10. Alasan

1319 Kata
"Um Kak, apa kamu melihat kartu nama yang ditinggalkan Kak Victor kemarin malam? Aku tidak bisa menemukannya di kantung jaketku sekarang. Apa aku menjatuhkannya secara tidak sengaja ya?" Enzo yang telah siap dengan jasnya kembali masuk ke kamar saat Mia tidak juga keluar dari kamarnya untuk segera berangkat ke agensi gadis itu. Mia sejak tadi terus saja sibuk mencari sesuatu di sekeliling apartemen mereka. Kakinya melangkah kesana-kemari, sementara tangannya berkali-kali mengecek kantung pakaian yang kemarin dia pakai untuk mengecek apakah dia telah melewatkan sesuatu saat ini. "Kamu mungkin memang menjatuhkannya Mia. Kita harus segera berangkat atau kamu akan terlambat untuk perekaman video musikmu. Biar aku minta seseorang untuk mencarinya nanti, jika kau yakin kamu memang telah memasukan kartu nama itu ke kantung jaketmu. Sekarang ayo kita sarapan terlebih dahulu, kamu harus memakan sesuatu sebelum kita berangkat." Mia merengut saat dia tetap tidak bisa menemukan kartu nama Victor di mana pun. Enzo memang benar, ini sudah siang jadi mereka harus segera berangkat atau Mia terpaksa menunda lagi perekaman video musik terbarunya. Dia tidak ingin merepotkan kru yang menangani comeback nya kali ini. Mia dengan berat hati setuju, saat dia mengikuti Enzo untuk duduk dan memakan sarapannya dengan patuh. "Tolong ya Kak, aku belum sempat menambahkan nomor teleponnya ke ponselku kemarin malam," ujar Mia dengan sedih. Enzo hanya mengangguk sebagai balasan, walaupun dia tahu Mia tidak akan pernah bisa menemukan kartu itu lagi sekeras apa pun gadis itu mencarinya. "Sekarang ayo kita makan. Kita tidak akan pergi ke mana pun sebelum kamu menghabiskan sarapanmu," ujar Enzo memberi tahu. Pria itu memeluk membantu Mia sarapan dengan hati senang, karena dia tahu Mia tidak akan bisa menghubungi Victor lagi mulai saat ini. ***** "........ Bisa kamu ulangi ucapanmu lagi Bos?" Wajah Leon terlihat sangat bodoh saat dia kini mulai meragukan kemampuan pendengarannya. Pria itu berkedip bingung, saat matanya memerhatikan Victor yang duduk tenang di depannya dengan ekspresi bodoh. "Aku pikir aku sudah mengucapkannya dengan jelas dan kamu juga bisa mendengarnya dengan baik. Aku tidak akan mengulangi apa yang telah aku ucapkan. Lakukan saja apa yang aku perintahkan, dan gunakan uang pribadiku untuk membeli semuanya." Sekali lagi Leon hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara saat Victor lagi-lagi bicara dengan suara tenang dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Leon menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya, sebelum pria itu mencoba memastikan segalanya untuk sekali lagi. "Jadi........ Bos ingin aku membeli semua album Mia dari pertama kali dia debut sampai yang terbaru? Bos, sebenarnya sejak kapan Bos tertarik pada Mia sampai pada tahap seperti ini?" Victor dengan tenang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk, sebelum bicara dengan sedikit nada peringatan yang disisipi di dalamnya. "Aku sudah memperingatimu dengan jelas kemarin Leon. Lakukan saja perintahku, dan jadikan pembicaraan ini hanya ada di antara kita berdua." Leon tetap menatap Victor dengan tatapan aneh bahkan ketika pria di depannya tetap berusaha mempertahankan ekspresi datarnya yang ikonik. Victor yang semula hendak menyalakan rokoknya kembali menoleh saat dia melihat Leon masih berdiri di tempat yang sama seperti sebelumnya. Alis Victor menyatu, saat dia menatap Leon untuk sekali lagi. "Kenapa kamu masih ada disini? Aku sudah memberimu tugas bukan?" tanya Victor. Kali ini Leon menghela nafas panjang, saat dia berjalan untuk mendekati Victor yang duduk kursi kerjanya. "Bos, aku pikir akan lebih baik jika kita menjauhi Mia mulai sekarang. Gadis itu merupakan seorang publik figur, seseorang yang selalu berada di bawah sorotan lampu yang muncul di televisi. Setidaknya sampai wanita itu tertangkap, aku pikir menunjukan ketertarikan pada seseorang hanya akan membuatnya berada dalam bahaya Bos. Aku tahu aku tidak pantas membicarakan masalah ini sebagai bawahanmu. Tapi Bos, aku tidak ingin melihat kejadian yang sama terulang lagi Bos." Victor yang semula ingin menyalakan rokoknya langsung menyimpan batangan nikotin itu kembali ketika dia selesai mendengarkan ucapan Leon. Tatapannya berubah semakin dingin, saat matanya benar-benar hanya menatap Leon kini. "Wanita itu tidak bisa mengikatku setelah apa yang dia lakukan sebelumnya Leon. Aku berhak melakukan apa yang aku mau, dan dia tidak bisa menghentikanku untuk memiliki hidup lain setelah kepergian Elena. Aku pasti akan menangkapnya nanti. Aku pasti akan menangkapnya, dan membalas apa yang telah dia lakukan pada Elena saat itu," final Victor mutlak. Tatapan dinginnya diliputi banyak emosi saat Leon telah membawa nama wanita itu. Kini giliran Leon yang kembali gelisah. Ini adalah pertama kalinya, bosnya yang selalu teguh pendirian mengubah keputusannya senekat ini. Padahal Victor tidak pernah menunjukan ketertarikan pada siapa pun setelah kepergian adiknya. Tidak pada para artis cantik, atau anak konglomerat yang berusaha mendapatkan koneksi dengan mendekatinya. Sebelumnya juga banyak gadis yang berusaha menghangatkan kasur Victor, tapi pria itu dengan marah malah mengusir mereka semua karena dianggap mengotori rumahnya yang selalu bersih. Leon pikir Victor akan mengunci hatinya setelah kejadian 'itu'. Jadi wajar saja jika sekarang Leon tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Victor dengan menunjukan ketertarikan pada Mia saat ini. Mia mungkin memang tidak mudah diusik karena Enzo yang melindungi di belakangnya. Tapi kehidupannya yang selalu disorot, tetap akan menjadi masalah yang lain juga bagi Victor. "Tapi Bos...." "Untuk pertama kalinya Victor, aku bisa tidur dengan nyenyak kemarin malam. Aku bisa berbincang layaknya orang biasa, aku bisa tersenyum jika aku mau. Bersamanya membuatku kembali ingat, tentang masa-masa hidup yang aku jalani ketika Elena masih ada bersamaku." Pandangan terkejut segera muncul di wajah Leon saat dia mendengar pengakuan yang diucapkan oleh Victor. Leon bisa mengerti jika Mia sampai bisa membuat Victor tersenyum kecil dalam percakapan mereka. Tapi sampai bisa membuat Victor tidur dengan nyenyak, merupakan kejadian lain yang tidak pernah Leon tebak sebelumnya. Ini sudah tahun kelima sejak Victor mulai menderita insomnia akut. Tidak ada yang pernah berhasil membuatnya tidur dengan nyenyak semenjak kematian adik satu-satunya itu. Berbagai cara telah Victor coba agar dia bisa mendapatkan porsi tidur yang berkualitas lagi. Tapi semuanya gagal. Rasa bersalah Victor terlalu besar untuk adiknya. Rasa bersalah itu mengakar terlalu dalam, tidak akan mudah dilepas hanya dengan pertemuan sekali yang berlangsung sangat singkat. "Itu..... Mungkin saja terjadi karena Bos kelelahan bukan?" tanya Leon bersikeras. Leon sebenarnya berharap bosnya itu akan setuju dengan asumsinya, namun gelengan dari Victor langsung mematahkan semua harapannya. "Aku tertidur setelah mendengarkan musik-musik yang gadis itu nyanyikan, Leon. Aku tertidur nyenyak dengan suaranya yang tergiang-ngiang terus di telingaku. Aku tertidur sambil mengingat wajahnya, dan suara tawanya yang begitu renyah didengar telinga," ujar Victor menegaskan. Tatapan Victor tanpa sadar melembut ketika dia mengingat gadis itu lagi. Kali ini Leon mulai tampak luluh, saat pria itu akhirnya memilih untuk tidak lagi protes kini. Leon adalah saksi hidup yang menyaksikan berapa tersiksa nya Victor selama beberapa tahun ini. Jika seseorang benar-benar bisa membuat bosnya terlepas dari segala mimpi buruk yang menghantuinya, Leon tidak akan mengatakan apapun lagi. "Aku akan segera mencari album-album itu untukmu Bos. Kalau begitu, aku pergi dulu." Victor hanya mengangguk saat Leon akhirnya keluar dari ruangannya. Victor kembali mengeluarkan rokok yang sebelumnya sempat dia simpan. Victor menyalakannya lalu menyesapnya perlahan, saat pikirannya malah terus mengingat suara merdu Mia yang dia dengar kemarin malam. Sudah lama sekali rasanya sejak Victor bisa tidur senyenyak kemarin malam. Victor merasa segar di pagi hari, walaupun dia tidur tidak dalam waktu yang lama kemarin malam. Victor tidak lagi memimpikan tubuh penuh darah milik adiknya. Sebaliknya, yang Victor rasakan kemarin hanyalah perasaan hangat yang menyelimuti dirinya di dalam mimpi yang tidak bisa dia ingat lagi. Victor mengerti dengan baik alasan kenapa Leon begitu keras kepala sebelumnya. Dia tidak bisa memastikan kapan mereka bisa menangkap wanita itu, ketika jejak keberadaannya saja seakan menghilang dari muka bumi. Namun bertemu Mia, Victor hanya bisa merasa bahwa dia tidak bisa melepaskan gadis itu tidak peduli apapun alasannya. Mia adalah gadis pertama yang bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, tidak peduli metode apa yang telah mereka coba sebelumnya. Mia bisa menghangatkan hatinya lagi, ketika dia berpikir hatinya telah membeku untuk orang-orang di sekitarnya. Bagi Victor, alasan itu sekarang sudah lebih dari cukup, untuk membuat Victor melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelum ini. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN