5. Adik?

1791 Kata
Dari pagi hingga petang, hujan turun tak kunjung reda. Hingga hawa dingin terasa merambati kulit, begitu menusuk tulang. Sehabis hujan akan ada pelangi, begitu kata pepatah. Seperti halnya saat ini, gosip tentang kami sedikit mereda. Ditimbun berita terbaru dan pastinya sedang panas. Para netizen sekarang sibuk menyorot pernikahan mendadak seorang putri anggota dewan, tetangga kami. Rumahnya tepat di sebelah rumah Mama Yasmin. "Gosipnya, sih, udah isi duluan." Itu yang aku dengar dari Mama saat membantu memasak di dapur. Tentu saja itu membuat mertuaku bersyukur. Setidaknya mulai bisa sedikit tenang. Karena bukan tentang kami lagi yang menjadi topik pembicaraan. “Besok Mama bisa arisan lagi,” katanya riang. Aku dan Mama sudah dua minggu ini membatasi diri dari kehidupan sosial, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Tak tahan mendengar cuitan mereka, yang membuat telinga dan hati panas. Begitulah kehidupan, bukan? Akan selalu berotasi. Tibalah saatnya berita tentang kami tenggelam. Anggap saja buah dari kesabaran, manis. Setelah selesai membantu Mama, aku kembali ke kamar, berniat untuk mandi. Perlahan, kubuka pintu ruang tidur. Aku mengernyit heran, melihat Mas Ivan yang duduk di bibir kasur. Baju kaus di bagian d**a dan wajahnya tampak basah oleh keringat, bagiku ... itu seksi. "Cuacanya lagi dingin gini, kok, keringatan, Mas?" tanyaku saat masuk ke kamar. Mas Ivan yang memainkan ponsel, menoleh. "Habis push-up." Aku mengangguk. Sejak dulu, sepupuku itu memang menyukai olah raga. Namun, kesannya saat ini ia seolah mengalihkan perhatian dari bengong tak karuan, karena mengingat masa lalu yang menyakitkan. "Mas, aku bisa kasih saran, nggak?" tanyaku hati-hati. "Boleh." "Dari pada push-up, kenapa nggak salat, aja? In Syaa Allah bikin hati lebih tenang, lebih adem," kataku sambil mengambil handuk dan baju ganti bersiap untuk mandi. "Salat sama-sama, gimana? Bentar lagi mau maghrib," tanyaku melihat ke arahnya. Rupanya ia masih mengamatiku, menatap entah ... sulit kuartikan. "Mandi aja dulu, sana." "Oh, oke." Aku pergi menuju kamar mandi. ** Sudah menjadi kebiasaan, setelah mandi aku akan mengganti baju di dalam kamar mandi. Terlebih saat ada Mas Ivan di rumah. Namun, saat ini aku kebingungan. Sebab tidak menemukan underware di lipatan baju ganti yang sudah kusiapkan tadi. Ah, mungkin lupa, tapi ... aku yakin kalau tadi sudah mengambilnya. Apa jangan-jangan tercecer? Kuhembuskan nafas kasar. Jadilah aku melilit tubuh ini dengan handuk. Merasa penasaran, aku sedikit membuka pintu. Celingak-celinguk, mengintip ke luar. Sepi, sepertinya Mas Ivan sedang berada di luar kamar. Lalu pandanganku menyapu lantai kamar, mencari dalaman warna merah muda. Itu dia, rupanya jatuh di dekat pintu lemari. Ya ampun, Amanda ... dasar ceroboh! Lalu aku harus apa? Dan itu ... bagaimana kalau dilihat Mas Ivan? Aku menepuk jidat, kenapa selalu saja mempermalukan diri sendiri, sih? Aku merutuk diri. Kubuka pintu dengan lebar, kemudian melangkah cepat menuju celana merah muda yang tergeletak di lantai. Dengan membawa serta piama yang sudah aku siapkan. "Untung aja nggak diliat Mas Ivan," gumamku sambil mengambil dalaman itu. Namun, deg! Aku terkejut setengah mati. Ketika mendengar suara pintu terbuka. Ini celaka! "Maas! Jangan masuk!" teriakku histeris. Mas Ivan yang sudah masuk membulatkan mata melihatku, dengan cepat aku menyilangkan tangan di depan d**a yang masih terlilit handuk. Laki-laki mata keranjang, memang! “Mas Ivan! Jangan ngintip!" pekikku. Terdengar kekeh gelinya. Diiringi dengan ia membalikkan badannya. Astaga, apa-apaan ini? “Sama sekali nggak lucu, Mas,” omelku, sambil berjalan menuju kamar mandi. “Ya elah, nggak nafsu juga kali." Ck, sialan! "Mau masuk kamar itu ketuk pintu dulu, kek. Salam, kek." "Ribet amat, kayak mau namu aja." Aku berdecak sebal. Kemudian menutup pintu kamar mandi lagi. Ya Lord, aku menutup wajah saat melihat pipi yang merah terpampang di cermin. Tak peduli seseksi apa pun Mas Ivan. Namun tetap saja, kejadian melihat roti sobeknya dan drama underware itu sangat memalukan sekaligus menggelikan. Bayangkan saja, Mas Ivan itu kakak yang sering momong diri ini saat kecil. Lalu sekarang, melihatnya sebagai suami yang berhak atas setiap jengkal tubuh ini. Ah, pastinya itu tak akan mudah. Hubungan kami dari kecil, memang sangat dekat. Seperti kakak-adik biasanya, aku menyayanginya sebagai kakak. Wajar. Karena memang hanya mereka yang aku punya. Umur kami terpaut lima tahun, lebih empat bulan. Artinya saat aku masih suka tantrum, bisa jadi Mas Ivanlah yang membujuk. Mungkin inilah sebabnya, mengapa kami bingung menyikapi status baru. Yah, semua pastinya butuh waktu. ** Di saat cuaca dingin begini, paling enak ngemil. Karena perut yang rasanya lapar terus dan mulut yang mau mengunyah melulu. Jadilah kami sekeluarga, berkumpul di ruang tamu. Sambil menikmati brownies kukus yang aku dan Mama buat tadi sore. Berbincang hangat, disertai bercanda dan tertawa bersama. Sangat nyaman berada di sini, aku diterima dengan baik. Jauh berbeda saat di rumah Oma, banyak makan hatinya. "Biasanya kalau Mama sendiri yang bikin, pasti kuenya bantet, keras," kata Papa, sambil menikmati kue manis berwarna coklat. Mama mengekeh, "masa, sih? Ini memang Amanda yang bikin. Enak, nggak, Van?" "Lumayan, manis sama kayak yang bikin," goda Mas Ivan, sambil menaik-turunkan alisnya padaku. "Eeaa, gombal!" Sekuat tenaga aku bersikap biasa saja. Padahal saat ini pipi juga hati terasa menghangat. "Pa, Amanda sama Ivan itu apanya ya, yang mirip?" Mama menyipitkan mata melihatku dan Mas Ivan, mengamati kami bergantian. Mencari kemiripan, sepertinya. "Dagunya yang mirip," jawab Papa. "Ah, alisnya juga sama, lebat. Kata orang jodoh itu memang mirip-mirip." Mama berpendapat. "Mereka mah, memang sodara. Makanya mirip, bukan cuma karena jodoh doang," celetuk Mas Alfin. Membicarakan masalah jodoh, pasangan hidup itu memang rahasia Yang Maha Kuasa. Tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan makhluk Tuhan yang menyebalkan ini. Sudah ke sana, ke mari ... eh, ternyata jodohku masih sama keluarga sendiri. Jodoh itu terlewat dekat, ternyata. "Kamu inget nggak, Mas? Amanda kecil kalau lagi nangis, terus kamu cium atau kamu pangku, dia berenti nangisnya," kenang Mama. Mas Ivan berdehem. “Sekarang masih juga, kali?” kata Mas Alfin. "Nasib Mas Ivan, disuruh momong sampai tua," celetuk Mas Alfin. "Asem! Emang aku bocah di-emong?" Aku mendelik pada Mas Alfin. Lalu tawa kecil keluarga berderai. "Kira-kira nanti gimana muka anak mereka, ya?" tanya Mama. Mas Ivan seketika tersedak. Lalu ia meraih gelas air putih di meja, meminumnya hingga habis. Mendengar kata anak itu memang sama seperti makan bolu ini, tapi tidak minum. Seret. Gimana mau punya anak, Ma. Kalau bersentuhan pun enggak, bayanginnya aja nggak sanggup, batinku bergejolak. Seketika hening. Aku menggigit bibir, saat mendapati Mama menatapku seakan penuh selidik. Sorot mata yang tajam, disertai keningnya mengerut. Seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang. “Mas, aku ke kamar duluan, ya,” kataku mulai salah tingkah. ** Aku yang sedang berbaring, menarik selimut hingga sebatas leher. Mengusir dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Tanganku memainkan ponsel, berselancar di sosial media. Bibir tersenyum saat mendapati foto Mas Ivan yang lewat di beranda. Beberapa jam lalu ia mengganti foto profil, dengan gaya sok cool. Tangannya dimasukkan ke kantong celana, sambil tersenyum kecil. Memang keren, sih. Namun, terlalu cool untukku. Mengingat tadi dia bilang kalau tak bernafsu saat melihat diri ini cuma terlilit handuk. Hei ayolah, aku tidak berbusana dan lagi, dapat dipastikan badanku lebih berisi dari pada kekasih yang meninggalkannya itu. Cincin dan ukuran sepatu, buktinya. Lalu ia tak tergoda sama sekali, jadi ragu akan kenormalannya. Aku menggeleng sendiri. Lalu kembali scrool beranda di aplikasi bersimbol 'F' ini. Sesekali tertawa membaca status lucu dan saat ini bergidik ngeri. Membaca postingan seakun yang menuliskan .... 'Musim hujan itu rezekinya pengantin baru.' Singkat tapi lebih horor dari cerita hantu. Hiiy, seram. Kuklik kolom komentar ingin membaca balasan netizen lainnya. 'Musim hujan, musimnya bikin anak.' Astaga, apa-apaan ini? Seketika berkelebat di benak tentang Mama yang pengin cucu. Lalu bagaimana ia dengan antusiasnya bercerita tentang wajah anak kami. Aku jadi merasa bersalah. Kubalikkan tubuh, menghadap Mas Ivan. Mengamatinya yang tengah terlelap, nafasnya teratur seperti bayi. Sosok hangat yang dulu melindungiku, sekarang adalah suamiku. Sebenarnya ada debar tak karuan saat ini, saat terlalu dekat dengannya. Ketika mata coklat itu menatapku. Saat bibir belahnya itu tersenyum. Tanpa kusadari ada yang salah di dalam sini. Hati. Ah, ini bukan cinta. Bukan cinta! Tapi perasaan ini ... lebih dari sekadar sayang seorang adik untuk kakaknya. Lalu, apa lagi kalau bukan cinta? * Minggu pagi yang cerah. Mobil melaju dengan kecepatan konstan menuju pusat perbelanjaan. Aku dan Mas Ivan di tugaskan Mama belanja kebutuhan rumah. Hitung-hitung belajar mengatur anggaran belanja, begitu kata Mama. “Mas lucu, ya?” tanyaku sambil memperlihatkan layar ponsel pada Mas Ivan, foto bayi laki-laki berusia sekitar enam bulanan. Berpipi gembil, sedang terlelap pulas. “Hu’um. Anaknya siapa?” Mas Ivan sesaat menoleh, tapi kemudian fokus lagi dengan kemudinya. “Anaknya teman aku, Mas, Rina. Dia juga nikah sama sepupunya. Sekarang sudah punya anak dua. Sehat-sehat, lucu, ‘kan?” Ceritaku antusias. “Oh ya?” “Kata dia lagi orang tuanya Vera, teman kami kuliah dulu, juga nikahnya sama sepupu. Terus pernikahan mereka langgeng, punya anak tiga. Vera sama dua kakaknya laki-laki,” kataku kemudian. “Terus?” Mas Ivan memberhentikan mobil, saat sampai di depan gedung mal. “Emm ....” Belum selesai aku berbicara dia sudah turun dari mobil. Membuat aku memberengut, kesal. Ya Tuhan, selain menyebalkan ternyata Masku ini juga tidak peka. Elus d**a sampai rata. Lantas aku pun turun dari mobil, lalu mengekor Mas Ivan yang berjalan lebih dulu masuk ke gedung yang ramai dan dingin ini. Aku iri melihat pasangan manusia berlainan jenis yang berjalan sambil bergandeng tangan, saling rangkul mesra. Sementara aku, persis seperti adik mengikuti si kakak belanja. Lah, memang iya, ‘kan? Aku mengambil sebuah troli, lalu mendorongnya. Berjalan menyusuri rak demi rak, sambil memperhatikan secarik kertas -catatan dari Mama- yang sedang aku pegang. Lantas mengambil barang belanjaan yang dibutuhkan. “Eh, Van,” sapa pria jangkung pada Mas Ivan yang berada di depanku. Otomatis aku menghentikan langkah, menyaksikan dua pria itu saling sapa, bertanya kabar. “Sorry banget kemaren nggak datang di acara lo,” kata lelaki yang dipanggil Ki itu. “Oke. Santai aja, Ki.” “Eh, sama siapa?” “Adek.” Damn! Adek? Tak lama berbincang, lelaki itu pamit berlalu pergi. Aku membeku, d**a terasa seperti ditusuk duri tanpa ampun. Perih. Lalu apa arti pernikahan ini untuknya? Benar aku adiknya, tapi apa aku tidak pantas menjadi istri? Walau pun sikapnya menyebalkan, aku selalu belajar mengalah dan menerima, meski terasa berat. Karena aku tahu pernikahan adalah proses belajar seumur hidup. Ternyata cinta datang tanpa aku sadari dan saat ini menuntut kepastian dan pengakuan. Saat Mas Ivan menganggapku hanya seorang adik. Ada sakit yang tak berdarah, di dalam hati. Rasanya dadaku sesak diikuti dengan mata yang mulai panas. Aku terpejam sejenak, Ya Tuhan rasanya sangat sakit. “Kenapa?” tanya Mas Ivan saat menoleh ke belakang. “Hah? nggak papa.” Diam-diam aku mengusap cepat air mata di pipi. Kemudian melanjutkan langkah, kembali mendorong troli. Berusaha bersikap baik-baik saja. Apa salah kalau aku mencintai Mas Ivan? Cinta pada sepupu sekaligus suamiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN