Bab 11. Bantuan Zaki

1200 Kata
*** Keesokan harinya Lily pergi sekolah sepagi mungkin. Itu juga setelah semalaman menangis hingga matanya sembab. Demi menutupinya, Lily sengaja memotong rambutnya untuk membuat poni. Gadis itu tidak sekalipun menyapa orang tuanya. Ia benci. Benci sebenci-bencinya. Tak seperti hari pertama datang pagi, Lily tidak ke kantin meski ia kelaparan. Wajahnya kaku tanpa senyuman. Di kelas pun ia hanya diam sembari menunduk tajam. Guru-guru ikut heran melihat Lily karena biasanya gadis itu adalah gadis yang paling antusias jika menyangkut pelajaran, tapi kali ini ke mana gadis periang itu. Setiap ditanya, Lily mengacuhkannya. Suasana kelas jadi buruk karena guru-guru jadi kepo sendiri gara-gara Lily tak merespons apapun yang diterangkan. Namun, rasa penasaran para guru itu tidak lama, untungnya Lily ada di kelas persiapan tes masuk kuliah, jadi kelas lebih banyak diisi dengan mengerjakan soal. Ahmad juga diam. Sesekali ia melirik Lily penasaran dengan kabar gadis itu. Jujur saja ada rasa kecewa di hatinya, apalagi mendengar penjelasan Bi Salamah kalau Lily akan menikah. Aneh saja, apa dia tidak sepenting itu sampai tidak diberitahu? Kalau Lily bahagia, ia pasti ikut bahagia kok. Juga ada rasa kesal di benak Ahmad saat ia diberi peringatan oleh Pak Majid untuk tidak dekat dengan Lily. Apa mungkin Lily gak cerita padanya karena itu? Apa Lily takut mereka terlihat dekat? Ahmad sebenarnya mau saja menghindari Lily meski enggan. Hanya saja saat melihat mata sembab Lily, ia juga tak tega untuk mendiamkannya. “Kamu bertengkar dengan Lily? Kalian tidak saling sapa sedari pagi. Tuh liat matanya sembab gitu. Serem, bukan?” tanya teman yang duduk di dekat Ahmad. Ahmad menggeleng. “Kami gak bertengkar. Aku juga gak tahu kenapa bisa begitu. Coba deh nanti kutanya kenapa Lily begitu.” Ahmad menargetkan jam istirahat, tapi dia keduluan Zaki. “Kita harus bicara!” ucap Zaki. Ia langsung menarik lengan Lily untuk mengikutinya. “Stop!” seru Ahmad. “Kamu kalau kuperhatiin selalu nyelonong. Tak lihat Lily menesu begitu.” Namun, tak sesuai perkiraan Lily mau saja. Ahmad menghentikan mereka. “Lily, aku harus berbicara denganmu. Ini penting!” “Lily, kamu mau ikut dia atau aku?” tanya Zaki. Ia tidak melepaskan tangannya di lengan Lily. Dengan lemah Lily menunjuk Zaki. Ahmad tampak kecewa. Padahal ia teman Lily dari kecil, kenapa tiba-tiba temannya itu jadi dekat dengan Zaki yang bahkan tidak pernah terlihat berbincang berdua sebelumnya. “Lily, mana bisa begitu …,” ucap Ahmad. Ia masih tak rela Lily membuangnya begitu saja. “Nanti kita pulang bareng. Kamu bisa bertanya saat itu,” jawab Lily. “Hum, baiklah kalau begitu,” ujar Ahmad. Ia memandangi kepergain Lily dengan perasaan tak karuan. Tapi, sebagai sahabat ia memilih mengalah. Zaki memilihkan tempat yang sepi di dekat ruang praktikum. “Kenapa kamu balik lagi ke sana, Lily?” tegur Zaki. Tampaknya ia sangat murka. “Kamu itu anak baik-baik. Tidak tahukah kamu tempat apa itu!” Lily menutup wajahnya dengan tangan dan mulai menangis. Emosi yang ditahannya semalam kembali menyeruak. “Ah, maafkan aku karena berteriak,” ucap Zaki serba salah. Lily duduk di tepi beton yang digunakan sebagai pot. Ia terisak di sana. “Ya ampun, Lily. Aku minta maaf!” ucap Zaki sekali lagi. Ia pun duduk di samping gadis itu dan berbicara dengan nada lebih pelan. “Kamu jangan ke sana lagi. Itu tempat berbahaya. Aku sudah mencari tahu dari kenalanku kalau tempat itu adalah tempat jual beli perempuan.” Glek! Tangis Lily makin keras saat mendengar penuturan Zaki. “Melihatmu di sana. Itu sangat menyakitiku, Lily. Aku tidak tahu apa kasusmu, tapi kamu bisa minta bantuan pada orang tuamu untuk menanganinya. Aku memang hanya anak muda sepertimu yang tidak bisa apa-apa, tapi orang tuamu dan orang dewasa lain pasti bisa.” “Orang tuaku … orang tuaku yang mengizinkan pria itu membawaku.” “Eh? Mereka menjualmu?” tanya Zaki hati-hati. “Entahlah! Mereka pikir pria itu mau menikahiku.” “Astaga! Apa mungkin orang tuamu ditipu?” “Entahlah! Aku sudah memberitahu mereka, tapi mereka tidak peduli. Mereka terus mengirimkanku pada pria itu.” “Astaga! Lily! Ya ampun!” “Mereka tidak mau mendengar pejelasanku karena telah mendapat sesuatu dari pria itu …. Aku—aku sungguh tidak tahu lagi. Hiks!” Lily kembali menangis. Zaki tak tega melihatnya. Ia pun merangkul Lily dan menepuk punggungnya pelan. Mencoba memberi kekuatan. Mereka di posisi itu cukup lama sampai Lily merasa lebih tenang. “Apa itu yang membuatmu seperti habis menangis setiap datang ke sekolah?” Lily tak menjawab. Ia sibuk menghapus air mata di pipi. “Mau aku bilang ke orang tuamu supaya mereka sadar? Aku akan membawa teman yang benar-benar tahu tempat itu untuk memberi kesaksian.” “Aku tidak tahu apa mereka bakalan mau mendengarnya.” “Tentu saja mereka akan dengar. Mereka kan orang tuamu!” Degh! Sesuatu terbersit di benak Lily. Mereka kan bukan orang tau yang bertalian darah dengannya … apa mereka akan dengar? Atau karena itu akhirnya ia digadaikan demi dalil hutang budi? Nyes! Rasa nyeri menjalar. “Kenapa? Kenapa terdiam begitu?” tanya Zaki panik. Lily hanya bisa memandangi Zaki dengan aksa yang memerah saga. Ia tidak bisa menceritakan itu padanya. Ahmad mungkin bisa. Sepertinya ia memang harus menceritakannya pada Ahmad. “Bukan apa-apa. Hm, ayo kembali.” “Iya, kita harus kembali atau aku akan dilempar bola basket oleh Ahmad. Oia, aku akan mulai mencari tahu soal tempat itu dan mengumpulkan bukti. Pokoknya sebisa mungkin jangan ke tempat itu lagi atau kamu akan benar-benar dijual.” “Iya, aku akan mencari cara. Terima kasih atas bantuannya. Aku harus ke kamar mandi dulu untuk mencuci muka.” “Bye, Lily. Tetap semangat. Jangan menyerah. Ok!” Lily hanya menyahuti dengan senyuman lemah sebagai jawaban. *** Sementara itu Ahmad menunggu dengan sabar sampai pulang sekolah. Saat bel berbunyi, ia langsung duduk di meja Lily khawatir gadis itu kabur. “Kamu tidak lupa janjimu, kan?” Lily mengangguk lemah.                  “Mau ngobrol di mana?” “Terserah. Yang penting jauh dari orang-orang.” “Hm, oke! Aku tahu tempat yang bagus. Nanti aku tak minta tolong Farid membawakan sepedamu biar nanti kita boncengan.” Ahmad sekolah pakai sepeda motor karena keluarganya memang cukup mampu. Memang bisa saja Lily menumpang, tapi ia lebih suka bawa sepeda sendiri. Apalagi Ahmad juga sibuk latihan basket jadi “Biar gak dikira bolos sekolah, kamu pakai ini saja.” Ahmad mengangsurkan jaket basket miliknya. Sedangkan ia sendiri melepas seragam putihnya hingga hanya tersisa kaos hitam polos yang biasa ia pakai saat main basket. Saat mereka berjalan ke tempat parkir tiba-tiba Lily ingat sesuatu. “Kamu bawa motor apa?” “Kenapa?” Sebenarnya Lily mau bilang jika ia tidak nyaman karena pake rok kalau naik sepeda besar, tapi ia tak jadi mengatakannya. Rasanya jadi rewel kalau mintanya macem-macem. Untunglah Ahmad membawa motor matic. “Bukan—bukan apa-apa.” Pemuda itu mengeluarkan helm dari jok dan meminta Lily mengenakannya. “Sepadaku bagaimana?” tanya Lily. “Sebentar, aku telepon Farid dulu.” Farid kalau ke sekolah naik mobil makanya Ahmad mau menitipkan sepeda Lily padanya. “Bawakan sepeda Lily ke rumahku, kalau ditanya ibuk bilang saja anaknya kencan!” Suara tawa Farid kedengaran dari seberang telepon. Bibir Ahmad mengucap sorry tanpa suara. “Yok! Berangkat sekarang.” *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN