Bab 33. Surat yang Disabotase

1202 Kata
 *** Video itu sampai juga di Fajar dan Qomar. Awalnya video itu tampak biasa bagi Fajar, tetapi Qomar langsung melihat perbedaannya. “Bukannya ini Mas Dimas?” tanya Qomar. “Mas Dimas siapa?” “Calonnya Kak Lily.” “Masa?” Fajar mengambil alih ponsel itu dan melihat video pendek tersebut dengan seksama. Ia mengamatinya sembari mencocokkan orang dalam video dengan Dimas dalam ingatannya. Tak seberapa lama, ia pun menemukan apa yang dimaksud Qomar. “Kamu benar. Pria ini persis seperti Mas Dimas, calon kakak ipar kita.” Fajar lalu mencari bukti lain di antara banyak gadis yang ada di foto. Ia mencari kakaknya. Dan benar saja, ia melihat siluet kakaknya yang saat di foto itu sudah berganti rambut pendek. Artinya, ini adalah foto baru. “Ini Kak Lily, bukan?” tanya Fajar sembari menyerahkan video yang sudah di-pause. Ia membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. Ada rasa was-was jika Qomar turut mengiyakan. Qomar mengambil alih ponsel tersebut. Ia menahan napas dan memfokuskan diri. Saat ia bisa mengenali kakaknya, hembusan napasnya berubah berat. “Ini benar Kak Lily,” ucap Qomar membenarkan. “Hum, apa itu artinya apa yang diucapkan Kak Lily selama ini benar mengenai Dimas?” “Sepertinya memang benar,” terang Qomar. “Ah, ya ampun!” Fajar tampak terhenyak. Ia merasa menyesal telah salah sangka pada kakaknya. “Kita harus bagaimana sekarang?” “Kita harus melaporkan semua ini pada bapak. Biar bapak tahu kalau Mas Dimas itu tidak sebaik kelihatannya.” “Ya—ya! aku setuju. Aku juga kasihan karena Kak Lily tidak bisa keluar rumah sama sekali.” “Nah, makanya.” Keduanya lantas menyembunyikan ponsel tersebut karena guru sudah masuk kelas. Rencananya setelah sekolah bubar, mereka akan melaporkan penemuan video tersebut pada bapaknya. *** Hari pulang dengan tas penuh jajan dan mainan dari Ahmad. Di rumah, ia disambut sang ibu. “Uh, anak ibu sudah pulang.” Hari tersenyum senang. Ia bersalaman dengan sang ibu dan naik ke pangkuan ibunya yang saat ini tengah duduk di amben depan rumah. “Hari ini Hari rajin sekali.” “Benarkah?” “Iya. Makanya Kak Ahmad memberikan hadiah dan jajan yang banyak untuk Hari.” “Wah senangnya. Mana hadiahnya, ibu mau lihat.” “Tapi sebelum membuka hadiahnya, Kak Ahmad berpesan untuk memberi Kak Lily jajan. Sebelum jajannya sampai kepada Kak Lily, Hari belum boleh membuka hadiahnya.” Alis Bu Salamah bertaut. Ia memasang alarm curiga. “Mana jajan yang dibilang Kak Ahmad bakal diberikan Kak Lily? Ibu mau lihat!” “Kak Ahmad bilang jangan beritahu siapa-siapa dan suruh langsung kasih ke Kak Lily. Katanya biar Kak Lily cepet sembuh.” “Ibu mau lihat dulu!” desak Bu Salamah. Hari agak takut dengan gertakan ibunya, jadi ia mengeluarkan snack yang dimaksud. Tampak sebuah snack wafer rasa vanila. Ukurannya tanggung dan tampak biasa. Tapi, itu sebelum dicermati secara menyeluruh. Karena setelah ditelusuri oleh Bu Salamah, tampaklah sesuatu yang berbeda. Snack itu ada bekas dibuka dan direkatkan kembali. Pun saat dipegang terasa ada benda lain selain wafer. Rasa-rasanya mungkin sebuah kertas yang terlipat. Apa itu sebuah surat? batinnya. “Sini, Bu. Biar aku kasihkan ke Kak Lily.” Bu Salamah menggeleng. “Ini biar ibu saja yang kasihkan, bagaimana?” “Kata Kak Ahmad. Biar aku saja.” “Kan Hari harus membuka hadiahnya. Hadiah ini biar ibu yang berikan Kak Lily,” rayu Bu Salamah. “Kata Kak Ahmad, biar aku saja,” ucap Hari bersikeras. Bu Salamah tampak berpikir. Jika memang di dalam snack ini ada surat rahasia yang dikirim oleh Ahmad, maka ia harus tahu apa isinya sebelum menyerahkannya pada Lily. Ia harus merayu putra bungsunya agar bisa dialihkan perhatiannya. “Kalau begitu, biar Hari ganti baju dulu, lepas sepatunya juga. Baru kasihkan kakak, bagaimana?” Hari mengangguk menyetujui. Keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Namun, dengan dua keinginan yang berbeda. Saat Hari sibuk ganti baju, Bu Salamah segera membuka wafer tersebut dan mengambil suratnya. Merapikan bekasnya dan mengembalikannya di tempat semula. Hari kecil yang tidak tahu apa-apa dengan patuhnya menyerahkan snack tersebut kepada Lily. *** Lily tengah membaca buku saat Hari mengetuk jendela kamarnya. “Kak Lily!” sapa Hari. Jendela yang memang menjadi favorit Lily untuk menghabiskan hari, menyambut adiknya dengan suka cita. “Hari, bagaimana kabarnya?” tanya Lily. “Aku baik, Kak Lily.” “Benarkah! Senangnya .... bagaimana sekolahnya?” “Sekolahnya juga baik. Malahan Hari termasuk sangat rajin.” “Aha! Benarkah?” “Iya. Makanya Hari juga dapat hadiah.” “Wah! Hari pintar sekali, ya! Adik Kak Lily memang terbaik!” “Dan ini juga ada hadiah untuk kakak,” ucap Hari seraya menyerahkan snack dengan bungkus biru tersebut. “Apa ini?” “Ini dari Kak Ahmad. Katanya biar Kak Lily cepat sembuh.” Aksa Lily berbinar. Pasti ada sesuatu dalam bungkusan snack ini. Gadis itu dengan semangat membukanya, akan tetapi saat ia melihat ada bekas bukaan yang tak rapi pada bungkusnya, semangatnya langsung luntur. “Kak Lily gak suka, ya?” tanya Hari begitu melihat wajah kecewa kakaknya. “Ah, bukan begitu ....” Tak ingin mengecewakan adiknya, mau tak mau Lily tetap membuka bungkusnya, tetapi ekspresi wajahnya tampak dipaksakan. Sesuai dugaannya, tak ada apa-apa dalam isinya. Hanya wafer biasa. Yah, setidaknya ini rasa vanila kesukaannya, batinnya menghibur diri. “Kak Lily cepat sembuh, ya! jangan sakit terus. Hari ingin belajar sama kakak, biar pintar seperti kakak.” “Tentu, kakak akan cepat sembuh. Hari jangan khawatir, ya.” “Iya. Pokoknya Hari akan doakan kakak biar kakak cepat sembuh.” “Terima kasih adikku yang baik hati.” “Oia, Hari pergi dulu, ya. Mau buka hadiah.” “Hadiah apa?” “Hadiah dari Kak Ahmad. Katanya karena Hari rajin sekolah.” “Wah, selamat, ya!” Hari sudah beranjak pergi, tetapi Lily memanggilnya lagi. “Ada apa, Kak?” “Oia, apa ada yang memegang wafer ini selain kamu?” tanya Lily dengan suara pelan. Khawatir kecurigaannya terdengar orang yang dicurigainya. Hari berpikir sejenak sebelum berujar, “Ibu.” Degh! “Ibu tadi menawarkan diri untuk memberikannya pada Kak Lily. Namun, Hari tidak membolehkannya karena kata Kak Ahmad harus diserahkan diam-diam dan hanya Hari sendiri yang harus menyerahkannya pada Kak Lily.” “Jadi Hari langsung menyerahkannya pada kakak begitu tiba di rumah?” “Iya. Tadi ganti baju dulu baru kasihkan ke kakak.” “Baiklah. Kak Lily mengerti. Terima kasih ya, Hari!” Lily menatap wafer terbuka di sampingnya. Wajahnya menyiratkan kekecewaan karena ibunya telah menyabotase surat yang ditujukan untuknya. Ia tak bisa menduga apa isi surat itu, tapi harusnya itu sesuatu yang penting. Dan di kamar sebelah, Bu Salamah tengah membuka surat yang tadi diambilnya dari bungkus snack. Niat hati ingin melihat isi dari surat itu, tapi apa yang tertulis di sana membuatnya terpengarah. Isinya bukanlah surat melainkan berbaris-baris angka. Sangat banyak hingga memenuhi semua lembar suratnya. Beliau menggigit bibir dan berpikir. Meski ia tidak bisa membacanya karena bersandi, tetapi sebagai orang tua yang sudah merasakan asam garam kehidupan, ia tahu isi surat ini pasti penting. Dan penting itu, bisa jadi bakal berbahaya jika sampai benar dibaca oleh Lily. Jadi untuk kebaikan banyak orang, Bu Salamah memilih menyimpan surat itu untuk dirinya sendiri. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN