***
“Aku pulang!”
Suara Pak Majid terdengar dari pintu depan.
Bu Salamah buru-buru menyembunyikan surat tersebut di bawah kasur lalu ke luar kamar untuk menyongsong sang suami.
“Buk ... ibuk!” panggil Pak Majid. Suaranya tampak ditegaskan meminta Bu Salamh untuk segera menghampiri.
“Ya, aku segera ke sana,” sahut Bu Salamah dari dalam kamar.
Bu Salamah memenuhi panggilan Pak Majid dan menemuinya di ruang tamu.
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Salamah. Entah apa gerangan yang membuat suaminya sampai buru-buru mencarinya begitu masuk ke rumah. Padahal biasanya tidak demikian.
Namun, alangkah kagetnya Bu Salamah melihat suaminya datang dengan membawa banyak belanjaan. Supir dan kernet masih mengangsur beberapa barang dari angkot ke dalam rumah.
“Apa—apaan semua ini?” tanya Bu Salamah. Ia melihat satu karung bawang merah dan bawang putih. Satu plastik besar cabai merah, cabai rawit, tomat, rempah-rempah, daun bawang juga aneka bumbu dapur yang lain. Berkarung-karung beras pulen, beras ketan, tepung terigu. Kelapa berjanjang-janjang, telur bertingkat-tingkat, minyak goreng, gula, dan juga kopi. Tahu, tempe, ikan nila dan bandeng yang besar-besar, beberapa ekor ayam yang masih hidup, juga sayur mayur beraneka rupa.
Pak Majid tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri karena ia masih sibuk memberi instruksi penurunan barang-barang belanjaan.
“Belanjaan siapa semua ini, Pak?” tanya Bu Salamah sekali lagi.
“Nanti bapak cerita, sekarang bapak harus mengurusi ini dulu. Bantuin sini!”
Bu Salamah tak punya pilihan lain selain membantu.
Setelah semua barang selesai diturunkan, Pak Majid memberi tips kepada supir dan kernet yang telah membantunya menurunkan barang.
“Terima kasih, Pak! Semoga acaranya lancar,” ucap Pak supir tersebut.
“Sama-sama, Pak! Hehe ....” Tawa renyah Pak Majid seakan memberi pertanda bahwa ia tengah bahagia.
“Ini apa, Pak?” tanya Bu Salamah sekali lagi.
“Ini untuk hajatan anak kita!”
“Hajatan apa?” tanya Bu Salamah tak mengerti.
“Lily akan menikah?”
“Menikah? Menikah bagaimana?”
“Ya, menikah lah! Kok, menikah bagaimana?”
“Maksud ibu, menikahnya kapan sampai bapak beli semuanya sekarang?”
“Menikahnya besok malam!”
“Eh?”
Bu Salamah mengelus d**a, bingung dengan pengumunan tiba-tiba ini. Namun, ia merasa ada yang janggal.
“Tunggu dulu! kita bahkan belum mendaftarkan pernikahannya ke KUA dulu?”
“Karena Mas Dimas harus pergi ke luar Jawa minggu depan, dia mengusulkan pernikahannya dimajukan. Kalau tidak dimajukan, nanti bakalan diundur lama.”
“Dan Bapak mau saja?” omel Bu Salamah. Ia tidak pernah suka dengan ide nikah siri. Kendati nikah siri bukanlah hal yang bertentangan dengan agama.
“Ya, mau! Memang apa alasan untuk menolak?”
“Harusnya bapak meminta waktu agar kita bisa mempersiapkan pernikahan negara. Kalau besok malam terus bagaimana jadinya Lily?”
“Ibu ini mikirnya jangan aneh-aneh! Yang penting Lily menikah, ada suami yang bakal menanggungnya, sudah! Bapak gak mau minta yang muluk-muluk. Nikah resmi kan gampang, tinggal sidang isbat saja setelah nikah siri. Lagian kapan lagi kita punya menantu seperti Mas Dimas. Lihat semua belanjaan ini! ini semua uang dari Mas Dimas supaya kita bisa bikin acara yang layak untuk Lily.”
“Hum!” Bu Salamah masih ingin membantah, tetapi suaminya langsung menyela.
“Sudah! Tidak ada waktu lagi. Kamu segera undang ibu-ibu tetangga untuk membantu masak-masak. Cepat!”
“Kita bahkan belum bilang sama Lily! Apa jadinya jika ia tahu kalau lusa bakal menikah?”
“Tinggal dikasih tahu saja, kan?”
“Iya, tapi apa ia mau?”
“Ya, harus mau! Toh jika gak mau, dia juga gak berhak menolaknya. Anak gadis itu apa kata walinya.”
“Lily sepertinya masih ingin sekolah.”
“Aduh! Buat apa sih, sekolah? Kuliah juga buat apa? anak perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi. Sudah! Kamu itu gak usah banyak mikir. Nurut saja apa kataku. Sekarang segera buat janji sama ibu-ibu biar nanti malam kita guyub rukun mempersiapkan acaranya.”
“Tapi, ini terlalu mendadak,” ucap Bu Salamah. Tampaknya ia masih ingin menundanya. Ia juga belum tahu apa respons Lily saat mendengar keputusan ini.
“Maka dari itu ... karena mendadak, bapak langsung belanja banyak tadi. Ini masih kurang buah-buahan. Tadi bapak sudah minta untuk diantar ke sini secara terpisah. Takut rusak tertimpa banyak barang.”
“Bukan tentang hajatannya, Pak! Tapi, apa Lily bakal baik-baik saja.”
“Mau baik-baik saja atau tidak. Lusa, pernikahan akan tetap terlaksana. Sudah! Bapak sibuk ini.”
“Mau ke mana?” tanya sang istri begitu melihat Pak Majid sudah bersiap mau pergi.
“Mau ke rumah Pak Haji. Mau minta bantuannya untuk menikahkan Lily besok malam!”
Bu Salamah hanya bisa terpekur. Apa tidak apa-apa jika Lily menikah secara siri begini? akan tetapi, keputusan sang suami tampaknya juga sudah bulat, mau tak mau ia juga harus menjalaninya.
Sebelum memberitahu orang-orang perihal hajatan, terlebih dahulu ia harus memberitahu Lily.
Ia lantas masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar Lily.
Lily tak menyahut. Ia yang sudah mendengar inti dari diskusi orang tuanya yang nyaring tadi tak lagi semangat. Ia menutupi wajahnya dengan bantal dan mulai terisak. Ia sakit hati, kecewa, dan juga marah.
Buku yang belum habis dibacanya tergeletak tak beraturan di meja. Wafer rasa vanila itu juga ikut tergeletak. Isinya baru terambil beberapa. Tampaknya gadis itu langsung membenamkan diri di antara bantal karena tidak ingin mendengar putusan nasibnya.
Bu Salamah tahu-tahu sudah ada di samping ranjang. Duduk di sisi putrinya yang tengah menangis.
“Kamu sudah dengar yang ibu bincangkan sama bapakmu, kan?”
Hening.
“Besok malam, kamu akan menikah dengan Mas Dimas. Kamu akan menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri. Meski hatimu terasa berat. Tolong berbahagialah. Demi hidupmu, demi masa depanmu.”
Lily ingin membantah. Ia sama sekali tidak bahagia. Ia benci. Ia tak terima menjalani masa depan seperti itu. Gadis itu punya masa depan sendiri yang ingin diraih dan menikah dini sama sekali tidak ada dalam kamusnya. Hanya saja, apakah ada yang berbeda jika ia protes?
Orang tua yang kolot itu tak akan mendengarnya. Tak peduli pada mimpinya. Tak peduli pada apapun keinginannya.
“Lily! Tolong jangan berpikir buruk pada keputusan kami. Ini demi kebaikanmu sendiri.”
Lily muak mendengar penuturan ibunya. Ia tak ingin mendengar lagi.
“Aku ingin sendiri!” ungkap Lily. “Tinggalkan aku sendiri.”
“Baiklah! Ibu akan meninggalkanmu sendiri, berpikirlah masak-masak.”
Bu Salamah sudah bersiap mengunci pintu kamar, tapi ucapan Lily menghentikannya.
“Tolong kembalikan surat untukku. Ibu menyembunyikannya, kan? Berikan padaku. Aku ingin melihatnya.”
Tangan Bu Salamah terhenti di udara. Ia tak menduga Lily menetahui itu. Pasti karena bungkus wafer yang terkoyak. Namun, ia tak menggubris Lily dan lanjut mengunci pintu kamar. Seolah Lily adalah tahanan rumah yang tidak boleh kabur sama sekali.
***