Bab 31. Ide Zaki

1073 Kata
*** “Aku dan teman-temanku yang mengumpulkannya,” ucap Zaki. Ia menunjukkan folder di ponselnya. Folder yang berisi beberapa video dari pria bernama Dimas itu tengah menggandeng gadis muda yang berbeda di setiap videonya. “Kupikir pria itu hanya p****************g biasa, tapi ini lebih serius dari kelihatannya.”  “Nah, makanya. Anak buah yang menjaga juga banyak.” “Bukannya ini penyakit masyarakat? Kenapa dibiarkan begini?” “Habis bagaimana ... mungkin pejabat setempat juga ikut campur,” ujar Zaki. “Tapi, bukan itu yang harus kita khawatirkan sekarang. Nasib Lily bagaimana?” “Dia pasti tidak baik-baik saja. Aku harus menyelamatkannya.” “Setuju! Kita harus menyelamatkannya,” ucap Zaki. Ia menekankan kata kita karena sebagai teman, ia juga ingin membantu. “Aku dan Lily memang tidak dekat, tapi dia tetap temanku, kan? Jadi, ikutkan aku saat kamu ingin membantunya.” Ahmad terpekur. Tangannya gemetar karena berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. “Bagaimana?” tanya Zaki. “Aku memberikan kuasa ini padamu karena aku tahu kamu dan Lily sangat dekat. Jika kamu memikirkan skenario untuk menolongnya, pasti kamu juga memperhitungkan resikonya. Kalau aku mungkin asal Lily selamat saja.” Ahmad mengetuk jari-jarinya di meja. “Untungnya Lily kemarin masih ikut ujian UN?” “Benarkah? Perasaan dia tidak datang ke sekolah.” “Pak Mul yang datang ke rumahnya. Aku juga baru tahu ini. Mungkin sebelum benar-benar dikurung, Lily sudah terlebih dahulu membicarakan soal ini dengan Pak Mul.” “Itu bagus. Tapi, aku masih tidak paham,” ujar Zaki. “Begini ... sebenarnya barang-barang Lily yang hendak digunakan untuk kabur ada padaku.” “Eh?” Zaki tidak mengira jika kabur adalah pilihan yang benar-benar ditempuh Lily. “Dan berkat itu pula aku bisa melengkapi berkas kuliah Lily karena dokumen-dokumen penting juga ada di sana. Rencanku juga rencana Lily sebenarnya kabur untuk kuliah. Sayangnya, Lily tidak bisa keluar rumah sama sekali.” “Kalau itu masalahnya kita tinggal bikin cara agar Lily bisa keluar rumah.” “Caranya? Kalau untuk urusan sekolah pasti gak akan diperbolehkan. Ibuku yang sudah sangat akrab dengan keluarga Lily saja tidak diperbolehkan masuk ke rumahnya. Setiap bertanya tentang Lily selalu diabaikan. Padahal kurang akrab bagaimana ibuku dengan ibunda Lily.” “Uhm .... bagaimana kalau kita menggunakan rekaman ini?” “Maksudnya?” Ahmad menyimak dengan seksama. Ia menepikan kopi di pinggir dan mendekat ke arah Zaki. “Kita sebar saja ke internet biar viral. Mumpung banyak dari warga yang pakai Facebox.” “Bukannya itu akan mempermalukan Lily nantinya?” “Gampang, kita tinggal membuat narasi dengan menjelek-jelekkan si pria saja. Nanti untuk Lily  dan para gadis lainnya agak diblur. Soalnya para gadis-gadis itu korban, kan?” “Orang tua Lily pasti luluh dan tidak lagi menikahkan putrinya dengan pria b******k seperti itu. biar cepat viral, nanti videonya bisa dimasukkan ke grup-grup wasap juga. Kita tinggal membawa Lily kabur setelah kehebohan.” Ahmad masih berpikir. Itu terdengar bagus karena Lily tidak benar-benar terekspos. Meski itu juga bakal merusak reputasi Lily, tapi itu lebih mending daripada hidup selamanya dengan pria b******k seperti Dimas. Atau bahkan lebih buruk dari itu. Soalnya Lily sendiri juga merasa bahwa ia dijual, bukan dinikahi. Dan hal itu bukan romansa melainkan pemaksaan. “Hum, baiklah. Aku setuju. Lalu aku harus apa?” tanya Ahmad. “Kamu harus pastikan bisa menghubungi Lily dan merencanakan kabur. Memastikan semua hal lancar seperti membeli tiket kereta, akomodasi selama kabur, bila perlu bala bantuan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.” Ahmad mengangguk mantap. Zaki ternyata cukup handal berpikir jauh ke depan. “Soal video ini biar aku yang mengurusnya. Aku punya teman yang biasa mengedit. Aku akan mengirimkan salinannya padamu kalau sudah selesai.” “Oke!” “Apa lagi yang kurang?” tanya Ahmad. Mencoba mengulang-ulang hal yang sekiranya terlewat. “Mungkin itu saja dulu. Jika situasi ini tak kunjung reda, jangan cerita pada siapa-siapa soal ke mana Lily pergi. Aku takut nantinya ia bakal ditemukan.” “Ya, aku akan memastikan aku sendiri juga tidak tahu ke mana dia nanti berada.” “Bagus! semoga semua berjalan dengan lancar.” Ahmad pulang dengan perasaan yang lebih lega. Ia berterima kasih pada Zaki yang meski tidak akrab ternyata sampai memikirkan sejauh ini demi menolong temannya. Sedangkan ia sendiri hanya dipenuhi perasaan takut dan was-was sehingga tetap jalan di tempat tidak mengalami perubahan yang berarti. Ia hanya memohon-mohon di depan Lily tanpa hasil. Merengek pada ibunya untuk mencaritahu kabar Lily. Juga menangis sendirian karena menyesali kelakuan bodohnya. Sekarang sudah ada jalan keluar. Semoga semuanya lancar. *** Dari semua orang yang ada di rumah Lily ada satu orang yang menurut Ahmad bakalan bisa membantunya menyampaikan pesan untuk Lily. Dan orang itu adalah Hari. Adik bungsu Lily yang tahun depan bakalan kelas 1. Ahmad juga sudah menghafalkan rute kebiasaan Hari. Jam berapa sekolah, jam berapa bermain, makanan kesukaan, atau mainan misalnya. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya menyampaikan semua itu tanpa ketahuan. Apa ia harus menulis surat yang panjang dengan resiko suarat itu dibaca orang rencana mereka akan kembali gagal. Mendadak Ahmad teringat dengan satu kesukaan Lily yang tidak berubah. Apalagi kalau bukan angka. Pasti ada sandi yang terdiri dari angka-angka yang terlihat seperti coretan tak karuan. Seolah tak punya arti padahal itu adalah sebuah sandi. Pemuda itu buru-buru mencari referensi di internet. Pasti ada sandi-sandi umum yang biasa digunakan anak-anak pintar matematika. Saat Ahmad tengah sibuk-sibuknya membuat surat yang untuk Lily, sebuah pesan datang untuknya. Pemuda itu buru-buru mengecek ponsel. Feelingnya mengatakan itu adalah pesan dari Zaki. Dan benar saja. Sebuah video yang masih tampak buram karena belum diunduh muncul di antara pesan yang dikirim Zaki. ~ Videonya sudah selesai dibuat. Bagaimana menurutmu? Kami akan langsung menyebarnya kalau memang menurutmu sudah cocok. Ahmad segera mengetik balasan. ~ Biar aku melihatnya terlebih dahulu. ~ Oke! Kabari aku kalau kamu sudah melihatnya. ~ Baik! Ahmad buru-buru mengunduh video tersebut. Tajuk video tersebut berbunyi, ‘Hati-hati terhadap pria ini! Wahai orang tua, khawatirkan anak gadis anda. Jangan sampai anda dan putri-putri anda terpedaya oleh pria ini.’ ‘Dia membawa gadis yang berbeda setiap hari. Apakah salah satunya ada keluarga atau kenalan anda? Tolong video ini jangan berhenti sampai di anda. Sebarkan untuk menyelamatkan lebih banyak gadis-gadis tak berdosa.’ Video tersebut berisi cuplikan banyak gadis yang kelaur bersama Dimas. Totalnya di atas 20. Uh! Ahmad mendadak mual. Tampaknya ini bukan sekedar nikah siri. Ini persis seperti kata Lily, jaul beli anak gadis. Degh! Pemuda itu meringis dengan kesimpulannya sendiri. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN