"Sampai jumpa lagi Kak Victor, Kak Leon. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan kalian waktu itu."
Mata Victor tetap tertuju pada Mia saat mobil yang mereka tumpangi akhirnya mulai melaju pelan. Mia di luar mobil masih melambai padanya, tersenyum manis saat Enzo hanya bisa memasang wajah suram di belakang tanpa Mia sadari. Dua bawahan Enzo berekspresi tidak terlalu berbeda. Bahkan sepanjang acara makan malam, hanya Mia yang aktif mengajak mereka bicara sementara yang lain sebenarnya terlihat terlalu berpura-pura hanya agar Mia tidak curiga dengan hubungan mereka sebenarnya.
Victor tidak tahu apa alasan Enzo sampai enggan memberitahu Mia hubungan mereka yang sebenarnya. Tapi dengan Mia yang menganggap Victor sebagai 'teman' Enzo, Victor memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal Mia lebih jauh dari sebelumnya.
"Bos, kenapa kamu menerima ajakan itu tadi? Aku bahkan tidak lagi ingin makan dengan suasana dingin semacam itu."
Setelah mobil mereka benar-benar meninggalkan arena parkir, baru lah Leon yang sedari tadi diam akhirnya mengambil waktu untuk bertanya pada Victor. Victor membalas pertanyaan Leon dengan mengangkat alis, seakan bertanya pada pria itu apa maksud dari pertanyaan yang dia ajukan.
"Bos tahu bahwa tidak akan ada hal baik yang akan terjadi jika kita menganggu orang-orang terdekat Enzo bukan? Aku sebenarnya berpikir bahwa Bos akan menolak tawarannya tadi. Tapi bukan hanya tidak menolak, Bos bahkan memberi gadis itu kartu nama pribadi Bos. Bos seharusnya melihat bagaimana buruknya ekspresi Enzo saat dia melihatnya Bos."
Victor terdiam saat dia juga merenungkan arti sebenarnya dari tindakan tidak terduganya tadi. Yang Victor pikirkan saat makan malam telah selesai tadi, hanya lah cara bagaimana dia bisa bertemu gadis itu lagi sebelum keduanya benar-benar berpisah. Victor tidak menyangka mendengarkan seseorang bicara saja sudah cukup untuk mengangkat moodnya yang sempat hancur. Mata Mia yang memiliki binaran lucu, suaranya yang begitu merdu, tanpa sadar Victor ingin lebih lama bersama gadis itu ketika Mia mulai mengobrol padanya untuk pertama kali.
Tidak seperti kesannya yang nampak manja dan naif, Mia tanpa diduga juga bisa menciptakan pembicaraan yang menyenangkan kedua belah pihak. Ucapannya penuh perhitungan walau polos. Dia tidak seperti gadis lain yang hanya membicarakan dirinya sendiri. Mia benar-benar tidak sesuai dugaan Victor sebelumnya. Gadis itu penuh kejutan, dan menyenangkan untuk diajak berbicara.
Rasanya sudah lama sekali sejak seorang gadis dapat berbincang sebebas itu dengannya tanpa takut sedikit pun dengan tatapan dinginnya. Selain adik Victor, Mia adalah gadis pertama yang berhasil melangsungkan obrolan panjang dengan pria membosankan seperti Victor.
Sejujurnya Victor juga merindukan obrolan santai semacam itu. Di dunianya yang penuh dengan bahaya, bisa berbincang layaknya orang biasa merupakan hal yang sangat sulit dilakukan bagi Victor. Victor bahkan hampir lupa rasanya bicara tanpa harus waspada satu sama lain. Orang-orang biasanya selalu menginginkan sesuatu dari pembicaraan mereka. Mia seakan mengingatkannya bahwa di dunia ini, masih ada orang-orang yang tidak suka mengambil keuntungan dari orang-orang yang mereka ajak bicara. Masih tersisa orang-orang baik di dunia, atau orang-orang yang belum ternoda kejamnya dunia yang bisa menghancurkan orang-orang.
"Aku tidak akan menyakitinya.
"Tapi-"
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Leon."
Victor memotong ucapan Leon dengan dingin ketika pria itu ingin protes sekali lagi. Leon diam-diam hanya bisa menggerutu pelan, saat dia tahu Victor dalam mode tidak ingin dibantahnya akan sangat menyebalkan untuk ditanggapi.
Leon mengendarai mobil dalam diam setelah itu, sementara Victor diam-diam tersenyum kecil ketika dia mengingat pertemuan keduanya dengan gadis sepolos Mia.
*****
"Jangan terlalu lama berendam di bath tub Mia. Ini sudah malam, kamu harus segera beristirahat."
"Baik Kak......"
Enzo menghela nafas panjang saat Mia menjawab ucapannya dari dalam kamar mandi. Tangannya dengan telaten membereskan pakaian kotor Mia yang berserakan dengan tangannya sendiri.
Kebiasaan itu terus dia lakukan sejak Mia diurusi olehnya saat masih kecil. Enzo menolak bantuan dari pelayan yang berusaha menggantikan tugasnya itu. Enzo tidak akan mengijinkan seseorang mengantikannya dalam mengurusi Mia. Merawat Mia telah menjadi tugasnya sejak remaja. Enzo menyukai pekerjaan kecil itu, dan tidak juga berniat berhenti dalam waktu dekat.
Baginya, Mia masih lah gadis kecil yang perlu dia lindungi dari ancaman sekecil apa pun. Enzo harus melakukan semuanya dengan hati-hati, atau Mia akan menghilang dari hidupnya juga seperti orang tuanya.
Mata Enzo menggelap saat dia menemukan kartu nama hitam dengan bordir emas bertuliskan nama Victor yang tersimpan dengan baik di salah satu kantung jaket yang dipakai Mia sebelumnya. Enzo dengan kejam meremas kartu nama itu, dia keluar kamar untuk membakar kertas kusut itu di asbak yang ada di meja ruang keluarga rumahnya tanpa meminta persetujuan Mia sedikit pun.
Di pantulan kaca meja, terlihat wajah dingin Enzo yang memandangi kertas itu sampai semuanya benar-benar berubah menjadi abu. Sampai kapan pun, Enzo tidak akan membiarkan siapapun yang berpotensi menyakiti Mia sampai dekat dengan sepupunya itu. Pertemuan ini akan menjadi kali terakhir Enzo menahan diri untuk membiarkan Mia berada sedekat itu dengan Victor. Tidak akan ada kedua kalinya, Enzo akan memastikan itu semua dengan tangannya sendiri.
"Kak, apa yang Kakak lakukan di sana?"
Wajah dingin Enzo segera digantikan dengan wajah hangat saat suara Mia terdengar dari depan pintu kamar gadis itu. Gadis manis itu tampaknya baru saja menyelesaikan mandinya. Kulit putihnya hanya dibalut dengan bathrobe hitam. Rambut bergelombang nya yang indah terkulai dan masih basah. Sudah merupakan kebiasaan bagi Mia, untuk mengeringkan rambutnya dengan asal-asalan seperti itu.
"Aku merokok. Ayo masuk, aku akan membantumu mengeringkan rambut," ujar Enzo lembut. Mia hanya menurut saat Enzo membawanya kembali masuk ke dalam kamar. Enzo mendudukannya di karpet tebal yang halus, sementara Enzo sendiri duduk di kasur besar Mia dengan hair dryer yang baru saja selesai pria itu siapkan.
Saat hair dryer itu dinyalakan, Mia hanya diam menikmati sapuan angin hangat yang keluar dari mesin itu sementara Enzo sendiri mulai terlihat fokus dalam melakukan pekerjaannya. Tidak butuh waktu lama sebelum rambut Mia kering sepenuhnya. Enzo mematikan alat itu, tangannya membantu Mia untuk kembali berdiri sebelum menunjuk set piyama yang pria itu simpan di ujung lain tempat tidur Mia.
"Sekarang ganti pakaianmu oke? Jangan tidur hanya dengan bathrobemu seperti waktu itu," ujar Enzo memberitahu. Mia lagi-lagi mengangguk dengan patuh, saat tangannya mengambil piyama yang telah disiapkan sepupunya itu untuk dia pakai sementara Enzo berinisiatif keluar kamar terlebih dahulu.
"Kak Enzo...... Temani......."
Enzo yang semula hendak pergi ke kamarnya sendiri langsung berhenti melangkah ketika Mia tiba-tiba bergelayut di belakangnya tubuhnya dengan manja. Wajah manis gadis itu sudah mulai terlihat sayu, ketika rasa kantuk mulai menguasai tubuhnya.
Enzo tahu Mia sepertinya sadar moodnya tengah buruk dan berusaha menghiburnya dengan bersikap manja di depannya. Memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat hati Enzo lembut kembali. Pria itu dengan gemas mengapit hidung mancung Mia, menggoyangkannya untuk beberapa kali sampai Mia mulai merengek karena kesal.
"Apa aku harus membacakan cerita pengantar tidur juga?" tanya Enzo dengan geli. Mia dengan manja menggeleng, ketika dia menuntun Enzo untuk kembali masuk ke kamarnya.
"Aku tahu Kak Enzo pasti tidak akan tidur jika Kak Enzo sudah mulai merokok tanpa alasan seperti tadi. Aku akan menjadi pengawas Kak Enzo untuk hari ini. Kak Enzo harus tidur, kurang tidur tidak akan baik untuk kesehatan."
Enzo tersenyum lebar saat Mia mulai menceramahinya dengan lucu. Dia menggeleng pelan saat Mia menyeretnya untuk tidur di kasur yang sama dengan gadis itu. Rasa waspada Mia memang sangat lemah. Gadis itu bahkan belum tahu, bahwa mereka seharusnya tidak tidur bersama lagi di umurnya yang sudah menginjak usia dewasa.
"Kak Enzo, tidur.... . ."
Tidak mau lagi menunda waktu istirahat Mia, Enzo akhirnya ikut naik ke tempat tidur sebelum memberi Mia sebuah senyuman tanda bahwa dia akan mendengarkan gadis itu untuk kali ini. Mia juga membalas senyuman Enzo dengan sebuah senyuman lebar. Kedua tangannya dengan erat memeluk boneka besar pemberian Enzo, untuk dia gunakan sebagai gulingnya malam ini.
"Selamat tidur, Kak Enzo."
Enzo tersenyum puas saat Mia mengucapkan salam perpisahan sebelum matanya benar-benar tertutup. Gadis itu tetap memiliki senyuman samar di bibirnya, saat matanya menutup dengan sempurna dalam waktu yang singkat.
"Selamat tidur juga, Mia."
Dengan kecupan ringan di dahi Mia, Enzo akhirnya ikut memejamkan matanya untuk beristirahat sebelum memulai hari yang baru.
****
"Kalau begitu, selamat beristirahat Bos."
Victor mengangguk saat Leon akhirnya pergi dari rumahnya. Dengan helaan nafas, Victor berbalik untuk masuk ke kamarnya dengan langkah tenang. Pria itu mandi seperti biasa, berganti pakaian lalu mengecek kembali pekerjaannya untuk hari ini.
Victor masih memegang berkas di tangannya saat matanya secara tidak sengaja melihat laptop yang disimpan di ruang kerjanya. Victor menatap benda itu lama, sebelum kakinya melangkah untuk mendekati laptop tersebut dan menyimpan berkas yang semula ada di tangannya.
Duduk di kursi kulitnya, Verron mulai menyalakan laptopnya seperti biasa. Lelaki itu nampak ragu saat laptopnya sudah mulai menyala. Tindakannya terlihat ragu-ragu, saat pada akhirnya dia tetap mengetik nama yang bersarang di pikirannya sejak dia kembali dari makan malam kali ini.
[Mia Caroline]
Berbagai jenis hasil pencarian segera keluar begitu dia selesai mengetik nama itu. Namun tepat seperti yang Leon laporkan padanya, tidak ada berita miring apa pun yang menyangkut gadis itu di website manapun sejak Enzo memiliki seorang hacker handal dalam organisasinya. Media bahkan hanya berani menyebut Enzo sebagai wali sah Mia, yang merupakan pemiliki perusahaan obat-obatan terbesar tanpa menyebut apa pun tentang dunia bawah.
Satu tautan video musik Mia menarik perhatian pria itu. Victor memerhatikan foto Mia yang tersenyum dalam video itu, sebelum tangannya bergerak untuk menekan tombol play dalam aplikasi video tersebut.
Victor menatap video itu tanpa berkedip saat suara merdu Mia memasuki gendang telinganya. Padahal Mia hanya mengcover lagu seseorang saat itu, tapi jumlah view nya jauh melebihi lagu-lagu biasa artis lain saat itu. Dari tanggal pembuatannya, itu adalah video pertama Mia di akun official nya ini. Di video itu Mia masih terlihat sangat muda, merekam videonya di ruangan besar yang bertuliskan nama agensinya sebagai latar belakang.
Dalam video itu, Mia masih tampak sangat malu bernyanyi di depan kamera karena pipi putihnya nampak jelas berwarna merah samar sepanjang video. Di akhir video Mia akhirnya tersenyum manis, saat suara halusnya mulai keluar dengan manis.
"Halo, namaku Mia Caroline. Ini adalah penampilan pertamaku di depan kamera. Segera, aku akan debut sebagai penyanyi dengan album soloku sendiri. Bagi semua penonton, tolong nantikan videoku yang lain ya.... Terima kasih telah menonton videoku untuk hari ini."
Video habis tidak lama setelah gadis itu melambaikan tangannya kepada kamera. Karena penasaran, Victor ikut membuka kolom komentar yang tersedia di video tersebut. Bibirnya tersenyum samar, saat banyak komentar positif diberikan oleh banyak orang yang menonton video Mia pada saat itu.
Salah satu komentar dengan like terbanyak sukses membuat Victor tertarik untuk membacanya. Seseorang bertanya mengapa Mia memilih lagu itu dari semua lagu yang ada untuk dia cover. Dua tahun yang lalu Mia benar-benar membalasnya, namun wajah Victor kembali datar saat dia membaca balasan yang diberikan oleh gadis itu.
[Aku menyanyikannya untuk sepupuku. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki, dan salah satu orang yang memberiku tujuan untuk hidup di dunia ini. Kupikir lagu ini bisa menggambarkan rasa terima kasihku padanya. Dia orang terpenting yang aku miliki hehe ^^]
Victor segera menutup komentar saat dia selesai membaca jawaban Mia. Memang benar, banyak berita yang menunjukan betapa sayangnya Mia pada sepupunya itu. Mereka selalu bersama sejak Mia diadopsi oleh keluarga Enzo. Bahkan ketika Mia sudah memiliki penghasilan yang besar kini, Enzo tetap menempatkan Mia untuk tetap tinggal bersamanya daripada membeli rumah lain dan mulai hidup terpisah setelah dewasa.
Mengalami penurunan mood, Verron akhirnya mematikan laptopnya kembali daripada membaca komentar-komentar lainnya. Pria itu menghela nafas panjang, tidak mengerti mengapa dia harus iri pada pria seperti Enzo di saat-saat seperti ini.
Victor keluar dari ruang kerjanya, lalu berjalan untuk mengambil satu botol minuman dari kulkas mini yang tersedia di kamar tidurnya. Victor meneguk minuman beralkohol itu langsung dari botolnya, sedikit berharap bahwa dia bisa melupakan pikiran kacau yang tiba-tiba kini.
Mungkin memang benar bahwa dia merasa iri pada orang seperti Enzo. Pria itu masih memiliki seseorang untuk dia lindungi saat ini, sementara dia sendiri harus melihat orang yang ingin dia lindungi meregang nyawa tepat di depan matanya.
To be continued