Pernikahan adalah pengorbanan seumur hidup, itu menurutku. Makanya dalam agama disebut sebagai ibadah yang paling lama, juga paling banyak pahalanya, begitu nasehat Oma.
Sejak awal pernikahan ini, aku sudah mengorbankan perasaan sendiri untuk perasaan banyak orang. Berusaha melupakan cinta yang sudah lama mengisi hati.
Saat ini mengorbankan tenaga dan pikiran. Dengan suka rela melayani suami dan sekuat tenaga menghibur dan menyenangkannya. Berharap ia lupa dengan sakitnya.
Lalu pada akhirnya, belum tentu aku bisa meraih cinta suamiku. Dan di saat itulah lagi-lagi aku harus menyiapkan hati untuk terluka.
Yah, semua tentang pengorbanan dan perjuangan.
Hubungan ini rumit, karena cinta Mas Ivan terlalu besar untuk mantan calon istrinya. Hingga menancapkan luka begitu dalam. Lalu apa bisa aku menahan hati ini agar tak jatuh cinta? Ah, entahlah.
.
Minggu pagi yang cerah, aku duduk di bibir kasur mengamati Mas Ivan yang sudah rapi. Aroma parfumnya menguar di ruangan, kala ia menyemprotkan minyak wangi, padahal masih belum mandi. Ia yang mengenakan celana tryning hitam dan baju kaus putih. Sangat menawan dan aku ... terpesona. Eh?
“Beneran udah sehat, Mas?”
“Iyup.”
“Eh, ini mau ke mana?” tanyaku pada Mas Ivan, yang hendak keluar kamar. Sambil menjinjit sepatu olah raga.
“Ngegym. Cari keringat dulu.” Ia hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Aku memperhatikan punggung yang menghilang di balik pintu.
Salim dulu, kek, atau setidaknya salam. Yah, nasib istri tak dianggap, boro-boro cium pipi, kecup kening mesra. Pamit pun tidak, ah sudahlah!
Lalu aku pun ikut keluar kamar, menuju dapur. Membantu Mama menyiapkan sarapan.
“Masih belum mandi, lagi?” tanyanya menekan kata ‘lagi’. Mama yang sedang memasak, mengerutkan kening menatapku.
“Eh, Iya, Ma. Udah kebiasaan, mandinya agak siang. Jadi kebawa-bawa.”
Sejenak Mama menatapku dengan sorot mata tajam. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya lagi.
“Apa yang mesti Amanda bantu?”
“Mandi yang wangi, yang cantik, biar suami sayang. Mandi pagi aja, nggak bisa,” jawab Mama ketus. Lalu mulai mengomel panjang-pendek.
Aku menggigit bibir, saat mengerti arah pembicaraan Mama ke mana. Disindir mertua itu benar-benar tidak enak.
**
Setelah puas menerima omelan Mama, aku kembali ke kamar. Namun, saat mencapai anak tangga teratas, aku mendengar Mas Alfin memanggilku. Sembari berdiri di depan pintu kamarnya.
Lelaki yang matanya serupa dengan suamiku itu ialah adiknya Mas Ivan. Kakak sepupu, tiga tahun lebih tua dariku.
"Hm?" sahutku, berjalan mendekat padanya.
"Boleh minta tolong, nggak? Tolong beli’in rokok."
Inilah hal yang tak mengenakkan, tinggal bersama kakak sepupu. Aku yang paling muda, suka di suruh-suruh. Tolong inilah, tolong itulah. Padahal aku di sini adalah kakak ipar. Namun, masih saja dilihat sebagai adik yang manis. Nyebelin, ‘kan?
"Iya, mana," jawabku malas, sambil menadahkan tangan.
Mas Alfin memberi selembar uang lima puluh ribuan.
"Cuma segini?" tanyaku meledek, "upah jalannya mana?"
"Itu udah lebih, bisa buat beli es krim."
"Astaga, emangnya Mas pikir aku bocah?"
"Emang iya, kan?"
"Mas!" seruku.
"Iya-iya, bocah gede!"
Aku memutar bola mata, jengah. "Harusnya Mas itu yang panggil aku Mbak!"
Mas Alfin terkekeh dan aku mendelik padanya. Kuakui semua ini memang sangat lucu.
"Siap, Mbak Amanda."
"Sama kakak ipar itu nggak boleh nyuruh-nyuruh!"
"Yaudah, nggak jadi!"
“Iya deh, aku beli’in."
***
Masih belum mandi. Aku berjalan cepat sambil memegang satu kantong pelastik hitam. Sekali, dua kali, menendang bekas kaleng minuman soda ke pinggir, yang semula ada di tengah jalan. Heran, kok suka sekali buang sampah di jalan begini. Membahayakan keselamatan orang yang berkendara.
Itulah terkadang manusia, suka yang praktis dan juga tak mau memikirkan orang lain. Di hari pernikahan pun bisa seenaknya kabur, seperti buang sampah ini ... tinggal lempar.
Aku menggeleng sendiri.
Sebenarnya toko hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah. Namun, kesal juga jalan kaki di terik matahari pagi yang mulai menyengat.
Aku terkejut saat mendengar klakson mobil. Saat menoleh ke belakang, sekejap aku membeku, merasakan denyut di d**a. Amat nyeri, melihat orang yang kurindukan duduk di balik kemudi.
Rehan. Dialah lelaki yang selama ini mengisi hati. Dan, dia pacarnya Alisa.
**
Aku memperhatikan seseorang yang sedang duduk di samping. Dialah salah satu sebab hubunganku dan Alisa kurang baik. Hingga sekecil apa pun masalah di rumah Oma, aku yang selalu disalahkan. Hingga saat aku memutuskan tinggal bersama Mas Ivan, Alisa tampak antusias dan sangat bahagia.
Itulah satu alasan dari banyak pertimbangan, mengapa aku menyanggupi menikah dengan Mas Ivan. Berharap bisa terbebas dari rasa sakit, makan hati dan lelah yang kujalani saat di rumah Oma. Komplit, ‘kan?
Saat ini kami berada di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, tadinya ia ingin mengajak sarapan di kafe. Namun, aku menolak sebab masih belum mandi.
“Apa kabar?”
“Alhamdulillah aku baik-baik aja. Mau ngomong, apa?” tanyaku mengalihkan pandangan melihat ke depan.
"Gimana rasanya nikah sama sodara sendiri?"
"Nggak gimana-gimana." Aku risi dengan pembahasan saat ini.
"Jangan bilang kamu belum diapa-apain sama kakak kamu. Buktinya sekarang pun masih belum mandi."
Aku membuang nafas, pertanyaan Rehan sukses membuatku bungkam.
"Aku sudah tau apa jawabannya.” Dia menyeringai. “Kamu mau mainin pernikahan, Amanda?"
"Aku nggak main-main!" tegasku.
"Aku nggak tau, apa yang ada dalam pikiran kamu, sampai mau-maunya menikah dengan kakak kamu sendiri. Lalu pernikahan macam apa yang kamu jalani saat ini?"
Aku menggeleng samar.
"Tanpa kejelasan, nggak saling sentuh, nggak dilandasi cinta? Berhentilah Amanda, kamu pasti akan tersakiti.”
“Hmm, kadang dalam hidup memang harus memilih. Dan aku, memilih mengorbankan perasaanku sendiri demi perasaan keluargaku. Masalah kejelasan hubungan ini, biar waktu yang menjawab.”
"Oke, mau sampai kapan menyiksa diri sendiri kayak gini? Apa kamu nggak pernah mikir, kenapa kakakmu nggak mau nyentuh kamu? Dia nggak akan mungkin cinta sama kamu, Amanda. Pahami itu!"
Lagi-lagi aku tersentak.
"Aku aja nggak bisa bayangin, gimana kalau aku yang ada di posisi kakak kamu. Nidurin adik sendiri," ia menggeleng-gelengkan kepala. "Pernikahan apa yang kamu jalani, tanpa saling mengikat? Pikirkan sekali lagi."
Aku menelan ludah susah payah dan terhenyak. Sembari merenung, semua yang dikatakan Rehan itu benar. Namun, keadaan membuat semuanya sangat rumit. Bagaimana perasaan keluarga kalau aku berpisah? Apa masih tetap harmonis dan tak terpecah belah?
"Aku masih nggak nyangka, kalau saat itu kamu yang menikah."
Aku hanya mendengarkan, tanpa bisa mengatakan apa-apa. Demi apapun, lidahku kelu.
"Aku diblokir dan kamu nggak mau ketemu lagi. Saat dapat nomor baru kamu, setelah dihubungi sekali, lalu langsung nggak aktif. Terus, tau-tau kamu menikah, tau gimana rasanya?"
Aku menatap matanya yang memerah, kesedihan jelas memancar di sana.
"Kacau! Aku ... kacau, Amanda!"
Lagi-lagi hanya bisa diam, sebongkah daging dalam d**a terasa sakit, sangat nyeri. Melihat orang yang kita sayangi terluka. Kugigit bibir bawah, membendung gumpalan bening yang sudah mengaca di pelupuk mata.
"Lalu Alisa?" tanyaku pelan, hampir berbisik
"Lucu nggak kalau aku ke rumah kamu, sedangkan kamu nggak mau ketemu aku? Terus, setiap aku ke sana ada Alisa yang nemanin."
"Loh, Kakak yang mutusin aku, Kak Rehan bilang nggak mau pacaran sama orang keras kepala, kan?”
“Maaf, saat itu aku emosi. Mana nomor kamu?”
“Aku sudah menikah, nggak akan baik kalau kita berhubungan lagi."
“Berhentilah, Amanda. Pernikahan bukan game!"
“Aku nggak mau main-main! Sudahlah, Kak, lebih baik nggak usah ketemu lagi. Aku sudah jadi istri orang, mungkin kita emang nggak jodoh.”
“Oke, apapun itu, please! Lepas semua blokiran kamu.”
***
Saat masuk ke rumah, langkahku terhenti ketika melihat Mas Ivan duduk di sofa ruang tamu. Dia sudah mandi, tampak dari rambutnya yang masih basah. Wajahnya pun terlihat segar, sepertinya ia memang sudah sehat.
“Eh, udah pulang, Mas?” tanyaku basa-basi.
"Udah lama. Dari mana aja?" Dia memperhatikanku sangat lekat.
Aku mengangkat bungkusan, "disuruh Mas Alfin beli ini.”
"Duduk!” Ia menatap sofa di hadapannya.
Aku hanya mengikuti instruksi, tak berani menatapnya. Rasanya sama ketika dulu masih remaja, tertangkap basah lagi pacaran sama Mas Ivan. Grogi sekaligus takut.
"Siapa yang anter?" Dia mulai menginterogasi.
"Temen."
"Cowok?"
Aku mengangguk.
"Apa kamu lupa kalau sudah menikah, Amanda?"
"Maaf.”
"Gimana perasaan Mama kalau liat kamu begini?"
"Maaf, Mas."
"Kamu bisa bayangin gimana kecewanya mereka?"
Aku menggeleng.
"Jangan ulangi lagi."
"Maaf."
"Sekali lagi, kalau Alfin nyuruh-nyuruh, jangan mau."
Aku mengangguk.
Mas Ivan terdengar membuang nafas berat. "Udah makan di luar?"
"Belum Mas."
"Kenapa lama?"
Aku mengangkat kepala, hingga kami saling menatap. Sesaat hanya keheningan yang melingkupi kami.
"Kamu tau kalau Mas khawatir? Gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu di luar? Mau ke mana aja bilang, biar orang nggak nyari-nyari."
Khawatir katanya? Aku tersenyum, karena hati yang terasa menghangat.
Aku mengangkat dua jari tangan. "Jangan marah," kataku pelan.
Dia malah tersenyum. "Mana bisa marah sama kamu. Yang ada malah mau ketawa terus."
Yah, dan aku menyukainya.
**
"Lama amat. Keburu sesak nafas, tau nggak?" kata Mas Alfin saat aku menyerahkan bungkusan plastik. Ia duduk di kursi di balkon kamarnya.
"Lebai! Sampe bawa-bawa sesak nafas. Aku di sidang Mas Ivan dulu gara-gara ini."
"Kamu juga keluyuran."
Sebenarnya memang salah. Tidak seharusnya tadi menerima tawaran Rehan untuk bicara. Sekarang malah membuat bimbang saja.
Aku menumpukan punggung di pagar beton balkon, sembari mengamati Masku sekaligus adik ipar. Ah ... sungguh lucu, ‘kan? Ipar rasa kakak, suami rasa sepupu. Haha. Rasanya ingin menertawakan takdir yang seakan mempermainkan.
"Mas, gimana ... kalau seandainya Mas, yang ada di posisi Mas Ivan sekarang?"
Mas Alfin mengerutkan kening, mungkin tak menduga dengan pertanyaanku. Atau bisa jadi kebingungan memikirkannya.
"Nikah sama aku?"
“Nggak bisa bayangin!" jawabnya cuek.
"Masa, sih, Mas?"
"Rasanya jadi adik ipar kamu aja itu aneh, apalagi kalau nikah sama kamu. Tidur sama kamu. Oh God! Nggak mau bayangin!"
Aku mengangguk. “Di posisi Mas Ivan pasti sulit. Lalu hubungan macam apa ... yang aku jalani sekarang? Nggak ada kepastian.”
“Sabar!” Mas Alfin menghela nafas. “Semuanya memang butuh waktu. Mas Ivan juga walaupun begitu, nerima aja pernikahan ini. Keliatan saat dia ngotot nyuruh Papa untuk daftarin pernikahan kalian.”
“Apa sekarang udah didaftarin?”
Mas Alfin mengedikkan bahu, serta merta mengangkat alisnya.
"Rasanya jadi Mas Ivan kira-kira gimana ya, Mas?" tanyaku masih penasaran, mengharap jawaban jelas.
"Mbak Amanda, aku nggak bisa bayangin."
Aku mengerucutkan bibir, sebal. Masku satu ini benar-benar tak bisa membantu.
Jadi ... mau dibawa ke mana pernikahan ini, jika dalam suatu hubungan tidak saling menyentuh? Bukannya menghadirkan buah cinta akan menguatkan ikatan pernikahan?
Rehan benar, kalau pernikahan bukanlah permainan. Ah, rumit!
Mungkin aku bisa saja, menepis rasa aneh dalam diri sendiri. Namun, aku tak bisa menghilangkan rasa itu pada diri Mas Ivan. Memerawani adik sepupu, ah, bukankah itu terdengar ... menggelikan?
***
Aku duduk bersandar di kepala kasur, sembari memutar-mutar ponsel. Bimbang melanda, di satu sisi ingin sekali menghentikan blokiran pada dokter itu, di semua akun media sosial. Di sisi lain merasa tidak pantas, perempuan yang sudah menikah masih berhubungan dengan mantan kekasihnya. Bagaimana kalau aku malah sulit move-on?
Namun lagi, semua perkataannya kembali terngiang, berputar-putar di otak ini.
Pernikahan apa yang sedang aku jalani tanpa saling menyentuh, tanpa dilandasi cinta? Mas Ivan pun bersikap sama seperti biasa, layaknya seorang kakak pada adiknya. Tak seperti seorang suami pada istrinya.
Oke, fix! Aku membatalkan semua blokiran untuk Rehan Al-Kahfi. Kurasa tak apalah, lagi pula dia tidak tahu nomor ponselku.
Aku menoleh ke pintu kamar yang berderit. Mas Ivan baru saja masuk, lalu dengan santainya ia membuka baju. Masalahnya kenapa harus buka di sini?
"E ... eh, Mas!" panggilku.
Mas Ivan berbalik, dengan telanjang d**a, dengan dua tangannya berkacak pinggang. Dan, itu ... seksi, eh?
Aku refleks menelan ludah, ketika melihat perutnya yang terekspose sempurna. Yah, memang tak sebagus roti sobeknya aktor di drama korea yang sering aku tonton, tapi lumayan berkotak-kotak.
"Ngiler?"
"Astaga, Mas Ivan!" pekikku terkejut, seketika memejamkan mata.
"Halah ... tadi juga nelen ludah. Baru liat beginian sampe lupa ngedip."
Ya Tuhan, apa-apaan ini? Aku berbaring dan menarik selimut, hingga menutupi wajah. Karena saking malunya, pipiku terasa panas, bersamaan dengan degup jantung yang berdetak sangat cepat.
Mas Ivan masih tertawa.
"Pergi, nggak?!" teriakku dalam selimut.
"Beneran, nggak mau liat lagi? Mumpung mas lagi baik,” godanya.
"Roti sobek bantet, biar gratisan aku nggak suka."
Mas Ivan semakin terbahak, "kamu suka yang model kek Papa gitu, ya? Ngembang sama kek balon?"
"Mas Ivaan!" teriakku histeris.
Satu bantal menimpuk kepalaku.
"Jangan teriak, lebai banget."
"Pergi!" seruku.
"Dasar perempuan, jual mahal. Padahal terpesona." Mas Ivan mengekeh.
Ya Lord. Aku menggeleng kuat-kuat, menepis bayangan yang hadir. Ini sangat memalukan.
***
Hingga malam menjelang, aku tak banyak bicara pada sepupuku itu. Rasanya canggung. Jadilah saat ini aku tidur memunggunginya.
Tak mau munafik, semua perempuan pasti menyukainya, ‘kan? Namun, ini pertama kali aku melihatnya secara live, dan itu sangat mengganggu sistem kerja otak. Ya ampun, mata dan pikiran ini ternoda. Sialan!
Belum lagi tertangkap basah itu ... malu-maluin. Oh Allah!
Mas Ivan bersiul di samping, mulai cari perhatian. Namun, aku tak punya nyali untuk menampakkan wajah ini padanya.
"Amanda," panggilnya.
Aku mengacuhkan si usil itu, paling bakal digoda lagi.
"Amanda, ambilin hp, mas."
"...."
"Hei?"
"Ambil sendiri!"
"Elah ... digituin aja ngambek."
Aku diam.
"Hp mas, di meja sana. Yakin, nggak mau ambilin?"
"Males banget," jawabku.
"Tugas kamu tuh nurut sama perintah masmu. Apalagi status ngerangkap adek iya, istri juga iya."
"Terus tugasnya Mas apa, ngerangakap suami sama kakak?" tanyaku masih enggan menoleh.
"Merintah kamulah."
"Garing!" judesku.
"Yelah, ambilin HP Mas, ya, adek cantik."
Aku meraih ponsel di meja samping, lalu meletakkannya asal di belakang punggungku.
Terdengar tawa kecil Mas Ivan, yang semakin membuatku malu. Ini benar-benar tidak lucu!
.
Aksi diamku berlanjut hingga pagi hari. Setelah melaksanakan ibadah subuh dan menyiapkan pakaian kerja Mas Ivan. Kemudian aku langsung turun ke dapur. Tak ingin memperlihatkan diri di hadapannya. Sungguh, sekarang rasanya aku ingin menghilang di telan bumi, kalau saja bisa.
Sampai saat ini sedang sarapan, sesekali mataku melirik padanya. Saat pandangan bertemu, cepat aku menunduk. Konyol memang.
Terlihat wajah Mas Ivan yang selalu tersenyum, saat pandangan kami bertemu. Dan itu membuatku berdebar. Sering kali aku merasakan ini saat bersamanya. Saat dengan Rehan tak segila ini debarannya.
Setelah sarapan, aku hendak masuk lagi ke kamar. Tapi cepat Mas Ivan menahan tanganku.
"Jangan menghindar, nggak enak dilihat Mama," bisiknya.
Aku hanya berdehem pelan
Jadilah aku duduk di sini, pura-pura minum, ikut berbincang, hingga Mas Ivan pergi ke kantor.
Baru liat roti sobek saja sudah secanggung ini, apa lagi .... Ya ampun, aku menggeleng kuat-kuat.