Bab 37. Permohonan Si Kembar

1049 Kata
*** Ahmad dan juga Bu Ifah menoleh ke belakang. Melihat siapa yang menginterupsi mereka. Seorang pemuda jangkung dengan wajah yang mirip Ahmad. Dia adalah Arman, kakak kandung Ahmad. Usianya awal 20-an. Semester akhir perkuliahan. “Kamu tidak perlu ikut campur urusan keluarga Lily.” “Memang kenapa? Kalau ada yang kurang benar dari hubungan mereka, sudah seyogyanya aku sebagai temannya untuk membantu.” “Hum .... apa itu benar atas dasar teman? Kamu suka padanya, kan? Videomu ciuman itu sudah mempermalukan keluarga. Jangan ditambahi tingkah lakumu yang membabi-buta. Lily juga gak akan suka kamu ikut campur. Toh, kamu juga gak bakal bisa bantu apa-apa.” “Kata siapa Lily aku tidak bisa membantu?” “Memangnya kamu bisa bantu apa? sudah kubur mimpimu itu.” “Suka-suka aku!” tantang Ahmad. “Sudah! Sudah!” tegur Bu Ifah. “Apa-apaan kalian ini. malah bertengkar di sini.” Ahmad mengerucutkan bibir. Sebagai anak bungsu, ia memang tergolong bebal. “Awas saja kalau kamu ikut campur,” ancam Arman. Glek! Ahmad membuang muka, sebal. Apapun ucapan kakaknya tidak akan menggoyahkan keinginannya. Ia tak akan menyerah begitu saja. Apalagi ia punya barang titipan Lily. Barang yang digunakan sebagai bekal kabur. Ish! Ahmad menggaruk kepalanya, kesal. Bingung dan kecewa menjadi satu. “Kak Ahmad ....” Suara panggilan terdengar dari luar. Ahmad buru-buru bangkit untuk melihat siapa yang datang mencarinya. Ia tampak terkejut saat melihat si kembar di depan rumah. “Mencariku?” tanya Ahmad. Si kembar mengangguk. Ahmad memandang si kembar dengan tatapan menyelidik. Anehnya, Fajar tampak bersembunyi di belakang Qomar seolah menghindari tatapan Ahmad. Ahmad langsung paham jika ada hal penting yang hendak mereka sampaikan. “Tunggu sebentar! Aku akan ganti baju.” Ahmad buru-buru masuk ke rumah. Tak mengindahkan ibu dan kakaknya dan langsung menuju kamar, menutup pintu dan berganti pakaian. Namun, Arman nyelonong masuk ke kamar saat adiknya ganti baju. “Kamu mau ke mana?” “Kenapa? Mau melarangku?” “Bukan begitu ... jangan melakukan yang aneh-aneh pokoknya. Gak usah sok membantu sesuatu yang tak bisa dibantu.” “Sudah selesai ngomongnya?” tanya Ahmad sarkas. “Uhm ....” “Kalau sudah selesai ngomongnya, bisa keluar dari kamarku tidak? Aku mau ganti baju.” Arman tampak keki sendiri. Namun, ia tidak membantah dan keluar dari kamar. Ahmad meneruskan ganti baju. Mengganti seragam sekolahnya dengan kaos lengan pendek dan training yang nyaman. Sejurus kemudian, ia keluar dari kamar menuju ke tempat si kembar menunggu. Bu Ifah menegur putranya dari belakang. “Kamu mau ke mana? Kamu belum makan siang!” “Aku belum lapar. Lagi pula aku tidak lama,” sahut Ahmad. Si kembar sudah siap di sepeda begitu Ahmad sudah keluar. “Kalian ikut aku. Ada yang harus kita bicarakan.” “Baik, Kak!” jawab Qomar tanpa protes. Ia lantas menaiki sepeda ontelnya dan berboncengan dengan Fajar. Mengikuti Ahmad yang sudah berkendara menggunakan sepeda motor matic. *** Kendaraan Ahmad berhenti di bawah pohon rindang di persimpangan jalan dekat sawah. *** Si kembar mengekor Ahmad dan berhenti di bawah rimbunan pohon yang ada di persimpangan jalan menuju sawah. Di sana ada bangku yang biasa dipakai untuk berteduh oleh warga. Mumpung tidak ada orang, Ahmad mengajak mereka ke sana. "Duduklah!" perintah Ahmad. Si kembar turun dari sepeda ontel dan ikut duduk di sana. "Katakan ada apa?" Fajar yang sedari tadi diam langsung berujar. "Kak Ahmad, tolong selamatkan Kak Lily! Aku mohon!" Degh! Ahmad tak menyangka mendapat permintaan Lily. Jika si kembar mendukung kaburnya Lily, pasti ada jalan. Tetapi, ia masih berusaha menahan diri dari euforia. Ia harus memastikan si kembar benar-benar berniat membantu bukan hanya sekadar ucapan tanpa arti. "Maksudnya?" Qomar lantas menyuruh Fajar mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan video yang dimaksud. "Bukannya Kak Ahmad yang mengirim video ini di grup? Kakak tahu kan kalau di video itu ada Kak Lily dan calon suaminya?" tanya Qomar. "Ya!" Fajar histeris. "Kalau begitu, Kak Ahmad pasti mau menolong Kak Lily, kan?" "Tapi, bagaimana menolongnya. Lily menikah besok," jawab Ahmad sendu. "Kan, masih ada malam ini!" seru Fajar. Tampaknya ia yang paling getol menyelamatkan Lily. Tampaknya ia merasa bersalah telah mencuri uang kakaknya. Dan secara tak langsung itu pula yang menyebabkan kakaknya harus mengalami pernikahan seperti ini. "Bantu kami membawa kakak pergi. Kami mohon," pinta Qomar. "Benar! Bantu kami menggagalkan pernikahan ini. Bila perlu, tolong sembunyikan Kak Lily di tempat yang jauh. Demi Kak Lily. Kami mohon." Ahmad terpekur. Di otaknya berkelebat skenario melarikan diri yang telah disiapkannya jauh-jauh hari. Hanya saja, semua itu terasa tidak mungkin karena ia saja tidak bisa menghubungi Lily. Karena belum mendapat jawaban yang memuaskan dari Ahmad, Fajar lantas berjanji. "Kami akan berhutang budi seumur hidup pada kakak. Katakan saja apa yang kakak inginkan. Kami akan memenuhinya semampu kami. Jika itu tidak mampu kami penuhi sekarang, kami akan memenuhinya suatu hari nanti. Kami mohon! Bantu Kak Lily," ucap Fajar mengiba. Qomar juga ikut berjanji. "Ini akan jadi janji seumur hidup kami." Fajar menimpali, "Kak Ahmad bukannya teman Kak Lily? Pasti mau kan membantu kami? Mau, ya!" Ahmad menghela napas. Sejenak ia terlalu fokus pada pikirannya hingga melewatkan si kembar yang memohon dengan khawatir. "Kak Ahmad akan bantu. Tetapi, banyak hal yang tidak mungkin di sini. Kakak bahkan tidak bisa bertemu Lily. Bagaimana merencanakannya kalau begitu?." "Bisa. Kami sudah meninggalkan ponsel pada kakak," jawab Fajar. Ia lantas memencet nomor baru mereka agar terhubung kepada Lily. "Tunggu! Biar aku yang meneleponnya sendiri dengan ponselku!" "Ini bukan nomor telepon Kak Lily," ujar Qomar. "Ini nomor telepon kami karena ponsel Kak Lily masih disita sama bapak." "Oh!" Suara dering telepon itu tak lama karena detik berikutnya suara khas yang sudah dihafal luar kepala mengudara. "Halo!" "Lily!" seru Ahmad. "Ahmad!" balas Lily antusias. "Kamu menerima suratku?" "Ya! Aku memintanya dari ibuku." "Ah!" Ternyata surat itu ditahan juga, batin Ahmad. "Dan ini sandi yang buruk. Kamu ngapain susah-susah bikin sandi macam itu? Aku sampai kerepotan mengartikannya. Untung aku bawa ponsel jadi bisa mencari petunjuknya di internet." "Maaf! Tapi, kamu sudah membacanya, kan?" "Ya!" "Jadi bagaimana sekarang?" "Mari melakukannya sesuai rencana!" "Begitu, ya! Aku mengerti. Si kembar sekarang bersamaku." "Benarkah! Jadi mereka meminta bantuanmu?" "Ya!" Suara Lily tampak kemresek. Sepertinya ia terharu dengan perbuatan adiknya. "Aku akan berkoordinasi lewat si kembar." "Baik!" "Pastikan kamu memakai pakaian yang nyaman. Soal tas dan segala isinya, aku sudah mempersiapkannya." "Baik!" "Lily!" "Ya!" "Sampai ketemu lagi!" ***          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN