***
Hari itu Lily dikembalikan ke rumah dan tidak diizinkan lagi sekolah. Bahkan untuk keluar rumah pun tidak bisa. Keluarganya sampai membuatkan gadis itu kamar dengan toilet di dalam. Ia benar-benar dikurung untuk membatasi gerak dan aktifitasnya. Ponsel juga dirampas tanpa jangka waktu. Membuat gadis itu benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tanpa hiburan dan tanpa teman. Gadis itu benar-benar sendirian.
Sesekali sang ibu datang ke kamar memberi wejangan tentang pernikahan, tetapi Lily sama sekali tidak peduli. Jangankan menunggu pernikahan, ia bahkan kesulitan mempertahankan tingkat kewarasannya.
Setiap ada yang bertanya, selalu jawabannya Lily sakit parah dan harus banyak-banyak istirahat.
Ahmad berkali-kali datang. Sampai ibunya ikutan datang untuk bertemu Lily, tetapi keluarga Pak Majid benar-benar melarangnya.
Seminggu sekali Dimas rutin membawa Lily keluar. Lagi-lagi ke rumah makan yang berkedok itu. Bertemu beberapa pria dan melakukan hal memalukan di sana. Namun, meski telah berkelakuan baik dan menuruti permintaan Dimas dan tamu pria yang lain, gadis itu tetap tak diberikan sesuai apa yang dijanjikan.
Hingga satu bulan pun terlewat. Gadis itu makin gak doyan makan dan tubuhnya pun menjadi kurus dan semakin kurus. Dimas sama sekali tidak protes karena gadis yang kurus tinggi itu lebih disukai.
Namun, meski telah sebulan dikurung di rumah sedemikian rupa, pernikahan itu tidak kunjung tiba membuat Bu Salamah kepikiran. Sayangnya Pak Majid yang selalu mendapat uang di setiap kedatangan Dimas tidak mengindahkan kekhawatiran sang istri.
Hingga sampai pada suatu malam. Bu Salamah tak tahan untuk tidak protes.
“Sebenarnya Lily bakal dinikahi Mas Dimas gak sih, Pak?” tanyanya di sela waktu tidur mereka. Tentunya dengan suara lirih. Khawatir pembicaraan mereka didengar anak-anak.
“Tentu saja! Masih ditanya lagi!”
“Habisnya lama-lama kasihan Lily. Dia tidak boleh sekolah, sudah gitu makin lama badannya makin kurus karena gak doyan makan. Tiap hari wajahnya seperti ingin menangis saja. Apalagi setelah pulang habis diajak Mas Dimas. Sudah dipastikan Lily bakal nangis semalaman. Lama-lama kok ibu jadi kasihan.”
“Maklum saja dia harus putus sama Ahmad. Makanya sudah baik kita mengurungnya di rumah dan tidak usah sekolah. Memang apa pentingnya sekolah? Sekolah tinggi-tinggi, tidak mesti bisa membawanya pada pria keren seperti Mas Dimas. Mumpung sekarang ada yang seperti Mas Dimas yang suka sama Lily, ya sudah itu berarti rezekinya Lily jadi orang kaya lantaran suaminya. Gak usah sekolah tinggi-tinggi bisa jadi orang kaya kan bagus.”
“Kalau kaya, tetapi tidak bahagia bukannya kasihan juga,” ucap Bu Salamah.
“Itu kan cuma awal mulanya saja. Lama-lama Lily bakal terbiasa. Nanti juga ia bakal kembali ceria. Malahan ia yang bakal mengucap terima kasih pada kita karena telah memilihkan suami yang kaya untuknya.”
Bu Salamah hendak membantah lagi, tapi langsung diskak suaminya.
“Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Mantapkan hatimu. Jangan sampai ikutan lemah hanya karena Lily. Coba pikirkan baik-baik. Kita bakal mengembalikan banyak hal kalau sampai Lily tetap gak mau menikah. Makanya sebisa mungkin buat Lily sadar akan perannya.”
“Hum .... Aku malah takut Lily yang gak dinikahi! Digantung terus begitu. Anak perempuanku satu-satunya malah jadi tersiksa seperti itu.”
“Kalau soal nikah menikah. Percayakan padaku. Aku akan mendesaknya.”
“Nah, itu. daripada terus-terusan keluar berdua malah menimbulkan fitnah.”
“Iya, bu ... iya.”
Pak Salamah mengecup mesra kening sang istri. Hum, andai istrinya tahu sesuatu yang disembunyikannya. Yah, tapi sampai matipun istrinya tak akan pernah tahu. Jadi, biarkan saja seperti itu.
***
Keesokan harinya Ahmad sekali lagi datang menjmeput Lily. Pakaiannya tampak rapi.
Kali ini Bu Salamah yang menyambut Ahmad.
“Bibi sudah bilang jangan menjemput Lily. Dia sudah gak bisa sekolah lagi. Dan semakin sering kamu datang, semakin kasihan pula Lily. Bapaknya selalu marah-marah setiap kamu dari sini.”
“Hum, tapi ini penting, Bi. Aku tahu surat pemberitahuan yang kubawa kemari tidak pernah sampai kepada Lily, tapi hari ini sangat penting untuknya. Jika memang bibi dan paman melarang Lily kuliah, paling tidak tolong izinkan dia ikut ujian.”
“Tidak bisa!”
“Kenapa? Apa masalahnya? Ujian hanya ada 3 hari. Masa iya tetap tidak boleh? Itu tidak berarti dia menghabiskan seluruh waktunya di sekolah. Jika ingin menghukum Lily karena kesalahan waktu itu, bukankah harusnya hukuman tersebut sudah cukup untuk menebusnya? Kenapa masih dilanjutkan?”
Bu Salamah agak sedikit bimbang. “Tetapi wanita memang gak harus sekolah tinggi-tinggi. Habis ini juga menikah dan sibuk di rumah.”
“Seriusly?”
“A—apa?” tanya Bu Salamah karena tidak paham maksud dari perkataan Ahmad.
Pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia jadi paham sekarang kenapa Lily sampai mempertanyakan perihal, apakah mereka ini sungguhan orang tuanya atau bukan? Lha wong tak satupun yang mendukungnya begini.
Mendadak Ahmad jadi kasihan pada nasib temannya. Kenapa orang seberbakat Lily harus punya orang tua sekolot ini?
“Sudah, kamu cepat berangkat sana,” usir Bu Salamah.
Ahmad masih mengiba. Sekali ini saja. Tolong izinkan Lily!” pintanya.
“Gak bisa! Kunci kamar juga dipegang bapak.”
“Ah!”
“Sudah pergi-pergi! nanti kamu telat.”
Akhirnya setelah diusir beberapa kali, Ahmad pun berangkat. Tapi, sebelum pergi ia berpesan. “Kalau nanti ada guru datang membawa soal ujian, tolong jangan usir mereka ya, Bu!”
Bu Salamah tidak menjawab.
Ahmad tidak menunggu Bu Salamah menjawab karena ia harus berangkat sekarang. Tapi, ia berharap Pak Mul tidak membiarkan Lily tidak ujian.
***
Tak terasa 3 hari ujian telah berlalu, Ahmad saat ini bertemu dengan Zaki di sebuah warung kopi tak jauh rumah makan yang dimaksud oleh Zaki. Rumah makan yang katanya masih sering didatangi Lily secara berkali.
“Kamu yakin itu tempatnya?” tanya Ahmad.
“Ya. Aku yakin 100%. Kamu juga sudah melihat videonya, kan?”
“Ya, aku melihatnya. Aku juga percaya jika yang ada dalam foto itu adalah Lily. Aku sangat hafal perawakannya. Bahkan jika dia berubah jadi orang lain pun aku bisa memastikan kalau itu adalah Lily.”
“Dan sekarang aku ingin memberitahumu sesuatu. Ini sangat penting jadi kuharap kamu menyimak baik-baik.”
“Oke!” sahut Ahmad mantap.
“Tenangkan pikiranmu, dulu. Kamu harus berjanji kalau bakal berpikir dingin demi mencari solusinya.”
“Ya!”
“Begini .... Kamu tahu pria yang bersama Lily, kan?”
“Yang namanya Dimas. Aku tahu!”
“Sebenarnya Dimas itu datang ke sini hampir setiap hari dan dengan wanita yang berbeda-beda.”
Degh!
Ahmad terbeliak tidak percaya. Sungguh? ia tidak percaya ini. Astaga!
“Apa itu artinya Lily adalah salah satu korban dari pria itu?”
“Bisa jadi!”
“Astaga!” Ahmad memegangi keningnya yang saat ini mendadak terasa nyeri. Ia tidak percaya hal itu harus dialami Lily.
***