Bab 36. Patah Hati

1017 Kata
*** Si kembar mengajak sang ibu ke tempat yang sedikit sepi. Mereka mengulang penjelasan yang sama seperti saat mereka menjelaskan pada sang bapak. Raut wajah Bu Salamah tampak tidak baik-baik saja saat melihat foto dan video tersebut, tetapi respons yang ditunjukkan membuat si kembar kecewa. “Semua sudah kejadian. Lagi pula, pernikahan juga tinggal besok. Apa hendak dikata.” “Masih bisa!” ujar Fajar memaksa. “Bisa bagaimana. Memangnya siapa yang bakal mengganti semua ini nanti. Semua bahan makanan dan t***k-bengek ini dibelikan Mas Dimas.” “Tapi, kasihan Kak Lily dong! Mending rugi biaya daripada rugi masa depan kakak!” “Kalian ini dapat itu dari mana?” “Dari grup RT. Kak Ahmad yang mengirimnya.” “Oh! Kalau Ahmad yang ngirim, pasti itu hanya rekayasa. Kamu juga tahu, Ahmad itu suka sama kakakmu. Pasti ia ingin menghancurkan pernikahan kakakmu. Sudah! Ibu kira apaan. Sekarang ibu mau kembali sibuk. Kalau kalian tidak mau bantu-bantu ya, jangan bikin rusuh. Pekerjaan ibu masih banyak. Oh! Ibu belum memesan tukang make up! Aduh! Untung ingat!” ucap Bu Salamah yang segera pergi meninggalkan si kembar. Fajar terlihat sangat kecewa. Qomar segera menarik saudaranya ke kamar dan mendiskusikannya. “Bagaimana sekarang?” tanya Fajar. Ia masih duduk di ranjang sementara Qomar tengah ganti baju. “Kita harus tetap mengusahakannya,” jawab Qomar tenang. “Maksudmu?” “Kalau memang video ini dibuat oleh Kak Ahmad berarti Kak Ahmad sudah tahu soal ini. Kita minta tolong saja padanya.” “Ah, benar! Kita minta tolong saja padanya.” Fajar menjadi bersemangat. Secepat kilat ia ganti baju. Namun, sejurus kemudian ia berhenti. “Lalu Kak Lily bagaimana? Haruskah kita memberitahunya?” “Jangan dulu! kita saja belum tahu bakal seperti apa nanti. Salah-salah malah memberikan harapan palsu pada kakak.” “Baiklah!” “Tapi menurutku kita tinggalkan ponselnya di kakak saja. Nanti biar bisa koordinasi dengan Kak Ahmad.” “Sip! Aku setuju.” Keduanya dengan hati-hati memberikan ponsel di celah kecil yang biasa dipergunakan untuk memasukkan sepiring makanan di kamar kakaknya. Qomar yang memberikan sementara Fajar mengawasi sekitar. Takutnya terpergok bapak maupun ibunya. “Apa ini?” tanya Lily. Gadis itu merasa terganggu karena sejatinya ia tengah sibuk mengartikan angka-angka tersebut. Ia dibuat kerepotan mengartikan surat itu karena Ahmad tidak memasukkan kata kunci mengenai sandi apa yang dipergunakan. “Ini ponsel. Simpan ini, nanti aku akan menghubungi kakak lewat ponsel itu.” Qomar sengaja memberikan ponsel baru untuk kakaknya karena memang sejatinya itu ponsel kakaknya. Ponsel yang dibeli menggunakan uang kakaknya. “Kenapa? Sekarang kasihan sama aku?” ucap Lily sarkas. “Ehem!” Suara deheman Fajar membuat Qomar langsung kabur. Lily yang sedikit bingung, ikut menutup lubang itu karena ia tahu, ia tidak diperbolehkan menggunakan ponsel. Kalau ketahuan bakal bahaya. Untuknya juga untuk adik-adiknya.  “Ah! Ponsel!” Wajah Lily berbinar. Ia memasang mode diam dan mulai berselancar. Untung ada paket data di ponsel ini, batinnya. Ia harus mencari petunjuk bagaimana mengartikan angka-angka ini. Karena rumahnya mendadak ramai dan semakin banyak mata-mata penasaran yang melongok di jendela kamar, gadis itu segera menutup jendela dan menguncinya. Ia juga khawatir ketahuan karena sekarang tengah memegang ponsel. *** “Ibu bilang apa? Lily? Menikah?” tanya Ahmad. Aksanya berkedip cepat seolah berharap setiap ia membuka mata, apa yang didengarnya hanyalah gurauan semata. “Ibu memberitahumu karena kahwatir kamu bakal terkejut jika tahu belakangan.” “Kapan menikahnya?” tanya Ahmad. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Ia sendiri belum menyiapkan apa-apa terkait rencana kabur itu malahan mendengar berita seperti ini. “Besok malam!” Degh! “Tunggu—tunggu! Aku salah dengar, kan?” “Kamu tidak salah dengar!” ucap Bu Ifah, ibunda Ahmad. “Tetapi, itu terlalu mendadak. Aku tidak bisa mempercayainya.” “Kalau kamu tidak percaya, tanya saja Abahmu. Dia yang dimintai tolong Pak Majid untuk menikahkan Lily.” “Astaga! Ini tidak benar. Kalau Abah yang menikahkan, apa itu artinya Lily bakal nikah siri?” “Benar!” “Ya, ampun!” tubuh Ahmad merosot di kursi. Mendadak ia jadi tak semangat. Kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu. Pemuda itu mengepalkan tangan dan meninju kursi dengan keras. Tentu saja itu bukan apa-apa karena busa kursi memantulkan tenaganya. Bu Ifah menunggu dengan sabar. Pasti berat bagi Ahmad yang seluruh dunianya hanya diisi dengan Lily seorang. “Apa karena Lily masih di bawah umur jadi harus nikah siri?” tanyanya setelah lebih tenang. Ia tidak rela Lily harus menikah siri. Pernikahan yang tidak punya dalih hukum yang tegas. Pernikahan yang lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya. Bukannya malah meninggikan drajat perempuan, tetapi malah menjatuhkannya. Tak ada ikatan jelas yang bakal menjamin hak istri dan anak yang lahir dari hubungan itu. Jika memang sayang, kenapa tidak bersabar menunggu akad nikah yang seharusnya? “Kalau memang kendalanya soal umur, kan bisa dilakukan manipulasi dengan menaikkan usia Lily dari usia sebenarnya.” Ahmad sering mendengar bahwa praktik saperti itu juga sering dilakukan. “Kenapa harus menikah siri?” lanjutnya dengan ekspresi kecewa.  “Menurut abahmu, bukan umur yang jadi alasannya. Katanya calonnya itu bakal kerja di luar Jawa. Makanya disegerakan. Takutnya, keburu gak jadi kalau LDR. Soalnya Pak Majid terlalu sayang sama calon mantunya itu. Ahmad menarik napas panjang. Kepalanya tertunduk. Ia benar-benar patah hati. Rasa-rasanya bukan lagi temannya yang menikah, melainkan kekasihnya. “Ibu tahu kalau kamu menyukai Lily, tapi kali ini kamu harus menyerah. Sudah, relakan saja. Kalian mungkin tidak berjodoh.” Ahmad tidak menyangkal hal itu. Ia memang menyukai Lily. Jika melihat bagaimana patah hatinya saat mendengar kabar Lily bakal menikah, memang benar Lily telah menempati tempat khusus di hatinya. s**l! Ia ingin menangis sekarang. “Apa ibu sudah dengar gosip sebelumnya kalau Lily mau menikah?” tanya Ahmad. Suaranya sengau. Menahan diri untuk tidak menangis. “Sejak Lily tidak diperbolehkan sekolah, ibu sudah berfirasat kalau sebentar lagi pasti Lily bakal menikah, tapi ibu tidak mengira akan secepat ini.” “Benar, kan? Pasti orang itu ketakutan karena videonya tersebar. Makanya mempercepat pernikahannya. Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan Lily menikahi orang seperti itu.” “Ahmad!” tegur seseorang di belekang mereka. Keduanya menoleh ke belakang. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN