***
Ahmad mengembalikan ponsel tersebut kepada si kembar.
“Aku punya rencana,” ucap Ahmad.
“Apa rencana kakak? tolong beritahu kami.”
“Kalian tahu, peluang kabur hanya ada di malam ini. Jadi, sebisa mungkin ini harus berhasil. Sekali saja gagal maka tidak akan ada peluang lagi.”
Si kembar mengangguk mengerti.
“Sebenarnya aku harus mngoordinasi banyak pihak, tetapi ada satu hal yang pasti. Bawa kakakmu di persimpangan samping hutan bambu jam 2 pagi. Aku akan mengurus sisanya.”
“Nanti Kak Lily bakal dibawa ke mana?” tanya Fajar.
“Iya, Kak Lily akan ke mana?” Qomar ikutan bertanya.
“Kakakmu akan pergi jauh.”
“Apakah tidak apa-apa?” tanya Fajar takut-takut. Ia khawatir kakaknya malah celaka di tempat yang jauh.
“Tenang saja. Kakakmu akan pergi menuntut ilmu. Melanjutkan pendidikannya dan menjadi wanita tangguh yang cerdas dan pintar.”
Fajar berlinang air mata mendengar rencana Ahmad.
“Bagaimana? Apa kalian siap membawa kakakmu?”
“Ya, kami akan melakukannya!” janji Fajar.
Qomar mengangguk mantap.
“Baiklah. Sekarang kalian bisa pulang. Tidak baik jika kalian menghilang. Khawatirnya akan menimbulkan kecurigaan.”
“Baik!”
“Kalau ada sesuatu hubungi aku.”
“Baik!”
Ahmad memandangi kepergian si kembar. Jantungnya berdetak kencang. Setelah ini ada skenario besar yang harus dilakukannya. Untuk itu, ia harus melobi banyak pihak. Sangat banyak sampai ia tak tahu lagi harus menghubungi mulai dari siapa.
Pertama-tama, mungkin ia harus menghubungi Zaki.
***
Lily membaca berulang-ulang surat yang berhasil disalinnya. Di sana jelas tertulis bahwa Dimas terlibat dengan banyak gadis muda sepertinya. Tidak jelas apakah itu untuk dijual atau bagaimana. Tetapi gadis itu sudah bisa membayangkan apa jadinya kalau ia benar-benar dijual. Mengerikan.
Saat mengubek-ubek ponsel adiknya, Lily tak sengaja melihat video pendek yang isinya membuatnya terkejut bukan kepalang. Apakah ini video yang menggerakkan hati adiknya? Video hasil dari usaha Zaki yang sudah dimintanya berhenti, tapi ternyata masih terus berusaha hingga menghasilkan video ini?
Astaga!
Gadis-gadis di dalam video itu ada lebih dari 20 orang. Jika benar Dimas berhubungan dengan 20 gadis dalam satu waktu, apa itu artinya ini termasuk penjualan gadis?
Glek!
Lily ketakutan dengan kesimpulannya sendiri. Namun, jika benar ini adalah penjualan, rasanya masuk akal juga. Semua yang terjadi padanya belakangan ini menunjukkan tanda-tanda itu.
Ia disuruh ikut Dimas bertemu beberapa pria yang melihatnya dengan tatapan penuh ketelitian seumpama melihat barang dagangan. Menjalani pemeriksaan lengkap yang tidak seharusnya. Pernikahan yang akhirnya berubah jadi pernikahan siri, seolah sebagai dalih karena Dimas akan pergi ke luar pulau padahal agar tidak ada tuntutan di kemudian hari?
Entahlah! Rasa-rasanya semua itu berjalan sangat natural sampai membuatnya tak bisa membedakan jika kejadian-kejadian yang hanya skenario belaka.
Hah!
Mendadak ponsel di sampingnya menyala. Ada pesan masuk.
“Apakah Ahmad?” gumam Lily bertanya-tanya.
Namun, saat dilihat. Nama yang tertera adalah nama Fajar.
“Besok jam 2 pagi. Bersiap! Segera hapus pesan ini agar tidak ketahuan.”
Glek!
Tangan Lily bergetar saat menghapus pesan tersebut. Rupanya, rencana kabur itu benar-benar terjadi.
Begitupun dengan pernikahannya. Pernikahannya bukan lagi rencana melainkan kenyataan.
Sekarang suara musik dangdut telah mengudara. Suara dentumannya menggetarkan bangunan rumah yang memang telah rapuh. Menggetarkan sudut hati Lily yang terdalam.
Suara orang di dapur juga bertambah nyaring dari waktu ke waktu. Bau masakan diolah tercium makin tajam dari waktu ke waktu.
Tangan Lily mendadak dingin. Jantungnya berdegup kencang. Bisakah ia kabur dari pernikahan ini? bisakah ia menjemput masa depannya sendiri?
***
Saat hari beranjak malam, Bu Salamah membuka kunci kamar dan membawa makanan. Ada buah-buahan juga.
“Makanlah agar lebih bertenaga.”
Lily melihat olahan daging berkuah santan yang dibawakan sang ibu. Terlihat lezat, tetapi ia tidak berselera makan itu. Terutama makanan yang dibeli dari uang Dimas.
“Aku mau mi instan saja.”
Alis Bu Salamah bertaut. Tapi ia tak bisa membantah ucapan Lily. Sebisa mungkin ia tak mau menimbulkan keributan di saat banyak tamu datang ke rumahnya.
Bu Salamah mengambil lagi makanan tadi, tapi ia meninggalkan buah-buahan di sana.
“Ini juga! Aku tidak mau ini. Tolong bawa kembali. Aku tidak mau makan makanan yang dibeli oleh orang itu.”
“Lily!” tegur Bu Salamah. Ia segera menutup pintu sebelum kembalimasuk ke dalam untuk mengomeli Lily.
“Kamu ini! jangan sekali-kali bilang begitu. Bagaimanapun juga, Mas Dimas itu bakal jadi suami kamu. Kalau kamu terus berlaku seperti ini, mau jadi seperti apa rumah tanggamu?”
“Itu kalau memang aku akan dinikahi untuk dijadikan istri. Bagaimana kalau aku akan dijual?”
“Lily! Tutup mulutmu! Bagaimana kalau ada yang dengar? Bagaimana kalau bapakmu dengar?”
“Apa, sih! Kalian kan memang tidak mendengarku? Apa ibu tahu kalau orang itu membawaku ke klinik untuk mengecek kegadisanku? Apa seperti itu kelakuan calon suami?”
“Itu ... itu bisa saja karena memang Mas Dimas orangnya teliti. Jadi, tidak ingin membeli kucing dalam karung.”
“Dan apa calon suami namanya jika ia memegangiku paksa untuk menunjukkan bagian bawah rokku kepada pria lain? Apa memang seperti itu caranya?”
“Kamu jangan mengada-ada, Nak!” tegur Bu Salamah.
“Dan ibu tidak percaya padaku!”
Bu Salamah tertegun. Ia kesusahan menjawabnya.
“Lagi-lagi ibu tidak percayaku padaku yang tidak pernah sekalipun bohong pada ibu dan malah percaya pada pria asing itu.”
“Kamu ini kenapa, sih!” ucap sang ibu dengan nada ditenang-tenangkan. Ia tidak boleh terbawa emosi.
“Ibu sudah tahu video yang beredar?”
“Yang ditunjukkan si kembar?”
“Ya! ibu bisa lihat di sana tidak hanya aku saja, melainkan banyak gadis sepertiku.”
“Tapi, itu bisa saja rekayasa.”
“Ibu masih saja percaya rekayasa padahal salah satu gadis di video itu ada di hadapan ibu.”
Bu Salamah terdiam.
“Apa ibu sungguh tega menjualku begini?”
Degh!
“Tentu saja tidak, Nak!”
“Makanya ... tolong gagalkan pernikahan ini demi aku,” pinta Lily. Meski ia memang berniat kabur, tetapi ia masih ingin tahu respons terakhir yang ditunjukkan ibunya.
“Ini sudah tidak bisa digagalkan lagi, Nak!”
Degh!
Lily tertunduk. Meminta ibunya menggagalkan acara yang sudah di depan mata memang mustahil. Akan semalu apa orang tuanya nanti jika acaranya gagal. Bukan hanya itu, ganti rugi yang harus dibayar akan sebesar apa nanti.
Hah! Memikirkan itu membuat Lily sakit kepala. Ia sedikit egois memang. Ia hanya memikirkan masa depannya tanpa memikirkan efeknya untuk keluarga yang ia tinggal. Tapi, ia juga tidak bisa mundur. Keputusannya untuk kabur juga sudah mantap.
Gadis itu lantas memandang wajah sang ibu. Tampak guratan-guratan kesedihan di wajah itu. Ibunya juga tidak tampak bahagia di sana.
Mendadak Lily merasa hatinya sakit. Nyeri. Bagaimanapun juga, ia telah dibesarkan dengan sedemikian rupa oleh ibunya. Rasanya separuh hatinya ikut pergi jika harus berpisah dengan ibunya tanpa aba-aba.
Tak kuasa, Lily memeluk sang ibu.
“Aku mencintaimu,” ucap Lily. Suaranya bergetar menahan tangis. Betapapun bencinya ia pada keputusan pernikahan ini, tapi ia tidak bisa membenci ibunya.
Bu Salamah menyambut pelukan itu. Menepuk punggung Lily dan berujar, “Di manapun kamu berada. Ibu akan mendoakan kebahagiaanmu dan kesuksesan pernikahanmu.”
Alih-alih menjawab, Lily memeluk erat sang ibu. Mendekap erat untuk merasakan kehangatan dan menghirup bau khas ibunya yang menenangkan. Lantas menyimpannya dalam memori karena sebentar lagi ia tidak akan bisa merasakan lagi.
Pelukan yang adalah salam perpisahan dari Lily untuk ibunya.
***