***
Lily sangat kecewa. Bahkan surat untuknya tidak bisa dibaca olehnya. Kenapa keluarga ini begitu tega padanya seolah dia bukanlah siapa-siapa? apakah tak ada kasih sayang yang tersisa untuknya setelah diasuh sedemikian lama. Kenapa sikap keluarganya membuat Lily selalu berpikir bahwa dia adalah orang asing yang tersesat?
Namun, sejurus kemudian Bu Salamah kembali. Ia menyelipkan kotak berlipat yang adalah surat dari Ahmad.
Gadis itu segera menyambar surat tersebut dan membukanya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat jika yang ada di sana bukanlah rangkaian kata melainkan deretan angka yang sangat banyak.
“Apa ini?” gumam Lily.
Gadis itu segera duduk di meja belajar dan mulai menganalisa.
Sementara itu sang ibu sudah mulai mendatangi rumah para tetangganya guna meminta bantuan nanti malam untuk bantu-bantu masak. Ia juga menghubungi ibu-ibu tukang masak yang biasa bantu-bantu hajatan.
Sebagai wanita yang bertanggungjawab untuk urusan dapur, Bu Salamah mempersiapkan sedemikian rupa. Toh, baru kali ini ia bisa bikin acara yang terhitung besar tanpa sibuk memikirkan biaya sama sekali. Uang dalam kotak penyimpanan juga sangat banyak. Itu jumlah terbanyak sejak dirinya mulai hidup berumah tangga.
Memikirkan uang yang banyak tak urung mengembalikan semangat Bu Salamah yang tadi sempat menurun. Ia jadi berpikir, jika Lily bisa memiliki uang sebanyak itu setiap hari, urusan hati pasti akan mengikuti.
***
Si kembar buru-buru pulang ke rumah segera setelah bubar sekolah. Mereka hendak memberitahu perihal video tersebut kepada orang tuanya. Namun, betapa kagetnya mereka saat melihat banyak bahan makanan di rumah. Sangat banyak sampai terasa seperti sebuah toko yang baru buka. Terlebih lagi saat mereka tiba, bapaknya tengah serius membantu menurut berkotak-kotak buah-buahan. Buah yang beraneka rupa yang rasa-rasanya tidak pernah sekalipun dilihat dari sekat oleh mereka.
“Ada apa dengan rumah kita, Jar?” tanya Qomar.
“Gak tahu! Ayo, cepat!”
Qomar ikut berjalan cepat, setengah berlari mengimbangi Fajar. “Jangan bilang Kak Lily mau menikah ....”
“Jangan sampai!” pungkas Fajar tidak terima. Ia segera berlari agar cepat sampai. Pertama ia harus mencari orang tuanya untuk bertanya. Untungnya ia melihat bapaknya tengah ada di teras. Beliau tengah menunkan sekotak jeruk warna jingga cerah.
“Pak, ada apa?” tanya Fajar. Ia mengedarkan pandangannya pada berkotak-kotak buah yang ada di halaman. “Kenapa banyak makanan di rumah kita?”
“Oh! Kalian sudah pulang sekolah. Sana cepat ganti baju. Bantu bapak memindahkan ini semua. Sebentar lagi tarup dan sound sistem juga akan dipasang.”
“Memangnya ada apa?” tanya Fajar. Jantungnya berdegup kencang. Khawatir apa yang tengah ditakutkannya jadi kenyataan.
“Ada apa lagi! kakakmu mau menikah!”
Degh!
Fajar terpengarah. Bahunya merosot. Hampir saja ia oleng kalau tidak dipegangi oleh Qomar.
“Memangnya Kak Lily menikah kapan?” Qomar bertanya menggantikan Fajar.
“Besok malam. Pas malam Rabo. Besok kalian izin sekolah dan bantu-bantu.”
“Kenapa mendesak, Pak? Sepertinya kemarin-kemarin belum ada wacana menikah secepat ini?” tanya Qomar. Ia berusaha menyembunyikan kecurigaannya dan menggali informasi sebanyak mungkin dari bapaknya.
“Mas Dimas harus mutasi ke luar Jawa untuk urusan pekerjaan. Daripada ditunda dan akhirnya gak jadi, lebih baik dicepatkan saja.”
“Kalau dicepatkan ya gak kekejar surat nikahnya, Pak?”
“Kalian ini tahu apa! asal halal saja. Biar kalau Lily ikut Dimas sudah sah di mata agama.” Pak Majid berhenti mengangkat dan sibuk mengelap keringat.
“Bapak tidak curiga?” tanya Qomar. Ia mencoba memasukkan pembicaraan pelan-pelan lalu membahas soal video.
“Kalian ini daripada sibuk bertanya mending bantuin sini,” omel Pak Majid.
“Anu, Pak! Kami melihat video yang membahas tentang Mas Dimas.”
“Video apa?”
“Ini biar bapak yang lihat dan menilai sendiri. Fajar mana ponselnya!”
Fajar mengeluarkan ponsel dari saku celana. Mencari video yang dimaksud dan menyerahkan pada bapakanya. Ia juga sudah meng-screen shoot bagian seperi Lily dan Dimas.
Pak Majid melihatnya dengan seksama.
Si kembar sudah berharap akan mendapat respons positif melihat betapa seriusnya sang bapak mengamati video tersebut.
“Ini hanya video biasa yang dibuat untuk menjatuhkan Dimas. Siapa tahu itu cuma urusan pekerjaan jadi Dimas dengan terpaksa bertemu gadis-gadis itu. lagi pula dari sekian banyak wanita-wanita itu hanya Lily yang dirangkul. Artinya dari sekian banyak fitnah itu hanya kakakmu yang spesial dan dinikahi. Sudah berhenti cari tahu yang tidak-tidak.”
Pak Majid segera mengembalikan ponsel tersebut.
“Tapi, Pak! Bukannya lebih baik kita mencari tahu dulu kebenarannya?” pinta Qomar.
“Benar!” sahut Fajar semangat. “Bukannya video ini tidak serta merta ada tanpa sebab? Kita harus mencari tahu kebenarannya sebelum terlambat!”
“Apanya yang terlambat? Kalian ini jangan membuat rusuh. Pernikahan ini harus terjadi. Sudah tidak ada kata kembali. Kalian kalau tidak mau membantu, pergi sana. Bikin ribut saja!”
Pak Majid mengusir si kembar dan kembali sibuk mempersiapkan acara.
Sadar bapaknya tidak mungkin lagi bisa dimintai bantuan. Mereka mencari sang ibu. Namun, sang ibu malah terlihat lebih sibuk dari sang bapak.
“Buk! Kami punya sesuatu untuk ditunjukkan,” ujar Fajar. Ia barusaha menyela di antara kesibukan sang ibu memberi instruksi.
Sang ibu belum ngeh dengan panggilang Fajar karena sibuk mempersiapkan dapur tambahan di belakang rumah. Sekarang sudah ada berbagai macam panci ukuran besar, wajan penggorengan juga piring dan sendok tambahan hasil sewaan.
“Bu, ada yang mau Fajar omongin.”
“Ah! Fajar! Ada apa? ibu lagi sibuk. Kamu kok belum ganti baju?”
“Iya. Sebentar lagi. Aku mau bicara sama ibuk. Penting!”
“Ya, sudah! Ngomong saja!” ucap Bu Salamah. Namun, tentu saja ia tidak bisa fokus. Belum apa-apa ia sudah berujar hal lain. “Siti, sepertinya airnya kurang. Kamu pinjam lagi tampungan air, gih.”
Siti adalah orang yang sengaja disewa untuk bantu-bantu urusan umum. Terkadang juga kebagian mencuci piring-piring kotor dan menyapu.
“Pinjam berapa lagi?” Siti balik bertanya.
“2 lagi. Juga jangan lupa ingatkan Mak Atun untuk datang sore ini. Mau diskusi dulu ini apa saja yang kurang. Biar masih sempat dibelikan kekurangannya. Maklum yang belanja tadi si bapak. Takutnya ada yang terlewat.
Bu Salamah juga memberikan instruksi pada orang yang memasang terpal besar sebagai atap dapur sementara.
“Pastikan kandang kambingnya tertutupi. Itu masih ada sepasang kambing. Kalau mengembek terus mengganggu orang-orang yang lagi bantu-bantu.”
“Baik!”
Fajar kembali mendekati ibunya.
“Bu ... ini sangat penting! Ini menyangkut Mas Dimas dan Kak Lily.”
Bu Salamah tampak mendengus. Ia lantas meminta tetangganya ganti memberi intsruksi menggantikannya.
“Ada apa sih, Fajar! Kamu gak lihat ibu sibuk? Sudah ngomong di sini saja.”
“Tapi, ini penting, Bu!” rengek Fajar.
Qomar yang ada di samping Fajar ikutan memohon.
“Baiklah! 5 menit saja!” ucap Bu Salamah akhirnya mengalah.
***