Bab 40. Ahmad yang Menghalangi

1130 Kata
*** “Lily!” seru Ahmad. Gadis itu berhenti dengan terengah di tengah jalan. Fajar sampai belakangan. Napasnya tak kalah kembang kempis. “Kenapa kalian tidak mengendarai sepeda tadi?” “Kami hanya tidak ingin ketahuan. Makanya kami jalan,” dalih Fajar. “Hah! Kalian sudah ketahuan!” ucap Ahmad. Ia segera menyalakan sepeda. “Masa?” Fajar tampak masih belum percaya. “Tanyakan pada saudara kembarmu saja. Kami akan pergi dulu. Ayo, Lily!” Lily mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Ini ponselnya.” “Itu ponsel kakak,” jawab Fajar seraya menolak ponsel itu. “Aku membelinya dengan uang kakak. Maafkan aku untuk itu.” Lily memeluk adiknya. “Jaga diri baik-baik. Kakak juga minta maaf.” “Kakak juga. Jadilah orang sukses yang keren!” ucap Fajar. Air matanya menetes. “Kamu juga! Yang rajin sekolahnya.” Ahmad tampak tak sabar menunggu. “Ayo! Yang menyusul kita bisa tiba kapan saja.” Lily melepas pelukannya, menepuk kepala adiknya dengan lembut sebelum naik sepeda. Kendaraan yang telah menyala langsung melaju membawa gadis itu pergi. Fajar memandang kepergian kakaknya dengan tatapan nanar. Ia sedih harus berpisah dengan kakaknya seperti ini. Ia yang bengal dan tidak pernah menurut. Mentang-mentang menjadi anak kesayangan. Lily juga tak menoleh lagi karena jika ia melakukannya, ia takut tidak akan kuat. “Kamu tak apa?” tanya Ahmad. “Ya!” Jawaban iya mungkin hanya sebatas kata-kata karena Lily tampak menangis sekarang. Ahmad tak lagi bertanya dan terus melanjutkan perjalanan. Ia memacunya sekecang mungkin ke tempat seseorang yang telah menunggunya di tepi jalan. Karena kendaraan yang dipacu dengan kencang itu, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di kendaraan berikutnya. Ternyata orang yang dituju Ahmad adalah sopir mobil bak pengangkut sayuran juga daun bawang. Orang itu telah menunggu dengan muatan penuh di tepi jalan persawahan. “Kukira tidak jadi,” ucap sopir itu. “Ada sedikit masalah,” jawab Ahmad. Lily segera turun dari kendaraan karena Ahmad harus mengambil ransel yang tersimpan di jok. Barang bawaan Lily yang terus dibawanya ke mana-mana saking takutnya itu akan dibutuhkan sewaktu-waktu. “Ini sudah semuanya. Tak ada yang terlewat,” ucap Ahmad. “Aku juga sudah menambahkan roti dan air minum untuk sarapan nanti. “Ahmad ... aku Berhutang banyak padamu. Hutang yang mungkin tidak akan lunas.” “Jangan pikirkan itu.” Sang supir tampak sudah menyalakan kendaraan. “Sudah pergi sana. Nanti Supirnya akan menurunkanmu di stasiun. Di sana sudah ada Zaki dan teman-temannya. Mereka sudah membelikanmu tiket dan macam-macam.” Lily mengangguk. Rasa sedih menyeruak karena ia akan berpisah dengan sahabatnya dari kecil. Perpisahan yang tidak pernah diinginkannya jadi seburuk ini. “Sudah cepat pergi.” Ahmad membantu membuka pintu depan kursi penumpang agar Lily bisa masuk. Tapi, alih-alih masuk ke mobil Lily malah memeluk Ahmad. Ahmad tak kuasa balas memeluk. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” “Hei, cepat. Sepertinya ada yang mengejar.” Si supir melihat dari bukit tempat tinggal Ahmad tampak ada kelip-kelip lampu yang bergerak cepat. Bisa jadi itu adalah orang yang bakal mengejar gadis yang dilarikan Ahmad. Ahmad lalu menyuruh Lily untuk bersembunyi di bak belakang bersama sayur-sayuran. Ia juga menyelipkan sesuatu di tangan gadis itu. “Kamu akan membutuhkan ini,” ucap Ahmad. Ia menutup keras pintu samping dan mengangguk ke arah sopir. Segera setelah pintu tertutup, kendaraan pun melaju dengan kencang. Sangat kencang hingga tak butuh waktu lama bagi kendaraan itu untuk keluar dari areal perkebunan dan sampai di jalur utama. Membaur dengan kendaraan lain. Tinggal-lah Ahmad seorang diri di sana. Ia menaruh sepedanya di tengah jalan. Memastikan akan menghadang siapapun yang bakal melintas. Tak butuh waktu lama lampu-lampu yang berkedip di kejauhan itu mendekat. Terlihat beberapa lampu kendaraan bermotor. Dari kejauhan memang terlihat sedikit, tetapi semakin mendekat ternyata itu cukup banyak. Bulu kuduk Ahmad merinding. Ia tak kuasa melihat banyaknya kendaraan yang mendekat. Ingatan akan dikerumuni banyak pemotor saat bersama Lily kembali membayangi. Sepertinya ini tak akan mudah. Namun, meski tak mudah, ia tak berniat untuk menyerah. Ahmad buru-buru melempar ponselnya di semak-semak karena ia belum sempat menghapus chat dan pesan untuk Zaki. Khawatir itu nanti akan jadi boomerang untuk mereka andaikata ia tertangkap dan tak sempat membela diri. Sampai akhir, Ahmad akan melindungi Lily. Ia tak akan memberi celah sedikitipun pada mereka untuk memberikan jejak kepergian Lily. Tidak akan. Motor-motor itu berhenti di tengah jalan. Persis di depan Ahmad yang lagi menghalangi jalan. Tanpa dimatikan beberapa orang di boncengan turun. Ahmad tidak bisa melihat dengan jelas karena cahaya dari kendaraan itu memburamkan penglihatannya. “Apa-apaan! Ternyata kamu Ahmad!” seru seseorang seraya mendekat ke arah Ahmad. Dari suaranya, itu terdengar seperti Pak Majid. Dan benar saja Pak Majid berdiri di depan Ahmad. Tampak gelap karena membayangi lampu sepeda yang masih menyala. Tiba-tiba .... Plak! “Mana Lily?” Ahmad diam seribu bahasa. Plak! Tamparan kedua yang lebih menyakitkan tiba. “Kamu bawa ke mana Lily?” tanya Pak Majid seraya mencengkeram mulut Ahmad supaya mau bercerita. Ahmad menggeleng. Ia tidak sudi mengatakannya. Cuih! Ahmad meludah ke wajah Pak Majid. Plak! Pak Majid menemplang kepala Ahmad hingga bocah itu oleng dan tersungkur menabrak sepedanya sendiri. Gubrak! Pak Majid tidak berhenti. Ia menjambak rambut Ahmad memaksanya membuka mulut. “Tak sudi!” jerit Ahmad. Semua orang fokus di sana sehingga tidak menyadari beberapa meter di belakang para pemotor itu tampak si kembar yang tengah menurunkan sepeda ontel di arah semak-semak untuk sembunyi. Fajar tampak ketakutan, tetapi Qomar berbeda. Meski sama-sama gemetar, tapi ia menekadkan diri untuk mengabadikan semua bukti ini. Ia pun menyalakan fitur live agar apa yang terekam bisa disiarkan langsung dan banyak yang bakal menonton. Ia harus membuka kedok ini agar lebih banyak bantuan yang muncul. Namun, alangkah terkjeutnya Qomar saat melihat bapaknya menendang Kak Ahmad yang terkulai di tengah jalan. Fajar sudah tak kuasa meneteskan air mata, tapi Qomar dengan jelas menyuruhnya menutup mulut. Alhasil Fajar sampai menyumpalkan sebagian sarung ke mulutnya. Ipul tampak mendekat ke arah Pak Majid. “Melihat pemuda ini menutup jalan, sepertinya benar Lily lewat sini. Pak Majid lanjut mencari saja biar anak ini aku yang mengurusnya. Nanti Pak Dimas juga sudah mulai melakukan penyisiran dengan oknum polisi.” “Baiklah! Pokoknya Lily harus ditemukan, apapun yang terjadi!” Duagh! Pak Majid menendang Ahmad sekali untuk meluapkan kekesalan, lalu menaiki boncengan dan meneruskan perjalanan dengan separuh rombongan. Menyisakan Ipul dan beberapa pemotor yang adalah orang-orangnya sendiri. “Nah! Anak kecil! Kamu harus membayar perbuatanmu,” ucap Ipul. Tangannya menoyor kepala Ahmad yang sudah terkulai tampa daya. Ahmad menepis tangan pria tersebut dan meludah di depannya. Ipul tersenyum meremehkan. “Coba kita lihat sejauh mana kesombonganmu itu. teman-teman! Tolong ambilkan kayu. Kayu yang besar! Laki-laki ini kudu dipatahkan kakinya biar tahu rasa!” Degh! Ponsel di tangan Qomar merosot. Tangannya mendadak licin. Dipatahkan kakinya? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN