Bab 41. Ahmad Terluka

1049 Kata
*** Fajar menggoyang lengan saudaranya. Ia bingung harus apa melihat Ipul yang bakal memukul Ahmad. Seseorang telah membawakan kayu sebesar lengan kepada Ipul. Ahmad menguatkan diri beranjak dari tempatnya berada. Ia tidak mau dipukul tanpa pembelaan. Si kembar ketakutan di tempat mereka. Siaran langsung itu terus berlanjut. Hanya harapan akan ada yang menonton dan membantu mereka. Ipul menyingsingkan lengan bajunya bersiap memukul. Ahmad memeluk kakinya dan berguling ke sisi yang lain. Sebagian rombongan Ipul menertawakan perbuatan Ahmad. “Tunggu, Bang Ipul. Biar aku merekamnya,” ucap seorang pemotor. Ahmad rupanya tidak sekedar berguling. Ia berguling untuk mencari posisi yang tepat untuk berdiri. Saat Ipul melayangkan pukulan, Ahmad langsung mundur ke belakang. “Haha .... Aku suka perlawananmu. Cukup lincah. Aku malah akan makin kecewa jika kamu pasrah saja dipukuli.” Ahmad tak peduli dengan komentar itu. Ia menatap jeli ke arah pengikut Ipul. Semuanya ada 8 orang dengan 4 kendaraan. 2 orang masih nangkring di kendaraan. Ada satu lagi yang megikuti Ahmad dan Ipul karena harus merekam. Sisanya menonton sembari merokok. Ahmad kepikiran kabur untuk menyelamatkan diri karena ia tidak mungkin menang melawan mereka. Tapi, ada pertimbangan lain yang muncul. Jika kabur ia pasti bakal cepat tersusul oleh sepeda. Namun, sikap bar-bar Ipul yang serta merta melempar bongkahan kayu tersebut membuat Ahmad mantap untuk berlari. Pemuda itu berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Hobinya bermain basket membuat daya tahan tubuhnya tetap kuat. Lari bukanlah kendala untuknya. Begitu melihat Ahmad berlari, si kembar kebingungan. Ipul tertawa kencang seolah menikmati p********n ini. Dari tawanya, tampaknya ia seperti orang yang tengah terbuai oleh obat-obatan. Tampak liar dan bar-bar. 2 pemotor yang masih duduk di atas kemudi langsung menyalakan kendaraan. Mengangkut Ipul dan bergegas menyusul Ahmad. Ahmad berlari sangat cepat. Sayangnya secepat apapun Ahmad, tentu tak lebih cepat dari kendaraan bermotor. Tak butuh waktu lama, pemuda itu pun tersusul. Ahmad panik. Ia terpikir masuk ke areal persawahan yang tak mungkin bisa dilalui kendaraan bermotor. Namun, belum juga itu terjadi. Satu sepeda telah menghalangi pergerakan Ahmad. Ia diapit kanan kiri juga belakang. Ipul tertawa keras melihat buruannya terjepit. Dengan cepat ia mengayunkan kayu besar dalam genggamannya. Kali ini menargetkan kepala. Sekali pukul pasti Ahmad bakal berhenti berlari. Ahmad bukan tidak lihat jika Ipul hendak memukulnya. Ia berlari ke sisi yang lain dengan cepat. Whuz! Pukulan itu mengenai angin. Sayangnya, pada kesempatan ke dua, sisi yang lain tidak memberi kesempatan pada Ahmad untuk membuat celah. Kendaraan dipepet sedemikian rupa hingga tak ada ruang bagi Ahmad untuk kabur. “Kak AHMAD ...!” seru Fajar dari belakang. Ia mengayuh pedal sekuat tenaga untuk menyusul Ahmad. Menolongnya dari gerombolan Ipul. Melihat bahwa akan ada saksi mata, Ipul buru-buru melancarkan pukulan. Kali ini Ahmad tak bisa kabur. Ia melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Brak! Pukulan keras itu terdengar nyaring. Seolah ada tulang yang patah pada lengan itu. “Argh!!!!” jeritan Ahmad menggema di keheningan pagi. Tak cukup pukulan di lengan, saat tubuh Ahmad oleng, sepeda di belakang menabrak tubuh Ahmad yang limbung. Tubuh itu menabrak satu sisi sepeda yang ada kanan ke sisi sepeda yang ada di kiri sebelum akhirnya tersungkur di tanah. Tubuh itu jatuh dengan keras dengan kepala lebih dahulu. “Kak Ahmad ....” Fajar tiba sembari menangis. Ahmad tampak sudah tidak sadarkan diri di sana. Tubuhnya bersimbah darah. “Qomar ... bagaimana ini? apa Kak Ahmad akan mati?” Tangan Qomar gemetar hendak mengecek deru napas dari hitung, tetapi tangannya kelewat gemetar untuk melihat apakah masih ada napas di sana. “Ayo membawanya ke rumah sakit,” ucap Fajar. Qomar memandangi sepeda ontelnya. Mereka tidak mungkin membawanya menggunakan sepeda itu. “Tunggu! Ada sepeda matic punya Kak Ahmad di tempat tadi,” ucap Qomar. “Benar!” Fajar memang lebih mahir mengendarai sepeda motor segera mengendari sepeda ontelnya ke tempat sepeda matic itu tergeletak. Sejurus kemudian, ia kembali dengan sepeda motor tersebut. “AYO!” ucapnya mantap. Kendati tidak bisa dibilang mahir, tetapi ia cukup yakin bisa mengendarainya. Kesusahan berikutnya tentu saja mengangkat Ahmad yang pingsan ke sepeda. Untungnya, sebelum itu terjadi serombongan orang dari desanya, turun bukit dan membantu mereka. Salah satunya Arman, kakak kandung Ahmad. “Adikku! Adikku kenapa bisa terluka sampai seperti ini?” Si kembar terdiam membisu. Itu sangat panjang untuk diceritakan. Arman dibantu warga segera mengevakuasi Ahmad ke rumah sakit. Sisanya membantu si kembar mencari Lily. Menghentikan Pak Majid yang telah berafiliasi dengan orang-orang yang mengerikan. *** Rombongan Zaki telah menunggu di tepi jalan. Menunggu di beberapa titik. Mereka sudah diberi tahu mobil bak mana yang bakal mengangkut gadis itu. Saat mobil bak itu terlewat, serombongan anak-anak yang sangat banyak langsung turun ke jalan. Membawa spanduk dan memnuhi badan jalan sehingga membuat para pemotor yang menyusul Lily harus tertahan karena macet. Sayangnya rombongan yang mencari bukan hanya dari Pak Majid. Dimas bahkan sudah meminta bantuan dari pihak kepolisian. Satu persatu kendaraan diberhentikan untuk dicek. Sang sopir tampak panik. Aduh, ia tak tahu jika perkara membawa seorang gadis bisa merembet seperti ini. Lily juga merasa kendaraan menjadi lambat. Ia lantas membaluri tubuhnya dengan kangkung dan daun bawang hingga semuanya tertutup. Tak dihiraukannya lagi tanah basah yang mengotori tubuhnya. Yang dipikirkan gadis itu hanya bagaimana caranya bersembunyi agar selamat. Polisi dan Dimas menyisir kendaraan. Mengecek isi mobil satu persatu. Meski nihil, mereka terus mencari. Hingga tiba saatnya mobil pengangkut sayur. Kursi kemudi aman karena hanya ada satu orang. “Pemeriksaan apa sih, Pak?” tanya Pak Sopir basa-basi. “Kenapa pagi-pagi sekali saat waktunya orang ke pasar?” “Pokoknya ada. Ini angkut apa?” “Biasa, Pak. Sayur mayur. Harus ke pasar sepagi mungkin. Kalau siangan dikit keburu layu. Nanti harganya bisa berubah kalau kelihatannya tidak segar lagi.” “Baik! kita cek dulu isi bak-nya.” Degh! Bak itu sebagian tertutup terpal. Dan di bagian itu pulalah Lily bersembunyi. Gadis itu diam tak bergerak. Hatinya was-was. Namun, belum lagi bak itu dicek. Pawai telah tiba di belakang mereka. Polisi yang ada di depn segera menepuk mobil bak dan menyuruh Si Sopir bergegas karena jalanan bakalan sangat macet. Kalau itu terjadi, mereka akan kena omel atasan karena membuat kemacetan di pagi hari. Kantor polisi juga bakal menerima banyak komplain. Sopir itu langsung memacu kendaraan secepat mungkin. Dimas melihat mobil bak itu berlalu pergi. Ekspresinya mendadak aneh, tetapi ia menggelengkan kepalanya karena yakin mobil bak itu telah melewati pemeriksaan. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN