Bab 10. Tamu Pria yang Lain

1089 Kata
*** Hari ketiga terjadi lagi. Sepulang sekolah, Lily harus pergi lagi menemani Dimas. Ibunya sudah siap mendandani putrinya. Sama seperti kemarin, kali ini Lily juga memakai baju yang dibelikan Dimas. Sebuah gaun berbahan tipis, berwarna hitam, dan berleher rendah. “Ibu, aku benci baju ini. Aku malu. Lihat saja potongan lehernya. Aku masih gadis kenapa memakai baju begini?” “Hus, diam. Kalau memang Dimas seleranya yang begitu mau bagaimana lagi? kamu jadi wanita harus menurut.” “Ibu …. Aku bukan siapa-siapanya dia. Kenapa harus menurutinya.” “Dia itu calon suamimu!” “Tapi, aku tidak mau. Kenapa main memutuskan sepihak? Kenapa gak tanya pendapatku? Harusnya aku sendiri yang menentukan dengan siapa aku menghabiskan sisa hidup.” “Diamlah! Ibu gak mau dengar. Pokoknya kamu itu nurut saja sama orang tua maka hidupmu akan baik kedepannya.” “Masa gara-gara aku ingin kuliah jadi harus dinikahkan biar gak usah kuliah? aku siap cari duit sendiri sebagai biayanya. Tolong jangan nikahkan aku. Aku mohon ibu, katakan sama bapak.” “Kamu jadi anak harus berbakti. Dengan menikahi Dimas, sama juga mengangkat perekonomian kita. “Berarti benar, kan, jika aku dijual.” “Aduh! Anak ini! sudah sana keluar. Sudah ditungguin dari tadi.” Dimas mengangguk sopan lalu berpamitan. Lily hanya menekuk wajahnya dalam-dalam dan keluar lebih dulu. Namun, langkahnya terhenti di tempat tatkala melihat Ahmad. Glek! Ia tertangkap basah. Ahmad diam membatu melihat dandanan Lily yang tak biasa. Ia ingin protes dan meledek temannya itu, tapi mulutnya langsung tertutup rapat begitu melihat pria lain keluar dari sana. Siapa orang itu? batin Ahmad bertanya-tanya. Ia belum pernah melihat pria muda ini sebelumnya. Ahmad lebih heran lagi melihat orang tua Lily tampak akrab dengan orang itu. “Kamu mau ke mana?” tanya Ahmad. Di tangannya ada rantang susun yang berisi makanan. “Tidak makan ini dulu?” Lily menggeleng dan meneruskan langkah. Ahmad spontan membuntuti Lily untuk meminta kejelasan. Masa temannya itu hanya diam dan pergi gitu saja. Akan tetapi, Bu Salamah dengan cepat memegang lengan Ahmad dan menghalanginya mengejar Lily. “Itu rantang isinya apa?” “Ini makanan. Anu … aku mau mengejar Lilly dulu.” “Aduh, biarkan saja Lily. Lily pergi jalan-jalan dengan pacarnya.” “Eh?” Ahmad terbengong. Ia hanya bisa melihat mobil yang ditumpangi Lily melintas di depan mereka. Meninggalkan tanda tanya besar di benak pemuda itu. “Sejak kapan?” “Baru seminggu ini, tapi kamu diam saja dulu. Nanti kalau waktunya hajatan pasti kamu yang pertama dikabari.” “Lily mau nikah? Bukannya ia mau kuliah?” Bu Salamah menjelaskan panjang lebar pada Ahmad. Penjelasan yang hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Ia jadi sadar alasan Lily menangis tempo hari. Ah, benar-benar. Harusnya ia tak percaya penjelasan Lily begitu saja. *** Sama seperti kemarin, Lily harus duduk di pangkuan Dimas. Wajahnya muram. Kepalanya dipenuhi banyak hal. Apalagi sekarang ia telah ketahuan Ahmad. Entah bagaimana respons temannya itu besok. Haah! Tak sengaja helaan napas lolos dari bibirnya. Dimas mengayun-ayun Lily yang ada di pangkuannya. “Kenapa wajahnya ditekuk begitu. Besok kita gak ketemu, lho!” “Benarkah?” ups! Lily langsung menutup mulutnya. Dia khawatir Dimas marah karena ia terlalu antusias. “Tapi ….” Glek! Lily menelan ludah dengan susah payah. Ia takut mendengar ucapan Dimas selanjutnya. “Sebagai gantinya, kamu harus full menemaniku besok minggu.” Degh! “A—aku harus belajar. Anu … supaya lulus.” “Katamu kamu pintar.” “Pintar juga harus belajar.” “Cukup lulus saja.” “Aku harus kuliah!” “Bagaimana kalau ke hotel sekarang?” “Ja—jangan!” “Makanya, kubur mimpi itu. Sekali lagi aku mendengarnya, maka kamu akan tahu.” Lily menunduk tajam. Sekarang ia benar-benar harus kabur. Bahkan jika tidak bisa langsung kuliah, ia benar-benar harus kabur. Asal punya ijazah SMA, ia bisa meneruskan hidupnya sendiri. Hidup yang bukan seperti ini. Ia juga sudah lepas harapan akan bantuan orang tuanya. Cukup lama berkendara, sampailah mereka di restoran privat yang sama seperti kemarin, tetapi ada yang berbeda. Kali ini ada tamu lain bersama mereka. Lily duduk di paha Dimas. Sementara tamu itu ada di depan mereka. Tamu itu sedikit lebih tua, pakaiannya kasual, tapi sangat berkelas. Terlihat jelas jika orang itu sangat kaya. Wajahnya rupawan, tapi tatapannya tajam. Pria itu memandang Lily dari atas ke bawah. Lily sangat tidak nyaman dibuatnya. “Lily, kamu berdiri di sana!” perintah Dimas. Tangannya menunjuk tempat kosong dekat pintu. “Untuk apa?” “Aku tidak mau mengulanginya lagi atau kamu akan tahu nanti.” Lily buru-buru bangkit. “Berputar?” “Apa?” “Aku tahu kamu tidak b***k!” tandas Dimas. Glek! Lily berputar pelan. Tamu pria tadi menatap dengan minat yang besar pada Lily. “Coba menunduk,” ucap tamu pria tadi. Lily menggeleng. Ia sadar ia memakai gaun berdada rendah. Kalau ia menunduk, sama saja mempertontonkan semuanya. Ia tidak mau itu terjadi. Namun, saat ia melihat Dimas. Lututnya langsung lemas. Dimas telah memelotot ke arahnya. Tatapan tajam yang berarti kamu akan berakhir di hotel dan b******a denganku jika tidak mau melakukannya. Gadis itu belum mau melepas kegadisannya, jadi ia pun menurut meski nuraninya memberontak. Lily tidak berani melihat wajah tamu pria itu. Namun, saat ia menunduk sekilas ia melihat tamu pria itu menyapukan lidah di bibir. “Good! Sangat indah,” ucap tamu pria itu mengapresiasi. “Sempurna!” Teng! Lonceng kesadaran bergema di otak Lily. Bukankah situasi saat ini mirip transaksi perdagangan? Tidakkah saat ini ia mirip barang yang dipertontonkan untuk dijual? Lily langsung berdiri. Kakinya gemetar. Apalagi setelah ia mendengar perintah selanjutnya dari tamu pria tersebut. “Angkat roknya dan berputar pelan.” Degh! Lonceng bahaya berdentang memberitahu Lily akan sinyal bahaya. Ia yang saat ini berdiri di tepi pintu langsung memutar gagang berniat kabur. Tapi, s**l. Pintu itu terkunci. “God! No!” Lily spontan menggedor pintu. “Buka! Buka! Tolong! Dimas bergerak cepat menarik Lily ke pelukan dan membungkam mulutnya. Lily meronta-ronta, tapi tubuhnya kalah tenaga. “Sangat bersemangat! Aku suka!” ucap si tamu pria tersebut. “Aku masih ingin melihat sesuai permintaan yang terakhir,” ucapnya. Dimas tersenyum. Ia mengangkat rok Lily tinggi-tinggi agar tamunya bisa melihat sesuai yang diinginkannya. Lily kontan memberontak. Ia hendak menurunkan gaun itu kembali, tapi Dimas keburu memgangi tangannya. Kejadian itu terjadi cukup lama sampai tamu itu mengatakan cukup. Lily tak tahu bagaimana caranya ia sampai di rumah karena sepanjang perjalanan ia terus menangis. Sesampainya di rumah Lily juga masih menangis. Tangisan pilu yang tetap tidak menggoyahkan nurani orang tuanya. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN