***
Kendaraan yang ditumpangi berhenti di bawah pepohonan rimbun di tepi jalan. Meski secara teknis, kendaraan itu sedikit berbelok ke arah g**g kosong untuk menhindari kamera pengawas yang ada di pinggir jalan.
Zaki dan seorang teman telah menunggu Lily.
Segera setelah menurunkan Lily, mobil bak itu lanjut meneruskan perjalanan.
Zaki tersenyum melihat Lily.
“Kamu terlihat berantakan,” ucap Zaki.
“Yok! Kita bisa merapikannya dalam kendaraan,” ucap Zaki seraya menunjuk ke arah mobil warna hitam.
Begitu mereka telah masuk, mobil pun langsung dijalankan dengan tujuan stasiun kereta api.
Zaki mengenakan kupluk rajut yang ada di tas selempangnya dan memakaikannya pada Lily.
“Kamu pasti sangat terkejut,” ucap Zaki seraya merapikan anak-anak rambut yang menjuntai. Ia hendak menyembunyikan semua rambut Lily dalam kupluk rajut tersebut.
Lily mengangguk. Pikirannya langsung teringat kepada Ahmad.
“Ahmad bagaimana?”
“Aku belum mendapat kabar apa-apa. Tapi, jangan khawatir, dia pasti baik-baik saja.”
Tak ingin membuat Lily berpikir macam-macam, Zaki pun mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar tiket dan menyerahkannya pada Lily. “Keretamu akan berangkat jam 5. Aku juga sudah menyiapkan tiket jurusan lain jika kamu gagal berangkat menggunakan kereta itu.”
Lily mengangguk. Tangannya gemetar saat menerimanya.
“Aku berhutang banyak padamu,” ucap Lily. Air mata lolos dari sudut matanya.
“Itu uang patungan anak-anak satu angkatan. Saat mereka mendengar kalau kamu sakit, mereka menggalang dana untuk pengobatanmu. Meski teknisnya itu tidak dipakai untuk pengobatanmu, tapi menurutku itu sama saja.”
“Terima kasih. Sampaikan terima kasihku untuk teman-teman semua,” ucap Lily terbata-bata.
“Tentu!” ucap Zaki. Tentunya ia tak menceritakan bahwa demi mendukung Lily dengan alasan yang bahkan masih abu-abu. Mereka semua turun ke jalan membuat kemacetan agar Lily bisa kabur dengan selamat.
“Oia, dan ini sisanya.” Zaki mengangsurkan lagi selembar amplop cokelat yang tebal. “Ini sisa membeli tiket dan macam-macam. Bisa kamu pergunakan untuk keperluanmu nanti. Aku sengaja tidak menukarnya menjadi uang utuh karena kamu pasti lebih butuh uang pecahan seperti ini.”
Lily sangat terharu menerima kebaikan ini. Sekali lagi ia menangis. Teman-temannya begitu baik padanya. Gadis itu lantas menyimpan amplop tersebut di saku dalam jaket yang dikenakan. Ia juga memastikan kantong itu telah dikancingkan sehingga tidak akan jatuh maupun hilang.
“Bagaimana aku harus membalas semua kebaikan ini,” ucap Lily. Ia tak bisa munafik tak membutuhkan uang ini karena memang ia sangat-sangat butuh setelah uangnya habis dipakai
“Membalasnya? Hum ....” Zaki tampak terdiam. “Sepertinya tak ada balasan yang lebih pantas selain kesuksesanmu. Jadilah orang sukses.”
Lily mengangguk. “Aku akan belajar dengan giat dan bekerja dengan keras agar bisa sukses. Supaya kalian tidak kecewa.”
“Nah, begitu. Bersemangatlah! Kamu memikul semua harapan kami.”
Kendaraan mereka berhenti di parkiran stasiun. Lily dan Zaki keluar dan berjalan tergesa-gesa. Sementara seorang teman yang lain berjalan di belakang mereka untuk jadi bala bantuan. Supir masih siaga di mobil untuk mengantisipasi kejadian mendadak.
Untunglah tak ada kejadian berarti di stasiun. Lily juga bisa berangkat tanpa halangan.
Zaki menghela napas lega. Tugasnya telah usai. Ia percaya gadis sepandai Lily pasti akan bertahan hidup dan sukses di tempat tujuannya nanti. Sekarang ia harus menghubungi Ahmad untuk bertanya bagaimana keadaannya. Namun, ponsel Ahmad rupanya tidak bisa dihubungi. Mendadak, ia punya firasat buruk. Ia lantas mengajak teman-temannya mencari tahu kabar terbaru Ahmad.
***
Lily berjalan ke gerbong dengan takut-takut. Ia memeluk erat tas ranselnya seolah itu adalah penyambung nyawanya.
Namun, meski telah hati-hati tetap saja ada orang yang menabraknya dengan keras. Ingin rasanya marah, tetapi kereta terlalu ramai untuk ditambahi dengan keramaian yang lain seperti pertengkaran.
Gadis itu mencari tempat duduk kosong, tetapi tak ada tempat duduk kosong yang benar-benar kosong. Hingga akhirnya seseorang menawarinya.
“Di sini saja,” ucapnya pemuda itu seraya meminta temannya pindah sehingga gadis itu bisa duduk di depannya di kursi kosong seorang diri.
Pemuda itu juga mengalahi kakinya yang panjang agar gadis itu bisa masuk ke gerbong.
Meski enggan karena tempat duduk itu dikelilingi pria, tetapi ucapan pemuda itu selanjutnya membuat Lily mau tak mau harus duduk di sana.
“Gerbong di belakang hanya ada teman-teman kami. Dibanding mereka, kamu lebih baik duduk di sini. Aku akan meminta temanku pindah. San, pindah ke tempat lain sana. Gadis ini akan duduk di sini.”
“Kau yakin mau menyuruhku pindah, Riel?” tanya teman yang disuruh pindah itu.
“Iya! Pindah saja ke belakang. Gadis ini bakal gak nyaman jika terlalu banyak pria di sampingnya.”
“Dan kamu lebih memilih gadis yang tidak jelas ini daripada aku ....”
Pemuda yang menawari Lily itu hanya mendelik marah karena ucapan temannya itu bakal menyakiti perasaan gadis ini.
Pemuda-pemuda lain yang duduk di sekitaran mereka hanya tertawa.
“Sudahlah, Sandi. Kamu tahu sendiri kalau Ariel sudah berniat begitu gak bakal mau mengalah. Kamu yang lapang, ya!”
Pria bernama Sandi itu mau tak mau kudu pindah sembari mendengus. “Padahal gerbong ini sengaja kita sewa agar tidak berdesak-desakan, tetap saja aku harus pindah.”
“Aku pasti mengganggu,” ucap Lily tak enak hati. “Aku akan cari tempat lain.”
“Gak ada tempat lain,” ujar pria bernama Ariel itu. “Kamu sudah melewati gerbong di depan dan semua penuh. Gerbong di belakang sini penuh dan isinya teman-temanku semua. Sudah, duduk saja.”
Lily menatap aksa pemuda itu. Bola mata kecokelatan yang hangat menyambutnya. Pupil itu bersinar terang seolah tak ada kebohongan di sana. Ia pun mengangguk dan duduk di sana.
Setelah semua hal yang terjadi, Lily baru sadar jika ia tidak beralas kaki sekarang. Kaki Lily berjalan dengan canggung di antara sepatu-sepatu mewah anak-anak kota itu.
“Kau yakin kamu akan menyuruhnya duduk di depan kita?” tanya teman Ariel yang saat ini duduk di samping Ariel.
“Ferdi, kamu juga pindah sana!” ucap Ariel.
“What! Aku?”
“Pindah, gak!”
“Kamu kenapa, sih!” Ferdi tampak tak terima dan memandangi Lily dengan tatapan asing.
Lily sendiri hanya menunduk. Ia merasa bersalah karena telah mengusir banyak orang.
“Kalau kamu tidak bisa menutup mulutmu, pergi sana!” ucap Ariel.
“Oke—oke! Aku akan diam!” ucap Ferdi pasrah.
***