Bab 39. Misi Setengah Jalan

1036 Kata
Lily tidak tidur sama sekali. Saat jam telah mendekati jam 12 malam. Sound sistem telah lama mati. Suara orang yang yang bantu-bantu memasak juga sudah lama sepi. Hening. Hanya tinggal suara jangkrik dan hewan malam. Gadis itu mengamati keadaan sekitar dengan penuh ketelitian . Ia menajamkan pendengarannya tak melewatkan suara satupun di sekitarnya. Berkat terbiasa dikurung, ia jadi sedikit peka dengan suara-suara. Anehnya, tidak ada suara satupun yang terdengar. Gadis yang telah siap dengan baju training itu berkali-kali menghela napas. Kenapa tidak ada ada satupun suara yang terdengar? batinnya bingung. Apakah tidak jadi? Apakah si kembar ketahuan? Gadis itu melihat ponsel yang sedari tadi dalam genggaman. Layar ponsel itu sedari tadi diam. Tidak ada yang menghubunginya sama sekali. Tidak si kembar, tidak juga Ahmad. Sedari menunggu, ternyata 30 menit telah terlewat. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Saat jam sudah menunjukkan pukul 1 lebih 10 menit. Sebuah pesan masuk. "Kak, aku tunggu di pintu belakang." Degh! Lily langsung berkeringat dingin. Panik menyerang. Namun, saat gadis itu melihat ke arah pintu yang tertutup, saat itu pula ia tersadar. Degh! Pintunya! Pintunya selalu terkunci, kan? Sial! Ngapain saja ia tadi. Kenapa ia sama sekali tidak terpikirkan soal pintu? Drrrt! Satu notifikasi kembali masuk. "Cepat!" Lily menggigit bibir sembari menatap pintu yang tertutup itu. "Baiklah, mari mencobanya!" Gadis itu menaikkan kupluk jaketnya dan membuka pintu. Grep. Ia memutar pelan gagang pintu. Klik. Untunglah! Pintunya tak terkunci. Lily membuka pintu sepelan mungkin. Memastikan tak ada suara yang ditimbulkan. Setelah bisa ke luar kamar, ia berbalik untuk menutup kembali pintu tersebut. Memastikan pintu itu tetap sama seperti sebelumnya. Lily tak sempat menoleh ke arah sekitar karena buru-buru kabur. Yang tidak ia tahu, tampak sang ibu di sana. Berdiri di pintu yang setengah terbuka. Memandang kepergian putrinya. Meski tidak mendukung, ia berdoa dalam hati supaya putrinya bisa kabur dengan selamat. Bantuan yang bisa diberikannya hanya sebatas tidak mengunci pintu kamar putrinya. Selebihnya, ia hanya bisa memasrahkan semuanya pada yang di atas. Lily keluar dengan cepat hingga tiba di dapur umur. Si kembar telah menunggunya di sisi yang menghadap jalan. "Kenapa lama?" tanya Fajar saat Lily sudah berkumpul dengan mereka. Lily menggeleng. Akan panjang untuk diceritakan. "Ayo, cepat!" ucap Qomar. Fajar mengalungkan sarung ke tubuh Lily. Hal itu memang biasa dilakukan oleh orang-orang ngeronda di kampungnya. "Qomar, kamu kembalilah ke kamar. Cepat! Nanti kabari kalau ada apa-apa. Ayo, kak!" Fajar menggandeng tangan Lily dan segera menghilang dibalik kegelapan. Qomar menunggu cukup lama sampai bayangan gelap saudaranya menghilang. Begitu memastikan semua aman. Ia pun berbalik ke arah rumah. Namun .... Degh! Dua orang pria tampak mencegatnya. Satu di antaranya adalah Ipul. Supir dari Dimas. "Dari mana?" "Dari kencing, Bang!" jawab Qomar. Sebisa mungkin terlihat tenang. "Tapi, kamu tidak basah sama sekali." Degh! "Anu ... Aku cuma kencing biasa. Karena dingin jadi aku menghindari air sama sekali." "Ya sudah! Masuk sana." Qomar menghembuskan napas lega. Belum jauh Qomar berjalan, teman dari Ipul tampak membisiki Ipul sesuatu. Tadi anak itu ada dua, bisik teman Ipul pada Ipul. "Kembaranmu mana?" tanya Ipul. "Di dalam, Bang. Tidur. Meski kembar, kami tidak selamanya bersama ke sana-ke mari, kan? "Kamu, cek ke dalam. Lihat apa saudara kembarnya ada di dalam atau tidak." Glek! Qomar memucat. Ia dengan cepat menyanggah. "Ngapain ngecek kembaranku segala. Memangnya kami melakukan kesalahan, apa?" Ipul memiringkan kepalanya. Tampaknya sanggahan Qomar malah membuatnya curiga ada sesuatu yang janggal. "Cek! Sekarang!" "Ngapain! Kalian sangat mengganggu privasi." Qomar berjalan menghalangi orang itu, tapi kerah bajunya telah ditarik oleh Ipul. "Mau ke mana?" "Bukan urusanmu!" jerit Qomar. Teman Ipul telah berjalan ke arah rumah untuk mengecek kembaran Qomar yang hilang. Hanya saja, sebenarnya Ipul juga tidak tahu, siapa yang sedang dia sekarang. Karena ia tidak bisa membedakan mana Qomar mana Fajar. Qomar membebaskan diri cengkeraman Ipul dan menjauh darinya. "Dasar! Orang gila!" umpatnya. "Awas! Kalau kamu merencanakan sesuatu!" Degh! Qomar tidak menjawab. Tangannya tampak mencengkeram ponsel yang ada di saku celana. Ia harus buru-buru memberi kabar pada Fajar tentang situasi ini. Aksanya nanar menatap arah perginya teman Bang Ipul. Jantungnya ikut berpacu cepat. Dalam hati ia berharap teman Bang Ipul tidak membuka tudung guling yang disembunyikan. Kalau sampai itu dibuka juga, mereka bakal ketahuan. Sejurus kemudian teman itu kembali. "Bagaimana?" "Tak ada!" "Kau yakin?" Qomar sok-sokan ikut mempertanyakan. "Perasaan aku melihatnya di sampingku sebelum keluar untuk buang air kecil." "Aku juga hampir terkecoh. Hanya saja aku melihat dua guling yang tertutup padahal yang hilang hanya satu orang. Saat aku buka, ternyata memang hanya guling." Degh! Qomar sama sekali lupa akan hal itu. Mereka memang menyembunyikan dua guling. Tapi, karena saat ini ia ada di sini, keberadaan dua guling itu mustahil. Otak Ipul berpikir cepat. "Lily!" serunya. "Cari Lily di kamarnya!" "Baik!" Mereka segera masuk ke kamar. Qomar menggunakan waktu yang ada untuk kabur dari sana. Ia harus menghubungi Fajar dan Kak Lily. Seketika rumah menjadi rusuh karena Lily menghilang. Dari kejauhan Qomar masih bisa mendengar Ipul berkata bahwa ia harus menghubungi Mas Dimas. Suara Pak Majid juga nyaring terdengar. Ia memanggil si kembar dengan suara nyaring, tetapi tentu saja Qomar tak akan mendekat. Qomar sendiri masih berusaha menelepon Fajar. Karena tidak kunjung diangkat, ia lantas menghubungi Kak Ahmad. "Ada apa?" "Kami ketahuan." "Lily bagaimana? Dia bisa kabur, kan? Jangan bilang tidak." "Kak Lily sudah pergi dengan Fajar. Kutelepon, tetapi tidak diangkat." "Aku juga masih menunggu mereka." "Aduh, bagaimana sekarang? Bagaimana kalau kakak tidak bisa kabur?" "Jangan khawatir, pasti bisa. Lalu kamu di mana sekarang?" "Aku juga kabur sekarang saat orang-orang panik karena kakak menghilang." "Astaga! Sebentar-sebentar. Aku harus berkoordinasi dengan temanku dulu untuk membantu. Sepertinya Dimas juga bakal mengerahkan teman-temannya. Aku akan hubungi lagi kalau Lily sudah kemari. Oh! Tunggu sebentar. Itu ada Lily dan Fajar berlari ke sini." "Benarkah! Ya! Aku harus bergegas sekarang." Telepon langsung tertutup. Qomar belum lega. Ia sembunyi-sembunyi mengamati keadaan dari semak-semak. Sebenarnya ia punya misi lain untuk saat ini. Ia akan merekam dan mengabadikan banyak hal sebagai bukti. Makanya ia mengantongi banyak power bank untuk jaga-jaga. Ia segera menutupi layar dengan kertas hitam yang sudah diberi perekat sebelumnya. Tentu saja untuk menghindari layar yang menyala jelas di kegelapan. Ia menunggu di tempat dan berjalan dalam diam. Dan benar sesuai dugaan, pihak Dimas dan keluarganya tampak sudah siap bergerak untuk misi pencarian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN