tidak seperti kamu. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu ayolah!” “Apa kamu pikir aku suka ada di posisi itu! aku juga membencinya!” Lily mendorong tubuh Zaki dan pergi. “Eh! Apa-apaan nih, anak! Aku belum selesai ngomong main pergi saja.” Zaki segera menyambar tangan Lily hingga gadis itu tertarik mundur mendarat di depan tubuhnya. Gadis itu menutupi wajahnya dengan satu tangannya yang lain. Zaki terkejut saat melihat ada air mata di sana. “Sebenarnya apa yang terjadi, Lily?” tanya Zaki. Nada suaranya melembut. “Kamu, gak perlu tahu. Toh, meski tahu kamu gak bakal bisa melakukan apa-apa!” ucap Lily. Ia menghapus air matanya. “Aku ngomong begini tuh serius sebagai sesama teman.” Lily menggeleng. “Entahlah! Jangan membahasnya lagi. Aku berterima kasih kalau kamu mau tutup mulut. Setidaknya sampai aku lulus. Aku tidak ingin dipandang remeh karena itu. Please!” “Kalau ada yang bisa aku bantu, katakan saja!” Lily mencebik, “saat itu kamu digertak saja sudah terdiam. Kira-kira kamu yang seperti itu bisa menolong apa?” Zaki terdiam. Ia merasa tertohok oleh ucapan Lily. Lily pun berlalu meninggalkan Zaki. Percuma menceritakan ini pada teman-temannya. Ia tak percaya orang seumurannya bisa membantunya. Terlebih saat orang tuanya lah yang menjerumuskannya sendiri. Tampaknya hanya tinggal menunggu waktu ia bakal masuk ke lubang neraka. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus bertahan sampai hari pengumumannya tiba. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN